Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Nina yang malang


__ADS_3

Sekaran Jo dan Zeline sudah ada dikelas sedang mendengarkan dosen memberikan materi pada mereka semua. Bahkan tak ada suara sedikit pun. Hanya suara dosennya saja yang sedang mengoceh didepan.


Sedangkan Liam sedang mengunci ruangannya dan ingin segera memulai permainannya bersama ****** gila itu. Yang ingin mencelakai istrinya. Mari kita lihat akan sampai mana ****** itu bertahan dari dirinya.


Liam segera masuk kedalam mobilnya dan melajukannya kearah rumahnya. Ingin memberikan kejutan pada pelayan yang berani mengusik hidup keluarganya. Apalagi sampai ingin mencelakan istrinya.


Setelah sampai dirumahnya segera Liam mencari kebaradaan Nina" Nina dimana kamu, cepat kesini " teriak Liam


Nina yang mendengar tuannya memangil namanya segera berlari dan mencari arah suara tuannya, meski berjalan dengan kaki yang pincang dia tak mau sampai melewatkan pangilan tuannya siapa tau tuannya juga menaruh hati padanya.


"Ah iya tuan maaf aku lama " sambil tersipu malu.


"Tak apa, apakah kau sudah menyiapakan pakaianmu untuk pulang Nin, kalau kau tak ingin pulang mari aku carikan apartement untukmu. Apa kau mau" rayu Liam sambil memegang bahu Nina.


Nina yang kegirangan segera menggengam tangan Liam "apakah benar tuan akan membelikanku apartement " dengan wajah yang berbinar.


"Ya aku akan meberikanmu sebuah apartement, ayo sekarang segeralah kamu bereskan pakianmu sebelum istriku pulang "


"Baiklah tuan tunggu sebentar ya "


"Ya aku tunggu kamu di mobil ya "


Nina yang senang segera pergi kekamarnya, membereskan semua barang-barangnya "apakan kataku pasti tuan suka sama aku. Aku kan lebih cantik dari istrinya yang sialan itu. Hemm mari kita lihat siapa yang akan menang "


Sebelum keluar Nina memoles terlebih dahulu wajahnya agar terlihat makin menarik dihadapan tuannya. Yang tampan itu. Kesempatan ini jangan sampai dia sia-siakan begitu saja.


Setelah semuanya siap segera Nina pergi keluar rumah dan masuk kedalam mobil tuannya yang sudah ada didalam mobilnya "waw cantik sekali baby " puji Liam.


"Terimakasih tuan, aku sengaja berdandan seperti ini hanya untuk mu "


"Ya aku tahu, aku suka dengan dandananmu " dalam hati Liam mengucapkan banyak kata maaf pada istrinya Zeline karena sudah berani seperti ini bersama wanita lain.


Liam segera menjalankan mobilnya untuk segera pergi ke suatu tempat, tempat yang selalu dirinya pakai untuk mengeksekusi seseorang.


Selama perjalanan tak ada habisnya Nina mengaca, memperbaiki riasannya dan sesekali pula memegang tangan Liam.

__ADS_1


Dengan tenang Liam tak marah dan menerima semua perlakukan yang diberikan oleh Nina, demi misinya yang harus berhasil"maaf sayang, maafkan aku " ucap Liam didalam hatinya.


Nina yang melihat sebuah rumah segera keluar dan Liam segera mengeret koper Nina "tuan apa ini rumah untukku "tanya Nina masih dengan mengagumi rumah itu.


"Tidak baby ini rumah hanya untuk sementara saja. Nanti setelah aku melunasi apartement untukmu. Nah kau pindah kesana "


"Tapi tuan jika tinggal disini pun aku tak apa, aku suka tempat ini yang sepi dan sangat hening "


"Tak bisa. Istriku tau tentang rumah ini. Bagaimana kalau nanti tiba-tiba dia kesini "


"Baiklah kalau begitu. Ayo masuk tuan aku sudah tak sabar untuk melihat semua dalam dari rumah ini" Nina segera mengandeng Liam masuk sambil sesekali menampilkan senyumnya kearah Liam, dan itu membuat Liam sangat jijik.


"Ini kamarmu, kamu tunggu disini aku mempunyai kejutan untukmu tunggu ya " ucap Liam sambil mengelus pipi Nina dengan lembut.


"Iya tuan " dengan malu-malu dan menundukan kepalanya.


Liam segera pergi, mengunci semua pintu dan jendela. Tak boleh ada satupun yang terbuka dan harus hari ini juga perempuan penganggu itu mati ditangannya. Tak ada ampun untuk perempuan itu sampai kapan pun.


Sekarnag tinggal mengambil pisau andalannya, mungkin akan dimulai dengan menyayat salah satu tubuh wanita itu, pasti akan menyenangkan mendengarkan teriakannya.


Liam segera berjalan dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya. "ah tuan sudah kembali "


"Ya sudah baby" Liam dengan perlahan menghampiri Nina. Nina yang fikirannya sudah kemana-mana segera bangkit dan memundurkan langkahnya. Lalu sekarang sudah mentok di tembok.


Liam sudah ada didepan Nina "Tuan apa yang kau bawa. Hadiah apa yang kau berikan "


"Apa kau sangat ingin melihatnya "


"Iya tuan sangat, aku sudah tak sabar"


"Tutuplah kedua matamu "


Dengan menurut Nina segera memejamkan matanya dengan jantung yang berdebar-debar menunggu kejutan dari tuanya.


Liam yang sudah siap dengan pisaunya segera menyayat pipi Nina "hahahaha bagaimana apa kau suka " dengan tawa yang menakutkan.

__ADS_1


"Ahh tuan apa yang kau lakukan, kenapa kau melukaiku "


"Memangnya apa yang kau harapkan wanita sialan"


"Kenapa tuan tiba-tiba berubah seperti ini " dengan wajah yang sudah panik.


"Harus bagaimana aku ini ******, aku tak sudi memegangmu " Liam segera menjauh dan duduk di sebuah kursi. Ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh wanita ini.


Nina yang melihat tuannya malah duduk segera berlari sekencang-kencangnya untuk segera mengapai pintu utama.


Liam hanya menatapnya saja, lalu bangkit dan berjalan dengan santai untuk segera mengeksekusi wanita itu.


Nina yang mendengar suara langkah kaki segera cepat-cepat ingin membuka pintu, namun tak ada satupun yang terbuka, semua terkunci. Tiba-tiba saja jleb sebuah pisau menancap di punggung Nina.


"Kau mau kemana ******. Kau berani bermain-main dengan istriku berarti kau juga siap untuk berhadapan denganku " teriak Liam.


Nina segera membalikan badannya, sambil menahan sakit yang amat sangat ini, yang baru pertama kali dirinya rasakan. Nafasnya sudah memburu takut dengan kelakuan tuannya yang ternyata sangat gila ini.


Liam yang memang sudah membawa senjata yang lain segera menghampiri Nina, lalu menghujamkan sebuah tusukan pada dada Nina.


Sampai kedua mata Nina melotot "bagaimana apakah menyenangkan bermain denganku " segera Liam mencolek darah Nina yang mengucur dan menjilatnya. Muka Liam langsung berubah masam.


"Darah mu tak enak, pahit sama seperti dirimu "


Namun tak ada jawaban sama sekali, Nina sudah lemas dan tergeletak begitu saja. Liam yang memang ingin segera usai segera mengusur Nina. Dengan memegang tangannya.


Membawa Nina kedalam kamar mandi, dan didalam bathtub ada sebuah air keras yang bisa langsung melepuhkan kulit seseorang.


Setelah sampai didepan bathtub itu Liam segera memangunya dan langsung melemparkan Nina kedalam sana "Hahahahaha "tawa Liam mengema didalam kamar mandi itu.


Melihat Nina yang sudah tak berdaya didalam sana, bergerak seperti cacing kepanasan. Pemandangannya yang indah dan jangan sampai dilewatkan sedikit pun.


Setelah tubuh itu diam Liam segera menyalakan rokoknya dan memasukannya kedalam bathtub itu, membakar Nina didalam sana "rasakan karena sudah bermain-main dengan ku hahahahaha, sial ini sangat menyenangkan "teriak Liam sambil menyalakan rokok yang lainnya dan menyedotnya kembali.


Sambil melihat tubuh Nina yang terbakar habis oleh api yang besar, bahkan Liam enggan untuk keluar dan hanya ingin melihat pemandangan ini saja.

__ADS_1


__ADS_2