DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
hasil bercocok tanam yang sesungguhnya.


__ADS_3

Sebelum sholat Maghrib, Mimi mengeluarkan pakaian kotornya untuk direndam terlebih dahulu tak lupa pakaian kotor Syahril juga direndam nya juga


Sehabis sholat Maghrib mereka menyantap makan malam bersama dan setelah itu mereka duduk bersantai ria.


Mimi yang teringat akan pakaian nya dia Kun beranjak dari duduk nya menuju dapur. Mimi mulai berkutat mencuci semua pakaian nya itu.


Beberapa puluh menit Syahril tidak melihat Miki kembali dia pun menyusul Mimi ke dapur.


"Ya Allah dek, kenapa tidak besok saja." ucap Syahril yang melihat Mimi berkutat dengan pakaiannya.


"Besok tinggal jemur kak." ucap Mimi dengan terus menggosok pakaiannya dengan bros pakaian.


"Yaudah sini kakak bantu bilasi nya" ucap Syahril dengan membantu Mimi membilas pakaian yang telah di cuci. Ryan dan Di'ah asik bermesraan ketika Syahril tidak ada bersama mereka. Sedangkan Mimi dan Syahril asik dengan pakaian-pakaian nya, mereka berdua saling bahu membahu memperkerjakan. pekerjaan yang kecil ini.


Setelah semua selesai pakaian Mimi dan Syahril ikut basah karena mereka mencuci maupun bilas sambil bercanda.


Mereka berdua berganti pakaian bersih kembali dan Mimi kembali mencuci sebentar pakaian yang basah tadi.


Jam sembilan malam semua cucian pun kelar. Saat mereka kembali ke ruang tengah, Mimi tidak melihat Ryan dan Di'ah lagi.


"Lah kemana mereka?" tanya Mimi.


"Mungkin melanjutkan bercocok tanam." jawab Syahril.


"Emm, yah terus Mimi tidur sama siapa?" ucap Mimi.


"Adik tidur dikamar kakak saja,." jawab Syahril


"Terus kakak?" tanya Mimi.


"Kakak di luar sini saja." ucap Syahril dengan menunjukkan ke arah karpet.


"Emm kita tidur sekamar aja kak." ucap Mimi tidak tega melihat Syahril tidur di karpet.


"Ndak apa dek, takut khilaf kakak kali ini." ucap Syahril.


"Ya biasanya kakak juga bisa nahan diri." ucap Mimi.


"Ya biasanya tanpa mendengar deru ombak mendayu.Tapi kali ini beda dek, takut khilaf" jawab Syahril.


"Mimi yakin kakak pasti bisa melawan bisikan setan." ucap Mimi.


"Nggak apa, Kakak tidur disini saja. Em kita duduk di teras belakang aja dulu yok." ajak Syahril, Mimi pun mengangguk.


Mimi membuat teh hangat dan mengeluarkan roti nya kembali buat menemani malam mereka.


Gulita itu lah yang mereka lihat, rembukan yang masih enggan menampakkan sinarnya hanya gemerlapan bintangyang bertabur di atas sana.


Sunyi itu juga yang mereka rasakan, keadaan dusun bungin di malam hari, semua warga mungkin telah terlelap mengarungi alam mimpi mereka, atau mereka terlelap karena mengistirahatkan tubuh mereka karena seharian berkutat dengan perkejaan.


Mimi dan Syahril duduk berdua menikmati kesunyian, angin malam yang berhembus menyejukkan jiwa dan raga mereka.


Syahril memeluk erat tubuh Mimi, kecupan dan kecupan selaku dia berikan di kepala Mimi.


"Dek" panggil Syahril.


"Hm," jawab Mimi dengan mendongak kan wajahnya tanpa sengaja wajah Syahril pun menatap Mimi sehingga bibir mereka saling bertemu dan bersentuhan.


Perlahan Syahril mengecup bibir ranum Mimi, saat Syahril mendaratkan bibirnya ke bibir Mimi, Mimi menutup matanya dan menikmati ciuman itu.


Semakin lama ciuman itu tak hanya menempelkan bibir semata namun lebih dan lebih ke intens. Tanpa Mimi sadsri pula Mimi mengalungkan kedua lengannya ke leher Syahril.


Decapan tercipta dimalam sunyi hingga kadar oksigen mereka mulai menipis. Syahril melepaskan tautan bibirnya, Syahril maupun Mimi menarik oksigen sebanyak mungkin.


Syahril menatap Mimi penuh dengan cinta nya, Syahril menghapus bekas decapan mereka di bibir Mimi dengan jarinya selembut mungkin.


Syahril juga mengusap pipi Mimi denagn lembut membuat Mimi terlena seketika. Syahril kembali mendaratkan bibirnya dan merek Kun kembali menikmati sentuhan bibir itu satu sama lain.


Setelah tautan itu terlepas Mimi kembali menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Syahril dengan terus memeluk erat Syahril.


"Tujuh bulan lagi ya dek kuliahnya." ucap Syahril.


"Hmm insya Allah tidak sampai." jawab Mimi, Syahril melihat Mimi.


"Mimi kemarin mengajukan ikut ujian bulan depan dan disetujui sama rektor nya." terang Mimi.


"Semoga adek lulus." jawab Syahril dengan mengecup kening Mimi.


"Iya semoga, amin." jawab Mimi.


"Setelah itu kita nikah ya dek." ucap Syahril dan Mimi mengangguk, Syahril sangat bahagia dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Kalau kita nikah, ala kita akan LDR an kak?" tanya Mimi.


"Emm kalau kamu lulus ya kamu pulang ke indo dan ikut kakak disini." Ucap Syahril.


"Tapi Mimi dah janji sama Jo dan ayah akan tetap berkerja disana selama setahun setelah kita menikah. Karena mereka kasih Mimi izin liburan ini." jawab Mimi.


"Ya kalau gitu kita LDR an." jawab Syahril.

__ADS_1


"Emang Kaka masih lama ya disini?" tanya Mimi.


"Emmm belum tau dek, sebenarnya kakak punya rencana bersama rekan yang lain untuk membangun rumah sakit di dusun ini. Kasihan melihat mereka yang kekurangan pelayanan kesehatan nya." ucap Syahril.


"Kakaj juga sudah membeli tanah disini tidak banyak hanya empat hektar." ucap Syahril lagi.


"Tanah yang mana?'' tanya Mimi.


"Ada tak jauh dari puskesmas, ada tanah kosong dan kakak membelinya sama Kadus. Yah rencana kakak nanti mau Kakak bangun rumah sakit disana." ucap Syahril.


"Emm rencana kakak memang bagus, cuma kalau kakak bangun untuk gratis itu Mimi rasa tidak akan berjalan lancar." ucap Mimi.


"Kakak juga pikir juga begitu dek, maklum disini susah mencari donasi." jawab Syahril.


"Emm kenapa pihak dusun sini tidak mengajukan proposal pada pemerintah setempat saja."


"Seharusnya mereka mengajukan proposal pada pemerintah, meminta untuk memadaikan fasilitas di bidang kesehatannya."


"Kakak sudah memberitahu sama kadusnya ya tapi belum ada tanggapan." jawab Syahril.


"Kita bisa saja membangun rumah sakit disini, cuma bagaimana dengan para medisnya, oke kita bisa merekrut nya namun bagaimana dengan gaji mereka? apa mereka sanggup tinggal di dusun ini."


"Kakak lihat saja warga sini, kalau gratisan saja baru mereka berbondong-bondong coba kalau bayar pasti mereka akan menjauh."


"Padahal sebagian mereka adalah orang mampu, mas nya aja sebesar rantai kapal." ucap Mimi lagi dengan mengenang saat pertama kali mereka sampai dan melihat bagaimana warga antusias menghadiri pengobatan gratis tempo hari dan sebagian mereka mengenakan perhiasan mas yang terbilang besar dan banyak.


"Yah namanya orang dusun dek," jawab Syahril semakin mengeratkan pelukannya


"Ya maka dari itu, jika kita ingin membangun rumah sakit jangan gratisan karena semua tidak gratis. Belum biaya pembangunan, biaya gaji para medisnya, obat-obatan dan lainnya. Semua harus diperhitungkan." ucap Mimi.


"Kalau mau gratisan ya cukup seperti ini saja." imbuh Mimi.


Syahril dan Mimi pun membahas bagaimana caranya bisa memajukan kampung ini. Ryan dan Di'ah mereka tidak menghiraukan dua sejoli yang belum halal itu, mereka kembali mengarungi samudra pasifik nya hingga ke samudra Atlantik.


Keesokan pagi nya, seperti biasanya Mimi yang terbiasa bangun di sepertiga malam begitu juga dengan Syahril mereka berdua selalu menjalankan perintah illahi yang disoertiga malam nya.


setelah terdengar suara adzan subuh, Syahril yang selama disini selalu pergi ke mushollah untuk sholat berjamaah, tapi kali ini ada yang beda dengan Ryan, dia tidak ikut serta menjalankan sholat subuh berjamaah.


Mimi melihat Syahril sholat ke mushollah dia pun ikut untuk sholat berjamaah di musholla di kampung ini.


Sepulang dari sholat, Mimi dan Syahril tak langsung pulang. Mereka berdua jalan-jalan sebentar mengelilingi kampung dan Syahril juga mengajak Mimi ke lokasi tanah yang dia beli.


"Wah luas juga kak." ucap Mimi ketika mereka telah sampai di tanah yang dimaksud Syahril.


"Ya luas lah dek 4hektar." jawab Syahril.


"Emm iya, tali kok di bagian sini tidak ada rumah penduduk ya kak." ucap Mimi sembari merentangkan tangan menghirup udara segar di pagi hari.


"Emm, terus jalan menuju kesana arah kemana?" ucap Mimi dan kembali bertanya ketika melihat ada jalan menuju arah perbukitan.


"Yah arah ke bukit dek, nah di sana banyak lagi penduduk nya.." ucap Syahril.


"Kakak bahkan bercita-cita bangun rumah disini dek, kalau perlu kakak ingin beli tanah di atas bukit itu dan bangun rumah disana." ucap Syahril dengan segala angannya.


Mimi hanya diam, bukan Mimi tak memperdulikan keinginan Syahril. Jika Mimi bisa memilih maka Mimi pun memilih apa yang ada di angannya Syahril.


Namun Mimi mengerti i siapa dirinya, banyak orang yang mengemban harapan pada dirinya.


Begitu pula Syahril, dia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya, dia sangat tau siapa Mimi saat ini.


Mimi yang dia kenal saat ini bukan lah seorang Mimi milik dari satu orang tua, melainkan Mimi milik dua orang orang tua.


Apa lagi Syahril juga tau jika orang tua dari mendiang calon suaminya dulu menaruh harapan pada Mimi untuk memajukan rumah sakit yang di rintis oleh mendiang.


Syahril melihat ke arah Mimi yang terus berjalan hingga sampai ke tepian persawahan. Syahril memotret Mimi yang sedang merentangkan tangannya dengan mukena yang masih dikenakannya.


"Ya Allah terimakasih kau kembalikan cintaku padaku. Jagalah dia untukku, ridhoi lah jalan kami kedepannya menuju ridho mu." gumam Syahril.


Syahril mengikuti Mimi dari belakang hingga mereka sampai ke irigasi persawahan. Terlihat air yang sangat jernih dan segar.


"Wah kak, airnya jernih." ucap Mimi.


"Iya dek dan kelihatannya segar." jawab Syahril yang langsung membuka baju Koko serta sarungnya dan di berikan pada Mimi.


Syahril langsung terjun kedalam sungai kecil itu dan dia pun mandi.


"Ih kakak curang." ucap Mimi yang juga ingin masuk kedalam irigasi yang berbentuk sungai kecil itu.


"Hahhaa yaudah ayo terjun." Seru Syahril.


"enak dek, segar." ucap Syahril lagi, Mimi memanyunkan bibirnya.


Kalau dia ikut mandi nanti pulangnya basah-basahan apa kata orang kampung ini bisa geger seantero dusun Bungin.


Mimi hanya duduk di atas kayu telat berada di tepian irigasi. Mimi hanya bisa bermain air dengan kaki nya.


Tak lama warga kampung pun sudah mulai berduyun-duyun pergi ke ladang dan sawah mereka.


"Eh Bu dokter kok ada disini." ucap salah satu warga.

__ADS_1


"Iya Bu, lagi jalan pagi." jawab Mimi.


"Wah pak dokter nya mandi sorangan Bae" sahut bapak-bapak yang juga melintas.


"Iya pak, segar air nya." seri Syahril dengan senyum.


"Ih ya Bu, disini kalau mau beli sayuran segar dimana!" tanya Mimi pada ibu-ibu yang sedang melewati irigasi itu menuju ladang mereka.


"Kalau ibu mau, mari ikut saya. Kebetulan di ladang saya tanam sayuran." ucap salah satu ibu itu


"Iya Bu, kalau mau cabe di ladang saya juga ada kebetulan hari ini kami mau panen." sahut yang lain.


"Wah benaran Bu, yaudah yok buk saya ikut ibu-ibu ke ladang." ucap Mimi yang langsung beranjak dari duduk nya.


"Kak, Mimi ikut ibu ini duku ya ke ladang." seru Mimi.


"Hah emm iya. Tunggu." ucap Syahril yang langsung naik ketika sudah melihat sang ibu berjalan melanjutkan menuju ladangnya.


Syahril langsung memakai baju Koko serta celana pendek nya. baju Koko Syahril gunung hingga berbentuk baju lengan pendek.


Di rumah Ryan dan Di'ah baru keluar kamar setalah mendengar Mimi dan Syahril keluar rumah.


Mereka berdua pun mandi bersama karena setelah dipastikan kalau Syahril dan Mimi tidak ada di rumah.


Setelah dilihat jam enam pagi, Ryan maupun Di'ah bekum melihat Mimi dan Syahril pulang.


"Yank, kemana mereka?" tanya Di'ah.


"Paling juga jalan pagi menuju bukit." ucap Ryan.


"Yah, pasti enak yank jalan-jalan pagi. Besok kita jalan-jalan juga ya yank." ucap Di'ah.


"Yah kalau kita mau ikut mereka, lewat dong jadwal bercocok tanamnya dek." ucap Ryan dengan menyeruputnya teh hangat.


"Yah sesekali yank, di lewatkan. Masa iya selama aku disini di kurung dalam kamar terus." jawab Di'ah, Ryan pun terkekeh.


Di'ah melihat ada baskom berisi cucian, Di'ah tau jika situ pastinya cucian Mimi. Di'ah Kun berinisiatif untuk membantu menjemurkan nya.


Bahkan Di'ah melihat ada palstik di atas baskom itu dan ternyata di dalamnya adalah hanger pakaian serta hanger bulat buat dalaman.


Yah rencana Mimi mau menjemurnya setelah pulang dari musholla, namun ternyata rencana berubah haluan.


Sekarang Mimi asik membantu ibu-ibu memanen sayuran dan cabe. begitu pula dengan Syahril.


Warga di ladang itu baru mengetahui sisi dari sifat Syahril yang mereka kenal cuek dan dingin itu.


"Ini nanti di bawa kemana Bu?" tanya Mimi.


"Nanti ada tengkulak nya dok datang kesini buat ambil hasil panen kami.


"Ok jadi mereka dari kecamatan atau dari kota langsung?" ucap Mimi.


"Dari orang sini lah dok, dia nanti yang mengantar ke kecamatan. Kalau lagi musim panen banyak bisa juga di antar ke kota." jawab salah satu ibu yang memetik sayuran.


Setelah selesai memetik sayuran, Mimi lun di kasih secara percuma sama mereka, kangkung, bayam dan sawi serta cabe merah dan rawit.


"Wah Bu, ini banyak nian buk." ucap Mimi ketika menerima hasil petikan itu.


"Iya Ndak apa dok, kan dokter bantu kami metik juga." seru bapak-bapak yang ada disana.


"Wah makasih banyak." ucap Mimi senang.


"Nah ini ikan buat dokter." seru salah satu bapak-bapak memberikan beberapa ikan gabus dan lele.


"Wah pak, bapak ternak ikan juga?" tanya Mimi antusias.


"Idak dok, ini semalam kami pasang luka (luka\=sejenis alat penangkap ikan tradisional terbuat dari bambu yang di anyam)." ucap si bapak.


"Wah banyak dapat nya pak?" tanya Mimi.


"Alhamdulillah lumayan dok. Rezeki dokter hari ini dapatnya banyak." ucap bapak itu.


"Wah sekaki lagi makasih banyak pak." jawab Mimi.


"Emm kau gitu kami permisi pak, soalnya kak Syahril mau masuk kerja lagi." ucap Mimi dan berpamitan.


"Baik dok, terimakasih sudah bantu kami." jawab warga tersebut.


"Sama-sama pak, buk, kami pamit dulu assalamualaikum." ucap Mimi.


"Waalaikum salam." jawab mereka, Mimi dan Syahril pun kembali keluar dari persawahan itu menuju jalan keluar, setelah itu mereka berdua Kun pulang menuju rumah dengan membawa hasil kebun dan sungai di kampung ini.


"Nah kak, ini baru hasil bercocok tanam sesungguhnya." ucap Mimi terkekeh melihat begitu banyak hasil panen di tangan Syahril.


"Iya, tapi ini mau dimakan berapa hari ini dek." ucap Syahril.


"Namanya rezeki kak, ya bisa dua atau tiga hari. Nanti kalau masih banyak kita kasih Bu Rojali atau orang tua Naya." jawab Mimi.


"Hmm iya juga." jawab Syahril, mereka Kun pulang denagn canda tawa.

__ADS_1


tbc..


__ADS_2