DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
masih cerita Mimi


__ADS_3

Mereka semua disana diam menunggu cerita maksud dan tujuan pasangan suami istri ini. Beberapa kali terlihat helaan nafas dari mereka berdua, seolah ada beban yang amat besar di dada mereka.


"Ceritakanlah, apa maksud dan tujuan kalian berdua yang akan menyerahkan anak kalian yang sudah kalian nanti-nantikan selama ini." ucap Mimi.


Terlihat wajah mereka yang sendu memendam beban yang begitu amat berat.


"Maafkan kami," ucap sang suami.


"Dari awal pertemuan, istri saya begitu yakin untuk menitipkan anak kami pada dokter Syahril sehingga dia memutuskan untuk yang menangani persalinan nya pun hanya ingin di tangani dokter Syahril." ucap sang suami.


"Begitu juga saya, saya juga meyakini diri bahwa anak-anak kami akan mendapat kan perlindungan dan kasih sayang dari dokter Syahril dan dokter sendiri." ucapnya melihat ke arah Mimi.


"Maaf jika sebelumnya kami lancang mengambil keputusan ini, sampai-sampai nama yang kami daftarkan sebagai masyarakat tidak mampu menggunakan nama kalian."


"Iya maaf kan kami terutama saya." imbuh sang istri.


"Entah ini hanya sebuah perasaan saya saja atau sebuah firasat saya. Entah kenapa hati saya mengatakan untuk menyerahkan anak-anak kami kepada kalian. Apa lagi semenjak saya bertanya kepada dokter Syahril apa sudah menikah atau belum."


"Dokter Syahril mengatakan kalau dirinya sudah menikah dan dokter Syahril juga mengatakan kalau istrinya adalah dokter Mimi Akifah yang juga berprofesi sebagai dokter di rumah sakit itu." ucap nya dengan menyebutkan rumah sakit Abidzar.


"Terus terang, sudah beberapa kali sebelumnya saya mencari rumah sakit untuk memeriksa kandungan saya ini, entah kenapa kakak saya menuju kerumah sakit itu."


"Saya hanya mengikuti kata hati saya, saya nekat dengan membawa uang yang pas-pasan mungkin bahkan tidak cukup untuk membayar."


"Entah mengapa pula perasaan saya merasa dekat dengan rumah sakit itu, seolah ada magnet yang menarik saya kesini."


"Awal saya masuk, saya Maninjau ruangan-ruangan rumah sakit ini. Disana melihat bingkai foto yang terpampang, di sana ada foto dokter Syahril,dokter Mimi dan dokter Abidzar kalau tidak salah baca."


"Di awal saya melihat-lihat dan membaca nama yang tertera dan tertulis di bagian foto itu hati saya merasa dekat dengan kalian."


"Terutama foto dokter Abidzar" imbuhnya dalam hati.


"Sekali saya minta maaf, kami lakukan ini semua untuk menyelamatkan anak-anak kami." sahut sang suami.


"Sebenarnya, emm sebenarnya kami menikah tanpa restu orang tua." sahut sang istri.


"Iya kami menikah tanpa restu kedua orang tua kami." sambung sang suami.


"Terus kenapa kalian seolah takut, bukannya setelah ada anak ini nanti kedua orang tua kalian akan senang." ucap sahabat Mimi yang cewek.


"Betul itu, mungkin dengan adanya anak ini kalian akan mendapatkan restu dari kedua orang tua kalian." sambung sahabat Mimi lainnya.


"Biarkan mereka cerita terlebih dahulu." potong Mimi ketika sahabat nya ingin mengutarakan keheranan mereka.


"Ya, mungkin itu betul." ucap suami ibu ini.


"Tapi tidak bagi keluarga kami." ucapnya lagi.


"Kenapa begitu?" tanya sahabat Mimi yang cowok.


"Kami menikah tidak di restui karena kami beda keyakinan." ucap nya.


"Saya non muslim, saya mengenal Zahra dari SMA, saya jatuh cinta pada nya dan kami menjalin hubungan kami seperti remaja lainnya."


"Zahra tahu kalau saya non muslim, dia hanya berucap kita jalani saja namun siapa pun jodoh kita kelak jadikan ini cerita masa indah kita ke anak cucu, begitu ucapan Zahra."


"Semakin hari berjalannya hubungan kami, saya merasa nyaman bersama Zahra, saya merasa tentram dan hati saya merasa damai dan adem."


"Apa lagi melihat ketaatan Zahra dalam menjalani serangkaian ibadahnya. Itu membuat saya semakin merasa damai."


"Seiring waktu, saya pun perlahan mempelajari agama yang Zahra anut. Saya belajar mengenal huruf-huruf Hijaiyah bahkan saya juga belajar mengaji dan sholat. Walau saya belum memutuskan untuk berpindah keyakinan."


"Saya terus belajar ilmu agama yang di anut Zahra dari art di rumah saya Mbok Inah. Dia begitu sabar dan telaten mengajari saya. Saya belajar semua ini tanpa sepengetahuan kedua orang tua dan keluarga saya."


"Keluarga saya dan keluarga Zahra orang yang taat pada keyakinan mereka. Walau mereka adalah pengusaha yang sedang naik daun di daerah kami."


"Yah di saat akhir masa kuliah saya, saya memberanikan diri mengutarakan niat hati saya kepada kedua orang tua saya, namun mereka merespon dengan penuh amarah dan benci."


"Saya tidak tau kenapa mereka merespon seperti itu, maka keputusan telak mereka melarang saya berhubungan dengan Zahra maupun keluarga nya." ucap sang suami.


"Begitu juga dengan respon keluarga Zahra yang sama dengan keluarga saya." ucapnya lagi.


"Keluarga saya tambah marah ketika tahu jika saya telah memeluk agama yang di anut Zahrah, sehingga semua akses saya di tutup oleh mereka. Begitu juga dengan Zahrah.


"Disaat wisuda kami hanya bisa menatap dari kejauhan. Tapi rasa cinta kami yang teramat kuat beberapa hari setelah wisuda kami kabur dari rumah dan kami menikah."


"Disaat kami memutuskan menikah yang bantu kami adalah adik bungsu ayah Zahrah yang umurnya tiga tahun di atas kami. Namun di saat ijab Qabul ternyata nasab Zahrah ternyata bukan dari ayah nya."


"Dari sana lah kami mengetahui terutama Zahra. Zahrah mengetahui jika dia bukan anak kandung dari ayah dan ibunya."


"Namun ayah dan ibunya sangat menyayangi dia melebihi anak kandung sendiri."


"Paman Zahrah tidak mengetahui asal usul Zahrah sehingga dia juga tidak mengetahui siapa orang kandung Zahrah."


"Akhirnya kami menikah dengan wali hakim, namun kebahagiaan kami masih di uji karena baik pihak saya maupun Zahrah terus mencari kami hingga kini."

__ADS_1


"Kami selalu berpindah-pindah negara, terkahir kami di negara ini selama dua tahun ini."


"Sewaktu habis pemeriksaan dari rumah sakit itu, sepulangnya dari sana kami tanpa sengaja bertemu dengan orang-orang suruhan papa saya, maka dari itu kami terus berpindah-pindah dan terakhir di daerah sebelah dan ketemu sama dokter Syahril.


"Alhamdulillah, semenjak itu kehidupan kami pun tidak harus berpindah-pindah lagi, tapi walau begitu kami tetap waspada."


"Puncak nya Minggu kemarin kami bertemu dengan mereka lagi. Dan setelah itu pula kami merasa jika kami sudah tidak aman." ucapnya.


"Kenapa tidak melaporkan ke pihak berwajib?" tanya salah satu sahabat cewek Mimi.


"Sudah sering kali tapi berujung jika mereka tetap bebas." ucap si suami Zahrah.


"Kau bilang segala akses kalian di tutup bagaimana kalian bisa keluar dari negara kita?" tanya sahabat Mimi yang cowok.


"Saya di bantu oleh teman saya yang kebetulan berkerja di kedutaan dan di dukcapil." ucapnya.


"Saya mengubah nama saya di kartu keluarga dan KTP saya menggunakan nama muslim saya, sedangkan Zahrah tetap menggunakan namanya hanya nama ayah dan ibunya kami ubah begitu pula saya." ucapnya.


"Siapa namamu sebelum nama muslim?" tanya dokter Angela.


"Nama saya Samuel Zwyglin Ricardo" ucapnya.


"Saat saya mengikrarkan sumpah kepada Allah dan nama saya di ubah sama yang mengurus saya. saya minta nama saya di ubah tanpa memasukkan nama pemberian orang tua saya."


"Pak ustadz yang mengislamkan saya mengubah nama saya jadi Syamir Ahmad."


"Kata pak ustadz biar masih ada nama pemberian orang tua saya yaitu Sam hanya tulisnya pakai Y jadi Syam dan di tambah mir." terang nya. Kami semua disana hanya tersenyum simpul.


"Jadi kami mohon kepada dokter Mimi untuk menerima anak kami, jadikanlah mereka anak-anak dokter Mimi dan dokter Syahril. Kami percaya bahwa anak kami akan mendapatkan limpahan kasih sayang bahkan pendidikan yang baik dan tentunya ilmu agama nya kelak." imbuh sang istri.


"Iya saya sangat amat berharap, waktu kami tidak banyak lagi. Mungkin ini waktu terakhir kami." ucapnya.


"Jangan berkata seperti itu. tidak baik mendahulukan ketentuan Allah." ucap Mimi.


"Tapi kami merasa begitu dok, jadi saya mohon selamatkan anak-anak kami dan biarkan nama samaran kami di rekam medis menjadi nama buat orang tua anak-anak kami." ucap sang istri memohon.


Mimi merasa bingung, Mimi tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Mimi tidak ingin ada hal-hal dimasa datang.


"Saya mohon dok?" ucapnya, Mimi melihat sorot mata Zahrah penuh permohonan namun ada jika sorot mata itu seperti kosong. Akhirnya Mimi menganggukkan kepalanya menyetujui.


"Baiklah, saya akan terima dan saya harap kamu segera melakukan persalinan karena dari yang saya tahu kehamilan kamu telah melewati hpl." ucap Mimi.


"Tidak perlu dengan suami saya, mungkin dengan dokter Angela juga bisa. suami saya tidak berada di negara ini dan dia pun sedang bertugas di daerah yang jauh juga."


"Di tempatnya bertugas tidak ada sinyal jadi saya bel bisa mengabari nya." ucap Mimi lagi dan akhirnya Zahrah menyetujui dan rencana esok hari akan diadakan operasi secar nya.


"Dokter kita foto bersama ya" pinta nya dengan senyuman namun sorot mata itu sorot mata yang kosong, Mimi mengangguk mengiyakan.


"Bang, kita berfoto bertiga dengan dokter Mimi, sini." ucapnya meminta sang suami juga berfoto bersama. sang suami tersenyum dan mereka bertiga pun berfoto bersama.


Zahrah melihat foto yang di abadikan melalui ponsel Mimi.


"Hanya ini yang bisa kami berikan buat kenang-kenangan." ucapnya.


"Kalau dokter Mimi dan dokter Syahril kelak berkenan, kenalkan lah wajah kami kepada anak-anak kami." ucapnya lagi.


"Dan satu lagi." ucapnya sambil merogohkan tangannya kesaku jaket nya.


"Ini adalah gelang dari keluarga kami." ucapnya dengan memberikan gelang itu ke tangan Mimi.


"Gelang yang satu punya Abang Syam, yang satu punya saya." ucapnya.


"Ini adalah harta kami satu-satunya buat anak-anak kami." ucap sang suami.


"Tolong terima ya dok, mungkin jika mereka telah dewasa dokter bisa memberikannya kepada mereka." ucapnya dengan mengelus perutnya dan menitikkan air mata.


"Dan mungkin mereka akan kedunia ini hari ini." celetuk Zahrah lagi.


"Em dek, kalau gitu Abang kerumah dulu mengambil persiapan buat lahiran." ucap sang suami dan di angguki Zahrah.


"Dokter Mimi, dokter Angela dannyang lain saya permisi dulu mau ambil perlengkapan buat Zahrah di rumah." ucapnya dengan senyuman namun dengan sorot mata yang kosong.


"Iya hati-hati" ucap Mimi.


"Kalau begitu Zah ikut bang." ucap Zahrah ingin ikut, namun di tolak sang suami.


"Jangan dek, kamu disini aja sama mereka." ucap sang suami dan akhirnya Zahrah menurut namun dia akan mengantar sang suami kedepan.


"Ya udah," ucap Zahrah.


"Mari semua saya permisi dulu, assalamualaikum." ucap Amir.


"Waalaikum salam." jawab Mimi dan yang lain.


"Emm saya permisi juga mau antar Abang sampe depan." ucap Zahrah.

__ADS_1


"Iya Zahrah" ucap dokter Angela


"Lebih baik kamu tunggu disini saja." ucap Mimi yang merasa keberatan Zahrah mengikuti suaminya.


"Saya cuma mengantar sampai depan aja kok kak." ucapnya memanggil Mimi dengan kakak. akhirnya Mimi mengangguk walau hatinya berat.


Terlihat dari kejauhan Zahrah dan Syamir berpelukan sangat erat dan tiba-tiba.


Bruakkkkk cieiitttt. Mimi yang melihat itu langsung berdiri dan teriak.


"Zahraaahhhhh" ucap Mimi


"Zahrahhh" ucap yang lain juga.


Mimi dan yang lain langsung berlari tak memperdulikan pandangan orang, bahkan para pengunjung yang ada pun langsung berlari keluar.


Zahrah berada di pinggiran trotoar sedangkan Syamir suaminya terpelanting kedepan tak hanya menabrak dari depan ternyata dari arah berlawan pun ada mobil yang juga seolah ingin menabrak mereka berdua.


"Tolong panggilkan ambulance" ucap Mimi histeris.


"Zah Zahrah, bangun dek." ucap Mimi dengan linangan air mata, Zahrah tersenyum.


"Tolong panggilkan ambulance segera." teriak Mimi, tak lama ambulance pun datang, Mimi dan dokter Angela bersama dengan Zahrah dan teman-temannya di ambulance satu nya menemani suami Zahrah.


Di rumah sakit Abidzar lagi-lagi Mimi teriak.


"Tolong diapakan ruangan operasi segera" ucap Mimi dengan raut wajah yang khawatir.


"Bertahan dek bertahan lah.'' ucap Mimi.


Setelah di ruang operasi Zahrah langsung di tindak lanjuti oleh dokter Angela dan rekannya.


Namun saat tim medis yang akan membantu persalinan Azzahra untuk memberikan anastesi pada Zahrah ,Zahrah memberhentikan mereka.


"Jangan berikan suntikan itu pada saya." ucapnya dengan berbahasa Inggris.


"Tapi Zah, kamu sudah banyak mengeluarkan darah dek." ucap Mimi yang juga terus mengecek detak jantung Zahrah.


"Tidak kak, Zah mo HoN" ucapnya dengan terbata.


"Dimana suami Zah?" tanya nya lagi.


"Suami kamu di ruang sebelah Zah." ucap dokter Angela.


"Suami Zah, Zah mau suami Zah di sini." ucap Zahrah lagi.


"Tapi Zah." ucap Mimi dan dokter Angela.


"Zah tau, suami Zah sudah mendahului Zah. Zah mohon bawa dia ke sini. Biar dia menemani Zah untuk terkahir kali dan dia juga bi sa melihat proses kelahiran anaknya." ucap Zahrah.


Lama Mimi dan tim lainnya terdiam namun akhirnya menyetujuinya, salah satu tim keluar untuk menuju ruang sebelah dan membawa suami Zahrah.


"Zah kita anestesi di bagian bawah saja ya?" ucap dokter Angela meminta izin namun Zahrah menggeleng.


"Jangan dok, Zah mohon jangan suntikan apa pun. Biarlah Zah merasakan sakit me lahirkan."


"Tapi Zah." ucap Mimi, Zah masih menggeleng.


"Tidak kak, biarkan Zah merasakannya. Zah ingin merasakan ini untuk pertama dan terakhir kalinya."


"Dengan be gini, Zah dapat merasakan rasa ibu kandunga Zah melahirkan Zah."


"Dan dengan begini juga Zah memohon ampunan sama Allah atas nama kedua orang tua angkat Zah. Apa pun alasan mereka mengambil dan memisahkan Zah dari ibu kandung zah, Zah ikhlas." ucap nya lagi.


Setalah sang suami berada di dalam, lagi-lagi Zah meminta sang suami berada di sampingnya. Dengan menautkan tangan nya ke tangan suami Zahrah pun melaksanakan operasi secar itu.


Senyuman bahagia dan sedih tersirat di bibir Zahrah. Dia bahagia kedua buah hatinya selamat.


Suara tangisan bayi yang menggelegar memenuhi isi dalam ruangan ini.


Mimi dan dokter Angela meletakkan baby twins di dada Zahrah, sang baby pun merayap dengan mulut mencari ****** sang ibu.


Hal ini hal yang sangat memilukan semua tim.


Setelah mendapatkan ****** sang bay pun terdiam sejenak namun tak seberapa lama mereka berdua menangis lagi.


"Kak, i ni a nak mu.. Sa ya ngi me reka." ucap Zahrah yang terbata, denyut nadi maupun jantungnya semakin melemah.


"Zah, ikutin kakak ya.. Zahrah pun mengangguk. Mimi pun langsung mengucapkan dua kalimat syahadat dan di ikuti Zahrah terbata-bata hingga nafas terakhirnya.


Baby twins yang masih berada dalam dekapan Zahra menangis pilu.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un" ucap Mimi.


Flasback off.

__ADS_1


**TBC**


__ADS_2