
Jo yang dari tadi menelfon bosnya tak nyambung nyambung dan tak datang datang kekantor,
"Kemana sebenarnya pak dosen "
Tiba tiba saja pintu terbuka Jo sudah sangat senang itu pasti pak dosen, namun ternyata bukan, itu bukan pak dosen.
"Eh Zeline sama Lucas "
"Jo kamu lihat mas Liam enggak. Katanya dia udah pergi ke kantor tapi mana ya kok enggak ada di kursinya, atau lagi keluar dulu "
"Nggak ada pak dosen kok belum datang dari tadi, aku kira dia ada apa-apa, ini ada meeting tapi dia belum datang juga"
" Udah kok dia udah pergi dari tadi malahan tasnya dibawa sama Tora, katanya ada meeting penting jadi Mas Liam pergi duluan nggak bawa tas nya ketinggalan aku kira dia pergi sama kamu meetingnya"
"Ya sekarang meetingnya itu, meeting penting tapi pak dosen belum ke sini juga, dari tadi aku udah telepon dia tapi enggak diangkat-angkat "
"Kemana dulu ya mas Liam "
"Mungkin macet Line, kamu ada perlu apa Line "
"Gak deh soalnya kan aku tadi pergi kesini gak macet Jo, malah kan lebih dulu mas Liam, tadinya aku mau kemall aku tiba-tiba disuruh Mas Liam belanja gitu , ya mana ada mall buka pagi pagi, makannya ke sini dulu aja deh , eh malah mas Liamnya yang gak ada"
Pintu terbuka dan menampakan suaminya, Liam yang melihat anak dan istrinya ada disini terkejut, Lucas langsung menghambur kepelukan papihnya.
"Syaang kamu ada disini "
"Iya kamu kemana dulu, katanya ada meeting penting dan harus buru buru, tapi kenapa jadi aku yang lebih dulu datang kekantor kamu "
"Nanti ya aku jelasin, aku mau meeting dulu, kamu tunggu disini, Lucas sayang sama mamih dulu ya, papih mau kerja dulu "
"Benelan yah papih kelja "
"Iya beneran, kan ada tante Jo, ada mata matanya "
"Ok deh tulun pih "
Lucas segera berlari kearah mamihnya dan memeluknya dengan sangat erat, Liam dan juga Jo pergi meninggalkan Zeline diruangannya.
***
__ADS_1
"Paman aku tidak mau dirumah sendirian aku takut paman, takut mereka datang lagi, atau ada lagi selain dia aku takut paman, aku takut mereka mencelakakan anak aku "
"Yaudah kamu ikut paman aja ya, kamu ikut paman kerja ya, gimana mau "
"Emang gak akan ngerepotin paman, aku takut paman kerepotan"
"Engga kok sayang, aku sama sekali gak kerepotan ayo kita pergi kekantor "
"Yaudeh ayo paman "
Andre segera mengandeng tangan istrinya, lalu keluar dari dalam rumah, saat mereka membuka pintu sudah tergeletak sebuah kotak, Andre segera mengambilnya, namun saat akan dibuka Syifa segera menahannya.
"Tenang biar paman yang lihat kamu jangan " Syifa hanya mengangguk dan Andre membuka kotak itu ada sebuah kertas.
Aku tidak akan menyerah, meskipun teman mu telah membunuh anak buahku, aku akan terus meneror mu Syifa, sampai kapan pun tak akan pernah kubiarkan kau hidup bahagia begitu saja ingat itu.
Andre meremas kertas itu dan membuangnya "kenapa paman apa sebuah ancaman"
"Sudah sayang tak usah dihiraukan ayo kita pergi sekarang ya"
Syifa mengangguk dan mengikuti langkah suaminya, untuk pergi kekantor.
**
"Siap pak dosen, ayo Lucas kita jalan jalan sama tante Jo "
"Ayo tante aku mau esklim "
Jo segera mengadengn anak kecil itu dan keluar dari ruangan, sedangkan Liam duduk bersebelahan dengan sang istri lalu mengusap tangannya dengan perlahan
"Syaang lihat mataku "
Tanpa menjawab, Zeline langsung mengalihkan pandangannya menatap suaminya "dengarkan aku, memang aku tadi berangkat buru buru, dan menyuruhmu belanja agar tak jenuh, sumpah aku tak melakukan apa apa sayang, aku tadi ada masalah dijalan "
"Masalah apa mas "
"Aku tadi membatu orang yang tertabrak, aku mengantarkannnya bersama Tora, bahkan Tora ada disana menungguinya "
"Ya ampun perempuan atau laki laki mas "
__ADS_1
"Dia laki laki sayang, kasihan, aku pun sekarang tak tau keadaannya, semoga saja tidak apa apa, tapi bukan aku sayang yang menabraknya, tapi orang lain "
"Baiklah aku percaya mas, maaf aku curiga sama kamu "
"Gak apa apa sayang, aku ngerti sini peluk "
Dengan senang hati Zeline segera memeluk suaminya, maaf ya sayang aku berbohong kembali padamu, ini demi kedamaian rumah tangga kita, maafkan aku sekali lagi.
**
Sekarang sudah waktunya makan siang, Andre masih berkutat dengan laptopnya sedangkan Syifa sedang asik main permainan.
Tiba tiba saja ada yang masuk kedalam ruangan tanpa ketuk pintu.
"Eh ada Syifa, oh iya Andre aku membawakan mu lagi makanan, maaf ya Syifa aku hanya membawa 2 porsi untuk dan juga Andre "
"Kenapa kau membawanya aku sudah bilang kan, kau tidak perlu melayani ku ataupun memberiku makan, aku sudah bilang aku sudah mempunyai istri. Jadi kau tak perlu membawakan makanan atau memperhatikan diriku ini Milla"
"Kenapa sih Andre kamu malu ada istri kamu Syifa, aku setiap hari bawa makan sama kamu biasannya juga dimaka, yaudah kita makam bertiga ayo Syifa "
" Kapan aku makan masakan kamu enggak pernah tuh ,jangan kamu hasut Syifa ya, udah kamu keluar"
Syifa segera bangkit dan berjalan kearah Milla membuka makanan Milla dan langsung menatap Syifa "kau makan sendiri saja, tak usah mengajak suami orang untuk memakan masakan mu, dia punya istri yang bisa memasakannya makanan, dan melayaninya dia tak butub pelayan seperti mu, jadi kau makan sendiri "
Milla memelototkan kedua bola matanya, tangannya sudah melayang, namun Syifa segera menangkapnya dan mengenggamnya dengan keras.
"Aw sakit, Andre lihat istrimu, sakit "
Namun Andre hanya diam saja, ingin melihat istrinya segarang apa, tenang saja jika Milla mendorong istirinya ada dirinya yang menahannya.
"Kenapa kau meminta tolong pada suami orang, kau mintalah pada suami mu, aku ingatkan jangan kau ganggu suamiku, bibir pelakor kau pulang, memasaklah untuk keluargamu, bukan untuk suami orang dia baik, cepat pergi dari kantorku dan jangan kau kembali lagi kemanari, cepat pergi "
Syifa melepaskan cengkraman itu dan sedikit mendorong Milla, "Kasar sekali kau, kau ini sedang hamil tapi jahat pada orang lain, "
"Itu tak masalah, ini adalah pertahanku, untuk menjaga suamiku dari perempuan sepertimu, petempuan gatal yang selalu ingin digaruk oleh suami orang, enyahlah dan jangan membawa kembali makanan untuk suamiku, karena makananmu bukan selera suamiku, jadi tak usah repot repot kembali dengarkan "
Milla tanpa menjawab segera pergi, dengan wajah merah memendam amarah dan juga kesal pada ibu hamil itu, awas saja akan dirinya balas.
"Makannya jangan melawan ibu hamil huuh " gumam Syifa.
__ADS_1