Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Syifa s anak kecil


__ADS_3

Andre hari ini merasa badannya sangat lelah sekali cape rasanya ingin beristirahat saja. Gara-gara Liam bulan madu semuanya aku yang mengurusnya.


Biar besok saja lah aku bereskan semua pekerjaannya yang sangat menumpuk ini rasanya tak mungkin kalau harus aku kerjakan hari ini juga, bisa-bisa aku mati muda kan.


Andre segera keluar dari ruangganya tak lupa menguncinya terlebih dahulu lalu pergi keparkiran kantor. Sambil bersiul mengilangkan sepi yang menyelimutinya.


Segera Andre masuk mobil dan melajukannya dengan perlahan menuju rumahnya.


Aku sudah tak tinggal bersama kedua orang tuaku, aku ingin mandiri saja seperti Liam. Dia adalah panutanku tapi tidak dengan kegilaannya yang selalu membunuh perempuan itu harus digaris bawahi bukan panutanku sama sekali.


Selama perjalanan fikirannya selalu tertuju kepada Asa apa Asa nanti mau dengannya. Sedang apa sekarang Asa. Apakah sama Asa juga mencintainya memikirkannya juga


Semoga saja ya doakan saja teman-teman agar aku ini mempunyai pasangan dan tak jomblo lagi. cape rasanya aku ini terus melajang umurku sudah tak muda lagi kawan-kawan.


Rasanya tak sabar nanti untuk menemui Asa dan mengobrol dengan perempuan itu. Mengobrolkan tentang masa depan kita.


Andre segera mengerutkan keningnya saat melihat ada yang aneh dari rumahnya.


Sebentar itu siapa yang ada didepan pintu rumahnya seorang perempuan dengan rambut panjangnya memakai baju putih, apakah itu hantu. Apa itu korban-korbannya Liam dan bergentayanggan padaku.


Bagaimana ya, pulang kerumah atau tidak ? Baiklah pulang saja akan aku hadapi hantu itu, untung saja tak bergentayangan kepada Liam, kalau tidak hantu itu akan mati untuk yang kedua kalinya.


Segera Andre memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumahnya. Lalu membawa pemukul bisbol yang memang selalu ada didalam mobilnya.


Untuk berjaga-jaga saja takut nanti ada yang mencegatnya atau seperti hal yang sekarang, kalau hantu dipukul akan hilang lah ini kalau malingkan berbahaya.


Mengendap-endap untuk memukulnya dengan perlahan diangkatnya tongkat itu dan "paman sudah datang " teriak syifa tetanganya yang memang selalu menganggunya.


"Kamu kenapa ada didepan pintuku anak kecil, rambut digeraikan seperti ini, dan pakaian mu ini sungguh membuatku menjadi parno tau ga " marah Andre.


"Hehehe maaf paman aku tak bermaksud untuk begitu, paman apa tega ingin memukulku denyan tongkat itu " jawab Syifa sambil menunjuk tongkatnya.


"Ya tadinya aku akan memukul mu, aku kira kamu hantu. Ya makannya kamu jangan aneh aneh deh kaya gini"


"Ish paman jahat, wajar aku seperti ini. Karena paman selalu saja menghindar dari ku , paman aku ini sayang sama paman tau ga, dari dulu aku tuh ngejar paman tapi paman menjauh dari ku dan hanya menganggapku hanya seorang anak kecil aku ini sudah dewasa "


"Syifa kau itu jauh denganku umurnya, mungkin saat ini kau mencintaiku tapi bisa saja nanti hal itu akan hilang dengan seiringnya waktu bisa jadi sekarang kau hanya cinta monyet padaku" sambil mencubit pipi Syifa dengan cukup keras.


"Paman nakal sakit tau, tak akan cintaku ini sangat besar untuk paman beneran deh dan aku tak cinta sama monyet paman ih gimana sih paman ini " dengan wajah memelasnya.


"Hem sudah sekarang kau pulang ya anak kecil manja, kau saja belum tahu apa itu cinta monyet berarti kau belum dewasa"

__ADS_1


"Tidak aku tak mau pulang, aku ingin bersama paman kedua orang tua ku pergi keluar negri untuk melakukan bisnis jadi aku sendirian dan ayah serta ibu menitipkan ku kepada paman coba aja paman tanya ibuku "


"Tidak kau pulang anak kecil, katanya kau sudah dewasakan jadi kau mulai sekarang harus berani " bentak Andre.


"Paman jahat membentakku " Syifa yang kecewa karena dibentak lalu pulang dengan lesu.


Huff aku menjadi serba salah sekali dengan anak ini, memang ayah ibunya itu selalu menitipkan Syifa padaku. Mereka tak takut apa bila aku apa-apakan anaknya itu.


Hets tapi aku bukan laki-laki bejat dan tak akan mungkin aku melakukannya. Syifa sudah aku anggap seperti adikku dia sebentar lagi akan lulus sma umurnya baru 17 tahun sedangkan aku sebentar lagi akan berusia 30 tahun jauh sekali kan umur kami ini.


Aku sungguh tak tega dengan Syifa "kesini lah anak kecil " teriak Andre.


Dengan senang Syifa segera membalikan tubuhnya lalu berlari dan meloncat ke tubuh Andre dengan senang.


Untung saja Andre bisa menangkapya dan mengendong Syifa seperti bayi monyet " kau ini anak kecil bagaimana kalau jatuh " tegur Andre.


"Maaf paman aku sangat senang sekali, nanti aku injeki ya punggungnya agar tak sakit " sambil mempererat pelukannya kepada Andre dan menyenderkan kepalannya ke bahu Andre.


"Janji ya, awas saja tidak, punggungku sedang lelah sekali anak kecil "


"Ya udah yu sekarang masuk kedalam paman, aku tau paman sudah tua pasti badannya akan sakit-sakit"


"Hehehe iya juga paman aku sayang paman " sambil mengecup pipi Andre.


Dengan masih mengendong Syifa, Andre membawanya kedalam rumah, tetangga-tetangga yang lain sudah tak aneh lagi dengan kelakuan mereka berdua.


Ya mereka menganggapnya seperti biasa saja ya hanya sebatas tetangga dan mereka memang sudah dekat dari dulu.


Segera Andre duduk diruang tamu menyenderkan badannya itu lalu menyakalan tv.


Syifa malah makin menempel saja kepada Andre "heh anak kecil apa kau tak akan turun " sambil mengoyang-goyangkan kakinya.


"Tidak akan ah paman aku suka seperti ini "


"Tapi aku pegal anak kecil "


"Huh dasar paman sudah tua " ucap Syifa yang langsung mengecup bibir Andre dengan tiba-tiba lalu menutup wajahnya sendiri karena malu lantas turun dari pangkuan Andre dan berlari kedapur.


"Akan aku ambilkan minum paman " lanjut Syifa sambil berlari.


Andre yang mendapatkan ciuman dari anak kecil itu tiba-tiba menegang. Kenapa anak kecil itu bisa melakukan ini apa dia sudah melakukannya kebanyak pria. Harus dia marahi anak kecil itu.

__ADS_1


Aku dari dulu menjaganya dan sekarang dia sudah tau hal-hal seperti itu dari siapa coba.


"Anak kecil, siapa yang mengajarkan mu mengenai hal yang seharusnya belum harus kau ketahui " teriak Andre.


Syifa yang sedang menyeduh kopi dan menyiapkan air minum hanya terkikik saja mendengarkan teriakan paman Andre.


Sangat senang sekali aku membuat paman marah seperti aku mendapatkan asupan gizi senangnya diriku ini.


Segera Syifa menyusunnya di dalam nampan dan membawanya keruang tamu dan menemui pamannya.


"Apa sih paman teriak-teriak kangen ya" saat sudah sampai dihadapan Andre dan menyimpan nampannya di meja, lalu duduk kembali dipangkuan Andre.


"Kamu diajarkan oleh siapa melakukan hal seperti itu anak kecil, laki-laki mana saja yang sudah kamu cium selain pamanmu ini "marah Andre.


"Cie paman cemburu nie ceritanya, tenang saja aku hanya memberikan pada paman, ini perdana hanya untuk paman dan sampai kapan pun hanya paman yang akan merasakan ciumanku ini " sambil cengegesan.


"Tida aku tak cemburu anak kecil, siapa yang mengajarimu seperti ini. Kau belum waktunya untuk mengetahui hal seperti itu "


"Ih paman kok ga mau ngaku sih, aku tau ini karena temanku juga suka melakukannya sama pacarnya bahkan lebih dari yang aku berikan pada paman " cerita Syifa sambil memukul dada Andre.


"Lalu kenapa kamu melakukannya pada paman, seharusnya kamu jangan mengikutinya itu tak baik anak kecil"


"Ist paman aku ini sudah dewasa umurku saja sudah 17 tahun dan aku harus berapa kali berbicara pada paman kalau aku ini mencintai paman " dengan matanya yang berbinar-binar menatap Andre.


"Anak kecil sadarlah usia kita sangat jauh sekali dan kau sudah aku anggap seperti adiku sendiri "


"Usia tak masalah paman, yang penting saling mencintai , itu dulu sekarang harus mulai mencintaiku " sambil tersenyum dan mengelus pipi Andre.


"Tak bisa begitu, itu orang lain kalau paman dengam Syifa tak bisa "


"Kenapa tak bisa sama saja kok paman, pokoknya mulai sekarang paman harus mencintaiku beri aku waktu ya" ucap Syira dengan tekadnya yang besar.


"Baiklah apa katamu saja anak kecil, cepat bukannya tadi mau mengurut punggung ku "


"Baiklah paman pemarah cepat telungkupkan badan mu itu aku akan mengincaknya dengan sangat keras " sambil turun dari pangkuan Andre


Dengan menurut Andre segera menelungkupkan tubunya tapi sebelum itu menyeruput dulu kopi buatan Syifa, Syifa segera naik dan berdiri diatas tubuh Andre, perlahan memijat tubuh Andre dengan cara menginjak-ijaknya seperti yang memang selalu Syifa lakukan.


Syifa terus saja menginjak-nginjak tubuh Andre dan Andre yang keenakan malah tertidur tanpa menganti pakaian sama sekali.


Syifa yang tak merasakan pergerakan sama sekali dari paman Andre segera turun dan mengeceknya ternyata tertidur.

__ADS_1


__ADS_2