
Andre sudah ada didepan rumahnya, namun saat dirinya turun dari dalam mobil, malah melihat seseorang yang sedang menatap kearah rumahnya.
Andre yang penasaran segera menghampiri orang itu, namun orang itu yang mengetahui Andre mendekat langsung berlari dan Andre langsung mengejarnya.
"Hei kau siapa, heii jangan kabur kau "
Andre terus saja mengejarnya "jangan kabur bajingan " teriak Andre.
Saat Andre akan menyebrang tiba tiba saja mobil lewat dan membuat Andre kehilangan jejak orang itu.
"Sialan padahal sebentar lagi aku akan menangkapnya "
Andre akhinya berjalan kembali kearah rumahnya, sedikit berlari dan masuk kembali kedalam rumah, menutup gerbang rumahnya dan masuk kedalam rumah.
"Paman tadi kemana dulu, kenapa tidak langsung masuk kedalam rumah "
"Paman tadi mengejar seseorang yang mengintip kearah rumah kita, namun paman tidak keburu mengejarnya jadi paman kehilangan jejaknya. Mungkin ini yang membuat paman selalu khawatir denganmu "
"Mungkin hanya orang lewat saja paman"
"Kalau orang lewat tidak mungkin saat Paman menghampirinya dia berlari Syifa "
"Iya paman benar, tapi siapa itu "
"Entahlah paman akan mengecek cctv "
"Cctv, sejak kapan paman memasangnya "
"Sudah lama sayang paman akan mengeceknya "
Andre pergi ke arah ruang control dan mengecek cctv di luar rumah dan juga di dalamnya, namun dia malah terfokus dengan Milla yang datang ke rumah. tapi Syifa istrinya tidak berbicara padanya, Andre segera keluar dari ruangan control dan menemui istrinya.
"Kenapa kau tak bilang kalau Mila datang ke rumah"
"Aku tidak mau membuat paman khawatir"
"Aku sudah bilang kan kalau ada apa-apa bilang padaku, jangan menyimpan apa-apa dariku. Apakah kurang kata-kata yang Paman katakan padamu"
"Paman sedang banyak kerjaan, aku tidak mau membuat paman makin pusing dengan apa yang Milla lakukan "
"Paman sudah bilang kan kalau ada apa-apa bilang, pekerjaan bukan alasan untuk kau berbohong padaku. Apa kau tidak percaya denganku kalau aku bisa menjagamu dan menjaga anak mu pula"
"Bukan begitu paman "
"Sudahlah kau tidak percaya dengan suami mu sendiri"
Andre kembali keluar dan membanting pintunya dengan keras, Syifa yang mengejarnya malah menabrak pintu dan membuat hidungnya mimisan.
"Aww sakit sekali "
Syifa berlari kerah kamar mandi dan membiarkan darahnya mengalir. "nyonya ada apa "
"Hidung saya berdarah bih "
"Sini sini, saya obati nyonya sini "
Syifa bangkit dan duduk kursi, "harus dibawa kerumah sakit ini nyonya, takutnya hidunynya patah "
"Yaudah bibi bawa Nabil kerumah sebelah titipkan pada bi Sari ya "
"Baik nyonya "
Bi Nia berlari kedalam kamar dan membawa Nabil kearah rumah Zeline dan kebetulan sekali bertemu dengan bi Sari yang sedang menyapu halaman.
"Bi Sari saya disuruh nyonya titipin den Nabil gak apa apa ya, soalnya mau kerumah sakit "
"Siapa yang sakit Bi"
__ADS_1
"Hidung Nyonya berdarah mungkin hidungnya patah, saya harus mengeceknya dulu ya, mau ngantar Nyonya mengeceknya ke rumah sakit tolong tunggu sebentar ya bi Sari Maaf saya ngerepotin "
"Gusti iya gak apa apa, hati hati ya bi dijalannya "
"Iya bi saya pergi dulu "
Shifa sudah ada di dalam taksi bi Nia segera masuk ke dalam dan duduk bersama Syifa. Selama perjalanan Syifa mendongakan kepalanya supaya darahnya tidak mengucur terus-menerus.
**
Andre keluar dari dalam mobil, duduk di kursi taman sambil menyalakan rokoknya.
Andre melihat kearah satu keluarga yang sedang bermain, sesekali Andre tersenyum dan malah teringat dengan Syifa dan Nabil.
"Apakah aku keterlaluan seharusnya aku tak seperti ini, seharusnya aku tak marah pada Syifa, harusnya aku memberikannya pengertian, bukannya marah, aku harus pulang sekarang "
Andre membuang rokoknya dan kembali masuk kedalam mobil melajukan kembali kearah rumahnya. Selama perjalanan dia baru ingat kalau dirinya membanting pintu dengan keras, apa mengenai istinya atau tidak ya.
Andre semakin cepat melajukan mobilnya, dan saat sudah sampai didepan rumahnya langsung masuk tanpa mematikan terlebih dahulu mobilnya, masuk kedalam rumah namun sepi tak ada siapa siapa.
"Sayang dimana kau " namun tak ada jawaban, saat mengecek kamar sang anak juga tak ada.
"Bibi, bibi dimana " sama tak ada jawaban
"Kemana mereka sebenarnya, apa yang terjadi pada mereka, aku menjadi khawatir dengan keadaan mereka,"
Andre kembali berlari dan mencari kearah luar namun tiba tiba ada yang memanggilnya "cari siapa tuan " tanya Hamzah
"Apakah kau melihat anak dan istriku serta bi Nia "
"Tadi mereka pergi namun menitipkan Nabil disini, aku tidak tau pergi kemana mereka "
"Baiklah terimakasih "
Andre segera masuk kedalam rumah dan melihat anaknya Nabil sedang dipangku oleh bi Sari.
"Bi sini biar saya saja "
"Kata Bi Nia tadi kerumah sakit tuan, karena nyonya Syifa hidungnya berdarah takut takut patah hidungnya gitu "
Andre memejamkan kedua matanya dan segera mengeluarkan ponselnya, menelfon istrinya namun tak diangkat.
"Apa tuan mau menyusulnya lagi, tak apa biar den Nabil sama saya aja "
"Baik bi tolong ya "
"Baru juga Andre akan pergi dia melihat istrinya dan bi Nia yang datang kemari, mengambil Nabil "makasih ya bi udah jaga Nabil, "
"Iya nyonya tenang aja "
"Rewel gak bi "
"Engga sama sekali kok nyonya "
"Baiklah saya pulang dulu ya bi, sekali lagi makasih "
Syifa langsung pergi tanpa menghiraukan suaminya yang dari tadi mengajaknya bicara, dia hanya lurus saja berjalan kearah rumahnya, dan mengubris apa yang suaminya katakan.
Setelah sampai didalam kamar Nabil, Syifa membaringkannya dan duduk, Andre berjongkok dan memegang tangan Syifa.
"Maafkan paman, apa kata dokter tentang hidungmu "
"Baik tak ada apa apa, hanya cedera saja, untung saja benturan itu tak terlalu kuat, aku baik baik saja "
"Maafkan paman, paman terbawa emosi "
"Ini bukan salah paman, tenang saja tak usah merasa bersalah, aku pun baik baik saja tak terjadi apa apa dengan ku "
__ADS_1
"Sayangg "
"Sudah segeralah mandi dan makan, aku sudah makan tadi diluar "
Andre segera bangkit dan meninggalkan Syifa bersama anaknya, sekarang bukan waktu yang tepat untuk meminta maaf.
**
Tora sudah pulang dari rumah Airin dia membuka pintu kamar Airin, kamar yang berantakan, Tora duduk disisi Airin.
"Makanlah jangan membiarkan perut mu kosong "
"Tidak mau kau saja yang makan "
"Aku tadi bertemu dengan ibumu. Bahkan aku ke rumahmu ternyata kau saat kecil sangat manis ya, aku bahkan sudah berbincang-bincang dengan ibumu"
Airin langsung mengalihkan pandangannya " kau jangan berbohong padaku"
"Tidak aku tidak berbohong, memang kami bertemu dan mengobrol. Bahkan aku tahu di mana letak rumahmu"
"Jangan kau macam-macam pada Ibuku"
"Aku sama sekali tak macam-macam dengan ibumu, bahkan ibumu membicarakan saat kau masih kecil. Tenang saja aku sudah memberikan ibumu uang untuk berjaga-jaga dan untuk makan dia"
"Tolong lepaskan aku, aku akan melupakan tentang kejadian ini aku ingin bertemu dengan ibuku"
"Bagaimana jika kau mengandung anakku. Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun dan untuk ibumu tenang saja aku akan mengurusnya juga, tapi kau tidak akan bisa bertemu dengan dia sampai kapanpun, nanti setelah aku bosan denganmu maka aku akan melepaskanmu"
"Tidak mungkin tidak akan mungkin aku mengandung anakmu, memangnya aku barang yang bisa kau gunakan kapan saja, aku ingin pulang, lepaskan aku lepaskan aku "
baru juga Tora akan menjawab dia malah mendapatkan telepon dari bosnya, dengan cepat Tora keluar dari kamar dan mengangkat telepon dari Liam.
"Halo Bos ada apa"
"Kaau sudah melihat berita kalau Bulan sudah dikabarkan hilang. Jangan sampai ada tanda bukti sedikit pun yang bisa membuat polisi curiga"
"Tenang Bos aku sudah memusnahkan tubuh Bulan dan juga Lia, tidak akan mungkin ada bukti sedikitpun, aku sudah membakar semua barang-barang mereka berdua dan mobil Bulan pun sudah aku buang ke danau depan rumah "
"Untuk sementara kau diam saja dulu di rumah itu, awasi setiap orang yang datang ke sana dan kalau bisa mobil itu jangan dimusnahkan seperti itu, bisa saja ada seseorang yang menyelam ke bawah sana dan mencarinya"
"Baiklah Bos nanti malam saya akan mengangkat mobil itu dengan bantuan anak buah mu yang lain dan membakar mobil itu"
"Baguslah bagaimana dengan perempuan yang aku suruh musnahkan itu, yang telah melihat kau membuang mobil Bulan "
"Maaf Bos saya tidak bisa melenyapkan perempuan itu, tapi saya janji dia tidak akan membuka mulutnya sedikit pun "
"Baiklah jika sampai itu terjadi aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu "
"Baik bos tenang saja sepertinya aku tertarik dengan perempuan ini, jadi aku belum bisa membunuhnya. Mungkin setelah aku bosan dengan perempuan ini aku akan membunuhnya "
"Baguslah jika kau memang mencintainya pertahankan jika kau sudah tak butuh dengannya bunuh saja, dari pada merepotkan dan membuat masalah besar nantinya "
Sambungan pun langsung diputuskan oleh Liam sepihak, Tora menyimpan kembali ponselnya dan masuk lagi ke kamar Airin menutup pintunya dan mengambil piring yang masih berisi dengan nasi dan lauk pauk yang tadi dia masak.
"Makanlah jika kau menurut padaku suatu saat aku akan membawamu kepada ibumu "
"Benarkah "
"Ya benar aku tak berbohong jadi makan lah maka aku akan menbawamu kepada ibumu "
Airin mengambil piring itu dan segera memakannya dengan lahap, sesekali menatap pada Tora, dan memakan makanannya, Tora masuk kedalam kamar mandi, menganti pakaiannya, mengunci pintu dan menyimpannya didalam berangkas.
Lalu membaringkan dirinya diatas tempat tidur," setelah kau beres makan segeralah tidur jangan begadang, aku akan tidur sebentar "
"Apakah harus kau tidur disini denganku "
"Tentu karena ini adalah kamarku, jadi diamlah tidur atau aku tak akan jadi mempertemukan mu dengan ibumu "
__ADS_1
Airin hanya mengelengkan kepalanya saja dan menyimpan bekas piringnya, berbaring dipinggir Tora namun dihalangi oleh bantal guling.
Tora hanya mengelengkan kepalanya saja dan memejamkan kedua bola matanya sedikit beristirhat tak akan membuatnya rugi kan.