
Syifa yang baru sampai dibandara segera mengusur kopernya. "Jadi gimana sekarang Syifa apa lo mau langsung nemuin om om itu atau istirahat dulu dihotel"
"Boleh, kita langsung aja kesana, bukannya lo pengen cepet bereskan semua ini, gue janji setelah ini kita akan langsung pulang, gue gak akan pernah bohong sama lo, gue janji gak akan temuin lagi paman Andre, dalam keadaan apapun, lo pegang janji ini ya"
"Yaudah ayo kita pergi kesana, kerumah sakit yang menampung orang tua itu, oke gue akan pegang janji lo itu, kalau lo gak akan pernah temuin orang tua itu lagi"
Nabil segera memasukan semua barang barangnya ke bagasi dan membukakan pintu belakang untuk Syifa. Bahkan Nabil sudah menyiapkan mobil untuk mereka di jakarta. Sungguh sangat niat sekali Nabil.
Mobil segera melaju meninggalkan bandara, Nabil tiba tiba saja mendekap Syifa dengan erat "ada apa dengan mu Nabil, main peluk peluk aja"
"Tidak apa, tidak boleh aku memeluk mu Syifa, aku sangat ingin memelukmu sepanjang hidupku, aku kan pacarmu, malah sudah menjadi calon suami mu, masa hanya memeluk tak boleh, aku kan mau juga merasakan memeluk mu, jarang jarangkan aku mau memelukmh tanpa sebab, jadi kau hanya perlu menikmatinya saja ya"
"Ya bukan begitu aku hanya aneh saja denganmu, tidak biasanya saja kau memelukku dengan sangat erat seperti ini, ya aku adalah calon istrimu aku tau, tak usah kau mengulang ngulang kata itu kepada ku"
"Yaudah diem kamu ni, aku pengen peluk kamu sepuasnya, sampai aku bener bener puas aku baru akan melepaskan mu Syifa"
"Kamu ini kaya yang gak ada hari esok aja, kita kan akan hidup sampai nanti, sampai tua, ada apa sama kamu, apa ada sesuatu yang membuat kamu gelisah, ayo cerita sama aku, jangan dipendam kaya gini, aku kan jadi kepo mau tau tentang semua yang kamu rasakan "
"Entahlah syaang. Aku merasa hidupku tak akan lama lagi, aku merasa aku akan kembali kepada tuhan dengan cepat dan meninggalkan mu dari dunia ini"
"Kenapa kau berkata seperti itu Nabil, kenapa kau sangat tega, jangan tinggalkan aku jangan berkata seperti itu lagi, aku gak mau kamu tinggalin aku Nabil. Aku gak akan sanggup kalau harus menerima semua ini, kalau kamu tinggalin aku, aku sama siapa aku akan curhat sama siapa, aku pasti akan sangat kesepian"
"Kita kan gak tau, kapan kita mati, kan hanya allah yang mengatur segalanya, jadi kalau udah aku waktunya meninggal ya meninggal aja Syifa kita gak bisa nolak, gak bisa undur undur waktu untuk tak meninggal, kita gak bisa memilih Syifa, gak bisa"
"Kalau gitu bawa aku Nabil, bawa aku, aku gak mau kalau sampai kamu ninggalin aku, bawa aku ya jangan tinggalin aku, biar kita terus sama sama "
"Ya gak bisa lah, masa mati bawa bawa orang lain sih, kamu ini ada aja kelakuannya, "
Nabil makin mempererat pelukannya dan Syifa segera mendongakan kepalanya kearah Nabil, dan Nabil segera mengecup bibirnya dengan bertubi tubi.
Bahkan Syifa sampai melonggo melihat sahabatnya bisa melakukan semua ini, melakukan hal yang tak terfikir sama sekali olehnya.
Dan ciuman itu malah berubah menjadi sebuah *******. Pak supir yang melihat kearah sepion hanya bisa tersenyum canggung.
"Pengantin baru ya " celetuk pak supir.
Nabil dengan segera melepaskan ******* itu dan segera menjaga jarak dengan Syifa. Malah ketaun sama orang lain, malu sekali, masa ciuman pertamanya udah dilihatin sama orang lain, dasar Nabil tak tau tempat
"Gak apa apa kali, lanjutin aja, saya gak lihat kok beneran, tadi gak sengaja saya ngerti kok, pengantin baru gimana jadi gak usah canggung ya sama saya, udah biasalah saya liat yang kaya gitu mah mas, mba jadi lanjutin aja, saya janji gak akan liat lagi"
Namun Nabil sama sekali tak mau menatap wajah Syifa hanya bisa menundukan kepalanya dengan senyum senangnya, ciuman pertamanya dengan sahabatnya dan dilakukan dengan orang yang dicintainya.
***
Sedangkan Andre yang ada dirumah sakit merasa tak tenang karena, tak ada kabar sama sekali dari Jo, ditelfon juga tak diangkat sebenarnya kemana Jo, ini tiba tiba menghilang tampa jejak.
"Ayo angkat Jo, jangan buat gue khawatir, angkat dong kampret angkat, kebiasaan deh lo Jo, bikin gue khawatir kemana sih Jo"
Namun sama sekali tak ada jawaban, saat Andre akan bangkit tiba tiba ada seorang suster yang datang "bapak mau kemana " tanya suster itu.
__ADS_1
Tadinya mau kabur malah ketemu suster "saya pengen kekamar mandi " bohong Andre.
"Baik pak saya antar, diluar ada yang ingin bertemu dengan bapak "
"Siapa subuh subuh kesini, yaudah sini bawa masuk"
Andre segera duduk kembali dan berbaring, melihat siapa yang datang dan saat melihat siapa yang masuk, Andre melongo melihatnya dan diam mematung saat Syifa masuk sendirin. Nabil hanya diam diluar menunggu Syifa menongkok laki laki tua itu.
Sungguh dirinya sangat senang Syifa ada dihadapannya rindunya terobati, baru beberapa ditinggal Syifa dirinya sudah sangat rindu apalagi kalau ditinggal selamanya bisa mati dirinya ini menahan rindu
Syifa duduk diam melihat keadaan Andre, saat Andre akan memegang tangan Syifa dia benar benar melihat ada sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.
Andre mengurungkan niatnya, tersemyum getir melihat cincin itu "jadi bener, kamu udah tunangan sama laki laki itu , yang dulu pernah ngaku ngaku jadi pacar kamu Syifa, jadi semuanya bukan sandawa lagi agar paman tak mengejar ngejar kamu lagi"
"Ya aku bener bener akan menikah dengan dia, Nabil gak akan pernah sakitin aku, apalagi sampai khianati aku, jadi aku terima lamaran dari Nabil kenapa engga, aku udah kenal dia, dia juga sahabat aku, jadi gak ada salahnya aku hidup sama dia buat selamanya"
"Apakah kau sudah melupakan paman, melupakan masa lalu kita, kehidupan kita, apa kau sudah lupa hah, tentang kebersamaan kita bagaimana, kau tak mau memberi satu kesempatan saja pada paman, kenapa sangat sulit meminta kesempatan kedua padaku"
"Semua itu sudah terlambat paman, aku sudah menerima lamaran dari Nabil, jadi aku gak bisa untuk kembali pada paman, carilah kebahagaian paman sendiri dan aku akan mencari kebahagianku bersama Nabil, penghianatan dan penolakan yang paman torehkan pada hatiku sungguh menyakitkan, jadi aku hanya bisa memaafkan paman saja tidak sampai balik sama paman, paman berfikir tidak paman dilu bagaimana, apa paman pernah memberikan ku kesempatan untuk membuat paman jatuh cinta padaku, tidak kan Paman, paman malah mengejar perempuan lain"
"Tapi aku sudah berubah, aku sudah mencintai mu Syifa, aku sangat menyesal telah melakukan itu semua padamu, maafkan aku, aku sangat menyesal sekali, ampuni aku apa perlu aku berlutut dihadapan mu agar semua kembali baik baik seperti semula"
"Tak perlu paman. Aku kesini hanya ingin melihat keadaan mu saja, tak lebih dari itu, ternyata kau sudah baik baik saja, aku akan kembali pulang. Paman carilah perempuan yang bisa membuat paman bahagai selamanya, aku pergi dan lupana semua kenangan kita "
Saat Syifa akan pergi Andre memegang tangan itu, memegang tangan Syifa dengan erat. Nabil yang merasa ada keributan didalam segera masuk dan melihat Syifa sedang di pegang tangannya oleh laki laki itu.
"Ada perlu apa lagi kau dengan calon istriku, ada perlu apa sih, kita sudah cape cape dari korea kesini hanya ingin melihat keadaan mu. Ternyata baik baik saja, apa kau menipu kami agar bisa bertemu dengan calon istriku "
"Kau masih calon, belum suaminya kan, jadi aku berhak untuk mengejar Syifa kembali dan merebutnya dari mu"
"Dulu kau kemana saja, kemana disaat Syifa mencintaimu kenapa kau meninggalkan dia malah memilih yang lain, kau itu laki laki yang tak punya pendirian, setelah kau ditolak oleh perempuan itu kau ingin kembali dengan Syifa, memang menurut mu Syifa itu apa hah, dia boneka menurutmu, dia manusia yang hidup dan punya hati "
"Aku sampai kapan pun tak akan rela bila Syifa jatuh kepelukan mu, lebih baik aku yang menikahi Syifa, aku sanggup membuat Syifa bahagia, jadi kau tak perlu khawatir kalau aku akan menyakiti Syifa, karena itu tak akan mungkin aku lakukan, "
Setelah mengatakan itu Nabil pergi dan menarik Syifa untuk pergi dari rumah sakit ini, percuma mereka datang kesini, yang pada akhinrnya hanya sia sia saja.
Syifa yang ditarik dengan begitu hanya diam tak membantah sedikit pun, Nabil membuka pintu mobil dan masuk dengan Syifa.
"Sekarang mau kemana mas " tanya pak supir.
"Ke hotell pak, cepat ya "
Selama perjalanan tak ada pembicaraan sama sekali, hanya keheningan saja.
Andre yang merasa semuanya sia sia berteriak dan membuat suster yang sedang lewat masuk kedalam ruangan inap Andre.
"Ya ampun tuan, ini berdarah "
Suster segera membaringkan tubuh Andre dan pergi untuk mengambil peralatan, dan saat sudah didalam langsung membersihkannya.
__ADS_1
"Bapak, jangan banyak gerak dulu, jahitannya belum kering, sebisa mungkin jangan berdiri dulu pak, kalau ada apa apa panggil saya atau suster lain pak, jangan memaksakan diri, saya permisi "
Saat suster sudah pergi Andre hanya bisa melamun, memikirkan semua kebodohannya, dia kira rencannya bersama Jo akan berhasil, namun kenyataannya sama sekali tidak, dirinya malah mendapatkan kenyataaan yang pahit.
Memang Syifa waktu itu sudah bilang di telfon, namun dirinya tak percaya, karena dirinya yakin Syifa masih menyayanginya jadi tak akan mungkin bila secepat ini menerima laki laki lain.
Namun ternyata semuanya sia sia dan berakhir seperti ini,, Andre kembali menghubungi Jo namun sama sekali tak ada jawaban sama seperti tadi.
"Kemana sih kamu Jo, sekarang aku sedang membutuhkan mu, kau dimana apa yang terjadi sebenarnya dirumah sampai kau tak bisa menghubungiku dan mengangkat telfon ku "
**
Syifa dan Nabil sudah ada di hotel, mereka hanya menyewa satu kamar namun dua tempat tidur, karena hanya untuk istirahat saja dan nanti sore akan pulang kembali ke korea.
Syifa segera mendekati Nabil yang sedang duduk ditempat tidur, dengan sedikit canggung Syifa berdiri dihadapan Nabil, lalu Nabil mendongak dan memeluk perut Syifa dengan erat mendengelamkan wajahnya ke perut Syifa.
"Kamu kenapa Nabil. Apa kamu marah padaku, sampai kau mendiamkan aku begitu saja "
"Tidak aku tak marah hanya saja aku kesal pada om om itu yang mencoba merayumu lagi, kenapa sih dia tak ada kapok kapoknya, selalu saja menganggumu dan meminta mu untuk kembali padanya, apa dia tak dengar kalau kau tak mau Syifa, harus berbicara dengan kata apalagi dengan laki laki itu, agar mengerti bahwa kau adalah milikku "
"Kamu gak usah khawatir Nabil, aku kan sudah berjanji padamu kalau aku akan selalu ada disampingmu, aku tak akan kemana mana akan ada disini terus denganmu "
"Kemarilah duduk " sambil menepuk pahanya.
Dengan perlahan lahan Syifa duduk di paha Nabil dan Nabil kembali memeluk Syifa. Kau kenapa Nabil, kenapa ada apa dengan mu kenapa kau begitu manja "
"Entahlah aku hanya ingin saja memeluk mu terus menerus, kita sudah lama berpisah dan aku sangat bahagia bisa bersama mu kembali, aku sangat bahagai sekali Syifa sampai sampai aku tak ingin melepaskan pelukan ini"
Nabil segera mengangkat Syifa dan membaringkan ditempat tidur, Nabil kemudian sedikir menindih tubuh Syifa, membelai wajah Syifa dan menatap kedua bola mata Syifa.
"Apakah kau yakin akan menyerahkan hidupmu untuk selalu hidup denganku Syifa, apakah kau tak akan menyesal nantinya saat sudah menikah denganku "
"Ya aku sama sekali tak akan menyesal Nabil. harus kukatakan berapa kali lagi, kalau aku sudah yakin denganmu, yakin akan menikah denganmu kenapa kau menanyakan itu lagi padaku "
"Aku hanya memastikannya lagi saja Syifa aku takut kamu terpaksa melakukan semua ini, melakukan pernikahan dengan ku, "
"Tidak aku tak akan sama sekali merasa menyesal saat menikah denganmu, aku akan bahagia bersama mu, dengan orang yang akan menemaniku sampai akhir hidupku, aku tak akan ragu denganmu Nabil, tak akan pernah sampai kapan pun, jadi kamu jangan khawatir lagi ya "
Nabil hanya mengangguk menatap seluruh wajah Syifa dan berhenti saat melihat bibir Syifa yang merekah merah dan sedikit terbuka dengan berani Nabil kembali mengecup bibir itu, lalu Nabil melakukan sesuatu yang sama kembali seperti didalam mobil, ********** dan menyesapnya dan Syifa hanya bisa memejamkan kedua bola matanya saja.
Tangan Nabil tak tinggal diam, tangan itu masuk kedalam kaos Syifa dan menyentuh sesuatu yang kenyal serta menonjol meremasnya dengan perlahan dan malah membuat Syifa mendesah.
Nabil yang sadar segera mengeluarkan tangannya dan menatap mata Syifa yang sudah redup dan juga nafas yang tak beraturan.
"Maafkan aku Syifa, aku terbawa suasana"
Nabil segera bangkit namun tangannya ditahan oleh Syifa,"apakah kau bisa memeluk ku sambil tidur Nabil, aku ingin dipeluk lagi oleh mu "
Nabil hanya menganggukan kepalanya berbaring di sisi Syifa dan memeluknya dari belakang, membungkus tubuh kecil Syifa oleh tubuhnya.
__ADS_1