
Sarapanrencana mereka sehabis membersihkan diri dan beristirahat sejenak mereka akan mencari makan malam di luar sambil menikmati panorama malam di jam gadang.
Tapi keluarga uniang Fatma telah menyiapkan makan malam buat kami semua sehingga untuk menghormatinya kami pun menyantap makan malam itu terlebih dahulu sebelum keluar.
Selesai menyantap makan malam dan membereskan serta membersihkan peralatan makan malam kami segera menuju ke jam gadang kecuali keluarga bang Fandi, keluarga bang Arka dan para gaek.
Bang Fandi dan bang Arka tidak keluar karena mereka ingin beristirahat karena esok pagi mereka akan kembali ke kota pedang.
Jarak antara rumah uniang Fatma ke jam gadang sekitar 20 menit. Jam gadang yang berada di bukit tinggi ini memiliki sejarah tersendii.
"Oh ya kak, Kakak tau nggak sejarah nya jam gadang itu apa?" tanya Mimi kepada Syahril.
"Kalau kakak sendiri kurang tau dek yang kakak tau penamaan nama “Gadang” sendiri diambil dari bahasa Minangkabau yang artinya besar. Hal ini tidak mengherankan karena keempat sisi menara tersebut berdiameter cukup besar, yaitu 80 cm.
Nah dii balik kemegahannya, Jam Gadang ternyata menyimpan fakta sejarah serta keunikannya tersendiri. Bahkan berkaitan dengan Menara Bigben di London." jelas Syahril.
"Ah masa kak? Mimi tidak percaya akan penjelasan dari Syahril.
"Iya dek setau kakak begitu." jawabnya sambil nyetir dan tak lama kami pun sampai.
"Untuk lebih jelasnya nanti coba tanya amak Imah saja dek," imbuh kak Syahril.
"Emang Mak Imah berasal dari sini kak?" tanya Mimi.
"Iya Mak Imah kampungnya di Payakumbuh." jawab kak Syahril.
Setelah Samapi kami duduk-duduk di pinggiran pembatas taman yang berada di jam gadang sambil menikmati panorama jam gadang. Ternyata sungguh indah bila dilihat pada malam hari.
Kami semua tercengang akan keindahan yang ditampakkan dari jam gadang ini. kami saling berbincang sambil menikmati dan membeli jajanan yang terjual disekitar jam gadang.
Tak ketinggalan kami semua berswafoto untuk dijadikan kenangan karena entah kapan lagi kami akan kemari.
Dinginnya malam menusuk pori-pori namun dikalahkan dengan keantusiasan kami untuk menikmatinya.
Tak terasa kami sudah tiga jam berada disini dan kami pun memutuskan untuk pulang tak enak dengan keluarga uniang Fatma.
Sesampainya dirumah uniang Fatma telah sepi kemungkinan besar mereka telah terlelap.
Karena dirumah uniang Fatma tidak memiliki kamar banyak maka kami pun tidur di ruangan tengah yang mana disana telah di bentangi tikar dan telah disediakan bantal dan selimut.
Mak Imah,uniang Santi, uniang Sari telah terlelap dan kami pun mengambil posisi untuk beristirahat pula.
Para lelaki tidur di ruang tamu disana juga telah disediakan bantal dan selimut untuk mereka.
Kami semua terbangun disaat suara adzan bergema, para pria telah bangun sebelum adzan dan mereka juga telah bersiap pergi ke surau yang dekat rumah uniang Fatma.
Kami yang cewek sholat di rumah kecuali Mak Imah, uniang Santi dan uniang sari serta amak dan nenek dari uniang Fatma mereka ikut pergi ke surau.
Sehabis sholat kami membantu uniang Fatma untuk mempersiapkan sarapan.
"Uniang, mau buat sarapan apa?" tanya Mimi setelah mengikuti uniang Fatma ke arah dapur nya yang ternyata posisinya berada di paling belakang.
"Sarapan sudah dibuat sama amak kemaren Mi, jadi ini tinggal masak gulainya aja. sama merebus sayurannya aja." terang uniang Fatma.
"Emang amak buat apa uniang?" tanya Mimi kembali.
"Amak kemaren sudah membuat ketupek, nah jadi sarapan pagi ini kita makan picela ketupek, ini uniang lagi merebus sayur buat pelengkapnya, dan mau masak gulai cubadak juga jika ada yang tidak suka sayur picalnya." jelas uniang sambil merebus sayuran.
"Pical ketupek? apa bedanya dengan legal biasa uniang?" tanya Mimi.
"Sebenarnya sama saja berkuah kacang cuma bedanya disini pakai ketupat dan syuarannya terdiri dari jantung pisang, pucuk ubi dan rebung." jelas uniang.
"Oh berarti ini makanan khas bukit ya ni?' tanya Mimi.
"Iya, Mi" ucap uniang
"Uniang ada yang bisa Mimi tolong Ndak uniang?'' tanya Mimi.
"Oh kalau mau nolong, bisa tolong peras kelapa ini." jawabnya sbilelengos menyerahkan parutan kelapa dan saringannya.
"Bisa uniang, sini." jawab Mimi dan segera memeras parutan kelapa tersebut menjadi cairan putih yaitu santan.
Tugas Mimi memeras kelapa parut dan yang lain menantu membersihkan sayuran dan merebusnya.
Setelah santan jadi uniang langsung memasukkan kedalam panci yang sudah ada nangka di bumbui yang di campur tertelan daging.
Dua jam kami berada di dapur dan akhirnya semua selesai dimasak.
__ADS_1
Semua sarapan dan teh hangat sudah terhidang di ruang tengah dan kami semua sudah duduk disana untuk menikmati.
Mimi mencoba makan Pical ketupek dan picalnya memiliki rasa yang berbeda dari pecal pada umumnya.
Pical ketupek kuliner khas satu ini tidak jarang pun dinamakan dengan pecel khas Minang, karena berupa sayuran yang disiram bumbu kacang. Katupek pical ini berisi jantung pisang, rebung daun pucuk singkong, dan daun lobak Singgalang yang dimakan dengan irisan ketupat dan diberi kerupuk merah khas Padang di atasnya.
Rasanya yang khas dan gurih, dipastikan buat ketagihan.
Sehabis sarapan kami membersihkan terlebih dahulu piring dan gelas sehabis sarapan tadi.
setelah itu kami akan kembali mengunjungi tempat wisata kebun binatang dan akan mencoba ke jembatan gantung limpapeh.
Jembatan limpapeh adalah jembatan gantung di atas jalan. Jembatan ini menghubungkan taman margasatwa dan budaya kinantan dengan benteng fort de kock. Jembatan yang satu ini memiliki panjang 90 meter. Ornamen pada jembatan ini berwarna kuning hijau.
Nah jika riders ingin liburan ke Bukittinggi, kita bisa melewati jembatan ini. Sensasi saat melewatinya terasa sangat nyaman. Namun, ada sedikit getaran dan ayunan yang menyenangkan.
Kami semua menikmati dan berkeliling kebun binatang nya, terutama anak dari bang Arka dan bang Fandi sangat menikmati dan selalu bertanya kepada kedua orang tuanya ketika melihat binatang-binatang yang mereka jumpai.
Setalah itu kami juga menikmati jembatan gantung Limpapeh dan berhenti di benteng fort de kock dan kami singgah di cafe yang berada dekat benteng.
Cafe yang berada di benteng fort de cock ini menyajikan aneka makanan khas Bukittinggi dengan perpaduan ala-ala Belanda. Kontur-kontur yang disajikan membuat Anda betah untuk duduk bersantai.
Cafe ini juga menyediakan spot selfi. Spot selfi yang disajikan juga kekinian. Sehingga bagi kalian yang mudah lapar atau lelah dan ingin beristirahat, tentu bisa mampir di sini
kami semua beristirahat sejenak di cafe ini dan Mimi duduk bersama amak Imah, Mimi teringat akan jam gadang dan sejarah nya maka Mimi pun bertanya kepada amak.
"Amak, Mimi boleh tanya ndak?" tanya Mimi.
"Boleh, mau tanya apa nak?" jawabnya.
"Semalam waktu jalan-jalan ke jam gadang katanya jam gadang ada sejarahnya ya Mak?" tanya Mimi.
"Iya setiap wisata yang kita kunjungi pasyinada sejarahnya." jawab amak.
"Mimi penasaran dengan sejarah jam gadang Mak." ucap Mimi "amak bisa ceritakan?'' tanya Mimi lagi.
"O gitu Mak, nah terus itukan jamnya berdisign seperti itu di buat oleh siapa Mak?" tanya Mimi lagi
"Untuk design Jam Gadangnya dibuat oleh Yazin dan Sutan Gigi Ameh.. Terlihat kan dari namanya. Keduanya merupakan arsisitektur asli Indonesia. Peletakan batu pertama untuk Jam Gadang dilakukan oleh putra Rook Maker, saat itu usianya masih 6 tahun." jawab amak Imah.
"Wah jam gadang kan megah gitu Mak, itu pembangunannya pasti makan dana besar." ucap Mimi.
"Iya betul sekali, pembangunannya sendiri menghabiskan dana yang cukup besar, yaitu sekitar 3000 gulden. Angka ini terbilang fantastis sehingga tidak heran dalam perkembangan pembangunannya Jam Gadang membutuhkan waktu yang lama." jawab amak Imah.
"Dan monumen Jam Gadang berdiri setinggi 26 meter di tengah Taman Sabai Nan Aluih, yang dianggap sebagai patokan titik sentral (titik nol) Kota Bukittinggi. Konstruksinya tidak menggunakan rangka logam dan semen, tetapi menggunakan campuran batu kapur, putih telur, dan pasir.
Bangunan Jam Gadang memiliki 4 tingkat. Tingkat pertama merupakan ruangan petugas, tingkat kedua tempat bandul pemberat jam. Sementara pada tingkat ketiga merupakan tempat dari mesin jam dan tingkat keempat merupakan puncak menara dimana lonceng jam ditempatkan. Pada lonceng di puncak tersebut tertera nama dari produsen mesin jam ini.
Atap berbentuk gonjong di puncak menara yang kini dapat kita saksikan bukanlah bentuk asli dari bangunan tersebut pada masa awal pendiriannya. Desain awal puncak Jam Gadang berbentuk bulat bergaya khas Eropa, dengan patung ayam jantan di bagian atasnya.
Memasuki era pendudukan Jepang, atap Jam Gadang dirubah mengikuti gaya arsitektur Jepang. Saat era kemerdekaan tiba, atap tersebut dirombak kembali menjadi bentuk atap bagonjong yang merupakan ciri khas dari arsitektur bangunan asli Minangkabau.
Mesin jam yang digunakan di dalam monumen ini merupakan barang langka yang hanya diproduksi dua unit oleh pabrik Vortmann Recklinghausen, Jerman. Unit kedua yang setipe dengannya hingga kini masih digunakan dalam menara jam legendaris Kota London, Inggris, yaitu Big Ben.
Sistem yang bekerja di dalamnya menggerakkan jam secara mekanik melalui dua bandul besar yang saling menyeimbangkan satu sama lain. Sistem tersebut membuat jam ini terus berfungsi selama bertahun-tahun tanpa sumber energi apapun.
Mesin yang berada di lantai tiga ini menggerakkan jarum jam yang menghadap keempat penjuru mata angin. Diameter masing-masing area perputaran jarum jam tersebut adalah 80 centimeter.
Seluruh angka jam dibuat menggunakan sistem penomoran Romawi, akan tetapi angka empat ditulis dengan cara diluar kelaziman, yaitu dengan empat huruf 'I' (IIII) dan bukan dengan tulisan 'IV'. Hal ini menjadi salah satu daya tarik yang menimbulkan rasa penasaran bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota ini."jelas amak Imah
Jam Gadang Dari Masa Ke Masa
"Oo begitu, makasih amak." ucap Mimi seraya memeluk amaknimah.
"Ada yang mau di tanya lagi?' tanya amak Imah.
"Emm Ndak ada amak untuk sementara ini hehhee ndak tau nanti." jawab Mimi.
Karena sudah dirasa cukup untuk beristirahat sebelum bang Fandi dan bang Arka pulang kami menuju ke pasar atas untuk membeli oleh-oleh.
nah untuk menuju kesini kita akan ketemu dengan janjang 40.
__ADS_1
Janjang Ampek Puluah merupakan anak tangga penghubung antara Pasar Atas (Ateh) dan Pasar Bawah Kota Bukittinggi. Dibangun pada tahun 1908 atas perintah Asisten Residen Belanda, Louis Constant Westenenk.
Bagian teratas undakan berjumlah 40 dengan ukuran yang lebih kecil. Jumlah janjang keseluruhan lebih dari 100 undakan. Janjang ini sangat membantu aktivitas perekonomian masyarakat lokal dan menjadi destinasi unik bagi para wisatawan.
Setelah berburu oleh-oleh bang Fandi dan bang Arka pamit kepada kami begitu pula dengan baby sitter nya.
"Oh ya Abang pulang duluan ya, kalian lanjut aja jalan-jalannya." ucap bang Fandi.
"Iya kami harus berkerja besok dan ngejar waktu agar tidak kemalaman nyampe nya." sahut bang Arka.
"Uniang Fatma sama uniang Rahma ikut pulang?" tanya ku.
"Iya kami ikut pulang karena siapa yang akan jaga anak-anak nanti.'' ucap uniang Fatma.
"oh yaudah makasih ya uniang selama disini di kasih izin nginap di rumah uniang." ucap Mimi.
"Sama-sama Mimi, selamat jalan-jalan ya?" ucapnya.
"Iya uniang." jawab Mimi dan kami pun berpisah.
Saat ini kami akan pergi berwisata di danau Maninjau dan Singkarak. Kami pun tak ingin memakan waktu lama akhirnya kami pun langsung berangkat.
Kali ini yang menyetir kak Syahril jadi Mimi duduk di depan bersama kak Syahril.
"Tidur lah dek." ucap kak Syahril setelah melihat Mimi berkali-kali menguap.
"Hemm iya kak, Mimi tidur dulu ya." jawab Mimi dan terlelap dalam mimpi sepanjang jalan menuju danau Maninjau.
Danau Maninjau adalah sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibu kota Sumatra Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibu kota Kabupaten Agam.
Sesampainya disana kami disuguhkan panorama yang memanjakan mata dengan hamparan danau yang dikelilingi bukit nan hijau dengan menambahnya keelokan panoramanya.
Di danau Maninjau juga terdapat tempat wisata lainnya seperti museum Buya hamka, jika yang hobi memancing juga bisa memancing di sini.
Jika riders ingin berwisata ke sini, disarankan menggunakan transportasi pribadi. Hal tersebut mengingat belum tersedianya transportasi umum yang memadai.
Pengunjung yang berasal dari Bukittinggi dapat melintasi jalur Kelok 44. Durasi waktu perjalanan Bukittinggi ke Danau Maninjau kurang lebih dua jam. Pengunjung yang berasal dari arah Kota Padang dapat menempuh jalur pesisir Pariaman. Lama waktu tempuhnya kurang lebih 3,5 jam.
Jalur menuju ke danauaninjau melewati kelok ampek-ampek.
ada beberapa tempat yang kami datangi di danau Maninjau ini selain danaunya yaitu museum Buya Hamka dan linggai
Karena jam makan siang telah lewat kami pun mancari wisata kuliner di sini sebelum menjelajahi wisata lainnya.
Setelah makan siang sebelum kami melanjutkan wisata kami ke danau Singkarak kami menjalankan sholat Dzuhur terlebih dahulu.
Danau Singkarak adalah sebuah danau yang membentang di dua kabupaten yang terdapat di provinsi Sumatra Barat, Indonesia, yaitu kabupaten Solok dan kabupaten Tanah Datar. Danau ini memiliki luas 107,8 km² dan merupakan danau terluas kedua di pulau Sumatra setelah danau toba di Sumatra Utara.
Danau ini tak kalah indahnya dari danau Maninjau, kami sampai di danau Singkarak telah sore hari.
Disini juga tersedia berbagai macam spot yang tak kalah indahnya untuk berswafoto dan di sini juga tersedia boat bagiyang ingin mengelilingi seputaran danau.
Untuk menikmati dari sisi lain danau Singkarak kita bisa melihat dari puncak gobah
Begitu banyak tempat wisata yang dikunjungi namun keterbatasan waktu kami pun melanjutkan menuju Payakumbuh tempat amak Imah.
Hai assalamualaikum selamat siang selamat beristirahat. Alhamdulillah update lagi semoga berkesan.
Jangan lupa selalu beri dukungannya, dan tinggalkan Krisan di kolom komentar.
vote
rate
like
komen
__ADS_1
🎆🎆🎆🎆 terimakasih🎆🎆🎆🎆