Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Tak usah didengarkan


__ADS_3

"Kamu tahan ya Syifa " ucap Andre sambil memangku Syifa


"Kenapa ini tuan " ucap salah satu suster.


"Tolong istri saya dia sedang hamil, dia pendarahan tolong ya sus tolong "


"Baik pak, ayo tidurkan di sini pak " ucap suster itu menunjuk salah satu tempat tidur.


Syifa segera didorong oleh beberapa suster dan Andre di belakang terus saja mengekor.


"Tuan tunggu disini, biar istri tuan di cek dulu oleh dokter"


"Baik sus "


Andre diluar yang menunggu Syifa tak bisa diam, mondar mandir seperti setrikaan. Dirinya snagat takut terjadi apa apa pada Syifa dank anak yang sedang dikandung oleh Syifa.


"Nah sudah diperiksanya bu, ibu jangan kecapean ya, untung ibu tepat waktu dateng kesininya, kandungan ibu lemah jangan terlalu banyak fikiran dan stres ya bu " ucap suster itu.


"Tapi anak saya gak apa apa kan dok "


"Engga bu tenang saja, sus tolong panggilkan suaminya "


"Baik dok "


Suster itu segera pergi dan menghampiri Andre yang sudah ada didepannya.


"Bagimana sus "


"Mari tuan, ikut dulu kedalam "


Andre dengan cepat segera masuk dan melihat Syifa yang sedang berbaring.


"Kau tak apa " sambil memeluknya dengan erat


"Ya aku baik baik saja paman "


"Pak bisa kita bicara dulu " ucap sang dokter.


Andre segera melepaskan pelukannya dan duduk dihadapan dokter.


"Jadi bagaimana dok keadaan istri saya"


"Begini pak, kandungan ibu Syifa itu lemah dan sangat rentan sekali, saya sangat minta tolong pada bapak untuk lebih memperhatikan ibu Syifa. Jangan sampai dia setres dan juga banyak fikiran. Saya akan membetikan obat penguat kandungan ya untuk bu Syifa "


"Baik dok saya akan menjaga istri saya dengan sebaik baiknya "


"Apakah bu Syifa masih suka mual mual pak "


"Emm mual mual ya, emm "


"Tidak dok " jawab Syifa.


Dokter itu segera menatap kearah Andre dan Andre hanya bisa tersenyim kikuk saja. Memang dirinya tak tau kan.


"Tolong istrinya lebih diperhatikan lagi pak ya jangan dibiarkan. Bapak harus selalu tau tentang keadaan bu Syifa" tegur sang dokter.


Dengan canggung Andre hanya mengangguk saja, dari pada urusannua makin panjangkan.


***


Sekarang Andre dan juga Syifa sedang menunggu obat, tiba tiba saja ada yang menoel Andre.


"Andre kamu ngapain disini dan ini siapa, aku kira aku tadi salah liat " tanya Milla, entah mengapa mereka selalu saja bertemu.

__ADS_1


"Aku sedang mengantar istriku kedokter, kau sedang apa disini "


"Istri ? Kapan kau menikah kenapa aku tidak tau, bukannya kau hanya akan menikahi satu perempuankan yaitu Syifa lalu kenapa kau sekarang sudah menikah saja "


"Iya aku hanya akan menikahi Syifa saja, ini kenyataan kan aku dan Syifa menjadi suami istri, maafkan kami, soalnya hanya keluarga saja yang menyaksikan "


"Oh jadi ini Syifa hay, kau begitu spesial dimata Andre "


Syifa hanya bisa tersenyum, dirinya masih lemas.


"Apakah dia bisu Andre "


"Jaga bicaramu Milla "


"Aku hanya bertanya saja kok "


"Dia normal dan dia bisa bicara, ayo sayang kita pergi dari sini "


Andre segera mengandeng tangan Syifa, tampa melihat lagi kearah Milla.


"Padahal cuman nanya kok marah sih " Milla yang acuk segera pergi dengan hati yang sakit dan cemburu. Kenapa secepat itu Andre bisa menikahi Syifa.


"Paman, lalu obatnya bagaimana "


"Aku sampai lupa, ayo aku antarkan kau dahulu ke taman, nanti paman yang akan mengambilnya ya "


"Baiklah paman "


Mereka berdua segera berjalan kearah taman, Andre segera membuka jaketnya dan memberikannya pada Syifa.


"Pakailah jaket ini ya, paman akan masuk dulu sebentar jangan kemana mana ya. Paman akan kembali lagi "


Andre segera pergi meninggalkan Syifa, sampai lupakan obatnya gara gara berurusan dengan Milla yang menyebalkan itu.


"Ku kira perempuan yang didamba dambakan Andre secantik bidadari ternyata sama saja ya seperti yang lain. Dia sampai rela menunggu mu loh. Padahal dulu kau mempunyai pacar, namun kenapa tiba-tiba kau menikah dengan Andre tidak ada angin tidak ada hujan tiba tiba saja menikah dengan Andre "


"Memangnya kalau mencintai itu harus dilihat dari kecantikannya ya, apakah harus dilihat dari fisiknya juga tentu tidak kan, mencintai itu dilihat dari hatinya bukan karena dia cantik secantik bidadari atau dia badannya bagus, kalau saja orang mencintai karena fisiknya lalu saat nanti tua bagaimana, apakah akan masih mencintainya ?. Oh ya aku harus memanggilmu apa, tante atau ibu umur kita sangat jauh kan aku baru saja 19 tahun, sedangkan kau mungkin sudah 30 tahunan ya soalnya sedah terlihat kerutan kerutan dimata mu "


"Kau ini masih anak kecil namun bicaranya sudah pedas ya, ya memang tidak juga mencintai tidak harus melihat dari fisik, tapi aku aneh saja kenapa Andre sampai sebegitunya cinta padamu "


"Aku berbicara pedas, lalu kau. Apakah kau tidak menyadari kalau kata-katamu itu bisa menyakiti seseorang kau ini kan sudah tua, seharusnya bisa lebih menyaring bicaramu tidak seperti ini, kalo aku wajar saja aku masih muda dan aku masih butuh bimbingan kalau aku kau sudah kurang ajar "


"Berani beraninya kau " sambil mengacungkan tangannya akan menampar Syifa.


Namun tangan Milla hanya mengambang begitu saja, Milla segera berdiri dan memegang orang yang memegang tangannya.


"Lepaskan Andre "


Andre dengan kasar segera melepaskan tangan itu "sekali lagi ku lihat kau akan kasar pada istriku lihat saja aku tak akan main main, carilah kesibukan mu sendiri jangan ganggu orang lain. Pantesan kau diceraikan oleh suamimu, ternyata kamu seperti ini ya, aku baru tahu lo sikapmu yang sesungguhnya. Untung saja aku tidak sampai dekat denganmu terlalu lama "


"Ayo sayang kita pulang "


Dengan cepat Syifa segera bangkit dan menggandeng tangan Andre " Ayo paman kita pulang jangan ladenin perempuan ini rasanya tidak ada gunanya. Hanya akan menghabiskan waktu saja kalau kita berbicara dengan wanita tua ini, benarkan paman "


"Iya sayang kau selalu benar ayo"


Andre dan Syifa segera pergi meninggalkan Milla, Milla yang kesal segera menghentakkan kakinya lalu menatap kepergian Andre dan juga Syifa dengan mata yang marah dan hati yang cemburu. " Awas aja kalian berdua, sekarang kalian masih happy-happy , lihat aja suatu saat aku akan melakukan sesuatu pada kalian berdua"


"Paman perempuan itu siapa kenapa dia sangat kasar saat berbicara dan seenaknya. Apakah kalian dulu mempunyai hubungan spesial. Sampai-sampai dia sepertinya membenciku"


"Tidak, tidak mempunyai hubungan spesial dengan dia. Kami hanya teman, dulu saat masih sekolah aku dan Liam teman dia dan mungkin saja dia menyukai paman mungkin itu pun. Dan kami juga sempat dekat tapi Paman dekat dengan dia bukan karena mencintai dia atau sedang mengejar dia tapi dekat sebagai teman sebagai teman seperti dulu kita dekat sebagai teman itu saja gak lebih kok "


"Baiklah paman, mungkin dia merasa kalau paman sedang mendekatinya "

__ADS_1


"Ya mungin bisa jadi "


Setelah itu tak ada pembicaraan lagi, hening didalam mobil seperti tak ada orang, mereka sama sama bungkam tak tau harus berbicara apa lagi.


Akhirnya mereka berdua sampai, Andre segera membantu membuka kan pintu untuk Syifa dna Syifa segera keluar dari dalam mobil.


Namun tiba tiba ada ibu ibu yang lewat dan sedang berbisik bisik dan berhenti tak jauh dari hadapan Andre dan juga Syifa.


"Itu bukannya s Syifa yanh calon suaminya meninggal, saja denger sih dia nikah sama Andre, kuburan calon suami juga belum kering udah nikah lagi aja ya, gebet kali ya bu "


"Iya bener gak punya perasaan banget, apa s Syifa itu hamil "


"Bisa jadi bu, pulang pulang tiba tiba mau nikah anehkan "


Syifa yang mendengar itu segera pergi masuk meninggalkan Andre sendirian.


Andre yang melihat Syifa akan menyusulnya, namun sebelum itu dirinya akan menegur seseorang dahulu.


"Maaf ibu ibu apakah kalian sudah masak "


"Eh Andre, belum kenapa emang " jawab salah satu ibu ibu.


"Dari pada gibah ya bu, mending masak deh urus suami, urus anak, beres beres, jangan urusin hidup orang lain ya pamali, mari ah ibu ibu "


Setelah sedikit menegur ibu ibu itu Andre segera masuk dan mencari Syifa, ternyata Syifa ada didalam kamarnya sedang menangis.


Andre segera menghampiri Syifa dan Syifa dengan cepat segera mengusap air matanya, "jangan menangis paman sudah menegur mereka, kau harus ingat pesan dari dokter jangan kecapeann dan jangan setres, kau jangan dengarkan ucapan mereka disini ada paman yang selalu membelamu, jadi kau acuh saja pada meraka toh kau juga tak merepotkan mereka kan "


"Iya paman. aku hanya entahlah tiba tiba saja menangis "


"Hemm apakah bawaan dari bayi "


"Entahlah paman "


"Apakah paman boleh mengelus perut mu "


"Tentu paman beleh "


Andre segera melakukannya dan saat bertama kali memegang perut itu Andre segera mengeluarkan tangannya dengan wajah kaget.


"Kenapa paman "


"Ku kira perutmu tak akan keras seperti batu"


"Lalu harusnya bagaimana paman "


"Paman kira perut mu akan lembek dan tak seperti ini "


"Yey emang apaan lembek paman, aku ini sedang mengandung tau "


"Iya iya paman kan gak tau Syifa, makannya paman kaget waktu pegang "


"Kirain aku kenapa paman "


"Udah berapa bulan ini Syifa "


"Sudah 4 bulan paman tinggal menunggu 5 bulan lagi akan lahir, apakah paman nanti tak malu saat anak ini lahir "


"Kenapa malu, harusnya kita bersyukur karena sudah dipercaya untuk mengurus anak , malahan paman sudah tidak sabar "


"Ya hamil kan seharusnya 9 bulan kita baru saja menikah masa 5 bulan sudah melahirkan paman "


"Paman kan sudah katakan jangan dengarkan apa kata orang, kita fokus saja pada hidup kita, nanti juga mereka akan diam dengan sendirinya, paman akan selalu ada untuk membelamu sayang "

__ADS_1


Syifa hanya bisa tersenyum malu dan menundukan kepalanya, sedangkan Andre bahagia bisa menjadi bagian hidup Syifa dan anaknya kelak.


__ADS_2