
Liam dan Zeline sampai dirumah, saat sudah sampai didalam kamar tiba-tiba ada telfon. "sayang ada telfon aku angkat dulu. Kamu istirahat "
"Yaudah angkat aja mas "
"Iya aku keluar dulu ya "
"Kenapa harus keluar disini aja "
"Sayang ini tentang pekerjaan oke, jangan fikir yang aneh-aneh " Liam segera keluar meninggalkan istrinya sendirian dikamar.
Zeline menatap ponselnya, melihat foto ibu dan ayahnya. Sudah terpangpang no telfon ibunya namun dirinya ragu untuk menelfonya takut ibunya marah tapi coba dulu deh.
Zeline segera memencetnya namun tak ada jawaban sama sekali "ibu apakah masih marah sama ku, aku mau kasih kabar bahagia sama ibu dan ayah aku lagi mengandung bu yah dan kalian akan menjadi kakek nenek " air matanya sudah bercucuran
Segera Zeline menelfon kakaknya Asa. Ingin memberitahu kabar bahagia ini. Untuk ibu mas Liam biar nanti kita telfon sama-sama.
Deringan pertama sudah diangkat oleh Asa "hallo kak Asa "
"Ahh hallo Line kakak kangen sama kamu, kamu sekarang dimana tinggalnya gimana kamu sehat "
"Alhamdullilah aku sehat aku, sekarang aku tinggal deket kampus kak, ga jauh kok, kakak gimana kabarnya. Kenapa sekarang kakak gak pernah hubungin aku. Apa ibu dan ayah udah cerita masalah aku dan mas Liam "
"Alhamdullilah aku sehat Line, maksudnya masalah apa, emang kamu ada masalah Line "
"Nanti deh ceritainya kalau kakak main kesini, kak aku punya kabar bahagia "
__ADS_1
"Iya deh nanti kamu kirim alamat rumah kamu, kabar apa sayang "
"Aku hamil kak "
"Hah beneran Line, udah berapa minggu "
"Ya beneran dong kak, emm baru 4 minggu "
"Alhamdullilah, kamu harus jaga kesehatan kamu, harus makan vitamin makan jangan sembarangannya ya "
"Iya kak,iya"
"Sa kamu lagi bicara sama siapa " ucap seseorang di seberang telfon. Zeline seperti mengenal suara itu bukannya itu suara Yuda ?
"Siapa kak itu " tanya Zeline yang penasaran bahkan jantungnya sudah deg-degan.
"Emm nanti lagi ya dek bicaranya, dadah sayangg love you"
Belum juga Zeline menjawab sudah dimatikan oleh kak Asa. Pasti ada yang beres nih.
***
"Kok dimatiin Sa "
"Engga gapapa kok Yud "
__ADS_1
"Hemm, Sa kok kaki aku udah lama kaya gini belum bisa jalan juga ya. Apa obatnya ga cocok di aku "
"Masa sih ga cocok Yud, kamu yang sabar, pasti suatu saat kamu bisa jalan mending sekarang kita makan mau ga " sambil tersenyum.
"Yaudah deh kalau istri aku yang masak aku mau "
Segera Asa mendorong kursi roda Yuda. Lalu Asa mengambil semua makanan yang sudah dirinya masak. Menyajikannya dihadapan Yuda dan tak lupa mengambilnya untuk Yuda.
Mungkin sekarang ektingnya sudah bagus, pura-pura baik dihadapan Yuda. Padahal ini semua adalah rencananya dari awal. Agar Yuda tak curiga kepadanya. Melayani Yuda sebagaimana seorang istri melayani suaminya.
Namun sekarang dirinya masih perawan, memang tidur sudah satu tempat tidur. Namun melakukan lebih Asa tak siap.
Obat itu ternyata manjur juga. Bisa membuat Yuda terus lumpuh sampai waktu yang di inginkan. Hemm sekarang Yuda sudah terlalu percaya pada dirinya.
Setelah mereka selesai makan, Asa segera mendorong kursi roda suaminya kedalam kamar. "sekarang waktunya minum obat, biar kamu cepet sembuh Yud "
"Iya Sa, aku udah ga sabar pengen jalan, terus ngajak kamu liburan makan diluar dan bisa kaya dulu lagi, aku pengen nyelesain sekolah Sa "
"Iya makannya kamu harus minum obat, sekarang minun ya " sambil memberikan obatnya dan juga airnya.
Asa segera naik keatas tempat tidur, lalu membantu Yuda membaringkan badannya. Yuda yang sudah terbiasa tidur memeluk Asa segera memeluknya dengan erat lalu mencium kening Asa dengan penuh kasih sayang.
Asa yang sudah terbiasa hanya diam dan membiarkan Yuda melakukannya. Karena perlu diakui dia nyaman seperti ini. Sekarang hatinya sedang perperang antara balas dendam dan mengakhiri semuanya dan menjalani hidup besama Yuda.
Benar tuhan itu bisa membolak-balikkan hati seseorang. Sekarang saja dirinya binggung harus bagaimana.
__ADS_1