DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
kembalinya dirinya


__ADS_3

Hampir dua Minggu Mimi di kotanya, urusan jual beli rumah pun telah selesai. Semua Mimi serahkan pada bapaknya.


Walau mereka belum bisa pindah setidaknya rumah untuk di tempati selanjutnya telah ada. Yah mereka belum bisa pindah karena menunggu kelulusan Ay.


Semua keluarga telah memahami Mimi, adik laki-laki Miki pun harus pasrah karena itu adalah buah dari perbuatannya sendiri.


Lahan sawit uang merupakan ladang satu-satunya penghasilan orang tua Mimi sudah mulai di tawarkan ke orang lain.


Untuk masalah adik Mimi baru satu orang terselesaikan yaitu Mimi merelakan tanah yang dibeli emaknya dari sebagian uang antaran nya di jual untuk membayar ganti rugi ke satu orang dan itu masih ada tiga orang lagi.


Mimi yang sudah tidak bisa berpikir jernih karena begitu banyak nya masalah yang di buat adiknya hanya bisa pasrah dan menyerahkan segalanya pada orang tuanya dan anak dari datuknya (teman dari datuk kandung mimj )yang kelulusan hukum.


Mimi kembali pulang ke kota pedang di jari Sabtu malam, Miki sengaja mengambil makam agar bisa sampai pagi harinya.


Menempuh perjalanan 12 jam membuat Mimi merasa lelah dan penat.


Jam enam pagi, bus yang Mimi tumpangi sampai di pull/loket. Seperti biasa kalau sudah keluar dari bus, Mimi langsung merenggangkan otot-otot yang kaku.


Untuk pulang ke kontrakannya Mimi memakai jasa ojek yang pagi-pagi sudah mangkal di simpang pull.


"Lai ojek nak.'' ucap bapak-bapak patuh baya dengan berpakaian khas ojek lengkap dengan jaket nya.


Dari beberapa tukang ojek, hanya bapak ini yang berusia sudah memasuki lansia.


"Iya pak." jawab Mimi.


"Bukan orang sini ya nak?" tanya si bapak.


"Bukan pak,.'' jawab Mimi dengan menaruh kotak di tengah depan motor dekat si bapak.


"Mau kemana?" tanya si bapak.


"Emm, ke jalan Sulaiman xx ya pak." ucap Mimi.


''Oh iyolah, ayo naik." ucap si bapak dan mjmi naik di belakang.


Beberapa menit kemudian Mimi meminta si bapak untuk berhenti telat di kasar tradisionalnya.


''Pak, nanti berhenti sebentar di pasar depan ya pak." ucap Mimi dari belakang.


"Iyo nak.'' jawab si bapak dan tak lama motornya pun berhenti.


''Pak tunggu sebentar, Mimi mau belanja dulu.'' ucap Mimi.


''Aiyo nak, apak tunggu disinan Yo?" ucap si bapak dengan menunjuk parkiran.


"Iyo pak." jawab Mimi dan langsung masuk kedalam pasar.


Di pasar ini Mimi membeli berbagai ikan, cabe, bawang dan sayur tak lupa terasi serta tomat. Setelah semua terbeli Mimi pun kembali berjalan menuju parkiran, terlihat bapak menungguinya.


''Apak, sudah sarapan?" tanya Mimi.


"Alun nak, beko lah abieh ngantar anak." jawab si bapak


(belum nak, nantilah setelah mengantar anak) Mimi pun menganggukkan kepala dan kembali melanjutkan kerjakan mereka.


Sesamlainya di kontrakan Mimi, si bapak membantu membawakan barang-barang Mimi, setelah itu Mimi meminta si bapak ikut dengannya menuju rumah makwo di depan kontrakan


''Makasih pak, emm pak. Ayo ikut Mimi." ucap Mimi seraya mengajak si bapak, bapak pun menganggukkan kepala, bapak menyangka Mimi akan memakai jasanya kembali


Sesampai nya di warung makwo, bapak terkejut kalau dia di ajak di warung makan.


''Ayo pak, kita sarapan dulu.'' ajak Mimi dan si bapak menurut.


"Makwo, Mimi minta pacal yo.'' ucap Mimi.


"Eh Mimi, alah pulang nak." ujar makwo.


"Sudah makwo." jawab Mimi. Saat makwo melihat siapa yang datang bersama Mimi, makwo tercengang melihat sosok lelaki paruh baya itu.


"Pak, apak mau makan apa?" tanya Mimi namun si bapak tidak menggubrisnya karena dia melihat makwo yang sama-sama tercengang.


''Makwo'' panggil.


"Ah Yo Mi, bentar." jawab makwo dan langsung membuatkan pecal untuk Mimi dan soto daging untuk si bapak.


"Ini mi pecalnyo," ucap makwo dengan menaruh pecal dihadapan Mimi dan soto daging di hadapan si bapak.


Mimi terheran padahal si bapak belum memesannya tali makwo langsung menghidangkan di hadapan si bapak.


"Mari pak dimakan." ajak Mimi dan si bapak pun mengangguk seraya menyendok kan Soyo serta nasi kedalam mulutnya.


"Lai kau masih ingat Ju" gumam si bapak dalam hati.

__ADS_1


Setelah Mimi selesai, Mimi mendekati makwo untuk membayar sarakannya.


''Makwo berapa pecal sama sotonya." tanya Mimi


"Emm 10 ribu mi." jawab si makwo dan Mimi menautkan kedua alisnya.


"Makwo, makwo Ndak salah hitung?" ucap Mimi.


"Soto indak usah bayar." jawab makwo.


"Ok makwo ada hutang penjelasan ya sama Mimi'' ucap Mimi dengan mengedipkan matanya.


Setelah membayar pecalnya, Mimi mendekati si bapak.


"Mau tambah pak?" tanya Mimi.


"Indak nak, ala kenyang." jawab si bapak


( tidak nak sudah kenyang).


"Oh, emm ini pak ongkos Mimi." ucap Mimi dengan memberikan selembar uang merah lada si bapak..


"Ndak ada uang kecil nak? apak belum ada kembalian" tanya si bapak dan mimj menggeleng.


''Ndak usah pak, buat bapak aja." jawab Mimi.


"Tapi ini banyak nak." ucap si bapak.


"Ndak apa pak, itu rezeki buat bapak, makasih sudah mengantar Mimi pagi-pagi." jawab si Mimi.


"Ya Allah nak, makasih Yo.Semoga dilancarkan rezekinya." ucap si bapak.


"Amin ya rabbal alamin. Maaf pak, Mimi duluan ya." jawab Mimi dan berpamitan.


"Oh Iyo nak, hati-hati.' jawab si bapak.


"Hehee Mimi tinggal melangkahkan kaki pak, bapak yang hati-hati nanti di jalan.'' ucap Mimi dan bapak pun mengangguk.


Miki langsung berjalan ke kontrakannya, tapi sebelumnya Mimi menuju kontrakan Andre untuk mengambil kunci.


"Assalamualaikum" ucap Mimi.


"Waalaikum salam, eh kak sudah pulang. Bentar Andre ambil kunci.'' jawab Andre dan langsung berlalu mengambil kunci kontrakan Mimi.


"Naik ojek Ndre," jawab Mimi dengan senyum.


"Udah ya, kakak pulang dulu mau istirahat." ucap Mimi.


"Iya kak." jawab Andre dan Mimi pun melangkah menuju kontrakan nya.


Setelah membuka pintu Mimi disuguhkan rumah yang bersih, Mimi hanya tersenyum. Mimi tau siapa pelakunya, siapa lagi kalau bukan Andre.


Setelah semua barang-barangnya masuk, Mimi segera membereskan dan membersihkan ikan-ikan yang dia beli tadi.


Mimi memberikan asam jeruk serta garam lada ikan lele yang dia beli tadi. Setelah itu Mimi masukkan kedalam kulkas nya beserta yang lain. Semua sudah tersimpan di dalam kulkas, Mimi pun membersihkan dirinya tak lupa membawa pakaian gantinya.


Sehabis mandi Mimi pun masuk kamar untuk istirahat hingga dia terbangun saat adzan Zuhur berkumandang.


Malam harinya Mimi mengajak Andre dan teman satu kontrakannya untuk makan bersama nya dan Mimi juga mengajak anak-anak yang lain.


Walau dengan menu sederhana, Mimi sangat bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah padanya. Menu makan malamnya ikan lele di goreng, sambal terasi, lalapan timun, kok dan kemangi, tak lupa tahu dan tempe.


Keesokan pagi Mimi kembali beraktifitas seperti biasanya sebagai dokter jantungku. Terkadang Mimi tak hanya di dua rumah sakit itu saja, kadang Mimi juga di pinta membantu di rumah sakit jantung di kota ini.


Mimi menyanggupi dan Mimi tidak sembarangan menerima tawaran karena dia terikat kontrak dengan dua rumah sakit.


Sebelum Mimi menerimanya, Mimi konsultasikan terlebih dahulu pada direktur kedua rumah sakit itu. Jika mereka menyetujui maka Mimi pun menerima tawaran itu dan tentunya mengatur jadwal nya sebaik mungkin agar tidak beradu/bentrok


Pagi ini Mimi jadwal di rumah sakit kota, baru juga Mimi mendudukan dirinya sang asistennya masuk dengan senyam senyum.


"Kenapa sus?" tanya Mimi.


"Nggak ada dok, lucu aja. Untung dokter cepat kembali." ucap si suster dengan segera menyerahkan beberapa berkas dan rekam medis pasiennya.


"Emang ada lucu apa?" tanya Mimi.


"Ya itu dok, bentar lagi dokter juga bakal tau." jawab si suster dan tak lama terdengar ketukan pintu dan nongol kepala seseorang dari pintu, Mimk menoleh di balik tubuh suster yang menghalanginya dan suster pun menoleh ke arah pintu.


"Nah itu tersangkanya " kawan suster sedikit berbisik.


"Mimi tersenyum simpul dan menggeleng mendenagr bisikan si suster.


"Huh, akhirnya pulang juga kau dek." ucap si dokter yang baru !masuk itu dengan logat bataknya.

__ADS_1


"Ada apa bang?" tanya Mimi


"Kau tanyalah sama asisten kau itu." ucapnya. Mimi melihat ke arah asistennya namun asistennya hanya tersenyum


"Ada apa?" tanya Mimi.


"Aiss kau itunpunya pasien ku kira umjr !mereka sudah hampir setengah abad bahkan ada yang lebih. Tapi kenapa kelakuannya macam anak kecil semuanya." ujarnya.


"Bhuahhaaaa" sistem Mimi ketawa ngakak gak tertahan.


"Puas kau Mentari." ucap dokter Johan.


ya dokter Johan adalah doyee spesialis jantung juga dinruah sakit ini, karena sewaktu Mimk Aan mengajukan cuti Mimi tidak sembarangan meminta bantuan untuk menghentikannya sementara waktu untuk perihal pasiennya yang pasca operasi.


Dari jadwal dokter spesialis jantung yang tidak banyak jadwal waktu itu hanya dokter Johan, jadilah Mimi meminta bantuannya.


"Memangnya kenapa bang?" tanya Mimi lagi.


"Aiss, mereka seperti anak kecil. Di pinta supaya rutin minum obat pun harus pakai rayuan terlebih dulu.Apa kau tak memberitahu mereka sebelumnya dek?" ucap dokter Johan.


"Sudah kok bang, mungkin dia melihat Abang gagah nya jadi mereka maubdekat sama Abang, tapi kan tak semuanya kan." ucap Mimi.


"Iya tak semua, kalau semua ais entah bagaiman nasib Abang kau ini." ujarnya.


"Maaf dokter Johan yang takut sama emak-emak, bisa Anda keluar sekarang karena ini sudah jadwalnya dokter Mimi praktek." ucap si suster dengan sedikit candaan.


"Ais apaan lah kau ini Mentari, emang jam berapa sekarang sampai kau usir aku macam ini." ucap dokter Johan gak terima.


"Tuh dok " ucap Mentari dengan menunjuk jam di arlojinya.


"Aiss kejam kali lah kau ini, yaudah lah Mi. Abang pulang dulu ya. ,oh ya mana pempek nya, biasa kau bawa kalau pulang dari Jambi." ujar nya sebelum keluar.


"Ini buat abang, emang abang ndak ada jadwal apa hari ini kok pulang."jawab Mimi dengan menyerah kan sagu mika pempek buat dokter Johan.


"Ada, sore. Bang semalam ada operasi malam jadi nya malas pulang ya tidur di rumah sakit." terangnya.


"Oh ya makasih ya, Abang pulang dulu. Jangan kangen ya." ucap nya dengan gurauan.


Setelah selesai prakteknya di rumah sakit kota, Mimi langsung pergi ke rumah sakit jantung dan setelahnya d sore hari Mimi ke Nurani Bunda, lagi-lagi mikimmenndalati cerita yang sama


Enam bulan sudah Mimi di kota pedang setelah dia pulang dari Jambi, komunikasi Mimi dan orang tuanya terutama emak seperti biasa. Begitulah mimkntial harinya setelah Mimi disetujui untuk ikut bantu di rumah sakit jantung.


Emak juga sudah pasrah dan ikhlas anak laki-lakinya di bekam dalam penjara. Emak, Mimi dan yang lain berharap itu menjadi pelajaran untuk Anas, agar bijak dalam mengambil keputusan dan menjaga kepercayaan orang lain.


Saat ini Mimi kembali mengatur jadwal untuk pasien-pasiennya, karena ada beberapa pasien yang harus dilakukan tindakan operasi, ada beberapa pasien harus operasi pencangkokan, pemasang ring di jantung dan sebagainya.


Jadwal itu Mimi buat seperti biasanya dimulai dari pasien yang sangat membutuh kan segera, hingga dalam dua bulan ke depan Mimi akan disibukkan dengan tindakan operasi.


Dan beruntungnya di rumah sakit kota dan buat di tidak begitu banyak pasien yang akan di tangani dalam dua bulan itu. Yang banyak pasien dari rumah sakit jantung, karena dokter-dokter yang lain sudah banyak pegan banyak pasien.


Mimi akan memulai operasi itu di hari Senin nya, karena dua hari sebelumnya Mimi akan menikmati hari libur nya, yah hari Sabtu esok hari adalah hari libur.


Walau Mimi akan memulainya hari Senin namun di hari Jum'at ini Mimi juga sudah memulai operasi yang benar-benar urgent.


Mimi melakukan operasi pencangkokan hari ini hingga selesai di jam sebelas malam. Walau ada kendala sebelumnya tapi akhirnya semua berjalan dengan lancar.


Karena telah malam dan Mimi merasa capek juga karena menangani tiga pasien dengan operasi yang memakan waktu cukup lama. Mimi memutuskan tidur di rumah sakit.


Tapi siapa disangka keesokan harinya bos besar mengalami kecelakaan bersama istri tercintanya, sehingga keesokan harinya Mimi ikut dalam penanganan operasi bos besar itu.


Bos besar berserta istri mengalami kecelakaan yang fatal sehingga merusak wajah mereka, mereka pun akan dilakukan operasi plastik untuk beberapa hari kemudian.


Sehabis membantu dokter Reyhan, karena dokter yang masih ada si rumah sakit pagi hari adalah Mimi maka Mimi lah di pinta oleh dokter Rayhan membantunya.


Mimi menghelakan nafas panjang setelah operasi itu berjalan lancar yah karena bos besar mengalami tembakan dan peluru hampir mengenai jantungnya. ( maafkan jika salah atau tidak sama dengan cerita asli di sebelah, kkta buat cerita berbeda )


Sehabis itu, Mimi langsung pulang karena Mimk belum mandi. Bagaimana mau menyempatkan mandi, disaat tengah enak tidur ruangan Mimi di gedor sama dokter Rayhan dan itu menjelang adzan subuh.


Beruntungnya saat melakukan operasi semua tim medis yang ada dan beragama muslin harus melaksanakan sholat terlebih dahulu.


Mimi langsung pulang ke kontrakannya, saat Mimi sudah samlai salur saat akan mandi Mimi teringat jika bahan-bahan dikontrakannya sudah banyak yang habis.


"Ah mandi dulu aja lah, habis ashar baru belanja." gumam Mimi.


Sehabis ashar, Mimi pun kembali pergi dengan motor maticnya menuju supermarket untuk membeli bahan-bahan yang telah habis


Sesampai nya di supermarket itu, dengan langkah cepat Mimk memasuki supermarket dan langsung menuju ke bagian yang jual kebutuhan hari-hari dan kebutuhan dapur.


Mimi memasukkan semua barang yang dia butuhkan ke dalam troli, saat dia berjalan untuk mencari kebutuhan dirinya. Mimi mendengar ada yang memanggil namanya dan suara itu tidak asing bagi Mimi.


"Mimii.." panggilnya namun tak Mimi tak menghiraukannya sampai dia mengulanginya.


"Mimii,Mimii." ucapnya dan kaki ini dia berada tepat di dekan Mimi, Mimi terdiam dan detak jantungnya memburu ketika melihat siapa yang memanggil namanya, Mimi tak kuasa melihatnya dan Mimi pun lari dan meninggalkan belanjaannya

__ADS_1


tbc


__ADS_2