Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Matikah


__ADS_3

Riyan yang baru saja mendengar jawaban sang istri langsung membanting ponselnya dan menjambak rambutnya "Kenapa semuanya seperti ini kenapa kenapa rumah tanggaku malah menjadi hancur seperti ini. Cuman karena masalah sepele saja"


Riyan berlari ke arah dapur dan mengambil betol obat nyamuk dia meminumnya, lebih baik dia mati saja dari pada harus kehilangan istrinya mungkin semua itu akan lebih baik itu akan lebih baik.


Tiba-tiba saja kepalanya pusing dan mual muntah Riyan masih bisa berjalan dan dia sempoyongan matanya sudah buram tak bisa melihat lagi, dan tiba-tiba tergeletak begitu saja tak sadarkan diri.


Sedangkan diluar rumah ada yang mengetuk getuk pintu "Yan Yan buka dong, Jovanka Jo dimana sih kalian "


Orang itu segera membuka pintu rumah, kenapa berani karena mobil Riyan ada, ada hal penting yang harus dirinya bicarakan bersama Riyan.


Saat masuk berantakan sekali bahkan sangat berantakan sekali, "Riyan Jo kalian gak apa apa kan, kenapa rumah kalian berantakan kayak gini, Yan kamu dimana ya "


"Apa terjadi perampokan ini, sampai sampai rumah berantakan "


Saat Choki masuk lebih dalam lagi alangkah kagetnya melihat Riyan yang tergeletak begitu saja dilantai "Yan lo kenapa Yan, Riyan "


Choki yang binggung langsung memangku badan Riyan dan membawa kedalam mobil, lalu langsung melaju kearah rumah sakit.


Choki segera menghubungi Jovanka namun sama sekali tak tersambung nomornya tidak aktif, "aduh kemana sih Jovanka kok tiba tiba gilang suaminya kayak gini lagi semoga aja gak apa apa deh ah"


"Hubungin siapa ya, Liam aja gitu siapa tau Jovanka ada disana ya, iya siapa tau ada disana coba aja deh "


Choki dengan panik menelfon Liam dan untungnya langsung diangkat "Hallo kenapa Choki malem malem gini nelfon"

__ADS_1


"Maaf nih Liam gue ganggu, gue nggak maksud ganggu lo kok, ini cuman gue mau tanya di rumah lu ada Jovanka nggak sih, ini suaminya pingsan dan gue lagi ke rumah sakit, gue juga nggak tahu dia kenapa gue bingung gue telepon Jovanka tapi dia nggak angkat-angkat"


"Nggak ada Jovanka nggak ke sini, kayaknya dia ke rumah ibunya deh, kok bisa sih dia pingsan"


"Nggak tahu tadinya gue tuh ke rumahnya yang mau main aja dan ada yang perlu gue bicarain, karena ponselnya nggak aktif terus makanya gue datangin ke rumahnya, eh waktu gue masuk kok rumahnya tuh berantakan banget dan tiba-tiba gue lihat di dekat dapur dia pingsan kayak gini, gue bingung gue panggil-panggil nama Jovanka tapi nggak ada, ada masalah apa sih mereka ini sebenarnya sampai-sampai dia pulang ke rumah ibunya"


"Ya udah lo bawa dulu aja dia ke rumah sakit nanti pagi-pagi atau gimana lo telepon lagi Jovanka, gue nggak mau buka masalah orang lain. Lebih baik lo nanti tanya aja langsung sama orangnya ya, karena emang bener-bener Jovanka nggak ada ke sini kayaknya pulang ke ibunya eh tapi bukan Kayaknya sih emang dia pulang ke rumah ibunya, atau enggak lo telepon nomor rumahnya gitu siapa tahu kan diangkat nanti sama pelayannya dan bisa kasih tahu Jovanka"


"Iya juga lo punya gak nomor rumahnya Jovanka ya sekalian gitu, soalnya gue gak tau nih "


"Nanti deh gue cek dulu di ponsel istri gue kalau ada gue kasih sama lo, kalau gak ada ya udah "


"Iya makasih ya Liam "


Liam langsung mematikan sambungannya dan pergi kekamar mengambil ponsel sang istri dan mengecek kontak kontak disana dan benar ada nomor telepon rumah Jo, dengan cepat Liam mengirimkamnya.


Setelah itu Liam kembali lagi kearah ruang kerjannya dan akan membereskan bekerjaannya yang tinggal sedikit lagi, pumpung sang istri masih tertidur nyenyak kan kasian dia.


Saat Liam baru saja duduk ada lagi yang menelfon "siapa lagi sih ganggu terus deh perasaan "


Saat Liam melihat kearah layar ternyata itu adalah Tora "kenapa Tora "


"Tuan bagaimana ini dari tadi Riri hanya diam di atas pohon, mereka tidak ada pergerakan sama sekali jadi ini kita harus melakukan apa tuan, tuan ingin kemari dan melihat sendiri tidak , biar tuan yang memerintah langsung "

__ADS_1


"Baiklah nanti aku ke sana kau tunggu saja biar aku yang kasih sesuatu pada mereka, agar permainan itu cepat selesai dan kau juga cepat pulang pasti istrimu menunggu mu pulang kan, aku tahu karena setiap hari istrimu selalu saja berdiri di jendela seperti hantu"


"Ehh iya tuan siap tuan "


Liam langsung bergegas masuk kedalam kamar dan melihat istrnya yang masih nyenyak tidur, Liam membenarkan selimbut sang istri dan mencium kembali keningnya.


Tak lupa Liam turun dulu kebawah dan mengambil buah buahan, roti dan juga air minum, takut takut nanti istrinya malam malam kelaparan.


Setelah semuanya yakin aman Liam langsung pergi agar cepat pulang lagi juga kan


**


Tora kembali melihat kelayar, tadi dia sudah memberi makan ibunya Gavin namun sama sekali tidak dimakan dia hanya menatap Tora saja.


"Tolong lepaskan aku biarkan aku menyelamatkan anak-anakku. Kau pasti mengerti kan bagaimana perasaanku ini. Tolong buka dan tolong selamatkan anak-anakku juga mumpung bosmu tidak ada. Apakah kau tidak kasihan dengan mereka berdua. Bahkan mereka belum makan mana ada kakak adik yang bisa saling bunuh"


"Nyatanya ini ada di depanku anakmu Gavin bisa kan dia membunuh adiknya, dia saja setuju dan mengejar adiknya untuk membunuhnya hanya demi keselamatannya saja, aku mengerti perasaanmu tapi aku juga harus melaksanakan pekerjaan ini lebih baik kau makan, makanan yang aku belikan itu, jangan sampai Tuan melihatnya dan tak akan memberikanmu lagi makan lebih baik kau makan saja sekarang "


"Aku tidak mau sebelum anak-anakku dilepaskan, aku tidak akan makan mana ada ibu yang tega melihat anaknya seperti itu. Sedangkan dia enak-enakan makan seperti ini, tidak aku tidak akan melakukan itu lebih baik aku kelaparan saja dari pada melihat anakku seperti itu. Apakah kau tidak punya hati sampai-sampai kau tidak mau membantuku dan keras sekali tak bisa dipatahkan"


"Aku punya hati tapi pekerjaanku mengharuskan aku tidak mempunyai hati nurani, jadi lebih baik kau diam dari tadi kau nyerocos terus memintaku untuk melepaskan anakmu. Lebih baik kau makan aku sudah bilang kan kau makan apa susahnya tinggal makan, masukin makanan itu ke mulut kamu ayo lah bu jangan seperti ini, aku pusing loh denger ibu bicara yang itu itu lagi"


Ibu Gavin tak berbicara lagi, susah sekali membujuk Tora dari tadi dirinya berbicara namun tak di gubris sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2