DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
kesalahpahaman Mimi


__ADS_3

Malam itu mungkin hanya Mimi seorang yang tidur tak nyenyak. Setiap kata yang terlontar dari mulut Syahril selalu terngiang-ngiang.


Mimi tidur dengan gelisah, dzikir telah dia lantunkan dalam hati namun hati dan pikirannya masih tak merasa tenang.


Syahril tertidur dengan hati yang bahagia, ucapan yang merupakan jawaban dari Mimi adalah jawaban yang di tunggunya selama ini.


Dia tidur dengan damai, namun tidur damai itu terusik kala suara kasur yang bergerak-gerak. Syahril membuka matanya perlahan-lahan, dilihatnya Mimi yang berbaring disebelahnya tidur dengan gelisah.


Mimi merasa lelah menutup matanya, namun pikiran nya tidak ingin berkerja sama. Mimi duduk dari rebahannya, berulang kali dia beristighfar.


Syahril diam melihat tingkah Mimi malam ini, Mimi beranjak dari duduknya dan keluar dari kamarnya menuju kamar mandi di dapur.


Mimi menarik nafasnya dalam, kemudian dia kembali mengambil wudhu.


Terlihat jam di dinding menunjukkan pukul 2.30 dini hari. Mimi memutuskan untuk sholat tahajud dan istikharah, hanya Rabb nya tempat dia mengadu saat ini.


Saat Mimi membuka pintu kamar, Syahril pun sedang membuka pintu.


"Kak." ucap Mimi.


"Hmm, kita tahajud jamaah ya." ucapnya Mimi pun mengangguk, sambil menunggu Syahril siap berwudhu. Mimi menggelar sajadah, Mimi juga menyiapkan peci dan sarung buat Syahril.


Syahril telah masuk kamar, mereka berdua pun melaksanakan tahajud bersama. Saat sholat tahajud selesai Mimi berdiri lagi untuk menjalan sholat istikharah.


Syahril terdiam melihat Mimi berdiri lagi, dia menunggu Mimi selesai denagn terus berdzikir.


Mimi telah selesai menjalankan sholat istikharah nya, setiap dzikir yang terucap di dalam hatinya Mimi meminta agar hatinya bisa ikhlas, Mimi ingin merasa tenang dalam hidupnya, Mimi meminta kekuatan agar dirinya bisa kuat dengan apa yang dihadapkan nya kedepannya.


Syahril diam melihat Mimi yang sering menutup matanya, Syahril merasa ada yang Mimi tutupi dari nya.


"Dek." panggilnya saat melihat Mimi telah selesai, Mimi melihat ke arah Syahril.


"Ada apa dengan kamu dek, kenapa tidurmu tidak tenang." ucap Syahril dengan bertanya pada Mimi.


"Ndak ada apa-apa kak." jawab Mimi.


"Ndak ada apa nya, katmi seperti memendam sesuatu. Ceritakan biar adek lega dan tenang." ucap Syahril dengan memegang kedua tangan Mimi.


"Ceritakan dek, jangan di pendam sendiri. Jika ada kesalahan pada kakak maka ceritakan, jangan seperti ini."


"Apa kau tidak ikhlas memberi kan pengorbanan mu itu." ucap Syahril, Mimi terdiam dan akhirnya air mata yang jatuh lah sebagai jawabannya.


Syahril melihat Mimi terdiam, di hapusnya air mata yang terus mengalir itu.


"Ada apa? apa adek tidak menyetujuinya?" ucap Syahril, Air mata Mimi semakin deras dan membuat Syahril bingung


"Katakan dek, jika kau tak menyetujuinya kakak akan katakan pada semua. Karena mereka semua menunggu jawaban dari mu." ucap Syahril.


"Kenapa harus meminta dan menunggu persetujuan Mimi."


"Kalau kakak mau nikah dengan pilihan mereka dan kakak pun menerimanya, kenapa harus meminta persetujuan sama Mimi."


"Kenapa kak, jika kalian meminta Mimi ikhlas untuk berkorban kembali, Mimi akan berupaya." ucap Mimi dengan deraian air mata, Syahril tambah bingung dengan jawaban Mimi.


"Mimi akan berupaya sekuat tenaga Mimi jika itu yang kalian minta dari Mimi. Mimi akan berupaya mengikhlaskan nya."


"Tapi tolong jangan lagi kakak berbuat baik pada Mimi, jangan lagi kakak memberikan perhatian kakak pada Mimi, jangan lagi kakak katakan sayang dan cinta sama Mimi, jangan Kakak beri harapan pada Mimi." ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut Mimi semakin membuat Syahril bingung.


"Jangan kasih Mimi harapan kaaak, hiks hiks. Ini ambillah." ucap Mimi dengan isakan tangis nya dan membuka cincin tunangan yang melingkar di jari manisnya dan diberikannya pada Syahril.


"Syahril menatap cincin itu dan Mimi secara bergantian, Syahril semakin tak mengerti dan bingung dengan semua ini.


"Apa ini!!'' ucap Syahril dingin kala Mimi melepaskan cincin tunangan itu dan diberikan pada nya.


"Kenapa, ada apa!! apa salah kakak dek, sampai-sampai adek melepaskan cincin tunangan kita. Ada apa?" ucap Syahril, Mimi tak menjawab namun semakin terisak.


"Ada apa hah!!" ucap Syahril dengan nada tinggi.


"Adek mau memutuskan hubungan kita gitu!! itu mau adek!! katakan!!"


"Bukannya kakak sudah katakan, kalau kakak ada salah katakan." ucap Syahril dengan mengusap wajahnya secara kasar.


"Apa salah kakak dek, apa!! katakan pada kakak agar kakak bisa memperbaiki nya. Bukan ini yang kakak pinta." ucap Syahril dengan menunjukkan cincin Mimi yang dia pegang ke arah Mimi.


"Katakan apa kesalahan kakak, katakan kesalahan fatal apa yang kakak perbuat sehingga adek memutuskan semua ini. Katakan!!" ucap Syahril yang sudah di liputi rasa kecewa dan emosi.

__ADS_1


"Katakan dek, katakan."


"Kamu tau kan , kamu hidup kakak, kamu belahan jiwa kakak dek, kenapa kamu lakukan ini sama kakak kenapa??'' ucap Syahril, Mimi melihat Syahril dengan deraian air matanya.


"Bukannya kakak, yang memutuskannya. Buat apa lagi cincin itu, buat apa lagi status kita kak. Buat apa hiks hiks.." ucap Mimi.


"Maksud kamu apa dek, jangan buat kakak bingung, kakak ndak ngerti apa yang adek maksud. Katakan yang jelas, apa maksud adek? siapa yang memutuskan." ucap Syahril.


"Bukannya kakak akan menikah Minggu depan ini hah, bukannya Kaka menyetujui dengan pilihan kakek kakak, bukannya orang tua serta keluarga kakak juga menyetujui bahkan sudah mempersiapkan segalanya."


"Terus buat apa cincin ini masih melingkar di jari Mimi, buat apaaa!!"


"Buat apa kakak membuat harapan pada Mimi, buat apa!!" ucap Mimi dengan terus terisak.


"Ya Allah dek.." ucap Syahril, yang sudah mengerti duduk permasalahannya, Syahril mendekati Mimi yang terisak, Syahril memeluk Mimi erat. Walau Mimi berontak tak ingin di peluk Syahril, Syahril tetap memeluk Mimi.


"Lepaskan Mimi kaaak, lepaskan." ucap Mimi dengan terus berupaya melepaskan diri dari pelukan Syahril.


"Sampai kapan pun kakak tak akan melepaskan mu." ucap Syahril dengan terus memeluk Mimi.


"Sampai kapan pun, kau adalah belahan jiwaku, kau adalah tulang rusukku. Sampai kapan pun tak akan pernah ku lepaskan." ucap Syahril. Mimi terus menangis dalam dekapan Syahril.


"Buat apa!! buat apa kak!! jangan buat Mimi jadi benalu dalam rumah tangga kakak, lepaskan Mimi ii." ucap Mimi.


"Tak akan pernah, kau buka benalu dek. Kau ratunya, ratu di hati Kakak sampe ajal menjemput."


"Kau telah salah mengartikan dek, kau salah paham." ucap Syahril dengan melepaskan pelukannya.


Syahril memegang kedua bahu Mimi, Syahril menatap wajah Mimi, wajah yang sudah di basahi air mata nya. Syabril menghapus air mata itu.


"Jangan menangis," ucap Syahril dengan terus menghapus jejak-jejak air mata.


"Kau adalah ratunya, mereka memang meminta dan menunggu persetujuan mu dek." ucap Syahril, Mimi semakin deras mengeluarkan aiet matanya.


"Karena gadis pilihan mereka adalah kamu, mereka menunggu jawaban mu dek." ucap Syahril dengan senyuman.


Syahril menciumi kening Mimi "Kaulah ratuku" kemudian Syahril mengecup kedua mata Mimi "Kau adalah belahan jiwaku" kemudian Syahril menciumi kedua pipi serta hidung Mimi "Kaulah ratu di hati semua keluarga" terakhir Syahril mencium bibir Mimi "Kau lah tulang rusuk ku" ucapnya.


Mimi terdiam atas segala perilaku serta ucapan-ucapan Syahril padanya. Mimi tidak percaya jika ucapan Syahril itu di tujukan padanya.


"Kau telah salah paham sayang."


"Bukannya sudah kakak katakan semua, jika kalau kurang paham tanyakan jangan di pendam, jadinya salah paham kan." ucap Syahril, Mimi cemberut melihat Syahril meledeknya.


"Itu semua kakak yang salah, kenapa salahkan Mimi.Sroot" ucap Mimi membela diri dengan menarik ingus.


"Iss dek jorok ah." ucap Syahril dengan lari dari Mimi.


"Biarin.. Sini sroot'' jawab Mimi dan menarik ingus nya lagi sembari mengejar Syahril...


"Isss jorok ih.." ucap Syahril mengelak Mimi yang sengaja mengejar hendak membuang ingusnya di baju Syahril. Setelah Syahril dapat di pegang nya Mimi mengusap hidungnya di baju Syahril.


"Adeeek iiihhh" ucap Syahril dengan membuka baju kaos nya.


"Biarin, sini kalau mau lagi. Enak saja nyalahin Mimi." ucap Mimi merajok dan duduk di atas kasur nya.


"Ckk emang adek yang salah. Makanya kalau apa-apa ia tu tanya jangan di pendam jangan dirasakan sendiri, jadi ndak tenang kan tidurnya, lama kelamaan jadi ndak tenang hidup adek." ucap Syahril.


"Ya salah kakak lah, ngomong setengah-setengah. Kalau ngomong itu harus tuntas, harus detail siapa perannya, ini ndak ngomong bikin orang takut." ucap Mimi dengan di akhiri cemberutan.


"Kak sudah kakak bilang gadis itu gadis pilihan Umma, masa ndak tau siapa gadisnya. emangnya umma punya pilihan lain." jawab Syahril tak mau kalah.


"Ahh udahlah pokonya kakak yang salah." ucap Mimi merajok dengan membaringkan tubuhnya dan menghadap ke arah lain.


Malu itu yang Mimi rasakan, entah mengapa dia tidak bisa berpikir jernih dan mencerna setiap ucapan Syahril jika itu menyangkut kakek dan pernikahan.


Mimi merasa berdosa telah bersuudzon pada kakek serta yang lainnya.


"Ya kakak yang salah, emang wanita itu salalu benar walau dirinya yang salah." ucap Syahril mengalah namun masih menyalahkan Mimi secara tidak langsung.


"Jadi gimana dek?" tanya Syahril yang sudah duduk di Samling Mimi dengan memegang pinggang Mimi.


"Emm gimana apa nya?" tanya Mimi.


"Ckk kenapa adek jadi tulalit gini sih. Gimana jawabannya biar besok di info kembali kepada yang bersangkutan." ucap Syahril.

__ADS_1


"Emang yang bersangkutan apa?" ucap Mimi.


"Sayangku cintaku kasihku, semua orang sedang menunggu jawaban mu sayang. Bahkan ayah Brata juga sedang menunggumu." ucap Syahril.


"Hah, ayah Brata pun tau?" ucap Mimi.


"Emm, jangan kamu kira kamu kesini hanya berdua sama Di'ah ya." ucap Syahril.


"Hah maksud kakak." ucap Mimi.


"Kau itu intan berlian sayang, kemana pun kamu pergi selalu ada yang mengawasi mu. Jangan kau kira bisa berbuat susuka hatimu ya hmm." ucap Syahril.


"Hmm." ucap Mimi.


"Emang mereka tau Mimi disini? bagaimana cara mereka mengadu dan melapor pada ayah Brata." ucap Mimi.


"Mereka lebih jenius dari kamu, jadi mereka tau bagaimana solusinya." ucap Syahril.


"Jadi bagaimana, kamu setuju? ingat Lo adek sudah setuju dan ikhlas berkorban." ucap Syahril dengan mengedipkan matanya.


"Kakak curang." ucap Mimi.


"Siapa yang curang, kakak kan cuma tanya adek rela nggak, adek ikhlas nggak kalau Adek berkorban lagi. Adek bilang adek Ikhlaskan." ucap Syahril.


"Iya tapi kan." jawab Mimi.


"Adek Ikhlaskan menjadi istri dari Syahril. Adek Ikhlaskan mengorbankan waktu adek buat kakak." ucapnya dengan serius.


Mimi melihat kedua mata Syahril yang penuh dengan harapan.


"Tapi Mimi belum lulus kuliah, apa tidak bisa tunggu beberapa bulan kedepan?" ucap Mimi dengan mengusap pipi Syahril.


"Kan adek tinggal dua atau tiga bulan lagi lulusnya. Jadi ndak apa lah kita nikah duluan." ucap Syahril dengan tersenyum dan mengusap pipi Mimi.


"Kalau kita nikah minggu depan, minggu depannya lagi Mimi pulang ke LA, apa kakak mau kita LDR an." ucap Mimi.


"Tak apa yang penting kita menikah dan sah biar cepat gasspoll kayak Ryan." ucap nya dengan mengedipkan matanya.


"Ckk piktor, tapi Mimi sudah janji sama Jo kalau Mimi kedepannya akan mengabdi di rumah sakit selama setahun atau bahkan lebih tanpa ada mengambil libur." ucap Mimi teringat akan janjinya pada Jonathan.


"Kamu pemilik rumah sakit itu dek, kenapa kamu malah membuat janji seperti itu." ucap Syahril


"Mimi bukan pemilik nya kak, Mimi hanya berkerja disana. Apa lagi Mimi ambil libur musim dingin dan akhir tahun ini." jawab Mimi yang tidak mau mengakui kalau rumah sakit itu miliknya walau sekarang surat sah sudah diatas namakan dirinya.


"Kau pemilik nya, tak hanya dari bang Alzam tapi juga dari kakak.'' ucap Syahril.


"Tapi walau bagaimanapun janji tetap harus ditepatkan." ucap Mimi.


"Emm, terserah nantilah itu. Tapi mau kan kita halal kan hubungan kita ini?" ucap Syahril, Mimi menganggukkan kepalanya setuju.


"Alhamdulillah, makasih sayang. Besok kakak akan ke bukit untuk memberitahu ke semuanya jadi pas kita pulang semua sudah beres." Ucap Syahril dengan memeluk Mimi dari belakang.


"Yaudah kamu tidur lagi, nggak usah berpikiran negatif biar tidurnya nyenyak." ejek Syahril.


"Ckk, tanggung mau tidur bentar lagi juga adzan subuh." ucap Mimi.


"Yaudah terus mau ngapain?" ucap Syahril.


"Rebahan saja." jawab Mimi.


"Hmm"ucap Syahril semakin mengeratkan pelukannya, hatinya sangat bahagia tinggal seminggu lagi dia akan berubah status.


Tak hentinya bibir Syahril tersenyum, otaknya mulai berkelana dengan segala perencanaan-perencanaan.


Walau nanti dia akan LDR sehabis menikah tapi setidaknya dia bisa mencicipi terlebih dahulu, kalau bisa nanti dia juga akan mengajukan cuti pada dinas kesehatan beberapa Minggu.


Mimi yang dipeluk erat oleh Syahril juga mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Syahril.


Bahagia itulah yang Mimi rasakan saat ini namun ada kebimbangan dalam hatinya, apa yang Mimi rencanakan tak sesuai dengan rencananya.


Mimi berencana akan menikah setelah lulus namun nyatanya sebelum ujian dia akan menikah.


Dia berencana setelah menikah tak ingin LDR talti nyatanya dia juga akan menjalani LDR.


Mimi menghelakan nafasnya, Mimi menerima semua dengan ikhlas karena Mimi percaya ini semua jawaban dari Allah SWT untuk mereka berdua agar tidak terus-menerus berbuat di luar batasan.

__ADS_1


tbc


__ADS_2