Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Perjalanan ke jakarta


__ADS_3

Sudah sampai neng " ucap bapak taxi.


"Oh iya, terimakasih ya pak, makasih juga udah nasihatin saya. Bapak dan keluarga sehat selalu ya. Ini untuk ongkosnya " Asa segera keluar.


"Ini kembaliannya neng "


"Buat bapak aja "


"Makasih neng "


Setelah membantu Asa mengeluarkan kopernya. Bapak taxi segera pergi. Asa yang akan masuk malah bertemu dengan bibi dan pamannya.


"Loh Asa, kamu kesini mau bareng juga kejakarta nemenin Zeline yang lahiran " ucap bibinya dengan senang.


"Ehh iya bi. Biar bareng " elak Asa. Sungguh dirinya tak mengecek ponselnya. Zeline akan melahirkan dirinya sampai tak ingat seperti ini. Huuf gara-gara Yuda semuanya jadi kacau.


"Yaudah ayo berangkat, biar kita cepet sampai dan nemun Zeline sama Liam " ucap pamannya dengan semangat.

__ADS_1


Mereka bertiga segera bergegas untuk pergi kejakarta. Menaiki mobil pamannya lalu pergi dengan pamannya yang menyetir.


Selama pejalan Asa hanya diam, tak bisa berkata-kata apa-apa, fikirannya sedang bercabang-cabang seperti ini.


"Ya cucu kita perempuan atau laki-laki yah, kayanya Zeline udah lahiran deh "


"Mau perempuan atau laki-laki yang terpeting sehat saja bu, pasti sudah deh bu, kita buat kejutan ya untuk Zeline dan Liam. Kita jangan beritahu mereka tentang kedatangan kita ini "


"Iya yah benar, ibu setuju sudah tak sabar ibu ingin menemui anak-anak kita itu. Rasanay sudah lama sekali kita tak bertemu dengan mereka yah "


"Iyah bu, maafkan ayah yah, kalau ayah tak bersikap seperti itu mungkin kita tak akan seperti ini "


"Iya bu "


Asa yang melihat pancaran kebahagian dari paman dan bibibya hanya bisa tersenyum. Hidupnya tak seberuntung paman dan bibinya . Sekarang kebahagian mereka berdua sudah bertambah dengan kedatangan cucu mereka.


Bibinya yang melihat Asa murung saja segera mengalihkan pandangannya dan menatap anak kakaknya itu" Sa kamu lagi ada masalag ya " tanya bibinya dengan wajah khawatirnya.

__ADS_1


"Eh engga kok bi Asa baik-baik aja "


"Tapi kok wajah kamu pucat gitu terus kaya habis nangis gitu "


"Engga kok bi, aku gak papa mungkin hanya kecapean saja terus bekerja "


"Kamu ambil cuti dulu dong Sa, jangan kerja terus kamu jugakan perlu jalan-jalan buat nenangin fikiranmu. segeralah mencari pasangan Sa. agar kamu tak perlu bekerja lagi dan hanya fokus mengurus keluargamu saja "


"Iya bi, nanti Asa akan mencarinya, siapa tau kan dijakarta Asa nemu jodoh " dengan tawa yang dipaksakan.


"Amin Sa, amin kamu tuh kalau kerja jangan terlalu fokus fokus banget, kamu juga harus mikirin diri kamu sendiri "


"Bener tuh kata bibi kamu, paman juga udah gak sabar nanti pengen gendong anak kamu "


"Paman ini belum juga Asa menikah sudah memikirkan ingin mengendong anak Asa "


"Ya gapapa Sa, dulukan kamu yang sering paman gendong sekarang anak kamu yang nanti paman gendong. carilah laki-laki yang menyayangimu dengan tulus. tak menuntut banyak padamu, menerimamu apa adanya bukan karena ada apanya, apalagi jangan sampai main tangan, ingat jika laki-laki sudah nyaman dengan satu perempuan dia akan setia dan tak akan pergi meninggalkan mu. carilah laki-laki yang mampu menyayangi keluarga mu juga ya Sa. jangan kamu sia-siakan laki-laki yang tulus mencintaimu dan mau berkorban untukmu "

__ADS_1


"Iya paman "


setelahnya hanya hening, Asa kembali memikirkan ucapan pamannya dengan bapak taxi sama perkataann mereka berdua. lalu sekarang harus bagaimana.


__ADS_2