
Riri terbangun dan dia sudah ada disebuah ruangan yang tak ada apa apanya hanya tembok besar saja, Riri mengelilinginya dan saat mendongak ada sebuah kaca besar.
"Dimana ini tolong siapa saja tolong, tolong " teriak Riri
Riri beralih menatap kesebuah lubang kecil yang sepertinya hanya cukup satu badan saja "siapa saja tolong lepaskan aku, tolong lepaskan aku "
Tiba tiba saja ada suara "Jika kalian ingin keluar dari ruangan itu maka ikuti permainan ini, aku sudah bilangkan aku akan membuat sebuah permainan untuk kalian, kalian coba lihat ada sebuah helm dikepala kalian, aku sudah memberi waktu pada kalian, jika kalian kehabisan waktu maka kalian akan mati terkena bom yang ada dihelm itu "
"Heyy apakah kau gila keluarkan kami, keluarkan ibu kak Gavin kalian dimana kalian dimana "
"Jika kau terus banyak bicara dan berteriak seperti itu maka kau akan kehabisan waktu dan kau mati di sana, lebih baik kau cari jalan untuk keluar dari ruangan itu"
Riri langsung mencari cari dimana jalan, sedangkam Gavin yang juga ada diruangan lainnya, ikut mencari apa dari istruksi itu, "dimana kau harus masuk mana, aku harus masuk kemana, dimana dimana "
Gavin lalu melihat ada lubang kecil sekali, Gavin mengorek goreknya ternyata didalamnya seperti ada sebuah lubang, Gavin dengan semangat mengorek ngoreknya dengan tangan kosong, dirinya tak masalah dengan tangannya yang luka.
Dan terlihatlah ada sebuah lorong, "apakah aku harus masuk kesini, ya lebih baik aku masuk saja, sepertinya hanya ini saja jalan satu satunya , ya ini saja sepertinya "
Gavin dengan perlahan lahan masuk kedalam sana dengan cara merangkan, dan lorong itu hanya cukup tubuhnya saja, hanya tubuhnya saja.
Kembali lagi pada Riri yang sudah binggung harus melakukan apa, namun dia mencoba untuk menarik besi yang menghalangi lorong itu dan terbuka.
__ADS_1
"Yang benar saja masa aku harus masuk kesini, apa tidak akan terjadi apa apa kalau aku masuk kemari, bodo lah yang terpenting aku harus keluar dari sini, aku tak mau terkurung disini dan mati dengan siapa siapa "
Tadi dirinya sudah mencoba untuk membuka helm itu namun sangat sulit dan malah sangat sakit sekali. Setelah masuk Riri hanya bisa melihat cahaya dari bolong bolong yang ada dilorong itu.
Dia terus saja merangkak dan dirinya menemukan sebuah lorong yang bercabang "lurus atau aku harus belok kanan atau belok kiri ya, kemana ya aku harus pergi .
Riri masih terdiam dan tidak bergerak, tiba tiba saja dirinya melihat ada sebuah cahaya yang sangat terang sekali, bahkan dirinya sampai memeicingkan matannya, saat cahaya itu makin dekat ada sebuah lorong disebelah badannya yang tiba tiba terbuka.
Saat dia baru sadar itu api tanpa fikir panjang Riri langsung masuk kedalam sana, dan api melewatinya begitu cepat, Riri mengusap dadannya yang jantungnya berdetak begitu kencang.
"Sebenarnya ini permainan apa kenapa begitu menakutkan, apa aku kembali lagi ke ruanganku"
"Sudah aku bilang Riri kau harus menjalankan permainan ini. Jika kau berani kembali lagi ke ruanganmu maka waktumu akan habis dan kau akan mati di tempat, maka sia-sia saja kan lebih baik kau teruskan perjalananmu, dari pada kau mati di sana dan hancur berkeping-keping"
"Lakukan atau nyawa ibu mu yang menjadi taruhannya "
Tiba tiba saja tempat yang ditempati oleh Riri maju dan membuat Riri mau tidak mau kembali pada lorong dan 3 pilihan "kenapa aku bisa terjebak disini, lebih baik aku memilih kanan saja semoga saja ini benar "
**
Diruangan kontrol Liam dan juga Tora ada disana, bahkan ibunya Gavin dan juga Riri ada disini, namun dikurung dia sedang menangis melihat kedua anaknya yang sedang disiksa.
__ADS_1
"Tolong lepaskan anak-anakku, tolong jangan seperti ini kenapa kau membuat permainan yang begitu bahaya untuk kedua anakku, tolong lepaskan mereka jika perlu nyawaku saja yang kau ambil jangan mereka lepaskan mereka "
"Siapa kau aku disini yang berkuasa dan kau tidak boleh memerintah ku. Sudah aku bilang anakmu sudah main-main denganku, maka inilah akibatnya inilah yang harus dia terima"
"Kau begitu jahat bagaimana jika istrimu tahu kelakuan mu begitu mengerikan seperti ini, dia pasti akan meninggalkanmu dan dia pasti akan membencimu aku yakin"
"Nyatanya istriku tidak tahu kan dan tidak akan pernah tahu memangnya siapa yang berani akan berbicara pada istri ku, emangnya kau yakin salah satu dari anakmu akan selamat dan aku yakin mereka tidak akan pernah selamat dan kau pun tidak akan selamat maka nikmatilah saja pertemuan kalian yang terakhir kau amati anakmu itu dan ingat-ingat memori terakhir kalian yang sangat menyenangkan"
Ibu Gavin tak menjawab lagi dia hanya bisa menangis saja, sangat keras sekali membujuk Liam , tidak bisa dengan mudah membujuknya harus mengunakan cara apa lagi membujuk Liam, kenapa begitu sulit.
"Tora kau jaga disini aku akan keluar dulu, awasi mereka dan berikan kejutan kejutan yang menyenangkan untuk mereka "
"Baik bos pasti "
Liam langsung keluar dan Ibu Gavin yang mempunyai kesempatan untuk membujuk Tora segera berteriak.
"Tora tolong kau bantu kami kau yang pertama membawa kami ke sini. Jadi kau yang bertanggung jawab atas semua ini tolong kau bujuk bosmu untuk melepaskan anak-anakku. Mengapa kau membawaku kemari hanya untuk membuat aku dan anak-anakku menderita saja, tolong kau bantu lepaskan aku , kami tidak akan pernah mengganggu keluarga kalian. Kami akan pergi jauh dari sini"
Tora menatap ibu Gavin, lalu menggeleng kepalanya " saya tidak bisa memutuskan apa-apa bu, disini yang berkuasa hanya tuan saya saja, saya di sini hanya sebagai anak buah pegawai dan tidak bisa melakukan apa-apa, saya tidak bisa melakukan hal licik pada Tuan saya, yang ada nyawa saya dan istri serta anak saya yang akan melayang, jadi ibu mengerti ini juga karena salah anak ibu juga kan. Karena dia sudah melakukan kesalahan pada tuan saya makanya dia mendapatkan hukuman ini, jika dia tidak melakukan apa-apa semua ini tidak akan pernah terjadi "
" Ternyata kalian sama-sama saja dasar kalian iblis setan tidak punya hati, kalian berdua sama-sama saja tak ada yang mengerti bagaimana perasaan seorang ibu"
__ADS_1
Tora membalikkan badannya dan kembali menatap layar monitor melihat Riri dan juga Gavin yang sedang berjuang.