Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Bisa keluar


__ADS_3

Bi Sari yang tidak bisa membuat Lucas diam segera menelfon tuannya dan untungnya pada deringan pertama diangkat.


"Kenapa bi Sari "


"Maaf tuan saya mengganggu tapi den Lucas dari tadi nangis terus gak mau berhenti manggil-manggil terus nama nyonya"


"Memangnya istri saya ke mana "


"Bibi juga tidak tahu tuan, Nyonya tiba-tiba saja pergi bersama Nona Jovanka dan tidak memberitahu Bibi pergi ke mana "


"Baiklah saya akan pulang sekarang "


Liam mematikan ponselnya dan pergi dari dalam ruangannya, selama perjalan kearah mobilnya, Liam tak henti hentinya menelfon istrinya, namun sama sekali tak diangkat.


"Kemana dia, tak seperti biasanya "


Liam menghubungi Jovanca juga namun sama saja nihil tak diangkat, mereka ini entah kemana dua duannya tak bisa dihubungi.


Saat sudah masuk mobil, baru Liam menghubungi Tora pada deringan pertama bahkan sudah diangkat " Tora kau cari istriku"


"Iya tuan saya sedang mencari Nyonya, maafkan saya tuan Nyonya tadi datang ke rumah hutan dan melihat perempuan yang waktu itu saya sekap sedang mengandung dan menganggap kalau itu selingkuhan tuan. Nyonya marah-marah di sana tuan dan pergi begitu saja bersama nona Jovanka "


"Lalu sekarang istriku kemana. Kenapa dia bisa ke sana aku sudah bilang kan kau bunuh perempuan itu, bukannya kau malah menghamilinya "


"Maaf tuan saya sekarang sedang di daerah perhutanan dan mencari Nyonya bersama nona Jovanka. Saya sedang mengelilinginya tapi dari tadi saya tidak menemukannya"


"Aku tidak mau tahu kau temukan istriku atau nyawa perempuan yang kau agung-agungkan itu dan kau sembunyikan dariku aku bunuh beserta anak yang ada di dalam kandungannya. Aku tidak akan memaafkanmu jika istri ku menghilang meninggalkanku"


"Baiklah saya akan mencari Nyonya sekarang juga sampai ketemu tuan "


"Baik aku akan memberimu waktu 24 jam. Jika kau tidak menemukan istriku juga maka perempuan itu dan anaknya akan mati di tanganku"


Liam langsung mematikan sambungannya, dia malah membelokan mobilnya kearah hutan, kerumah hutan dia tak akan pernah main main dengan perkataannya.


Liam mengecek ponselnya kembali, dia memang memberikan sebuah gelang pada sang istri yang sudah dirinya simpan sebuah pelacak, namun gelang itu tak dipakai oleh sang istri dan lokasinya ada dirumah.


"Sialan sialan sialan "


Liam kembali menghubungi bi Sari "berikan ponselnya pada Lucas "


"Baik tuan "


"Lucas anak papih sudah jangan menangis kembali ya, papih sedang menjemput mamih, kamu tunggu sebentar dirumah yah "


"Hik hik benarkah papih akan menjemput mamih, apakah Lucas boleh ikut dengan papih "


"Tidak sayang, kau jangan ikut, mamih tadi berpesan pada papih untuk tidak membawa Lucas karena mamih tidak mau Lucas nanti sakit karena ikut dengan papih, kamu diam di rumah bersama bi Sari, papih dan Mamih akan pulang secepatnya ya"


"Tapi Lucas ingin cepat-cepat bertemu dengan mamih , Lucas ingin mendengar suara mamih, "


"Apakah Lucas sangat menyayangi mamih "


"Iya tentu papih "

__ADS_1


"Maka menurut lah pada Papih, Papih akan segera membawa Mamih pulang sekarang Lucas jangan menangis lagi ya menurut Pada bi Sari "


"Baik papih, bawa mamih pulang dengan selamat "


"Iya sayang "


Liam segera mengusap air matanya yang tiba tiba saja mengalir, ikatan batin sang anak dengan istrinya sangat kuat, dia sampai menangis seperti itu, bagaimana kalau mengetahui mamihnya tak ada tak ditemukan.


Tapi tidak jangan berkata seperti itu, pasti istrinya akan ketemu dan akan baik baik saja, jangan berfikiran yang tidak tidak.


Liam sudah sampai dirumah hutannya, tiba tiba saja ada seorang perempuan yang keluar dengan perut buncitnya bersama seorang perempuan paruh baya. Liam tanpa pikir panjang mendekati mereka berdua.


Airin yang tadi menyangkanya itu adalah Tora segera mundur karena dihadapannya sekarang bukanlah suaminya melainkan orang lain.


"Siapa kau "


Liam tak menjawabnya, langsung menarik rambut Airin tanpa merasa kasihan Airin yang sedang mengandung. "Heyy apa apaan kau ini, kenapa begitu kasar, lepaskan rambut anak ku " teriak ibunya Airin.


Namun Liam sama sekali tak menggubrisnya. Ibu Airin segera mengambil sapu dan memukul kan sapu itu ke punggung Liam, namun itu tak berpengaruh sama sekali untuknya, Liam malah membalikan badannya dan menarik tangan ibunya Airin.


"Tolong lepaskan tangan saya tuan, lepaskan ini sakit sekali "


"Lepaskan rambut anak saya " sambil mengigit tangan Liam, namun itu sama sekali tak membuatnya sakit, tak ada apa apanya sama sekali.


Liam memasukan kedua orang ini kedalam sebuah ruangan yang Tora pun tak akan tau dimana ini.


"Kalian berdua tidak akan bisa keluar sebelum istriku ditemukan jadi sampai istriku ketemu kalian diam disini, Tora pun tak akan pernah bisa menemukan kalian berdua, karena hanya aku saja yang tau tempat ini, gara gara kalian berdua istriku pergi dan meninggalkan ku, awas saja istiku sampai tak ditemukan aku akan menghabisi mu dan juga ibu serta anak yang ada diperutmu dan Tora tak akan bisa menolong kalian berdua " bruk Liam langsung menutup pintunya dan menguncinya serta mengemboknya juga.


"Telfon Tora ayo cepat "


Airin mengeluarkan ponselnya namun tak ada jaringan tak ada sinyal sedikit pun "tak ada sinyal bu tak ada, bagaimana ini bu aku takut sekali bu, "


"Tenang Airin pasti Tora akan membantu kita kamu yang tenang ya, kita pasti akan selamat "


"Iya bu "


Airin memeluk ibunya dengan erat supaya dirinya tak terlihat ketakutan, jangan sampai ibunya melihatnya.


**


Tora yang memang tak ingin sampai terjadi apa-apa dengan Airin beserta ibu dan anaknya kembali ke rumah hutan terlebih dahulu, untuk mengecek keadaan Airin dan ibunya namun saat dirinya masuk rumah terbuka begitu saja.


Kosong tak ada Airin ataupun ibunya dirinya telat pasti Airin dan Ibunya sudah dibawa oleh tuannya, sekarang harus bagaimana. Tora mencari kesetiap kamar namun tak ada.


"Kemana tuan membawannya, semoga saja dia tak membunuh Airin dan anak ku, aku sekarang harus segera cepat cepat mencari Nyonya dan juga nona Jovanka, jangan sampai terjadi apa apa dengan mereka berdua.


Tora kembali berlari dan masuk kedalam mobilnya, akan dia cari mereka berdua, bahkan Tora sudah meminta bantuan pada anak buah bosnya yang lain, supaya membantu dirinya mencari nyonya yang hilang entah kemana.


**


Jovanka yang masih sadar dia mencoba membuka sabuk pengaman Zeline, dan membawannya keluar dari dalam mobil yang sudah tengelam dan Zeline yang tak sadarkan diri.


Jo sekuat tenaga berenang ketepi masih dengan membawa tubuh sahabatnya yang terkulai lemas, saat sudah ada ditepi sungai itu Jovanka menekan dada Zeline dan mendengarkan detak jantungnya yang makin kesini makin tak ada.

__ADS_1


"Line kamu harus bertahan Line, jangan kamu tinggalin aku"


Jovankan memberikan nafas buatan namun sahabatnya ini sama sekali tak bangun, darah dari kaki sahabatnya serta tangannya sudah bercucuran.


Jovankan menyobekan pakaiannya dan membalutkannya keluka Zeline, lalu mencoba mengendong Zeline dari belakang "kamu harus bertahan ya Line, kita sekarang kerumah sakit kamu harus bisa tahan ya Line bertahan "


Jovanka berjalan dengan perlahan tertatih tatih menyusuri hutan "aku harus ambil jalan yang mana ya, kok jalannya bercabang kaya gini ya, ambil kanan aja deh semoga bener dan bisa bawa aku dan Zeline kearah jalan raya "


Jovanka terus saja berjalan tanpa memikirkan rasa sakit pada tubuhnya yang terpenting sekarang adalah sahabatnya bisa selamat dan segera diperiksa oleh dokter.


Karena luka luka di tubuh sahabatnya lebih parah lagi dibandingkan dengan dirinya. "bertahan Line bertahan "


Namun Jovanka malah terus-menerus masuk ke dalam hutan dan tidak menemukan jalan sekalipun namun dirinya melihat ada sebuah rumah terpencil, dengan yakin Jovanka membawa Zeline kesana untuk meminta bantuan pada orang itu.


Tok tok tok "permisi apa didalam ada orang, permisi apa ada orang "


Pintu terbuka dan menampakan seorang nenek nenek "ada cu "


"Nek tolong bantu kami berdua sahabat saya terluka, kami berdua kecelakaan nek apa bisa tolong bantu saya"


Nenek itu menegok kearah punggung Jovanka, lalu menganggukan kepalanya "ayo bawa dia masuk, nenek akan mengobatinya ayo bawa dia "


"Terimakasih nek "


Jovanka masuk dan langsung membaringkan Zeline, "sebentar akan nenek periksa dulu "


Nenek itu dengan teliti memeriksa badan Zeline membuka pakainnya "nenek akan mencari dulu obat disekitar hutan, nenek akan mengobatinya dengan obat tradisional kamu tunggu disini ya cu "


"Iya nek "


Jovanka duduk disebelah Zeline dan memegang tangannya "kamu bertahan ya Line, kasian Lucas dia masih butuh kamu, bertahan jangan pergi ok, jangan tinggalin aku juga aku gak mau ditinggalin kamu "


Tak lama nenek nenek itu kembali membawa beberapa daun dan menumbuknya, sebelumnya nenek itu menganti pakaian Zeline dengan pakaian cucunya yang dulu.


Lalu segera mengobatinya "cu cepat kamu ganti pakaian biar teman mu nenek yang urus "


"Baik nek terimakasih atas bantuannya "


Jo masuk kedalam kamar mandi dna segera menganti pakainnya melihat lecet ditangannya dan kembali lagi ketempat Zeline di obati tadi.


**


Liam sudah ada di tempat kecelakaan istrinya dia melihat bekas ban mobil namun berbelok ke arah jurang, "tidak tidak, tidak mungkin istriku jatuh kemari tidak mungkin "


Saat Liam akan kembali lagi masuk kedalam mobilnya, Liam merasa penasan ingin mencek kebasah sana, dengan perlahan Liam berjalan kebawah, lalu melonjat dan berenang kedalam sungai itu.


Dia melihat benda mengilat, Liam makij mendekatinya ternyata itu mobil istrinya, Liam mengeceknya namun tak ada orang sama sekali. Dengan cepat Liam kembali kedasar dan kembali kedaerah samping sungai.


"Dimana istiku, jadi benar dia jatuh kemari, atau mobil nya sama, tidak tidak, tidak mungkin itu mobil istriku tidak mungkin pasti aku salah melihat tadi tidak tidak mungkin Zeline jatuh ke sini, tak mungkin itu terjadi pada istriku "


Liam mengambil sesuatu yang mengapung dan itu foto dirinya dan sang istri serta Lucas sang anak.


Liam mengelengkan kepalanya dan tiba tiba saja air matanya mengalir "tidakkk tidakk mungkinnn "

__ADS_1


__ADS_2