
Milla sudah sampai dirumah dan disambut oleh suaminya yang duduk mengadapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Dari mana kamu "
"Apakah harus kau tau aku dari mana "
"Dari maan, kenapa kau tak menjemput Naura, apakah kau tau Naura menunggumu sampai berjam jam dia tak mau pulang sebelum ibunya yang menjemput "
"Berarti bukan salah ku kan salah anakmu. Siapa suruh dia menungguku sampai selarut itu, aku tak pernah menyuruhnya untuk menungguku jadi Itu bukan kesalahanku Ibrahim anakmu saja yang bodoh"
"Kau bahkan tak khawatir pada anakmu sendiri, kau yang sudah berjanji pada Naura untuk menjemput dan mengantar nya kita sudah membuat perjanjian kan rtapi mengapa kau malah mengingkari semuanya"
"Ya larena aku ingin jalan-jalan apakah salah sudahlah jangan diperpanjang nanti juga aku akan mengantar jemputnya, sudah jangan berisik. Aku ingin istirahat aku sekarang lelah"
"Baiklah kau sana istirahat dan aku akan mencabut semua kartu ATM mu semuanya, karena itu yang membuat kau bisa lupa dengan anak mu sendiri "
"Kau tak adil dasar gila. Aku tidak akan menerima semuanya kau memblokir semua kartu ATM ku aku tidak akan sudi mengantar anakmu kembali sekolah ataupun menjemputnya"
Ibrahim memijat kepalanya saat Milla sudah pergi masuk ke dalam kamarnya, rasanya kepalanya ingin pecah sekali menghadapi rumah tangga yang sepertinya tak akan mungkin bisa bahagia dan tidak mungkin bisa baik-baik saja seperti orang lain.
**
"Sayang ayo bangun kita sudah sampai "
"Hemm lepaskan dulu ini tutup matanya mas, kita sampai tujuan kan mas "
"Iya sayang sudah sampai ayo "
Liam segera membuka tali penutup mata istrinya, Zeline dengan perlahan membuka kedua bola matanya dan terbelalak ternyata suaminya membawa dirinya kerumahnya, kerumah orang tuanya.
Zeline nenatap suaminya dan tersenyum senang "aku benarkan ini yang kau inginkan "
"Iya mas aku senang sekali "
Zeline langsung memeluk suaminya dan keluar dari mobil dan berlari kearah rumahnya yang sudah terbuka, dan sang anak sudah dipangku oleh ayahnya.
"Ibuuu aku senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan ibu langsung "
"Ibu senang sayang ibu sangat senang akhirnya kita bisa ketemu maafkan Ibu tidak bisa menemuimu di sana"
__ADS_1
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu aku yang minta maaf karena tidak menengok ibu dan ayah kesini "
"Tidak apa nak tidak apa "
Ibunya Zeline segera melepaskan pelukannya dan memeluk menantunya "kalian segeralah istirahat, biarkan Lucas tidur bersama ibu, kalian masuk lah kekamar ya "
Zeline mengangguk dan Liam langsung membawa kopernya, mengusurnya keatas.
Saat Zeline membuka pintu kamarnya dia langsung menatap suaminya dan mengigat semua kenangannya dulu. Kenangan bahagia dan kenangan menyedihkan.
"Mas apakah boleh besok aku menegok Abi apakah boleh aku menemuinya hanya besok saja "
Liam mendekati istrinya mengusap kepalannya lalu menganggukan kepalanya "terimasih, aku hanya ingin mengirimkan doa untuknya "
"Iya sayang aku mengerti, segeralah istirahat nanti kita sama sama pergi kesana ya "
Zeline menganggukan kepalannya dan pergi kearah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
**
Tora sedang makan berhadapan dengan Airin yang sama sekali tak menyetuh makanannya " Tenang saja aku tidak membuat daging manusia lagi Jadi kau makan jangan membuatku marah dan nanti malah memukulmu"
" aku ingin pulang aku ingin bertemu dengan ibuku. Apakah kau sudah gila mengurungku hampir satu minggu aku ini mempunyai keluarga, aku ingin bertemu dengan ibuku dia sendirian pasti dia sangat sedih keluarkan aku dari sini. Aku bahkan tidak kenal denganmu dan aku tidak akan mungkin mengatakan apa-apa pada siapapun lepaskan aku"
" Aku tidak akan memakan makanan ini kau saja yang makan"
"Baiklah jika itu memang keputusanmu aku akan terima maka aku pun tidak akan mempertemukan dirimu dengan Ibu mu bagaimana"
"Apakah kau benar akan mempertemukan kami berdua"
"Yang pasti tidak maka cepat kau habiskan makanan itu"
"Dasar gila kau "
Airin membanting piringnya itu lalu pergi kedalam kamarnya dan saat akan menutup pintunya, Tora menahannya dan mendorong Airin ke tempat tidur.
Lalu mengunci pintunya, kembali lagi pada Airin, menindih tubuh kecil itu. Sesekali tangannya mengusap wajah kecil Airin.
"Apa yang ingin kau lakukan, lepaskan aku lepaskan "
__ADS_1
"Aku ingin membuat bayi bersama mu, bagaimana aku ingin kau tak kemana mana diam disini dan mengurus anak kita "
"Gila kau, gila lepaskan aku lepaskan "
Namun Tora sama sekali tak menjawabnya dan tak melakukan apa yang Airin katakan.
Dia melakukan apa yang dia ingin lakukan, tak mementingkan Airin yang ada dibawahnya, yang kesakitan dan merasa hancur karena ulah laki laki ini, ulah Tora yang bejat.
Dia telah merusak masa depanya, merusak semuanya, dirinya sudah hancur sehancur hancurnya, dunia runtuh dalam sekejap saja.
**
Jo sudah ada dikantor dia sudah tau kalau bosnya sedang cuti dan akhirnya hanya dia yang kerja dan menghandle semua pekerjaan bosnya.
"Jovanka "
"Gavin kau ada disini "
"Iya aku kan akan metting dengan suaminya Zeline "
"Oh ya aku sampai lupa, kau meetingnya jadi bersamaku, karena pak dosen lagi ke bandung sama Zeline jadi aku yang menggantikan semuanya"
"Baiklah aku kira bakal di yang meeting dengan ku, aku sudah penasaran dengan wajahnya, setampan apa sampai sampai Zeline mau dengan dia "
"Pokoknya tampan banget kamu juga kalah kali Gavin dan nggak akan mungkin kamu bisa ngalahin nya jadi udahlah nggak usah pengen ketemuan nanti juga akal lihat kok suami Zeline setampan apa "
"Iya deh iya deh ya udah ayo kita meeting sekarang, nanti sudah selesai kita makan siang bareng ya kita ngobrol-ngobrol gitu"
"Ok deh "
Jo segera membawanya keruang meeting dan segera melaksanakannya dengan karyawan karyawan yang lain pula.
**
Airin terbangun dengan badan yang sakit serta tak memakai pakaian sehelai pun, saat melihat kesampingnya dia melihat Tora yang masih tidur.
Air matanya mengalir deras dan Airin melihat kanan kiri dia melihat pisau buah, dia sangat ingin balas dendam dengan laki laki ini.
Tanpa banyak fikir lagi Airin mengambil pisau itu dan menusukannya kearah dada Tora.
__ADS_1
Namun tangan Airin ditahan oleh Tora, Tora segera bangkit dan menatap Airin dengan senyum mengejek "kau ingin membunuhku Airin, dengan pisau sekecil ini, itu tak akan membuatku mati Airin "
Tora merebut pisau itu dan membuangnya secara sembarangan, lalu tanpa di duga duga oleh Airin Tora melakukan kembali apa yang telah dirinya lakukan semalam.