DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
chapter 48


__ADS_3

ASSALAMUALAIKUM RIDERS DOKTER JANTUNGKU MAAF JIKA ADA KESALAHAN DALAM PENYAMPAIAN, SEMOGA CERITA NYA BERKENAN KEPADA KALIAN SEMUA


💖💖SELAMAT MEMBACA💖💖


_____________________________________________


Hari terus berganti Mimi masih berada di rumah kedua orang tua nya, satu minggu sudah dia berada disini.


Seperti tahun-tahun sebelumnya Mimi akan menjadi piala bergilir.


Hari ini Mimi di jemput oleh pakdo / pamannya untuk nginap di rumahnya.


Pakdo adalah bapak muda atau paman yang paling muda bisa juga disebut pak bungsu.


Pakdo adalah adik bungsu dari mamaknya Mimi dan dia mempunyai anak berusia satu tahun, Setiap liburan seperti sebuah kewajiban Mimi akan nginap dirumahnya selama 2hari.


Pakdo dan istrinya berkerja di perusahaan PT disini yang bergerak di produksi kayu akasia, pakdo tinggal di sebuah distrik atau anak cabang dari PT ini.


Sama halnya di PT sawit, PT ini memiliki distrik-distrik yang mana di setiap distrik menjalankan penanaman ribuan hektar tanaman akasia.


Disetiap distrik memiliki kantor yang merupakan anak cabang dari PT ini, pakdo Mimi tinggal di distrik yang mana tempatnya menyeberangi sungai.


Sungai disini merupakan sungai pasang surut dan sungai ini juga merupakan sarana untuk transportasi pengangkatan atau pengiriman bahan-bahan baku kayu ke propinsi sebelah seperti Pekan Baru Riau dan Palembang.


Pekan Baru Riau dan Palembang juga merupakan cabang dari PT ini. Di wilayah sana juga ada yang namanya kantor serta distrik-distrik nya.


Di distrik tempat pakdo nya Mimi ini terdiri dari puluhan karyawan yang sudah berumahtangga dan puluhan yang masih lajang.


Disini tersedia mess-mess untuk para karyawannya, tersedia koperasi dan kantin yang mana koperasi dan kantin berada dekat dengan kantornya.


Hari ini hari minggu, pakdo menjemput Mimi di rumahnya. Karena disini pasaran nya di hari minggu, Mimi bersama pakdo, mamak bersama ay dan bapak sekalian pergi ke pasar.


Pasar minggu ini berada di pasar sayur dimana disana rumah bi Ida berada.


BI ida juga memiliki seorang anak laki-laki yang berusia sama dengan Ay hanya beda bulan, Ay awal dan anak bi Ida akhir.


Ay di usia 4 th sudah masuk TK nol besar karena dia tidak mau di nol kecil. Ay memiliki tubuh yang bongsor dan tinggi dari anak seusianya.


Sehingga sewaktu dia dimasukan ke TK nol kecil sebagai anak bawang karena usia belum mencukupi dia protes kalau dia sudah besar.


Sedangkan anak bibi dimasukkan oleh oom ke playgroup.


Sesampainya dipasar pakdo menitipkan catatan yang akan di belanjanya dipasar sama bi Ida.


BI Ida dan mamak berkeliling mencari-cari bahan-bahan yang akan mereka beli. Pasar Minggu sangat ramai semua orang dari desa-desa ramai mengunjunginya untuk berbelanja.


Setelah bahan yang diinginkan pakdo sudah terbeli pakdo dan Mimi pun berangkat kerumah pakdo nya.


Karena air lagi surut, maka kami untuk menyeberang menggunakan perahu, perahu ini akan menyeberangi orang-orang dari desa sebelah dan para karyawan pabila akan pergi kepasar atau kekantor besar ( Kantor utama).


Perahu ini bisa menampung 6-9motor beserta penumpang motornya. Perahu ini ada yang sudah memakai tenaga mesin dan ada pula yang masih menggunakan tenaga manusia dengan cara mendayung


Mimi dan pakdo menunggu di gubuk kecil yang disediakan oleh karyawan distrik untuk menunggu perahu. Tak lupa Mimi memfoto nya dan mengirim ke Syahril. Saat giliran kami tiba pakdo menurunkan motor dan menaikkannya ke atas perahu tersebut.


Naik perahu ini jika hanya pada saat air surut tapi walau kadang air pasang juga masih ada yang menggunakan jasa mereka dengan alasan menunggu kapal pery lama.


Ya kalau air pasang maka orang-orang sini akan naik kapal pery, kapal pery ini transportasi untuk menyeberangi mobil-mobil loging yang membawa kayu-kayu dari seberang menuju pabrik yang berada di PT ini jadi bentuk kapalnya berbeda dengan kapal pery seperti di Bakaheuni.


Oh ya PT ini terdiri dari 2 PT, Satu PT yang memproduksi kayu dan satu nya PT yang mengolah kayunya menjadi pulp dan yang mana pulp ini nanti akan di kirim kembali ke PT-PT lain untuk di buat kertas. Hasil pulp ini juga di eksport ke negara sebelah.


Ada yang bisa ngebayangin naik perahu yang mana isinya 9 motor dan penumpang motornya menyeberangi sungai dan di dayung sama pemilik perahu menggunakan tenaganya? Selamat ngebayangin aja ya hehe☺☺🙏✌.


Kurang lebih 10-12 menit dengan menggunakan tenaga manusia akhirnya sampai juga diseberang sana, bayangi saja 9 motor di tambah dua penumpang bahkan lebih setiap motornya dan di gayung sampai ke seberang menggunakan tenaga.


Salut bagi mereka demi pundi-pundi uang apapaun mereka jalani, di saat air surut air akan tenang tetapi disaat air naik atau air baru mulai surut makan mereka akan melawan arus untuk membawa perahunya agar sampai dan selamat sampai ketepian.


Setelah menyeberangi sungai, Mimi dan pakdo mengendarai motor menuju distrik yang mana jarak tempuh 10-15 menit.


Di sepanjang jalan dekat dermaga berjejer panjang mobil-mobil loging yang membawa muatan kayu hingga tinggi. ( Berapa tingginya author tidak tau pasti ya bisa berkisar 4-7 meter).


Mobil-mobil tersebut mengantri untuk menyeberang dan mereka menunggu air pasang. Banyak para sopir beristirahat di atas mobil ada pula beristirahat di kantin pinggir dermaga sampai air pasang.


Lima belas menit perjalanan akhirnya Mimi sampai di rumah/mess nya pakdo, sampai sana eh anaknya sedang tidur.


Selama disini Mimi ikut menjaga dan bermain bersama anaknya. Karyawan atau tetangga dari pakdo banyak yang sudah tau Mimi ini siapanya tapi banyak pula yang belum tau.


Mimi selama disini juga jarang ke luar jauh-jauh paling hanya sekitar blok rumah pakdo saja atau sekitar blok rumah karyawan yang berkeluarga.


Dibelakang mess pakdo merupakan Mess lajang setiap pagi mereka mencuci pakaian nya diluar, ya Air disini hidup pagi sampai jam 7 dan hidup kembali siang hari jam 11.30-12.30 terus hidup lagi sore jam 5.30-7 malam.


Jadi kalau pagi para karyawan lajang yang messnya berada di belakang rumah pakdo berjejer mencuci pakaian-pakaian kotor mereka.


Mimi pun habis sholat subuh langsung keluar untuk mencuci piring kotor semalam. Disaat Mimi mencuci piring para karyawan belum ada yang berjejer untuk mencuci pakaian hanya satu atau dua saja.


Mes lajang ini masih ada sebagian


mess nya yang mana kamar mandi berada di luar, hanya tinggal 4blok mess yang masih menggunakan kamar mandi di luar.


Untungnya tempat pakdo yang sekarang sudah mendapatkan Mess permanen dan kamar mandi sudah di dalam.


Dua hari sudah Mimi di sini dan pakdo akan mengantar Mimi ke rumah bibi yang ada di puskesmas. Pakdo mengantar Mimi saat dia pulang kerja yaitu jam 5 sore.


Di rumah bibi belakang puskesmas Mimi hanya menginap semalam saja esok sorenya Mimi nginap di rumah bi ida. Di rumah bi Aini dia mempunyai dua anak yang sudah sekolah SD dan ada nyai (ibu dari bi Aini yang juga merupakan ipar dari nyai nya Mimi yang di jambi).


Sewaktu di rumah bi Aini ada tamu sepertinya sudah biasa di rumah sini, tamu ini memakai baju putih-putih ya tamu ini seorang perawat tetapi dia bukan perawat di puskesmas ini melainkan dia perawat di klinik dalam ( klinik perusahaan).


Dia juniornya oom Mimi suami dari bi Aini, suami bi Aini seorang mantri disini dia sudah lama berada disini sewaktu desa ini baru buka dialah yang ditugaskan di puskesmas ini.


Teman oom ini selalu mencuri pandang bahkan ikut duduk bersama saat Mimi sedang duduk dan melihat adik-adiknya belajar.


Disaat duduk dia menjulurkan tangannya untuk berkenalan, tapi Mimi hanya melihatnya dan tersenyum.


"Hai.. kamu siapa?" Tanya nya dan di jawab oleh Ella anak oom yang pertama.


"Namanya ayuk Mimi om"


Mendengar Ella yang menjawab dia hanya menaikkan alisnya dan tersenyum melihat ke arah Mimi.


"Kok Ella yang ngejawab, bukan ayuk nya." Sindir dia.


"Dia memang gitu om, malu-malu orangnya." Sahut bi Aini.


"Oo.. gitu ya kak?" Tanyanya sama bi Aini.


"Iya," Jawab bi Aini.


"Masih kuliah atau kerja?" Tanya nya lagi tapi pandangan tetap ke arah Mimi.


"Masih sekolah dia Prim, baru kelas satu SMA." Ucap om Gun.


"Hah.. Beneran kak?" Jawabnya tak percaya.


"Iya Prim, kenapa macam dah kuliah ya?" Ucap om gun.


"Hehe Iya kak." Jawabnya dengan menggarukkan kepala yang tak gatal.


"Dia ni badannya aja yang besar umur masih muda Prim." Sahut Nyai.


"Oh gitu ya Nyai." jawabnya dan terus melihat ke arah Mimi.


"Bolehlah dak nyai, buat prima. " Ucapnya kembali.


Mimi hanya diam dan bergumam "oh namanya Prima".

__ADS_1


"Hahaha, kalau Prima mau nunggu dan dia mau apa salahnya." jawab Nyai dengan tertawa.


"Prima mau Nyai nunggu dia." Ucapnya.


"Hah Prim Prim bisa tua kamu nunggu dia." Ucap om gun.


"Ya ndak begitu tua lah kak, umur Prima kan baru 22." Ucapnya penuh percaya diri.


"Macam mana Mi?" Tanya bi Aini dan nyai serentak.


"Hah.. Macam mana apa Nyai, bi!" jawab Mimi.


"Mau dengan Prima?" Tanya nyai.


" Hah, ehmm ndak lah Mimi masih mau sekolah." Jawab Mimi.


"Nah tuh Prim sudah dijawab dia ndak mau." Jawab Nyai.


Lama Prima disana hanya ingin melihat Mimi tapi Mimi nya merasa risih Mimi pun pamit untuk masuk kamar.


"Nyai,bi, om Mimi mau tidur dulu."


"Oh ya udah sana masuk kamar." Jawab nyai dan Mimi pun langsung berdiri dan hendak masuk kamar dan menganggukan kepala sama Prima yang masih fokus pandangannya ke Mimi.


Setelah itu Mimi tak tau lagi apa yang mereka bicarakan di luar.


Esok paginya pagi-pagi nyai ngajak Mimi kepasar setelah anak-anak om gun berangkat sekolah. Nyai dan Mimi berjalan berdua menuju pasar.


Sepanjang jalan selalu ada yang menegur dan ada yang bersuit-suit, Mimi terus berjalan dan bergandeng tangan sama nyai.


Ada pula yang terang-terangan ngajak kenalan. Tapi tak pernah sedikitpun Mimi gubris ucapan mereka. Sehingga nyai menegur Mimi.


"Kau ada yang negur di jawab Mi."


"Mau jawab apa nyai, Mimi kenal aja indak."


" Ya walau dak kenal setidaknya senyum jangan mesum macam ni." Nasehat nyai. ( Mesum disini bukan mesum cab*l ya, mesum disini ke arah tak mau senyum, irit bicara, irit senyum alias jutek)


Mimi hanya mendengarkan ocehan nyai nya. Iya inilah Mimi orangnya cuek dan susah buat namanya senyum dan berucap kalau bukan sama orang yang dia kenal.


Jika tak mengenalnya maka orang menyangka dia sombong namun sebenarnya Mimi bukanlah sombong, entahlah kenapa dia sangat irit untuk tersenyum dan bicara sama orang yang tak dikenalnya.


Tak lama berjalan Mimi dan nyai pun sampai ke pasar, nyai membeli ikan, ayam dan sayuran. Setelah semua dapat Mimi dan nyai pulang dan berjalan kaki kembali.


Sepanjang jalan pulang seperti waktu pergi tadi selalu aja ada yang menegur dan selalu nyai yang menjawab.


Sesampai rumah Nyaj langsung menuju dapur dan membersihkan ikan sedangkan Mimi memotong kangkung dan menggiling cabe.


Stelah membersihkan ikan dan ayam nyai langsung memberi asam dan garam dan menggoreng nya.


Menu di rumah bi Aini sambal ijo ikan Nila, ayam Kentucky dan tumis kangkung.


Sesi masak memasak selesai hari pun telah siang waktunya jam istirahat bagi para pegawai dan waktu makan siang pun tiba.


Om gun pulang dari puskesmas, rumah dinasnya berada di belakang puskemas. Mimisan menyiapkan makan siangnya.


Sore hari jam 4 Mimi pun membereskan pakaiannya karena Mimi akan nginap tempat bi ida, setelah beres Mimi bermain bersama Ella dan fadli di puskesmas menjelang dijemput om yan. Karena sudah bukan jam kerja maka puskesmas sepi.


Lagi asik melihat Ella dan Fadli eh tiba-tiba nongol si Prima duduk disamping Mimi.


"Lagi apa dek?" Tanya nya.


Mimi kaget tiba-tiba ada orang disamping dan bertanya kepada nya, Mimi melihat ke arah Prima dengan cuek.


"Lagi duduk kak." jawab Mimi dan terus melihat ke arah Ella dan Fadli.


Prima geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat Mimi.


"Makan bakso yo dek di depan." Ajaknya sambil menunjuk kearah warung bakso yang berada di depan puskesmas.


Ella dan Fadli yang mendengar bakso akhirnya mereka berhenti bermain dan mendekat ke Mimi.


"Ayo om," Ucap Fadli.


"Ayo yuk, kami mau." Ucap Ella.


"Ayo dek kakak traktir." Ucapnya.


Karena desakan adik-adiknya akhirnya Mimi pun mau dan mengikuti mereka dari belakang.


Bagaikan mendapat jackpot Prima kegirangan dan sangat senang walau hanya sekedar duduk makan bakso yang penting bisa melihat wajah Mimi begitulah kira-kira.


Mereka pun memesan bakso, bude yang sudah kenal Prima, Ella dan Fadli pun bertanya.


"Eh mas Prima, tumben makan bakso ngajak cewek." Ucap bude yang jual bakso.


"Hehe Iya bude sekali-kali." Jawabnya


"Ella sama Fadli seperti biasakan." Tanya bude kepada Ella dan Fadli.


"Iya bude." Jawab mereka.


"Mbak nya gimana?". Tanya bude kepada Mimi.


" Campur aja bude." Jawab Mimi.


"Loh mbak ini kan ponakannya bu Aini bukan." Tanya bude seakan teringat kalau dia tau siapa Mimi.


"Iya bude." Jawab Mimi.


Tak lama baksonya pun tersaji di atas meja mereka pun makan dalam diam kecuali Ella dan Fadli selalu bertanya sama Prima sedangkan Prima selalu melihat ke arah Mimi.


Sehabis maka bakso mereka pun pulang, Prima ingin mengajak Mimi jalan nanti malam namun di tolak oleh Mimi.


"Dek, nanti malam jalan yuk." Ajaknya.


"Maaf kak ndak bisa." Tanpa basa basi Mimi menolak ajaknya.


"Kenapa?"


"Malam ini Mimi tidur di rumah bi Ida."


"Kan bisa nanti kakak izin sama bi Ida nya."


"Maaf kak, Mimi tetap ndak mau ndak enak sama om Yan." Jawab Mimi.


"Oo gitu ya." Ucapnya penuh dengan kecewa.


Tak lama sampai rumah bi Aini, motor om Yan pun tiba untuk menjemput Mimi.


"Dah siap Mi?" Tanya om yan.


"Sudah om, bentar Mimi ambil tas."


Mimi pun berlalu masuk untuk mengambil tas nya dan Mimi tak tau lagi apa yang di bicarakan om gun, om yan dan Prima.


Mimi pun pamit dan bersalaman sama semua orang yang ada di rumah bi Aini.


Selama menjadi piala bergilir Mimi hanya sekali-kali chat sama Syahril. Seperti saat ini


sudah di rumah bi Ida baru bisa chat bersama dia. Selama di rumah pakdo jarang chat karena sinyal disana sedikit susah.


Jika di rumah bi Ida mimi leluasa megang hp dan Mimi pun membuka aplikasi WA dan ternyata begitu banyak pesan dan panggilan masuk.

__ADS_1


Melihat begitu banyak panggilan masuk dari Syahril, Mimi langsung menghubunginya dengan video call.


tut tut tut tut ( dering tersambung )


Dan tak lama di angkat oleh Syahril dengan tatapan tajam penuh dengan intimidasi, Mimi hanya tersenyum melihatnya.


📱"Assalamu'alaikum kak."


📱"Hemm"


📱"Kok ndak di jawab salamnya,dosa lo."


📱"Waalaikumsalam "


📱"Nah gitu dong."


📱"Hem."


📱"Ham hem ham hem jawabnya, yaudahlah Mimi matikan ya HP nya.


📱"Terserah"


📱"Idih marah ya?"


📱"Dah tau nanya."


📱"Maaf baru bisa leluasa pegang HP."


📱"Lagi dimana dek?"


📱"Lagi di rumah bi Ida."


Saat Mimi lagi video call om Yan melihat dan bertanya siapa.


"Siapa mi?"


"Kak Syahril om." Jawab Mimi.


"Oh Syahril." Om Yan pun meminta HP dan dia ingin menyapa Syahril.


📱"Apa kabar riil?"


📱"Alhamdulillah baik om."


📱"Kenapa rill rindu sama Mimi?"


📱"Hehehe iya om."


📱"Dak usah dirinduin riil, Mimi disini banyak yang suka."


Om yang sengaja memanasi Syahril dan Mimi. Mimi melotot ke arah om Yan dan om Yan hanya tertawa.


📱"Iya ya om."


📱"Iya rill, tadi sore aja Mimi makan bakso sama cowok."


Om yan terus memprovokasi Syahril. Syahril langsung menahan gejolak emosi nya.


📱"Oh gitu ya om."


Disaat om yan ingin menjawabnya Mimi langsung rebut HP nya.


"Sini om HP nya, oom ni ngegosip bae." Ucap Mimi dengan cembetut.


"Hahahaa ngapa tuh bibir." Ucap om Yan yang masih meledekin Mimi.


"Ayah ni, buat yuk Mimi marah." Ucap Fajri anaknya.


"Ngapa yah, asik nian ngerjain Mimi." Ucap bi Ida.


"Ndak bu, lucu liat bibir monyong nya Mimi hahahhaa."


"Puasin om ketawanya." Ucap Mimi dengan bibir masih dimanyunkan.


"Sudah-sudah ayah ni juga." Ucap bi Ida.


Om Yan berlalu masuk kamar dengan ketawanya dan diikuti bi Ida di belakangnya.


Mimi tatap lagi wajah yang telah memenuhi layar HPnya yang mana wajah tersebut sudah melotot kan matanya seakan menerkam mangsa.


📱"Beneran itu dek"


Ucap Syahril dengan penuh penekanan.


📱"Beneran apa kak?"


📱"Yang di bilang om Yan tadi. "


📱"Iya tadi Mimi makan bakso sama kak Prima."


📱"Oh jadi namanya Prima dah deket ya?"


📱"Ndak dekat kok cuma tadi dia ngajak makan bakso saat Mimi lagi melihat Ella dan Fadli main"


📱"Hem, terus adek mau?"


📱"Ya mau karena Ella dan Fadli minta makan bakso juga."


📱"Beneran"


📱"Iya beneran kak"


📱"kapan ke Jambi dek?"


📱"Besok Sabtu kak."


📱"Pulang sendiri atau sama siapa?"


📱"Diantar mamak."


📱"Oh yaudah, udah dulu ya dek kakak mau ke masjid assalamualaikum."


📱Oke kak, Waalaikumsalam."


Sehabis video call om Yan masih meledekin Mimi dan Mimi terus cembetut.


____________TBC__________


.


Bab, kali ini sampai disini ya riders dokter jantungku, Ikutin terus cerita selanjutnya.


JANGAN LUPA DUKUNGAN DAN JEJAK KALIAN


VOTE


RATE


LIKE


KOMEN


TERIMAKASIH SEBLUMNYA ATAS DUKUNGAN DARI KALIAN DAN TERIMAKASIH ATAS KESETIAAN KALIAN PADA DOKTER JANTUNGKU.

__ADS_1


_______________💖💖💖________________


__ADS_2