Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Semuanya jelas


__ADS_3

"Ibu, kapan ibu kesini " teriak Zeline sambil berlari kearah ibu mertuanya itu.


"Jangan lari-lari sayang, ibu baru saja sampai sayang "


"Wah kok ibu ngagabarin Zeline sih "


"Kan kejutan buat bumil, ayo sekarang makan lagi ya "


Segera mereka berdua berjalan kearah meja makan, melepas kerinduan mereka sambil makan bersama.


**


Zeline yang baru ingat dengan ponselnya segera mengambilnya, banyak panggilan tak terjawab dari Jo dan juga kak Asa ada apa ya mereka ini.


Baru juga Zeline akan menelfon Jo, tiba-tiba ada yang menelfonna namun itu no asing. Dengan ragu Zeline mengangkatnya "hallo ini siapa ya " tanya Zeline..


"Line ini aku Jo, maafin aku Line "


"Minta maaf karena apa Jo, emangnya kamu ngelakuin apa sampai minta maaf sama aku "


"Maaf aku pindah kampus dan melanjutkannya di inggris, maaf aku tak langsung berpamitan sama aku. Aku ngelakuin ini supaya Riyan ga ngejar-ngejar aku lagi. Aku pengen fokus nuntasin kuliah aku tanpa terganggu oleh Riyan "


"Kamu kok jahat Jo, kenapa ga bilang dulu kalau kamu mau pergi, kenapa ngedadak gini dan sekarang kamu udah disana"


"Iya aku minta maaf Line, bukannya aku gamau nemuin kamu terlebih dahulu tapi aku ngehindari Riyan Line, tolong ngertiin aku ya Line. Aku pasti kembali lagi kebandung. Aku janji saat kamu nanti saat kamu melahirkan aku akan datang ya. Aku pengen nata hati aku lagi Line. Dan siapin diri aku buat ngehadapin Riyan "


"Iya kalau itu buat kamu tenang, aku ga masalah tapi kamu janji ya bakalan terus kabarin aku, tenang aku ga akan kasih tau kak Yan. Tapi bener ya kamu bakal kembali "


"Iya kau janji Line, makasih ya Line. Makasih banget kamu udah ngertiin aku "


"Iya sama-sama Jo, emm udah dulu ya aku mau beres-beres dulu " alibi Zeline. Padahal dirinya sudah tak kuat ingin menangis. Kehilangan sahabat itu lebih dari kehilangan pacar tau.

__ADS_1


Zeline segera mencari ibunya, dimana ibunya itu berada "bu "panggil Zeline namun tak ada respon sama sekali.


Namun saat melihat keruang tv ternyata ibunya ada disana"ibu " teriak Zeline sambil rebahan di paha mertuanya itu.


"Sayang, kenapa kamu tiba-tiba menangis begini, apa Liam marahin kamu atau ngelakuin sesuatu sama kamu gitu "


"Engga bu, mas Liam baik kok, bu sahabat aku Jo. Ninggalin aku bu. Dia pindah kuliahnya dan ga bilang langsung, tadi dia telfon aku. Aku sedih banget ibu "


"Kenapa dia pindah, apa ada masalah di kampusnya ssayang "


"Engga bu, cuman ada masalah sama pacarnya dia pengen putus dab akhiri semuanya tapi pacarnya masih ngejar-ngejar dia bu "


"Kok gitu ya pacarnya nyebelin, kamu jangan sedih ya Line, dalam pertemuan pasti ada perpisahan. Kan masih ada ponsel kalian masih bisa telfonan. Pasti nanti kalian ketemu lagi ibu jamin deh " sambil mengacungkan jempolnya namun tak ada jawaban. Segera mertuanya itu menegok ternyata tidur.


Ibu mertuanya hanya bisa tersenyum sambil mengelus-ngelus rambut Zeline dan itu membuat tidur Zeline makin nyenyak.


Liam yang baru pulang kerja segera bergegas perki kedalam rumahnya, melihat ibunya sedang menonton tv.


"Walaikumsalam Liam, iya nih tadi habis nangis-nangis langsung ketiduran "


"Zeline nangis kenapa bu " dengan wajah khawatirnya.


"Katanya Jo sahabatnya pindah kulian dan tak pamit padanya langsung jadi sedih, kamu pindahin gih, istrimu kekamar kasihan dia. Tapi nanti kamu kesini lagi ada yang ingin bicarakan denganmu tentang Nina"


"Iya bu sebentar ya bu " Liam segera memangku Zeline dan menidurkannya ditempat tidur mereka mencium keningnya terlebih dahulu. Sebenarnya Zeline sudah bangun namun sengaja pura-pura tidur. Ingin mendengar apa yang akan mereka bicaran mengenai Nina.


Liam segera keluar dari kamarnya menutup pintunya perlahan, lalu bergegas pergi menemui ibunya. Zeline segera bangkit dan mengendap-endap keluar dari kamarnya.


Lalu bersembunyi di dekat lemari kaca yang dekat dengan ruang tamu. Jiwa keponya meronta-ronta.


"Apa yang ibu ingin tanyakan tentang Nina pada Liam. Apa begitu penting sampai harus di bicarakan seperti ini bu"

__ADS_1


"Mana dia sekarang Liam, bukannya kau sudah memecatnya lalu sekarang mana Nina, kenapa dia tak kembali ke jakarta disana bibi mamahnya . Selalu menanyakan pada ibu. Tentang keberadaan anaknya itu. Dia taunya kamu memecatnya dan memulangkannya namun tak kunjung datang juga"


"Ibu pengen Liam jujur atau bohong "


"Ya jujur lah na. Kamu ini gimana sih "


"Yaudah Liam jujur tapi ibu ga boleh marah "


"Gak janji Liam "


"Yaudah Liam ga akan kasih tau ibu "


"Ya udah ibu ga akan marah "


"Nina udah tenang dialam sana bu, Liam udah habisin nyawanya. Dia itu bedalu dan gak pantas hidup "


"Hah Liam, bukannya udah janji ga akan bunuh lagi. Kenapa sekarang kamu ngelakuinnya lagi"


"Iya Liam janji, tapi kalau orang itu mengusuk rumah tangga aku dan ingin menyakiti istriku Zeline aku tak akan tinggal diam. Berani berbuat berarti berani bertanggung jawab apakah benar begitu bu "


"Iya tapi kamu jangan bunuh juga, kenapa kamu ga kirim aja Nina langsung kejakarta kan aman, gak akan ganggu kamu dan istrimu "


"Tadinya maunya gitu, tapi difikir-fikir engga deh bu, nanti Liam dan Zeline serta anak kitakan akan tinggal dijakarta, kalau masih ada perempuan penggangu hidup kami tak akan bahagia. Aku ngelakuin ini untuk keluarga ku bu, aku gamau Zeline celaka. Dia udah beberapa kali mau celakain istriku bu. Aku merekam semua kejadiannya. Dia perempuan licik. Aku tak suka. Beri saja uang mamahnya bilang kalau Nina baik-baik saja. Mungkin menurut ibu itu salah tapi itu bentuk perlindunganku untuk Zeline istriku. Aku tak mau Zeline celaka "


"Iya ibu tau, tapi untuk kedepannya jangan gegabah. Kan masih bisa di bicarain na. Kita cari solusi yang terbaik"


"Ga bisa bu, ada yang ganggu istriku dan ingin mencelainya nyawa taruhannya " setelah mengatakan itu Liam lantas pergi meninggalkam ibunya sendirian.


Zeline yang sudah kembali kekamarnya. Sedang memikirkan kata-kata suaminya. Jadi ternyata waktu itu ada wangi Nina, karena Nina dijebak oleh suaminya lalu dibunuh. Suaminya membunuh Nina karena dirinya.


Lalu sekarang harus bagaimana, harus marah atau bahagia. Sekarang fikirannya terbagi dua antara membiarkannya atau mengungkitnya. Memang dirinya kecewa karena suaminya membunuh orang kembali namun disatu sisi hatinya lega ternyata suaminya tak selingkuh seperti pemikirannya waktu itu. Tak menghianatinya sama sekali. Hanya dirinya saja yang terlalu ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2