
Baiq yang melihat Om sepupunya larinkwlaur jadi heran, dia tambah merasa ada saingan buat memperebutkan Ay.
"Ck dah tua nggak sadar diri." umpat Baiq dengan kesal.
"Kamu kenapa Iq?" tanya Ryan.
"Ah Om Ryan sama aja, nggak ingat umur." sungutnya.
"Lah nih bocah kesambet apaan sih." ucap Ryan yang heran dengan keponakannya itu.
Terlihat Syahril masuk kembali dengan lesu karena tidak bisa mengejar sang pujaan hati.
"Gimana Riil?" tanya Ryan.
"Ndak keburu Yan." jawab Syahril, Syahril melihat ke arah Baiq
yang menatapnya tidak senang.
"Kenapa?" tanya Syahril lada Ryan dengan dagunya menunjuk ke arah Baiq.
"Entah, kenapa tuh anak." ucap Ryan dengan mengangkat kedua bajunya.
"Kamu kenapa Iq?" tanya Syahril. Baiq takn!menjawab dia hanya menatap Ryan maupun Syahril dengan dingin.
"Heii kenapa?" tanya Syahril.
"Ngapain Om Aril ngejar-ngejar Ay samle segitunya?" tanya Baiq dingin. Syahril dan Ryan tersenyum, mereka berdua mengerti ata ssikap Baiq yang tiba-tiba dingin gitu pada mereka.
"Emm ya nggak apa mau ngajak dia makan berdua aja." ucap Syahril.
"Emang nggak ada lagi ala cewek di dunia ini? kenapa kalian malah ngejar Ay yang kelas-jwlas usia nya jauh dari kalian."
"Nggak ada lagi Iq, bagi kami dihaginkaminhanya satu wanita yang tidak bisa digantikan." ucap Ryan.
"Ckk, udah tua juga." sungut Baiq.
"Kamu suka sama Ay?" tanya Syahril. Baiq hanya diam.
"Kamu cemburu boy?" tanya Ryan lada ponakannya
"Dan tau nanya.'' ucap Baiq ketus.
"Emang kalian dah jadian?" tanya Syahril, ta!Lak Baiq hanya menghelakan nafasnya.
"Belum.. Tapi Baiq sekat sama dia." ucap Baiq.
"Sudah nyatain suka sama Ay?" tanya Ryan.
"Sudah tapi.." ucap Baiq lesu
"Tapi apa?" tanya Ryan.
"Dia belum mau pacaran?" tanya Syahril dan di angguki Baiq.
"Hahahaaa" Syahril dan Ryan tertawa.
"Kasiannya ponakan om." ucap Ryan.
"Emangnya Ay suka sama Om berdua?" tanya Baiq.
"Tentu pasti lah, apa lagi kkta berdua sudah kenal dia dah lama." ucap Syahril. Baiq meniup rambut yang jatuh di keningnya.
"Kalau di bandingkan dengan kalian berdua jelas Baiq kalah, secara kalian sah punya penghasilan." ucap Baiq lirih. Syahril dan Ryan saling pandang lagi.
"Kamu tau dia tinggal dimana Iq?" tanya Syahril.
"Ya gau lah, Baiq kan sering kerja kelompok di rumahnya dia." jawab Baiq jujur.
"Benaran nih Om berdua suaka sama Ay?" tanya baiq memastikan.
"Iya kita berdua menyukainya." jawab Ryan dan Syahril serentak.
Baiq menarik dan menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Bagaimana bisa kalian menyukai satu cewek?" tanya Baiq tidak percaya.
"Om syahril mu yang suka sama.." ucal Ryan namun langsung disergah Samma Baiq.
"Beneran Om?" tanya Baiq pada Syahril.
"Iya." jawab Syahril.
"Huh masa iya kalau kalian nikah jadi judulnya cewek incaranku jadi bibiku." ucxp Baiq.
"Heleh kebanyakan baca novel Lo Iq." ucal Ryan.
"Udah-udah makannyok nihndahnsamoe pesanannya." ucap Syahril, Baiq diam memandang menu yang dipesannya dengan ogah-ogahan.
"Iq besok sore antar kota kerumah Ay ya?" ucap Syahril.
"Hmm buat apa!" tpucap Baiq yang tidak memiliki nswmangat lagi.
"Buat mengejar cinta Om lah." ucap Syahril. Ryan menggelengkan kepalanya melihat sang ponakan mendadak lesu begitu.
"Emang kamu nggak maunkejae cinta kamu sama Ay Iq?" tanya Ryan.
"Orang tua nya Aybitu baik loh Iq." imbuh Ryan.
"Orangtuanya emang baik Om, cuma kalau di bandingkan dengan kalian pastilah orangtuanya mikih Om Syahril yang notabene sudah mapan." ucap Baiq.
"Kamu itu Iq, besok antar Om kesana ya? nanti baru kqmuntau yang sebenarnya." ucap Syahril.
"Hmm, nasib-nasib kalah saiangannma Om sendiri." ucap Baiq, Ryan spdan Syahril ketawa mendengar gerutuan ponakan nya itu.
Sedangkan Mimi dan keluarga ha te!ah samlai rumahnya, Mimi langsung bersih-bersih, berwudhu dan sholat Isya.
Setelah itu Mimi merebahkan diri nya, dilihatnya ponsel tidak ada pesan atau panggilan dari Dillah. Mimi hanya menghelakan nafasnya saja.
Selama Mimi berada di Jambi baru sekali Dillah mengubungi nya swacea langsung, selebihnya kalau tidak Mimi hubungi maka Dillah lun tidak ada mengubungi Mimi, jika ditanya dia sedang sibuk-sibuknya bahkan jika Mimi menghubunginya via panggilan telpon Dillah langsung mengalihkan ke panggilan video call.
Ya saat di video call emangbterlibat dia lagi berada di lokasi jika lagi samle sore hari, namun bila malam Mimi hubungi dia alihkan ke video call kadang dia masih di lokasi kadang dia berada di kantor dengan lara rekannya.
Mimi merasa hanya dirinya saja yang butuh tapintidak dengan Dillah, kasangbmimi telis semua egonya dan menganggap Dillah melakukan itu semua juga buat dirinya kelak.
__ADS_1
Tali entah mengapa dengan melihat itu semua Mimi merasa bahagia atau jenuh. Sehingga tiga hari terakhir ini Mimi enggan untuk menghubunginya duluan.
Saat kepalanya pusing memikirkan hubungannya Dillah, tiba-tiba Mimk teringat saat dia berada di pujasera tadi dan saat dia mengendarain mwktornya keluar dari sana.
Mimi merasa ada yang memanggil dirinya dan suara itu suara yang sangat amat hangat didengarnya. Jantungnya lun saat dia menuju kasir untuk bayar berdetak dengan sangat kencang.
"Ya Allah, suara itu aoanitu suara kak Syahril" ucap Mimi lirih.
Syahri yang sedang makan terbaik karena tersedak.
"Uhuk uhuk" Syahril terus batuk-batuk saat sedang mengisap daging kepiting dari cangkangnya.
"Nih om." ucal Baiq yang langsung memberikan air hangat pada Syahril.
"Hati-hati Riil." ucap Ryan dengan menepuk-nepuk punggung Syahril.
"Emm makasih." ucap Syahril dengan meneguk air hangat dari Baiq.
"Gimana?" tanya Ryan.
"Udah baikan." jawab Syahril.
"Dek ala kau menyebut namaku, apa kau merasakan keberadaan ku tadi?" ucap Syahril dalam hati.
"Dah Om makan lagi jangan lupa baca bismillah jangan ngelamun." ucap Baiq.
"Hem" jawab Syahril dan mereka pun kembali menyantap menu seafood itu.
Keesokan paginya, Mimi dan emaknya memulai membuat kue kering untuk lebaran di bantu oleh Ay yang selalu saja tangannya tak henti-hentinya memegang HP.
Lebaran tinggal dua hari lagi, emak rencana sehari sebelum lebaran yaitu esom pagi akan mengunjungi adek Mimi yang cowok.
Sebagian hingga sore hari Mimi dan emak membuat kue, Mimi kebagian membuat kue panggang dan emak membuat kue yang digoreng. Hari ini mereka mendapatkan delapan jenis kue, emlat panggang empat goreng.
Sore hari Mimi lanjut masak buat makan malam, buat berbuka rencana Ay akan beli jajanan yang dijual di pasar bedug ( pasar yang hanya ada di bulan puasa ).
Setelah beres masak Mimi mengistirahatkan sejenak badannya, karena melihat ada bahan buat kue yang simpel mimi pun mengisi waktu sejenak itu dengan membuat kue Muso, kue kesukaan emak nya.
Terkadang jika salah satu keluarga tak ada di tengah-tengah kita, kita merasa seenak apapun yang kita masak belum ada artinya. Saat masak segala menu, Mimi selalu memikirkan keadaan adeknya, berbuka apa dia didalam sana.
Kalau emak dan bapak tidak menjenguknya, Mimi selalu memesan goofood untuk dititipkan sama petugas lapas nya. Untuk sampe saat ini, Mimi tidak pernah menjenguknya kecuali pas hari raya saja.
Sehabis mandi Mimi melihat ada chat masuk dari group chatnya yang manda mengirim chat mengundang kami mengajak kami semua untuk berbuka bersama di rumahnya.
Chat itu dikirim dari siang dan Mimi baru melihatnya sore hari. Mimi pun segera bersiap-siap akan pergi ke rumah Manda.
"Ay, ikut ndak?" tanya Mimi lada Ay saat dia keluar dari kamarnya.
"Kemana?" tanya Ay.
"Ke Aston." jawab Mimi.
"Emm ndak lah, Ay di rumah saja." jawab nya.
"Yaudah, mana kunci motor." ucap Mimi dan meminta kunci motor pada Ay.
"Nih." jawabnya dengan memberikan kunci motor.
"Mau kemana Mi?" tanya emak yang melihat Mimi tengah bersiap-siap pergi.
"O yaudah, jangan malam nian pulangnya." ucap emak.
"Siap emak, Mimi pergi dulu ya. Assalamualaikum." ucap Mimi.
"Waalaikum salam, hati-hati." jawab emak, Mimi mengangguk dan segera pergi.
Perjalanan dari rumah ke rumah Manda tidak memakan waktu lama namun jika dinsore hari ini jalan besar di depan sangatlah ramai sehingga membuat jalanan padat, di tambah musim Ramdhan musimnya pasar bedug yang berdiri di pinggir jalan mau pun di depan - depan ruko.
Perumahan Mimi yang berseberangan dengan kampus di daerah ini, beruntungnya ini adalah detik-detik lebrqn hadiah tidak begitu ramai mahasiswa, yang ramai tinggallah mobil-mobil yang berlalu lalang untuk mudik antar Sumatra.
Sebelum kerumah Manda Mimk menyempatkan diri membeli kue buat buka bersama, beruntung toko kue nya belum libur hari ini, dengan hati senang Mimi pun pergi ke rumah Manda.
Jam hamlir menunjukkan jam berbukamimi baru sampai di rumah Manda.
Tak hanya Mimi yang baru sampai di rumah Manda, rombongan Syahril pun baru sampai di rumah Mimi.
"Assalamualaikum" ucap Mimi.
"Waalaikum salam, beuh Mi lama benar kirain perginya dari Padang." sindir Emma.
"Iya Ma, Mimi dari padang langsung kesini hahaa." jawab Mimi
"Ema kapan nyampe?" tanya Mimi sembari cipika-cipiki sama Emma dan yang lain.
"Siang tadi, oh ya Mi Selfia mau nikah yo? dio ada WA ngundang." tanya Emma.
"Iya Ma, Emma pergi?" yang Mimi.
"Mimi?" tnya nya balik.
"Insya Allah Ma kalau dapat cuti. Soalnya Mimi susah ambil cuti banyak pula." jawab Mimi.
"Untung lah aku ndak banyak ambil cuti sekarang Mi, rencana lebaran haji aku mau balek lagi." jawab Emma.
"Udah-udah nanti lagi ngobrolnya dah bunyi sirinenya." seru Manda yang tengah hamil anak kedua.
"Iya bumil." jawab Emma dan Mimi.
"Di'ah kenapa diam?" tanya Mimi melihat Di'ah diam.
"Eh ndak apa-apa kok Mi." jawab Di'ah.
Sedangkan si rumah Mimi. Emak, bapak tengah menghadap hidangan menunggu sirine berbunyi, saat Ay menyajikan buah yang sudah dibpotongnya terdengar ketukan dan salam dari luar.
"Assalamualaikum" ucap orang dari luar.
"Siapa Ay?" tanya emak.
"Mana Ay tau Mak." jawab Ay.
"Assalamualaikum" ucap mereka sekali lagi.
"Waalaikum salam" jawab Ay dan kedua orangtuanya. Ay berjalan menuju pintu dan membukanya.
__ADS_1
"Eh Baiq, loh kak Syahril, kak Ryan." ucal Ay dan terkejut saat melihat yang datang bukan hanya Baiq seorang melainkan ada kedua kakaknya yang telah lama tak nampak.p seraya menyalami mereka
"Iya Ay, Ay apa kabar? sudahngadis ya sekarang." ucap syahril seraya meneeima salam Ay dan mengusap rambut Ay.
"Alhamdulillah baik kak, kakak dan kak Ryan tambah gagah bae." ucap Ay.
"Hahahaa bisa saja kamu." ucap Syahril dan Ryan.
"Emang aku ndak gagah ya Ay?" ucap Baiq.
"Eh emm hehee." ucap Ay, Baiq bersidekap dada dan menatap kedua omnya dingin. Ryan mentoel dagu keponakannya dengan gemes.
"Siapa Ay, kenapa tidak di ajak masuk?" seru emak.
"Iya Mak, oh ya kak, Baiq ayo masuk." ucap Ay dan mengajak tamu nya masuk.
"Ndak di gandeng nih tangan kakak, bkasanyabka!aunkakak datang langsung di gandeng " ucap Ryan dan itu membuat Baiq semakin murka wajahnya.
"Belum muhrim, ayo Ay masuk." ucap Baiq dan menerobos masuk serta menggandeng tangan Ay.
"Dasar bocil bilang bukan muhrim lah dia ..." ucap Ryan menggelengkan kepala.
"Eh Baiq." jpucap emak yang melihat Baiq sudah masuk.
"Iya Mak, assalamualaikum." jawab Baiq seraya menyalami kedua orang tua Ay
"Waalaikum salam." jawab emak dengan senyum.
"Syahril, Ryan." ucap bapak ketika melihat Syahril dan Ryan masuk.
"Iya pak, bapak apa kabar?" tanya Ryan dan Syahril sembari duduk dan mengalami bapak bergantian. Emak melihat Syahril dengan tatapan sendu.
"Alhamdulillah bapak baik." jawab bapak dengan memeluk mereka berdua.
"Mak, emak apa kabar?" tanya Syahril lada emak dan menyalami serta mencium punggung tangan emak.
"Alhamdulillah, Mak baik." jawab emak denagn mengusap punggung Syahril.
"Mak" ucap Bryan dan menyalami nya. mak juga mengusap punggung Ryan.
Mak menatap kedua anak manusia itu dengan tatapan sendu, ada kerinduan dihati emak kepada mereka berdua.
"Dari mana kalian tau rumah emak? apa bicik yang kasih tau?" tanya emak pada Syahril maupun Ryan.
"Iya Mak, tali bicik kurang tau alamatnya." jawab Syahril
"Beruntung nih ada si bocil kami Mak." sahut Ryan dengan menunjuk baiq dan memanggil Baiq si bocil.
"Enak aja bilang Baiq bocil " ucap Baiq.
''Oh iya terus Baiq siapanya kalian?" tanya bapak.
"Baiq keponakan kami pak, dia anaknya bang Fatur Abang nya Ryan." jawab Ryan.
"Oo dah besar ya." jawab bapak.
"Kamu apa kabar Riil?" tanya Bapak.
"Alhamdulillah pak, kayak yang bapak lihat." jawab Syahril.
"Sudah nanti lagi ngobrolnya, ayo kita berbuka dulu." ajak emak.
Ay memberikan es buah pada merek semua, setelah memakan beberapa kue dan kurma serta air putih, Syahril dan Ryan serta Baiq dan bapak pergi ke masjid untuk sholat Maghrib.
Sepulang dari masjid, mereka kembali duduk untuk !akan malam.
"Ayo Riil, Yan, Baiq makan dulu." ajak emak dengan memasukkan nasi kedalam piring.
"Iya Mak," jawab mereka bertiga dengan menerima piring yang sudah dibuang nasi.
"Makanlah, jangan malu-malu. ini semua Mimi yang masak." ucap emak.
Syahril tersenyum, mendengar nama Mimi dia baru sadar jika orang yang dia cari tidak ada. Syahril celingak-celinguk mencari keberadaan Mimi.
Emak tau jika Syahril sedang mencari anaknya Mimi.
"Ayuk Mimi tidak ada kak, dia lagi berbuka bersama di rumah Ayuk Manda." ucap Ay mendahului emaknya.
"Oo gitu ya.." jawab Syahril lirih.
"Kenapa kita sulit bertemu dek, padahal kita dekat." Gumamnya dalam hati.
Syahril, Ryan, Baiq dan yang lain makan dengan lahap. Terutama Syahril yang lama merindukan masakan Mimi, cipta rasa yang tidak pernah berubah dinlidqh Syahril.
Sehabis makan mereka, kembali mengobrol. Ay dan emak membereskan semua bekas makan mereka.
"Jadi bagaiman Riil? sudah punya anak berapa?" tanya Bapak, Syahril hanya tersenyum. dan menggaruk kepala bagian belakangnya.
Baiq heran melihat kedua orang tua Ay cewek incarannya sangat dekat dengan Syahril maupun Ryan.
"Alhamdulillah kabar Syahril baik pak, kalau itu emmm.." ucal Syahril dan menceritakan semua nya pada kedua orang tuanya Mimi.
Emak maupun bapak menghelakan nafasnya.
"Yang sabar, mungkin sbatas itulah jodoh mu." jawab emak.
"Mimi bagiamana Mak?" tanya Syahril.
"Mimi masih sama Riil, tapi saat ini dia kembali dekat dengan Said seniornya dulu." jawab emak.
"O" ucap Syahril.
"Tapi entahlah hubungan mereka itu. Emak merasa mereka tidak cocok."
"Bukan tidak cocok sama Said nya, tali ke orangtuanya Said." ucal emak menceritakan perihal hubungan Mimi dan Said.
"Ya semoga orang tua nya juga bisa menerima Mimi ala adanya Mak." jawab Ryan.
"Hemm entahlah Yan, dari dpmak dengar cerita Mimi. Orang tua nya pernah merendahkan Mimi, Emak yang mendengar nya sajansakit hati," ucap emak.
"Nah terus Mimi?" tanya Syahril.
"Yabtau sendiri Mimi Riil, dia orangnya tidak mau bersuudzon, Mimi berharap kedua orang tua nya Said berubah dengan seiringnya waktu." jawab emak, emak pun menceritakan semua apa yang pernah Mimi ceritakan kepadanya pada Syahril dan Ryan.
__ADS_1
Syahril maupun Ryan yang mendegarnya sangat emosi bahkan Syahril mengepalkan tangan nya. Mereka terus mengobrol hingga Adan isya berkumandang.
tbc