
Ibu Jovanka sebelum masuk kedalam rumah menghembuskan nafasnya terlebih dahulu "neneng buatkan makan ya untuk Jovanka saya akan pergi kedalam kamarnya "
"Siap nyonya saya laksanakan sekarang, saya akan membuatkan makanan untuk nyonya Jovanka "
"Baiklah cepat ya "
"Baik nyonya "
Neneng segera pergi kedapur sedangkan ibunya Jo langsung pergi kearah kamar anaknya dan mengetuk pintunya "nak sayang Jovanka anak mamih, mamih boleh masuk ya "
"Iya mih boleh "
Dengan cepat ibu Jovanka segera masuk dan melihat anaknya yang sedang menonton Tv sendirian, Ibunya segera duduk disampiny anaknya.
"Ini semua gara-gara mamih ya"
Jovanka segera menatap mamihnya " maksud mamih apa"
"Foto pernikahan kalian foto Riyan semuanya nggak ada di sini. Apakah keretakan rumah tangga kalian ini gara-gara Mamih, apa karena keegoisan Mamih yang selalu ikut campur rumah tangga kalian iya"
__ADS_1
"Mamih itu bicara apa rumah tangga aku sama Riyan baik-baik aja kok, nggak ada apa-apa aku nyopotin semua foto-foto di sini cuman mau dibersihin aja, ya nanti kalau ada waktu aku bersihin, nggak ada sangkut pautnya sama mamih kok"
Mamihnya Jo langsung menangis Jo yang khawatir langsung memegang tangan mamihnya "kenapa mamih nangis, kenapa mih, ada apa "
"Kamu tahu nggak hati seorang ibu itu selalu tahu apa yang terjadi sama anaknya, kamu nanti kalau udah punya anak pasti kayak gitu. Mamih udah tahu semuanya kamu nggak usah umpet-umpet lagi sama mamih, karena Mamih udah punya perasaan dari waktu itu dan kenyataan kan kayak gini, mamih udah tahu tanpa kamu harus cerita sama mamih. Kenapa kamu nggak mau cerita sama mamih kenapa "
Jovanka bertahan sekuat tenaga dia tidak menangis karena dirinya tidak mau menangasi apa yang sudah suaminya lakukan, dirinya harus kuat untuk anaknya dan untuk dirinya sendiri dan juga untuk keluarga besarnya, tidak dirinya tidak boleh menangis dan harus kuat untuk menghadapi semuanya.
"Jovanka nggak mau bebanin mamih, atau orang lain. Jo gak mau Mamih malah kepikiran dan nanti malah sakit lebih baik biar Jovanka aja yang tanggung semua ini, ya mungkin Jovanka di mata Riyan tuh bukan istri yang baik jadi ya dia cari di luar"
"Tetap aja kamu harus cerita sama mamih keadaannya seperti apapun kamu harus cerita sama Mamih, jangan pendam semua ini sendirian, suami kamu aja yang nggak pernah bersyukur punya istri seperti kamu. Mamih nggak habis pikir Riyan bisa kayak gini berarti firasat Mamih saat kalian menikah tuh emang udah bener banget, kalau Riyan itu nggak akan bener sama kamu. Jika laki-laki yang masih mengingat masa lalunya dan masih terpaku dengan masa lalunya pasti akan seperti itu Jo, seperti yang kamu bilang waktu itu kalau Lisa adalah masa lalunya kan"
Tangisan ibu Jo makin menjadi jadi saja, dirinya sangat tau dan faman anaknya sedang menahan tangin dan berusaha kuat dihadapannya dirinya tau itu.
"Mamih akan mendukung apapun keputusan kamu. Jika kamu memang ingin pisah dari Riyan Mami akan membantunya dan Mamih tidak akan menghalang-halangi kamu untuk berpisah dengan Riyan, karena Mamih pun tidak mau anak mamih disakiti untuk kesekian kalinya, lebih baik berpisah dari pada tersakiti mungkin itu akan lebih baik buat kamu juga dan juga anak kamu yang ada di kandungan . Kamu harus jaga dia dengan baik, dia adalah sebuah hadiah dari Tuhan yang nanti akan menguatkan kamu dalam cobaan apapun dan masalah apapun "
"Iya Mih pasti Jo akan mempertahankan anak ini dan Jo akan kuat untuk dia, makanya Jo tidak mau memikirkan dulu tentang Riyan dan perselingkuhannya, lebih baik Jo fokus aja pada kehamilan ini, karena Jo tidak mau membuat kandungan Jo kenapa-napa"
Ibu Jovanka mengangguk dan memeluk anaknya dengan sangat erat "maaf ganggu nih, bibi bawain makanan buat nyonya Jo "
__ADS_1
Mereka berdua melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Bi Neneng yang membawa makanan dan langsung menatanya di meja"Ayo atuh nyonya makan ya biar sehat bayinya dan Nyonya juga sehat makan yang banyak ya "
"Yaudah kita makan sama sama ya, gimana gimana "
"Emang neneng boleh ya makan bareng kalian "
"Ya boleh dong, kenapa gak boleh ayo sini duduk " ucap Jo
Bi Neneng segera duduk dan mengambilkan makanan untuk nyonya nyonya dan mereka makan bersama.
Jo sekuat tenaga menguatkan hati, raga dan semuanya, dirinya harus terlihat ceria dihadapan semua orang jangan ada satu tetes pun air mata yang mengalir dari bola matanya.
Dirinya harus bisa menyembunyikan kesedihan ini hanya untuk bisa dirinya rasakan sendiri, tidak mungkin kan membagi kesedihannya pada maminya pada Bi Neneng atau pada Zeline itu tidak akan mungkin, dirinya tidak mau membebani orang-orang terdekat.
Ini begitu sakit bahkan sakit sekali hatinya, seperti di tusuk-tusuk oleh jarum dan saat pertama kali melihat suaminya bergandengan, satu kamar dengan seorang perempuan dan bermesraan dengan perempuan lain tangannya langsung dingin sekali, dan lemas.
Jantungnya berdetak dengan sangat kencang dan perasaannya tidak karuan, ingin mengeluarkan air mata tapi tidak bisa karena tidak mau membuat orang-orang yang ada di sekitarnya khawatir.
Ingin marah tapi bagaimana, semuanya campur aduk marah pun tidak ada gunanya, karena suaminya tidak akan kembali lagi. Memangnya dengan dirinya marah-marah mereka akan kembali ke masa di mana mereka berpacaran dan suaminya tidak selingkuh.
__ADS_1
Itu tidak mungkin jadi tidak ada gunanya lebih baik langsung mengambil keputusan saja, bukannya mengalah karena tak bisa mempertahankan tapi mengalah untuk kebaikan diri sendiri itu lebih baik, dari pada harus bertahan tapi selalu sakit dan menangis saja.