
Lisa segera masuk ke dalam ruangan Riyan dan menutup pintunya dengan cukup keras, dia tidak memikirkan bagaimana perasaan Riyan , bagaimana kalau dia kaget dia kan sedang sakit.
Lisa langsung duduk dan membalikkan badan Riyan supaya menghadap padanya, Lisa mengusap rambut Riyan dengan perlahan.
"Bisa nggak sih Lisa pelan-pelan aja. Kamu ini kenapa sih Kasar banget, dari tadi keluar sampai sekarang masuk lagi kedalam ruanganku, kenapa kau melakukan itu "
"Apaan sih perasaan biasa-biasa aja deh, temen kamu tuh si Choki ngapain sih ke sini nunggu kamu terus-menerus. Aku tuh kesel tau nggak aku harus jadi nunggu di luar, kamu makan sekarang ya ini dari tadi kamu nggak makan kan karena terlalu banyak ngobrol sama dia. Dia bilang apa aja sama kamu, kamu dihasut apa aja sama dia, ayo cepet bilang sama aku, otak kamu jangan sampai ternodai oleh kata kata Choki yang tidak penting "
"Ya kalau apa-apa tuh tutup pintu tuh pelan-pelan aja, emang ini di rumah kamu bukan kan, ini di rumah sakit banyak yang sakit juga, jelas Choki ada di sini karena dia yang tolong aku kalau aku ditolong sama orang lain nggak akan ada Choki di sini, udahlah kamu nggak usah banyak protes aku lagi nggak mau makan dan aku sama sekali nggak dihasut apa-apa sama Choki jadi kamu nggak usah negatif dulu aja deh sama orang lain, seharusnya kamu berterimakasih sama dia bukannya kayak gini"
"Ini buktinya kamu berubah, kamu jadi kayak gini sama aku bicara aja kamu nggak kayak waktu itu, pasti ini semua karana Choki udah bilang sesuatu sama kamu, sampai-sampai kamu merasa bersalah kan. Udah ayo cepetan makan kamu tuh jangan manja, harus makan yang banyak emang kamu mau kayak gini aja, kamu tuh benar-benar bodoh tau nggak sih bunuh diri cuma karena Jovanka aja, apa sih spesialnya dia sampai kayak gitu, padahal dia biasa aja gak ada apa apanya sama sekali "
"Aku tidak berubah aku masih Riyan yang sama, dari pada kamu marah-marah mending kamu pulang aja aku bisa urus diri aku sendiri tanpa ada kamu, mending kamu pulang aja deh dari tadi kamu tuh nyorocos marah-marah emang orang sakit mau ya dimarah-marahin kayak gitu, udah mending pulang aja aku bisa kok nanti makan sendiri tanpa harus kamu minta ayo makan ayo makan, aku sudah besar dan aku mampu makan sendiri "
Lisa menyimpan makanannya dan menatap tajam Riyan" kamu bilang kamu bisa urus diri kamu sendiri terus dengan melakukan bunuh diri kamu bisa urus diri kamu sendiri gitu, itu tuh harus dalam pengawasan gimana kalau kamu tiba-tiba lakuin bunuh diri lagi jangan aneh-aneh deh demi cewek aja kayak gitu, aneh aneh aja kamu laki laki seharusnya gak pantes lakuin kayak gitu "
__ADS_1
"Kamu nggak tahu perasaan aku bagaimana ditinggalkan sama Jovanka, jadi kamu nggak usah deh banyak protes atau bilang apa ini itu nggak usah, kamu nggak tahu gimana sakitnya, jadi lebih baik kamu pergi aja sekarang jangan ganggu aku dan jangan ganggu hidup aku, aku emang laki-laki pengecut yang cuman bisa lakuin hal bodoh kayak gitu, kamu udah tahu kan aku gimana. Jadi kalau kamu mau tinggalin aku pun aku tidak masalah, silahkan saja "
"Kamu bilang hati kamu sakit. Aku juga sakit lihat kamu terlalu sayang sama Jovanka. Buat apa kamu ajak aku selingkuh jalau ujung-ujungnya emang kamu nggak bisa lepasin Jovanka. Kalau kamu udah selingkuh berarti kamu udah bisa mutusin dan bisa cerai sama Jovanka ini malah kayak gitu cuman gara-gara Jovanka aja kamu bisa langsung ngelakuin bunuh diri, kalau misalnya kamu ditinggalin sama aku kamu akan kayak gitu juga nggak, ya meskipun tadi kamu sudah mempersilakan aku untuk pergi, apakah kamu akan melakukan hal yang sama bila aku pergi juga "
Riyan kembali membalikkan badannya. Sudahlah pusing dirinya berdebat terus-menerus dengan Lisa. Yang pastinya tidak akan pernah ada ujungnya sampai kapanpun.
Kalau terus-menerus dirinya melayani Lisa yang ada dirinya makin stres dan pusing mengurusi semua ini, urusan bersama Jovanka saja belum selesai ditambah dengan Lisa yang selalu bertanya itu dan itu dan bertanya kenapa dirinya selalu takut kehilangan istrinya mana ada yang mau kehilangan istrinya sendiri.
"Lebih baik kau pulang Lisa aku sedang sakit dan aku ingin istirahat. Cukup aku tidak mau berdebar lagi tolong kau pulang aku tidak mau terus-terusan berdebat denganmu capek tahu nggak, perdebat terus-menerus namun nggak ada ujungnya, itu tuh malah bikin aku setres aja tau gak sih"
Lisa membereskan semua makanannya mengambil tasnya dan langsung keluar dari dalam ruangan Riyan, setelah Lisa keluar Riyan membenarkan tidurnya dan memegang kepalanya yang cukup pusing.
"Jo apakah kau sudah tidak peduli lagi denganku suamimu, di sini aku sakit tapi kenapa kau sama sekali tidak ada datang kemari untuk sekedar menengokku saja aku akan senang, namun kau tidak ada aku melakukan semua ini agar kau bisa kembali lagi padaku, namun akhirnya sama saja aku tidak kembali padaku kau sekarang dimana, Apakah kau sangat sibuk sampai-sampai seperti ini mendiamkan aku. Apakah pekerjaanmu sangat banyak sampai menyita semua waktumu dan kau tidak bisa meluangkan waktu hanya untuk menengok ku saja"
Riyan mengambil ponselnya dan akan memberikan pesan pada istrinya semoga saja dibalas dan istrinya mau kemari, untuk melihat keadaannya ini.
__ADS_1
Sayang aku lagi ada di Rumah Sakit, apa kamu nggak mau datang ke sini, datang ya ke sini aku butuh kamu emang kamu nggak khawatir sama keadaan aku , aku benar-benar butuh kamu sayang aku butuh kamu ada di samping aku dan selalu temanin aku tolong datang ke sini sekali aja.
Aku mohon sama kamu kali ini aja. Tolong kamu datang ya jangan tolak permintaan aku. Aku pengen ketemu kamu dan pegang perut kamu yang ada anak kita.
Setelah memberikan pesan Riyan terus saja menunggu balasan dari sang istri namun sudah ditunggu 1 menit 2 menit sampai 5 menit bahkan sudah 10 menit dan sudah 1 jam istrinya tidak membalas.
Biasanya sang istri tidak pernah membiarkan dirinya menunggu seperti ini, tapi Jovanka sekarang sudah sangat berubah dia kembali pada Jovanka yang dulu saat dirinya bertemu Lisa dan dia memutuskan hubungan mereka berdua dirinya sekarang merasakan itu kembali.
Riyan menyimpan ponselnya dan mencoba untuk menutup kedua bola matanya, perutnya memang lapar tapi dirinya tidak mau mengisinya sebelum Jovanka yang datang kemari dan menyuapinya.
Karena dirinya tidak bisa tanpa Jovanka. Sampai kapanpun tak akan bisa tanpa Jovanka memang dirinya salah tapi setidaknya beri dirinya kesempatan lagi, pasti dirinya tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi dan akan lebih membahagiakan Jovanka dari pada sekarang, dirinya akan melepaskan Lisa dan kembali pada istrinya tidak akan selingkuh selingkuh lagi dengan perempuan manapun itu.
Riyan yang mendengar notifikasi segera mengambil ponselnya. Namun ternyata itu bukan pesan dari sang istri malah pesan dari teman-temannya yang menanyakan kenapa dirinya tidak masuk kerja.
Riyan kembali menyimpan ponselnya dan kembali diam dan sekarang melamun memikirkan bagaimana cara bisa kembali lagi kepada Jovanka dan Jovanka bisa memaafkannya dengan tulus dan tidak ada kata perceraian diantara mereka berdua.
__ADS_1