DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
216


__ADS_3

Di kelasnya Mimi mengikuti mata pelajaran yang sedang di ulas oleh dosen, walau kini hati dan pikirannya sedang tak menentu Mimi berusaha untuk tetap fokus pada mata pelajaran.


Tiga jam sudah berlalu dan kelas dosen yang dikenal killer ini pun telah selesai dan diakhiri dengan tugas yang sanagt banyak


Para sahabat Mimi mengajaknya ke kantin, tali Mimi menolak karena Mimi sedang berpuasa.


"Yok kantin." ajak Riko.


"Iya ayok." sahut Selfia.


"Ayok Mi?" ajak Muthia.


"Hmmm kalian aja." tolak Mimi.


"Yah nggak seru Mi, masa kita ninggalin kamu." ucap Irma.


"Mimi sedang berpuasa." jawab Mimi.


"E!yang ini hari apa sih?" tanya Muthia.


"Kamis Muth." jawab Riko.


"Kamis ya, yah Mimk kenapa nggak bangunin Tia, Tia kan mau puasa Sunnah juga." ucap Muthia.


"Ya maaf Muth, Mimi nggak tau." ucap Mimi.


"Kan kita nggak pesan sama Mimi Ti.." ucap Selfia


"Iya juga sih." ucap Muthia lesu karena hari Kamis nya lewat.


"Jadi gimana nih? mau pada kantin nggak?" ucap Riko.


"Kalian ke kantin aja gih." ucap Mimi.


"Oke kalau gitu kita Kangin dulu ya Mi, laper soalnya." ucap Selfia dan Mimi pun mengangguk.


Setelah mereka pergi ke kantin, Mimi pun keluar berjalan menuju perpustakaan, sepanjang jalan menuju perpustakaan selalu ada saja yang bicara sinis atau sekedar mengejek Mimi, namun Mimi tak ambil pusing dan terus berjalan.


Di perpustakaan, Mimi mengambil buku mengenai mata pelajaran dari dosen killer. Mimi pun mengerjakan tugas yang diberikan sang dosen.


Di pojokan ada sepasang mata yang selalu melihat ke arah Mimi, dia ingin mendekat namun tak berani karena dia takut Mimi akan marah. Yah dia adalah Rangga si mulut nyinyir.


Karena tak tahan akan rasa bersalah, Rangga pun perlahan mendekati Mimi dan duduk di samping Mimi.


Mimi gak menghiraukan orang di sekitarnya, dia terus !mencari rangkuman tentang tugasnya saja.


"Mi.." panggil Rangga dan Mimi pun melihatnya sejenak dengan alis ditautkan dan setelah itu Mimi melanjutkan menulis.


"Mi," panggilnya lagi karena Mimk gak menghiraukan kehadirannya.


"Mi, aku mau.." ucap Rangga terhenti di kala Mimi melihat ke arahnya dengan sorot mata penuh dengan kekecewaan.


Mimi kecewa bahkan sangat kecewa kepada Rangga, dulu Mimk dan dia berteman baik tapi setelah bertemu kembali di kampus ini, Mimi tidak !menduga kalau Rangga tega melakukan itu.


Yah awal sebuah fitnahan berasal dari mulut nyinyir nya, entah disengaja atau tidak yang pasti setelah ucapan yang dia lontarkan itu menjadi sebuah senjata bagi orang-orang yang tidak menyukai Mimi.


"Maaf." ucapnya, Mimk !asih gak menanggapinya.


"Mi, Angga serius. Angga minta maaf." ucapnya lagi.


Mimi menghelakan nafasnya berat dan menghentikan aktivitas nya sejenak dan menghadap ke arah Rangga.


"Sudahlah Ngga, jangan ganggu Mimi lagi." ucap Mimi dan kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya.


"Mimi masukan maafkan Angga?" tanya nya lagi dan lagi-lagi Mimi menghelakan nafasnya.


"Sekarang Mimi tanya, kenapa Rangga lakukan semua itu? apa untungnya bhat Angga?" tanya Mimk dengan msorot mata tajam nya.


"Maaf, " ucapnya.


"Hehee, kenapa!!? nggak bisa jawab!" ucap Mimi sinis.


"Angga tau Angga salah Mi, maka daeinktu Angga minta maaf." ucaonya lagi.


"Buat apanrangga lakukan itu? gini aja coba kita balikan posisinya, jika Rangga jadi Mimi apa yang Angga rasakan jika fitnahan demi fitnahan itu selalu menghampiri Angga?" ucap Mimi dengan bertanya kepada Rangga.


"Apa yang Angga rasakan hah!" ucap Mimi lagi.


"Sakit Ngga, hingga kini nama baik Mimi seakan tercoreng dikampus ini. Semua berawal dari mulut Angga tau nggak." ucap Mimi dengan menahan Isak tangis.


"Maaf Mi, Angga melakukan itu karena Angga menyukai Mimi, Angga mencintai Mimi dari kita sekolah Mi, tapi Mimi tidak pernah menganggap Angga." ucap Angga dengan pengakuannya.


"Terus apa untungnya Ngga?" ucap Mimi.


"Nggak ada Mi, Angga menyesal. Angga melakukan itu bermaksud jika Mimi berpisah darinkak Syahril. Tapi ternyata Angga salah, cinta kalian berdua tidak bisa di pisahkan.Angga menyesal Mi, Angga minta maaf." ucap Rangga dengan penyesalan nya.


"Udah lah Ngga, jangan ganggu Mimi lagi. Tolong pergilah." ucap Mimi dengan menautkan kedua tangannya dihadapan Angga agar Angga segera pergi.


"Mi, Angga minta maaf Mi,." ucapnya.


"Plisss Ngga " ucap Mimi masih menautkan kedua tangannya dan Rangga pun pergi meninggalkan Mimi.


Mimi menghelakan nafasnya kembali, seraya beristighfar untuk menenangkan hatinya. Hati yang sudah tak tenang di tambah lagi kehadiran Angga di dekatnya membuat hati dan pikiran nya menjadi sebuah emosi yang siap membara.


Setelah tenang Mimi kembali mengerjakan tugasnya, baru beberapa menit Mimi tenang dalam mengerjakan tugasnya Mimi merasakaan lagi ada orang yang duduk di sampingnya, Mimi menghelakan nafasnya kasar dan tak menghiraukan nya. Mimi menyangka itu adalah Angga.


Mimi terus memfokuskan hati dan pikirannya ke buku yang di bacanya tanpa menghiraukan orang disampingnya.


"Fokus amat." ujar seseorang yang berada di samping nya, Mimi mendengar suara tersebut jadi tersentak karena ternyata bukan Rangga, enatah apa jadinya bila itu Rangga.


"Irsyad." ucap Mimi yah yang duduk di sampingnya adalah Irsyad.


"Lagi ngerjaian apa sih, sampe aku duduk nggak dinpeduliin." ucap Irsyad


"Maaf Syad, Mimk lagi ngerjain tugas." jawab Mimi dengan. melihatkan buku nya ke arah Irsyad.


"Oo,." jawab Irsyad.


"Emmm Syad." panggil Mimi.


"Hmmm." jawab Irsyad dengan deheman.

__ADS_1


"Irsyad tau nggak kak Syahril kemana?" tanya Mimi kepada Irsyad.


"Emmm nggak tau Mi" jawab nya, Mimi melihat ke arah mata Irsyad, ada kebohongan disana.


"Jangan bohong Syad " ucap Mimi.


"Bener Mi, Irsyad nggak tau, terakhir ya dia bilang lagi sibuk mengurus dokumen untuk beasiswa nya." ucap Irsyad.


"Kenapa?" tanya Irsyad lagi.


"Hmm. sudah dua Minggu kak Syahril tidak bisa di hubungi, bahkan dua hari ini nonya nggak aktif." ucap Mimi lirih dengan nada sendu.


Irsyad menarik nafasnya berat, semua tidak mudah dilakukannya saat ini.


"Do'a In aja biar Abang baik-baik aja dan sehat." jawab Irsyad.


"Mimi takut Syad." ucap Mimi.


"Takut kenapa?" tanya Irsyad.


"Mimk fakjt terjadi apa-apa sama kak Syahril." jawab Mimi dengan tetesan air mata di pipinya.


Mimk merasa sesak di dadanya bila hati dan pikirannya menuju ke sang pujaan hati. Irysad yang melihat Mimk !menangis diapun tak tega Irsyad menghapus air mata Mimi.


"Jangan menangis, bantu do'a nya saja." ucap Irsyad dan Mimi hanya mengangguk tapi air mata terus mengalir.


"Udah ah, jangan nangis entar disangka orang Irsyad nyakitin Mimi lagi." ucap Irsyad yang juga menahan sesak di dadanya.


"Tapi anehnya kak Ryan jua tidak aktif HP nya." ucap Mimi.


"Umma pun juga." imbuh Mimk dengan badan bergetar menahan Isak tangis.


"Mimk merasa ada yang disediakan!bunyikan dari Mimi Syad." ucap Mimi dengan terisak yang ditahan.


"Udahlah Mi, jangn berpikiran yang nggak-nggak. Doain aja Abang sehat." ucap Irsyad lagi.


"Emm udah sana kerjain lagi tugasnya, Irsyad tinggalnya." ucap Irsyad.


"Irsyad mau kemana?" tanya Mimi.


"Tadinirsyad kesini pinjam buku ini dan sekarang Irsyad mau balik ke kelas lagi." ucap Irsyad dengan menunjukkan sebuah buku di tangannya.


"Emmm nggak bisa temani Mimk dulu disini." ucap Mimk meminta Irsyad untuk menemani nya dulu.


"Emm maaf sayang, Irsyad ada kelas bentar lagi dosen masuk." ucap Irsyad dengan mengusap kepala Mimi.


"Hmm yaudah " Jawabbummi dengan cemberut.


"Eh kok cemberut, tambah cantik kallau cemberut." ucap Irsyad dengan gombalannya.


"Hallah udah ah sana, Mimi mau ngerjain tugas Mimi." ucap Mimi mengusir Irsyad.


"Yaudah Irsyad balikmkekelas duku ya, nanti pulang kita bareng." ucap Irsyad dan Mimi hanya mengangguk.


Irsyad bernafas lega bisa menjauhi Mimi saat ini, ingin rasanya dia memberitahu Mimk tapi dia gak ingin membuat Mimi bertambah sedih.


"Maafkan Irsyad Mi," ucapnya lirih sambil berjalan menuju kelasnya.


"Dinkangin Saridi dan yang lain bertanya kepada ketiga cewek yang duduk dihadapan mereka.


"Emm sebenarnya ada apa dengan Mimi? apa dia masih bermimpi buruk?" tanya Saridi kepada ketiga cewek sahabatnya itu.


"Semalam kita tidak mendengar suaranya lagi bang," ucap Selfia.


"Iya dan kami juga tidak tau jam berapa Mimi tidur." sahut Muthia.


"Lah kok kalian sampe nggak tau?" tanya Dimas.


"Semalam kita ngantuk berat," jawab Irma dan di angguki kedua sahabatnya.


"Giman sih kalian, jadi kalian ninggalin Mimi sendirian dong?" tanya Riko.


"Ya terpaksa Rik, karena kita dah ngantuk banget. Dan miminoun meminta kita-kita cepat tidur semalam. Jadi ya kita tidur duluan.''ujar Selfia.?


"Terus hari ini kenapa Mimi kelihatan lesu banget, apa dia nggak tidur semalaman." ucap Dimas.


"Hemmm, dia lesu karena cowoknya nggak bisa di hubungi dari kemaren." ucap Muthia.


"Tumben" ucap Dimas, Saridi dan Riko.


"Hmm nggak tau, makanya Mimi galau." ucap Muthia.


"Atau jangan-jangan akhir-akhir ini Mimk galau karena cowoknya." ucap Dimas.


"Bisa jadi." ucap Saridi.


"Hmmm mungkin juga." ucap Selfia dengan manggut-manggut.


Mereka pun diam sejenak dengan berbagai opini di pikiran mereka masing-masing.


"Aku takut, kisah Mimi akan berakhir seperti dirimu." ucap Muthia lirih.


"Semoga aja nggak Muth, jangan sampe." ucap Irma.


"Iya semoga aja, apa lagi kita tau kak Syahril orangnya baik dan kelihatannya setia dan paling utama dia sangat menyayangi dan mencintai Mimi." ucap Selfia.


"Iya semoga aja." ucap Muthia.


"Kita do'a kan saja semoga hubungan mereka terjalin hingga Kakek nenek afaunbahakan sampe maut memisahkan mereka." ujar Saridi bijak.


"Hmm betul tuh, kita doakan saja Mimi selalu bahagia." sahut Dimas.


Saridi dan Dimas berusaha merelakan orangnyang mengambil hati mereka agar selalu bahagia. Bagi mereka berdua melihat Mimi bahagia mereka pun ikut bahagia walau ada rasa miris di hati mereka.


"Semoga kau selalu bahagia Mi." ucap Saridi dan Dimas dalam hati.


Mereka melanjutkan makan mereka dan setelah itu mereka kembali ke kelas karena mereka yelahnlaama meninggalkan sahabatnya seorang diri didalam kelas.


Sesampai nya dinkelaa mereka tidak menemukan Mimi.


"Lah Mimi nya kemana?" tanya Riko.

__ADS_1


"Iya, kemana tuh anak." ucap Dimas.


"Eh jangan-jangan Mimi.." ucap Selfia dengan pikiran jeleknya.


"Maksud kamu apa Fi?" tanya Muthia.


"E!m maksud aku.." ucap Selfia terhenti dan menggelengkan kepalanya.


"Ngaco pikiranmu " ucapnsaridi dengan menoyor kepala Selfia.


"Isss Abang, nihnkepala dah di fitrahin tau " ucap Selfia.


"Makanya kalau mikir itu jangan kejauhan ." ucap Saridi.


"Coba di telpon." ucap Dimas dengan mengambil ponselnya begitu pula dengan yang lain.


Mereka semua !envoba menghubungi Mimi tetapi bukan miminyangbmenjawab melainkan operator yang menjawab.


"Gak aktif lagi nomornya." ucap Muthia.


"Aduh Mi, kamu kemana sih?" ucap Irma


"Atau Mimi pulang ke kosan." ucap Riko.


"Hmmm mana mungkin Mimi pulang, sedangkan sebentar lagi ada kelas profesor Rahman." ucap Muthia.


"Iya juga. Hmm terus kemana dong?" ucap Selfia.


"Yaudah kita tunggu aja, nanti juga dia balik lagi." ucap Saridi.


"Iya tapi ini lima menit lagi dosen masuk." ucap Irma dengan melihat ke arlojinya.


Bersamaan dengan dosen, Mimi pun masuk kedalam kelas.


"Nah itu anaknya." ucap Dimas dengan menggelengkan kepalanya.


Mimi berjalan menuju mejanya disamping Muthia, Mimi langsung duduk dan Muthia membisikkan ke telinga Mimi.


"Kami darimana aja sih Mi?" tanya Muthia dengan berbisik.


"Perpus" jawab Mimi.


Merek semua yang berada di dalam kelas serentak tak bersuara Bika sang dosen memulai menerangkan dindeoannkelas mereka dengan menunjuk ke. arah white board yang mana disana terlihat gambar yang berasal dari proyektor.


Tiga jam mata pelajaran prof Rahman dan akhirnya kelas mereka hari ini pun berakhir.


Dua minggu lagi ujian semester akan tiba, dan seminggu sebelum nya tiap kelopok harus segera menyiapkan mayat untuk ujian bedah kelak.


Beruntungnya Mimi kali ini, mereka bisa satu kelompok.Jadi mereka semakin semangat menjalani semua.


Dimaa yang notabene penduduk sini dan dia juga mempunyai oom yang kerja di bidang kesehatan serta juga memiliki rumah sakit. Jadi kelompok Mimi tidak bersusah-payah mencari info tentang mayat tanpa beridentitas.


Di kelompok Mimi urusan mayat buat ujian bedah telah selesai.


Selesai dengan aktifitasnya di kampus, sesuai dengan yang di ucapkan Irsyad hari ini dia akan mengantar Mimi walau Mimi menolak karena ketiga sahabatnya akan menginap ke!Bali di kosannya.


Para sahabat yang sangat pengertian, mereka pun mengizinkan Mimi untuk pergi bersama Irsyad.


"Emang kota mau kemana sih Syad?" tanya Mimi yang sudah berada di dalam mobil Irsyad.


"Jalan-jalan." jawab Irsyad.


"Tapikan nggak enak Syad samaa yang lain, apa lagi sama Muthia, Selfia dan Irma. Mereka akan menginap dinkosan Mimi." ucap Mimi.


"Sesekali Mi, sudah lama kita nggak jalan bareng. Kita makan ayam geprek di pantai yuk." ucapnya dan mengajak Mimi makan ayam geprek langgam mereka.


"Hmm baik lah." jawab Mimi.


Mereka pun pergi ke pantai yang tak begitumjauhndari kota ini, yang mana disana ada rumah makan yang menyediakan ayam geprek serta !enu lainnya.


Sesampainya disana mereka pun memesan seperti biasanya, ayam geprek super pedas, pecak terong dan gak ketinggalan kerupuk serta es teh nya.


Duduk di tepi pantai sambil menunggu pesanan datang, Mimi menyapu pandangannya disetiap sudut tempat ini. Tempat yang menjadi favoritnya bersama orang yang dirindukannya.


"Kak, Mimi lagi makan di pantai favorit kita. Kakak sedang apa sekarang?" gumam Mimi dalam hati.


Mimi memandang tepian pantai dan Mimi melihat ada sepasang anak manusia sedang berjalan menelusuri tepian itu sambil bergandengan tangan. Mimi teringat dimana masa-masa indahnya bersama pujaan hati.


Tak terasa air mata menetes di kedua pipinya dan itu tak luput dari perhatian Irsyad, Irsyad pun tak tinggal diam dia langsung merekam nya.


Mikingak kuasa menahan air mata nya karena dia sangat merindukan pujaan hatinya. Suasana hati yang sedang tak menentu membuat dirinya rapuh.


"Mimi harap kakak selalu sehat dan bahagia dimana pun kakak berada." Gumamnya lagi sambil mengusap air mata nya.


"Mi,." panggil Irsyad.


"Emmm." jawab Mimi.


"Udah, jangan bersedih gitu." ucap irsyad yang juga ikut terenyuh melihat keadaan Mimi saat ini.


Irsyad yang juga sudah mulai sibuk dengan aktifitas kuliahnya serta dia juga sudah mulai turun ke perusahaan sang Abi. Sehingga waktunya pun tidak ada untuk menemani Mimi seperti sebelumnya.


Mimi dengan cepat !menghapus air mata yang selalu lolos di pipinya.


"Syad, benaran Irsyad ndak tau kemana kak Syahril?." tanya Mimi.


Irsyad hanya tersenyum getir dan mengalihkan pembicaraan dengan makanan yang telah tiba.


"Udah ayo makan," ucap Irsyad yang sudah mengambil ayam geprek nya.


Mimi diam memandang makanan di depannya, dan lagi-lagi air matanya menetes.


"Mi, ndak baik mengabaikan makanan. Insya Allah Abang baik-baik aja. Ayo dimakan." ucap Irsyad dan Mimi pun mengangguk.


Mereka menyantap menu yang level kepedasan di atas rata-rata karena !erea berdua pencinta cabe. Namun kali ini Mimi tak sanggup memakan nya, Mimi langsung kepedasan.


Dan itu membuat Irsyad ketawa karena Mimi menyingkirkan cabe-cabe dari ayamnya.


Ada apa dengan Syahril, sabar di Next bab.


tbc

__ADS_1


__ADS_2