
Ryan kembali membawa Di'ah kedalam kamar nya, mereka berdua duduk di balkon kamarnya sambil menikmati kota Sentani dari atas.
Di'ah duduk di samping Ryan sembari menaruh kepalanya di atas pundak Ryan. Mereka berdua mulai berbicara serius, karena Ryan berniat sepulang dari Papua ini dia akan pergi melamar Di'ah.
"Dek, nanti kalau kita nikah kamu mau nggak berhenti kerja di rumah sakit polisi?" tanya Ryan.
"Emm kenapa harus berhenti?" tanya Di'ah.
"Kakak tidak mau kecapek an, apa lagi kamu kerja ada shift nya kan?" tanya Ryan.
"Kamu disnaa apa sudah di angkat pegawai?" tanya Ryan LAGI.
"Aku masih honor, iya sih memang kerjanya pakek shift." jawab Di'ah.
"Tapi kalau aku berhenti bagaimana dengan kedua orang tua ku, adiku yang bungsu dan di atasnya juga akan menikah dalam tahun ini. Tentunya aku ikut andil membantunya." ucap Di'ah.
''Biar kakak yang bantu mereka nanti, kakak tidak mau nanti kamu kerja masuk malam." ucapnya.
"Tapi kak, aku tidak mau merepotkan." ucap Di'ah.
"Kalau kkta telah bersatu menjadi sebuah keluarga, keluarga kamu adalah keluarga aku, begitu pula sebaliknya. Kkta saling bantu, saling membahu." ucap Ryan mencoba meyakinkan Di'ah.
Syahril membawa Mimi jalan-jalan di kota Sentani malam ini, mereka jalan-jalan hanya sekedar mencari angin. Setelah itu mereka kembali ke hotel.
Syahril memgajak Mimi untuk ke kamarnya karena kunci kamar mereka ada pada Emma.
"Emm kak, Mimi balik ke kamar Mimi aja ya?" ucap Mimi yang merasa enggan untuk masuk ke dalam kamar Syahril.
"Emang kenapa? mending kamar kakak." ucapnya.
"Tapi kak." ucap Mimi namun tidak si gubris oleh Syahril, syahril langsung menarik Mimi masuk kedalam kamar.
"Kak nanti di lihatin orang gimana? kalau bang Afnan dan bang Afkar tau gimana?" ucap Mimi.
"Lah emang kita ngapain, ya biarin mereka tau palingan juga di kaw*ni." jawab Syahril.
"Ckk," jawab Mimi.
"Mimk gerah kak, ndak nyaman pakai baju ini." ucap Mimi.
"Gerah ya mandi sana, masalah baju pakek baju kakak aja." jawab Syahril.
"Sana mandi, atau mau kakak mandikan atau kkta mandi berdua hmm" ucap Syahril dengan memainkan kedua alisnya silih berganti.
"Yeeee ogah." ucap Mimi yang langsung masuk kamar mandi dan lupa meminta pakaian Syahril.
Mimi yang di dalam kamar mandi langsung mandi dan saat selesai mandi Mimi lupa kalau dia tidak membawa pakaian dan paling utama pakaian dalam nya.
"Huh, oon nya aku." ucap Mimi, yang kembali duduk di tepian wastafel.
Syahril di luar swnyam senyum sendiri memikirkan Mimi di dalam yangblula mjnta pakaiannya.
"Kamu ini dek dek, mau sampe kalan kamu di dalam sana. Andai sudah halal beuh..." ucapnya dengan menggelengkan kepala mengusir pikiran kotornya.
"Dek, sudah belum?" tanya Syahril.
"Emm sudah dari tadi kak." seru Mimi dari dalam.
"Kalau sudah dari tadi kenapa belum keluar." ucap Syahril di balik pintu.
"Mimi lupa bawa baju." seru Mimi..
"Nih bajunya, buka pintunya." ucap Syahril.
"Emm taruh aja di handle pintu." jawab Mimi.
"Mana bisa dek, ayo buruan buka." ucal Syahril mengerjai Mimi.
"Ndak mau." jawab Mimi.
"Ckk yaudah itu sudah Kaka taruh di handle pintu." ucal Syahril mengalah.
"Hmm yaudah kakak jangan ada si belakang pintu." ucap Mimi tapi tidak ada suara Syahril perlahan Mimi membuka handle pintu dan melihat tidak ada syahril disana buru-buru Mimj mengambil baju yang di gantung di handle pintu pakai kantong plastik.
Mimi membuka kantong plastik itu dan Mimi terkejut kala membukanya ternyata bukan pakaian Syahril melainkan pakaian baru yang Mimi tidak tau kapan Syahril membelinya. TK hanya piyama namun pakaian dalam nya pun ada.
"Ya Tuhan, niat amat jadi orang." ucap Mimi melihat satu set pakaian dalam itu. Mimi langsung memakai nya dan keluar dari kamar mandi.
"Pas ndak sek pakaiannya?" tanya Syahril.
"Emm, niat amat kakak ngajak Mimi ke kamar nya ya." ucap Mimi.
"Emm dari mana kakak tau ukurannya?" tanya Mimi.
"Apa sih yang tidak kakak ketahui dari kamu." ucapnya.
"Hmm" jawab Mimi.
"Udah kakka mau mandi dulu." ucapnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Mimi berdiri seorang diri di pagar balkon menikmati angin malam dan melihat gemerlapan lampu kota Sentani dari atas.
Tak lama Syahril yang sudah selesai melihat Mimi berdiri di pinggir pagar balkon tersenyum, perlahan dia menghampiri Mimi dan memeluk Mimi dari belakang.
"Kakak ih" ucap Mimi yang terkejut.
__ADS_1
"Indah ya dek." ucap Syahril.
"Iya." jawab Mimi dengan memegang tangan syahril yang berada di perutnya.
"Kamu tau dek, sebelum berangkat disini kakak sebenarnya tidak tau kalau Fia nikah." ucapnya.
"Terus kok kakak bisa disini?" tanya Mimi.
"Kemarin itu Kaka habis ada jadwal operasi selesai jam setengah sembilan, seharian kakak tidak pegang HP malam itu niat nya pegang HP mau kasih tau Umma kalau tidak pulang karena esok harinya ada operasi sehabis sholat subuh." ucap Syahril Mimi masih diam mendengar cerita Syahril dalam pelukan hangat nya.
"Saat buka HP ada beberapa pesan dan salah satunya pesan Umma dan ummi Parida yang isinya sama yaitu memberitahu kalau kamu ada di Jambi."
"Awal kakak tidak percaya, tapi setelah melihat ada foto kamu dengan gaya narsis kakak jadi percaya." ucap Syahril, Mimi melepaskan tangannya dari tangan Syahril dan menghadap ke Syahril.
"Foto gaya narsis?" tanya Mimi pada Syahril, jarak yang terbilang sangat dekat.
"Iya foto kamu kayak gini." ucap syahril dengan menirukan gaya Mimi yang memangku wajahnay dengan kedua tangan dia yas meja saat di mall bersama Di'ah dan Sila.
"Hmmm" ucap Mimi cemberut.
"Isss gemes kalau melihat bibir adik gitu." ucapnya dengan mencubit gemes bibir Mimi.
"Iss kakak ihh." ucap Mimi dan akan kembali !menghadap depan namun di tahan oleh Syahril. Mereka berdua saling berhadapan dengan jarak tiga Senti.
Tinggi Mimi dan Syahril hanya beda beberapa centi meter, Mimi sebatas dagu Syahril.
"Kakak kangen" ucapnya sembari menyingkirkan anak rambut Mimi yang terhembus angin, di misalnya pipi Mimi dengan lembut sehingga membuat Mimk dan dirinya terlena.
Perlahan Syahril menunduk dan mencium bibir Mimi, Mimi menikmati ciuman itu dengan memejamkan matanya, awal sekedar ciuman biasa namun karena suasana yang sepi, terpaan angin malam, menuntun ciuman itu hingga lebih dalam lagi.
Syahril memegang belakang kepala Mimi dengan terus berpamitan hingga oksigen mereka berkurang. Keduanya menarik nafas sedalam-dalamnya ketika pangutan itu lepas.
"Kak" ucap Mimi dengan seru nafas yang tersengal, tanpa menjawab Syahril memeluk Mimi erat.
"Jangan tinggali Kakak lagi dek, ayok kita takut asa kita yang tertunda." ucapnya dengan masih memeluk Mimi erat dan mata yang terpejam.
"Kak, duduk yuk. Capek berdiri." ucap Mimi, ada rasa menggelitik di hati Syahril, melihat pujaan hatinya masih lah sama Mimi yang lugu. Mereka berdua pun berjalan menuju sofa namun saat Mimk akan duduk di sofa Syahril mengangkat dirinya dan mendudukan Mimj di pangkuannya.
"Kak" ucap Mimi.
"Emm dunduk disini aja." ucapnya sembari memeluk Mimi kembali dengan dagu yang diletakkan di bahu Mimi.
"Kalau saja kakak tidak melihat pesan Selfia yang ternyata masuk dari seminggu lalu, mungkin kita tidak bisa berduaan seperti ini." ucapnya dengan terus memeluk Mimi.
"Kamuntau dek, setelah membaca pesan Fia kakak bingung mau pergi atau tidak, kakak lupa kalau kamu sahabat karibnya tentunya kamu pergi, kakak ingin mengajak kamu serempak kemarin, terus kakak sama Ryan kerumah Emak malam-malam."
"Kakak kira kamu belum tidur karena lampunkamar kamu masih menyala, eh !malah kata emak kami sudah tidur."
"Pengen kakak masuk ke dalam kamar kamu dan langsung memeluk kamu malam itu, cuma Kaka tahan maka nya sekarang kakak tidak akan kasih kamu lengah untuk lepas dari pelukan kakak." ucapnya dengan diakhiri senyuman.
"Siapa yang tua dek?" ucap Syahril dengan memeganga wajah Mimj dan memutar ke arahnya.
"Kakak lah siapa lagi hehee" ucap Mimi.
"Enak aja bilang kakak tua, adek itu yang setengah matang." ucapnya dengan menggelitik Mimi.
"Setengah matang apa, ampun kak eh lepas kak ihhh geli" ucap Mimi sambil bergerak-gerak dinatas pangkuan Syahril kegelian.
Syahril yang merasa sesuatu akan meledak darimsaeang menghentikan gelitiknya.
"Udah dek, jangan gerak-gerak." ucapnya yang gantian meminta Mimi stop. Mimi terdiam kala merasakan sesuatu di bawah nya.
"Emm kak." ucapnya.
"Hemm iya jangan gerak lagi." ucapnya sembari kembali memeluk erat Mimi.
Mimi melihat wajah Syahril yang memerah menahan sesuatu, berusaha untuk menyingkir dari pangkuannya namun di tahan oleh Syahril.
"Biar aja seperti ini dek." bisiknya.
"Emm lebih baik Mimi duduk di sofa lain saja kak." ucap Mimi.
"Kita nyicil yo dek." ucapnya berbisik dengan menahan senyum melihat Mimi meloyotkan matanya.
"Ihh kakak, semakin kesini semakin mesum. Udah berani nyosor-nyosor sekarang ngajak nyicil. Mati bunuh diri Mimi melihat orang tua Mimi di hujat orang sekampung." ucap Mimk dan beranjak dari pangkuan Syahril.
"Eh enak aja mati bunuh diri, dosa tau dek istighfar." ucap Syahril.
"Ya nggak apa nyosor-nyosor dek kan nyosor atas aja dulu kalau bawah nanti hahaaa." ucapnya.
"Dasar mesuuuiiiiiimmm plak teriak Mimi dengan mengeplak kepla syahril dengan bantal sofa namun tidak kena karena di tangkis oleh Syahril.
"Kak Mimi balikmke kamar Mimi ya, Mimi ngantuk hoaaam" ucap Mimi dengan berkali-kali menguap.
"Tidur disini aja." ucap Syahril.
"Malas ntar kakk ke bablasan." ucap Mimi yang akan beranjak menuju pintu. Saat pintu terbuka Mimi melihat sekitar lorong terlihat sepi, Mimi kembali masuk.
''Kenapa nggak jadi?" tanya Syahril.
"Sepi, takut Mimi. Antarin yok." ucap Mimi.
"Udah ah tidur disini aja, kakaak juga nganguk dek. Yok sini." ucapnya dan mengajak Mimi untuk mendekat.
"Tapi kakak jangan macam-macam ya?" ucap Mimi.
__ADS_1
"Nggak macam-macam cukup semacam aja, ayok sini tidur." ucapnya dan Mimi pun mengangguk, Mimi mengambil guling dan menghadap berlawanan dari Syahril, Mimi memunggungi Syahril dan tak lama Mimi pun terlelap.
"Dek" panggil Syahril namun Mimi tidak menggubris, Syahril melihat deru nafas halus Mimi dengan senyum.
Syahril mengenakan Mimk selimut setelah itu dia mencium kening Mimi.
"Selamat tidur sayang, semoga kelak kita bisa seperti ini selamanya." bisik Syahril.
Syahril pun menjauh dari Mimi, dia juga takut khilaf jika terlalu berdekatan, beruntungnya kasur dikamar nya yang super king sehingga tempatny luas. Tapi saat Syahril akan menutup matanya sering ponselnya Mimk berdering tertulis nama Emma.
Syahril langsung mengangkat nya.
"Hallo Mi, kalian dimana?" tanya Emma langsung ke inti
"Mimi sudah tidur Emma, malam ini kamu tidur sendiri aja ya." ucap Syahril.
"Hah kak Syahril, maksudnya? eh jangan macam-macam ya kak." ucap Emma
"Ndak macam-macam Emma cuma semacam kakak mau tidur ngantuk bye." jawab Syahril dengan langsung mematikan ponsel Mimi.
Emma yang seseorang diri di dalam kamar menggerutu karena kedua sahabatnya tidak tidur dengannya.
"Huh dasar buaya buntung." sungut Emma yang kemudian dia oun akhirnya tertidur pulas hingga pagi hari.
Pagi hari Syahril bangun lebih awal tak lama Mimi pun membuka matanya.
"Emm kak, jam berapa?" tanya Mimi.
"Jam lima lewat sepuluh dek, yaudah yok sholat." jawab Syahril dan mengajak Mimi untuk sholat.
"Tapi mukena Mimi di kamar." jawab Mimi.
"Nih ada, semalam kakak dah beli sekalian sewaktu adek sholat di masjid." jawabnya.
"Dah sana wudhu." ucap Syahril Mimi mengangguk dan segera beranjak dan berlari ke kamar mandi untuk membuang hajat serta berwudhu. Mimi dan Syahril kembali !enjnaikannshokat berjamaah setelah beberapa tahun lalu.
Sehabis sholat mereka berdua mengaji bersama sejenak, Mimi melihat ini semua mengenang masa-masa bersama dulu.
"Ya Allah jika benar dia jodohku, yang bisa membawa serta menuntun hamba di jalanmu, hamba mohon restu kami dan persatuan kami kembali tanla ada hambatan lagi." Mimi berdoa di dalam hatinya.
Sehabis mengaji, Mimi meminta izin pada Syahril untuk kembali ke kamarnya. Syahril pun mengantar Mimi, beruntungnya aktifitas hotel ini masih sepi. Setelah syahril mengantar Mimi dia langsung kembali ke kamarnya.
"Mi, Di'ah kenapa tidak di ajak sekalian tadi?" tanya emma.
"Astaghfirullah Mimi lupa Em," jawab Mimi.
"Kalian bisa-bisa nya tidur di kamar mereka." ucap Emma.
"Yah kunci kan di Emma, Emma juga di telpon tidak di angkat-angkat." ucap Mimi.
"Heheee maaf." jawabnya
"Ma, itu kayaknya bang Rahman suka sama Emma." ucap Mimi.
"Hmm dia itu bos aku Mi, boa baru yang aku ceritakan itu." jawab Emma.
"Tapi ya ndak apalah Ma," ucap Mimi.
"Semalam kalian kemana sampe HP ndak bisa di hubungi." tanya Mimi.
"Semalam, pak Rahman ngajak jalan ke mall Sentani city square, HP aku tinggal di kamar pas balek eh hpnya lowbat. Aku cepat cas akuntelpn Mimi kata kak Syahril Mimk sudah tidur." jawab Emma.
"Iya semalam Mimi capek nian dannoengen cekat tidur tapi kak Syahril masih ngajak ngobrol, benarannemma di mall Sentani? kok ndak ketemu." jawab Mimk dan kembali!i bertanya pada Emma.
"Emang Mimi kesana?" tanya Emma dan Mimi mengangguk.
"Iya, cuma Mimi lupa bawa dompet jadi ndak bisa belanja cuka ngikutin kak Syahril bae," jawab Mimi.
"Berarti baju yang Mimi pakek?" tanya Emma, Mimi pun mengangguk.
"Yaudah, Mimi mandi dulu. KH ya MA telpon Di'ah jangan sampe dio keasikan." seru Mimi yang sduah berada di dalam kamar mandi.
Belum sempat Emma nelojn Di'ah usah muncul di balik pintu.
"Panjang umur kau Di'ah, kenapa lesu gitu? jangan bilang kalian." ucap Emma.
"Kalian apa?" tanya Di'ah.
"Lah terus kenapa lesu?" tanya Emma. Di'ah menarik nafas dalam.
"Aku bingung Ma." jawab Di'ah.
"Bingung kenapa?" tanya Emma.
"Kak Ryan pulang kkta dari sini mau melamar." jawab Di'ah.
"Lah terus?" tanya Emma. Di'ah duduk sembari menarik nafas dalam.
"Adik-adik aku kan mau nikah juga Ma dalam tahun ini. Emak sangat berharap aku bantu pernikahan adek aku. Tapi .." ucap Di'ah.
"Tapi kak Ryan minta aku berhenti kerja." jawab Di'ah.
"Di'ah, adek kau kan cowok kalau dia njat Minang anakmgadia orang ya dia lah yang cari uang nya ngapain kamu yang ngeluarin, kedua Ayuk kau kayak mana?" ucap Emma Di'ah hanya menggeleng dan merebahkan kembali badannya.
Terkadang beban yang dirasa oleh Di'ah sangat lah besar, kedua kakaknya sudah berkeluarga, bahkan dari ekonomi kakak keduanya lebih berkecukupan namun emak nya selalu mengharapkan dirinya.
__ADS_1
tbc