Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Perempuan tak tau diri


__ADS_3

Liam sekarang sudah ada dikantor tanpa Andre, karena Andre belum pulih benar dan akhirnya Jo yang mengantikannya. Sudah 2 minggu lebih Andre dirawat dirumah sakit dan sekarang dia akan pulang


"Jadi sekarang saya ada metting dimana Jo "


"Sekarang pak dosen ada metting di luar dengan bu Jasmin perwakilan dari perusahan Bima "


"Baiklah ayo sekarang kita berangkat kesana, aku ingin segera selesai Jo semuanya tanpa hambatan "


"Baik pak Mari, kita pergi kesana "


Mereka berdua segera pergi bejalan kearah mobil dan pergi melesat ketempat yang sudah di setujui oleh mereka semua.


Akhirnya sampai juga di cafe dan di pojok sana bu Jasmin sudah menunggu dengan sangat anggun.


"Yang mana Jo orangnya, aku sungguh tak tau"


"Itu loh pak. Yang pakaiannya kurang bahan dan dandanannya menor baget "


Liam hanya mengangguk saja berjalan kearah sana dan bu Jasmin yang memang sudah tau bagaimana Paras Liam segera berdiri dan menyambut Liam.


"Perkenalkan pak saya Jasmin perwakilan dari kantor Bima silahkan duduk pak "


Liam hanya menganguk saja dan duduk berhadapan dengan bu Jasmin, Jo duduk di sebelah Liam.


"Begini pak Liam bagaimana kalau kita makan dulu agar lebih enak saja"


"Sepertinya tidak, saya kesini untuk metting bukan makan jadi kita mulai saja bu Jasmin, agar cepat selesai, itukan lebih baik"


"Baiklah pak , jadi disini ada yang belum saya mengerti boleh tolong dijelaskan secara terperinci pak"


"Jo tolong kamu jelaskan kembali " Liam malah menyuruh Jo, dirinya sungguh tak suka dengan orang yang sudah dijelaskan namun tak mengerti


Jo dengan patuh segera mengambil dokumennya dan membukanya.


"Baik bu perkenalkan saya Jovanka asistenya pak Liam, jadi yang mana yang belum ibu mengerti biar saja menjelaskannya secara detail "ucap Jo dengan ramah.


Namun bu Jasmin malah menepis tangan Jo dan merdecih kepada Jo.


"Saya meminta pak Liam yang menjelaskan bukan kamu asisten amatiran, jadi diam jangan sok ramah atau pun sok kenal saya tak menyukaimu"


Jo menarik nafasnya dan menghembuskannya, baru juga ketemu masa iya udah gak suka.


"Tolong pak Liam saja lah yang jelaskan, saya pasti tak akan nyaman bila dijelaskan oleh orang amatir seperti dia sungguh tak level"


Liam dengan sabar akhirnya mau "yang mana bu "


"Yang ini pak " sambil menunjuk sebuah desain pada Liam.


Liam segera memegang dokumen itu dan bu Jasmin dengan sengaja pula memegang tangan Liam, dengan kesal Liam menepisnya.


"Saya permisi dulu kekamar mandi "


"Baik lah pak, kalau ada apa apa hubungi saya " sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Saya juga permisi dulu bu "


"Silahkan saya tak peduli "


Dengan kesal Jo berjalan sambil mengentak hentakan kaki, ingin menyusul pak dosen ada yang perlu dirinya katakan penting, ini sangat penting dan rahasia.


Liam yang sedang didalam kamar mandi, mencuci tangannya yang dipegang oleh Bu Jasmin, bahkan wajah Liam sudah merah padam menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak.


Liam segera keluar di kagetkan dengan wajah Jo yang cemberut.


"Ada apa Jo, kau mengikutiku sampai kedalam kamar mandi"


"Begini pak dosen, sepertinya bu Jasmin menyukai bapak, dia bahkan tak mau aku yang menjelaskannya "


'Gak mungkin lah "


"Ist bapak ini, gak liat apa dari gerak geriknya dia itu suka sama bapak, ayo kita bukitiin "


Jo kembali lagi kesana dan duduk tanpa melihat wajah bu Jasmin yang jutek.


"Eh pak Liam sudah datang lagi, mari duduk pak, udahlah pak kita makan dulu aja"


Liam kembali menepis tangan itu "apa kamu tak punya harga diri atau memang kau adalah perempuan murahan, sudah aku bilang, aku kesini ingin metting bukan makan, jadi kenapa kau masih saja membujuku untuk makan, jika kau lapar makanlah sendiri jangan mengajaku "

__ADS_1


"Bukan begitu pak, saya hanya ingin lebih akrab saja, agar kedepannya nyaman dan tak kaku "


"Itu bukan suatu solusi, kamu ini bekerja tak propesional, dengarkan saya, asisten saya bukan orang amatiran dia orang terpelajar dan mampu menjelaskan semua dokumen ini dengan baik dan lugas, jadi jangan sekali kau menghina karyawanku "


Liam segera bangkit dan akan pergi namun Jasmin malah memegang tangan Liam "lepaskan, kau ini sangat murahan sekali, aku tak akan pernah tergoda oleh perempuan sepertimu, karena istriku lebih cantik dan tidak seperti mu yang tak punya sopan santun , istriku sangat sempurna bahkan kau saja tak bisa dibandingkan dengan istriku, bahkan parasmu jika dibandingakan dengan istriku tak akan bisa kau hanya seujung kukunya saja"


"Tapi pak saya mohon maaf, bagaimana dengan pekerjaan kita "


"Saya akan mempertimbangakan kembali tentang kerja sama ini, dan jika saja jadi bekerja sama, saya akan meminta bos mu untuk mengantimu, kau tak cocok memegang jabatan ini, Jo ayo cepat "


Jo dengan tergesa gesa segera membereskan dokumennya dan memeletkan lidahnya ke arah bu Jasmin yang sudah dipermalukan oleh dosennya.


**


Zeline sekarang sedang menuju rumah sakit akan menjemput kak Andre, karena suaminya tak bisa menjemput dan sudah seizin suaminya juga untuk menjemput kak Andre pulang.


Sedangkan dirumah sakit Andre hanya menunduk dan diam membiarkan suster membereskan pakainnya.


"Nasib nasib gak punya keluarga gini amat sih " gumam Andre.


Dan saat Andre mengumamkan itu pintu kamarnya terbuka dan Andre tak sama sekali mengangkat kepalanya, terus saja menunduk dirinya tau itu pasti dokter bukan orang yang akan menjemputnya.


Tiba tiba bahunya dipegang, Andre segera mengangkat kepalanya dan menatap orang yang memegang bahunya.


"Line kamu dateng kesini " riang Andre.


"Iya aku kesini buat jemput kakak pulang, maaf ya kalau aku telat, oh iya mas Liam gak bisa jemput karena dia ada metting sama Jo, kakak gak apa apa kan aku yang jemput kakak kerumah sakit "


Andre lalu tersenyum dan mengangguk dengan senang " aku tak masalah Line, terimakasih kamu sudah mau menjemputku "


"Iya sama sama kak, tenang aja ya, ayo sekarang duduk dikursi roda "


"Engga ah Line, aku jalan aja "


"Gak boleh kakak harus duduk dikursi roda, cepet kan jahitannya belum bener bener sembuh kak, jangan banyak membantah kak, nanti mas Liam marah, mau kakak dimarahin "


"Iya deh iya nurut, takut nanti diceramahin nih gue "


"Nah gitu dong nurut, yaudah sekarang kita pulang kerumah "


Andre dengan perlahan jalan dan duduk dikursi roda, Zeline segera mengambil tas pakaian Andre yang ada ditangan suster.


"Iya sama sama nona "


Zeline dengan perlahan medorong kursi rodanya dan menuruni setiap lantai dan sampai juga didepan rumah sakit, pak supir sudah ada disana dan membantu Andre masuk kedalam disusul oleh Zeline.


Mobil pun segera berjalan meninggalkan rumah sakit "Line anak papah kemana "


"Dia lagi sama bi Sari, tidur dia kak, soalnya semalem gak tidur dia sekarang lagi belajar merangkak kak, jadi sedikit nakal dan aktif tapi aku gak masalah sih seneng seneng aja"


"Wah wah jadi gak sabar nih pengen ketemu Lucas, pasti dia bakal kangen banget sama papahnya"


Tiba tiba ponsel Zeline berdering dan itu telfon dari suaminya.


"Hallo mas kenapa"


"Hallo sayang, kamu udah sampai rumah sakit belum "


"Sudah mas, ini aku sama kak Andre lagi dijalan pulang "


Andre dengan kode kodean meminta ponsel Zeline untuk berbicara dengan Liam, dengan peka Zeline memberikannya.


"Hey Liam, gue lagi dijalan pulang nih, nanti pulang kerja bawa oleh oleh dong "


"Napa jadi lo, gue lagi bicara sama istri gue, awas ya lo jangan macem macem sama istri gue,, kalau gak kepepet gue gak akan biarin istri gue untuk jemput loh "


"Yaelah tega amat ya lo, tenang aja gue bukan orang yang suka nikung istri sahabat dari belakang tenang aja, Zeline sama gue aman lo cemburuan amat sih "


"Bodo gimana gue dong "


"Udah ah bay "


Andre segera mematikan sambungan dan memberikan ponselnya pada Zeline.


Sedangkan di sana Liam sedang kesal karena kelakuan Andre yang sangat menyebalkan sekali main mati matian saja.


Sekarang Andre dan juga Zeline sudah sampai dirumah Zeline.

__ADS_1


"Kak kata mas Liam kakak sementara disini dulu ya sampai sembuh katanya biar kepantau "


"Iya Line "


Dengan patuh Andre segera masuk diantar oleh Tora yang sudah siap didepan rumah untuk membantu nyonyanya.


Saat akan masuk kedalam kamar Andre bertemu dengan Lucas.


"Wah ini anak papah, ayo sini nak sama papah "


Bi Sari segera memberikannya dan Zeline segera naik kelantai atas, setelah memerintahkan bi Sari untuk menyiapkan makanan untuk kak Andre dan menunggui kak Andre pula agar tak kesepian.


**


Liam segera masuk kedalam rumah namun sangat sepi dan bertemu dengan istrinya yang sedang membaca majalah sendirian tanpa ditemani Lucas.


Zeline yang tau suaminya pulang segera menyimpan majalah itu dan bergegas menghampiri sang suami, membantunya membuka jasnya dan menyimpannya diatas tempat tidur


"Kamu kenapa mas kok cemberut terus "


"Aku lagi kesel sayang, Lucas dimana "


"Kesel kenapa mas, Lucas lagi sama kak Andre, tadi aku tenggok mereka lagi tidur mas "


Liam duduk terlebih dahulu dan menepuk pahanya agar sang istri duduk dipahanya, Zeline yang faham segera menurutinya duduk dan mengusap kepala suaminya.


"Jadi gini syaang, aku kan tadi sama Jo metting dan yang datang itu asistennya aja, aku kesel banget dia rayu aku terus "


"Terus kamu gimana, kamu ladenin atau gimana, "


"Ya enggalah sayang, masa aku kaya gitu, aku gak akan mungkin lakuin itu jadi kamu tenang aja ya "


"Beneran, kan aku gak ada disisi kamu mas "


"Bener sayang, aku tak akan mungkin tergoda sama perempuan lain, hatiku, hidupku dan semua yang sudah aku punya itu adalah milikmu. Aku tak akan sama sekali menghianati mu sayang, aku akan selalu setia padamu, hanya padamu saja "


"Iya aku percaya dengan mu mas, buktikan saja kata kata mas itu dan aku akan merasa sangat bahagia atas janji mas yang ditepati "


Liam mengangguk dan meneluk istrinya, mumpung Lucas gak ada, habis habiskan waktu bersama istrinya. Kalau Lucas ada sangat sulit sekali.


**


Syifa dan juga Nabil jadi saling diam setelah pristiwa yang mereka alami, sungguh sangat malu sekali.


Syifa yang malu karena kelakuannya segera melihat sekitar dan membuka lebar pintu kamarnya "aman nih gak ada Nabil, aku sudah sangat lapar sekali ingin makan "


Syifa keluar dan malah bertabrakan dengan Nabil yang baru datang dari luar, saat Syifa akan masuk kembali kekamar pakaian belakangnua sudah ditarik Oleh Nabil dan membuatnya berhenti bergerak, dan tak bisa kemana mana.


"Kau mau kemana Syifa kenapa selalu menghindar apakah kau menyesali telah memberikan perawanmu padaku, "


Syifa segera membalikan badannya berhadapan langsung dengan Nabil namun menundukan kepalanya.


"Jangan lakukan itu lagi Syifa, aku gak bisa kamu diemin gitu aja, apa salah aku "


Syifa mendongakan kepalanya dan menatap wajah Nabil yang memelas padanya.


"Aku malu padamu, aku seperti wanita murahan meminta sesuatu yang seharusnya kamu gak kasih ".


Nabil tiba tiba saja memeluk Syifa "kenapa kau berbicara seperti itu, kamu bukan wanita murahan, aku tak mempermasalahkan hal itu, malah aku sangat merasa bersalah karena telah mengambil keperawanmu " sambil melepaskan pelukannya dan membawa Syifa duduk dikursi depan.


"Maafkan aku ya Nabil, andai aja waktu itu aku nurut sama kamu, buat gak pergi sama Kim dan berteman sama dia, pasti ini semua gak akan terjadi, aku sudah membantahmu dan ini akibatnya"


"Lalu sekarang apakah kau menyesal telah memberikannya padaku, "


"Tidak hanya saja aku malu padamu, dan aku takut aku mengandung Nabil, bagaimana aku sungguh gak kefikiran sampai situ "


"Tenang saja, aku akan bertanggung jawab, dan aku yang akan berbicara pada mamih dan papihmu, kamu gak usah khawatir tentang itu semua, aku menanggung semuanya"


"Aku sungguh merepotkan mu Nabil, sungguh aku minta maaf padamu"


"Sudah kau tak usah minta maaf lagi, aku sudah bilang kan sudah, kau jadikan pelajaran saja semua ini, jika berteman hati hatilah, jangan gampang percaya, aku tak mau hal ini sampai terulang lagi, dan aku takut saat itu aku tak ada aku tak akan sanggup bila kau disentuh oleh laki laki lain selain aku, jadi tolong mulai sekadang menurut lah padaku Syifa "


"Iya Nabil aku akan menurut dan tak akan membantahmu kembali, aku tak akan mempuyai teman lagi cukup dirimu saja yang menjadi sahabatku, teman ku dan teman hidupku "


"Jika suatu saat aku sudah tak bisa menjagamu kembali dan aku sudah meninggalkanmu dipanggil oleh tuhan, kamu ingat pilihlah laki laki yang tulus mencintai kamu dan menerima mu apa adanya, aku ingin hidup mu selalu bahagia meski nanti bukan aku yang membuatmu bahagia " .


"Kenapa kau berbicara seperti itu lagi, aku sudah bilang aku tak mau mendengar kamu berkata seperti itu, aku ingin aku dan kamu hidup sama sama, bahagia sama sama, aku gak mau kalau bukan sama kamu "

__ADS_1


Tanpa di duga duga air mata Syifa mengalir dengan seras, Nabil segera mengusapnya "jangan menangis sayang, jika aku pergi aku akan selalu disini bersama mu " sambil menunjuk ke dada Syifa.


Syifa yang tak kuat segera memeluk Nabil dan menangis kembali dengan sejadi jadinya.


__ADS_2