
Setelah melaporkan berkas kemahasiswaan khusunya mahasiswa undangan serta beasiswa, Mimi juga ditawarkan untuk tinggal di asrama yang telah disediakan namun Mimi meminta tenggang waktu untuk memutuskan. Apa lagi untuk tinggal di asrama memiliki peraturan tersendiri yang mana jam sepuluh malam para mahasiswa tidak diizinkan berada diluar asrama.
Setelah keluar dari ruangan administrasi, tanpa sengaja Mimi kembali menabrak senior nya. Yah lagi-lagi mimi menbarak orang yang sama.
"Maaf kak." ucap Mimi kepada seniornya tersebut.
"Lah kamu lagi," celetuk Bryan.
"Iya, kayaknya kalian berdua bakal berjodoh deh." sahut Satria.
"Maaf, saya nggak sengaja. Maaf." ucap Mimi dan berlalu meninggalkan mereka.
Dillah hanya diam tak menanggapi ocehan dari teman-temannya, Dillah memandang Mimi yang terus berlalu meninggalkan mereka.
Di saat Mimi sedang berjalan menuju lorong terdengar suara yang memanggil namanya di seberang jalan dan Mimi pun berhenti seraya langsung melihat ke arah suara.
"Mimi..Mimi.." panggil seseorang dengan terus berjalan mendekati Mimi.
"Eh mbak Aish. Ada apa mbak?" tanya Mimi ketika Aishyah telah mendekat.
"Huh... Gimana udah selesai?" tanya mbak Aish kembali.
"Alhamdulillah sudah mbak, nanti Kamis datang lagi buat daftar ulang." jawab Mimi.
"Yok ikut mbak." ucap mbak Aish dengan menggandeng tangan Mimi.
"Mau kemana mbak?" tanya Mimi sambil jalan tepatnya mengikuti langkah kaki mbak Aish.
"Hmm ada titipan dari Syahril, kemarin dia lupa katanya." jawab mbak Aish.
"Titipan?" tanya Mimi kembali.
"Iya, makanya ayo ikut mbak sekarang." ucap mbak Aish yang terus menarik tangan Mimi dan Mimi pun mengikutinya.
"Emang mau kemana sih mbak,? tanya Mimi yang takm!mengerti dan tak tau mau dibawa kemana.
" Udah ikut aja." jawabnya, Mimi pun diam dan hanya mengikuti kemana dia kan di bawa.
Di tempat lain tepatnya di tempat dimana Dillah dan teman-temannya berdiri tadi.
"Dit, bukannya itu aishyah ya?" tanya Satria.
"Iya." jawab Dita.
"Kok Dia dekat ama anak baru itu ya? apa jangan-jangan itu adek nya." ucap Bryan dengan asumsinya sendiri.
"Hmm nggak tau aku." jawab Dita.
"Dil, kamu kenapa?" tanya Reno yang melihat Dillah hanya diam namun pandangannya masih ke arah Mimi yang sudah tak tampak lagi.
"Eh nggak apa-apa, ayo." jawab nya dan mengajak teman-temannya untuk segera keluar.
"Kamu kenapa Dil?" tanya Reno kembali yang belum puas akan jawaban Dillah sebelumnya.
"Hmm." Dillah hanya berdehem dan terus melangkahkan kaki nya keluar area kampus.
Entah mengapa Dillah merasa aneh akan dirinya, ia merasa apa yang terjadi merupakan flasback baginya.
"Kenapa aku seperti pernah mengalami hal tadi ya?" Gumamnya dalam hati.
Dillah terus berkecambuk dengan hatinya, dia terus mengingat-ingat kapan dan dengan siapa dia pernah mengalami hal itu.
Di dalam mobil Aish, Mimi terus bertanya mau kemana dan titipan apa, namun aish tetap tak menjawab nya.
"Mbak, emang mau kemana sih? emang mbak nggak kuliah apa?" tanya Mimi.
"Udah ikut aja, mbak nanti ada mata kuliah siang makanya kita buruan perginya." jawabnya dengan fokus menyetir.
Setelah sampai tempat mereka berdua turun di parkiran sebuah ruko yang besar. Mimi melihat ruko tersebut tertulis global computers.
Tangan Mimi terus di tarik sama mbak Aish masuk kedalam ruko tersebut.
Mbak Aish membawa Mimi melihat-lihat beraneka ragam laptop yang di Pampang di atas meja-meja.
Mimi tidak tau mbak Aish mau membeli laptop yang model apa, karena setiap di liat dan di ceknya maka dia melewatinya lagi sehingga tiap komputer yang terpajang seolah tak !menarik perhatiannya.
"Maaf mbak saya mau cari laptop xxx seri xxx?" tanya mbak aish kepada karyawan disana.
"Oh itu laptop terbaru mbak, mari ikut saya." jawab karyawan tersebut dan mengajak kami menuju etalase yang berada di dalam.
"Ini mbak, laptop yang mbak maksud tadi." ucap si karyawan toko tersebut.
"Ini hanya ada dua warna mbak, Blackberry dan silver." jelas si karyawan.
"Hemmm, Mi mau yang mana?" tanya Mimi.
"Hah, maksud mbak Aish?" tanya Mimi yang belum mengerti.
__ADS_1
"Iya Mimi mau yang mana? mau yang silver atau yang black?" tanya mbak Aish lagi. Mimi melihat tag harga yang tertera disana, Mimi melorotkan matanya melihat harga sebuah laptop seharga sebuah motor.
"Emm nggak usah mbak." ucap Mimi dengan menolaknya.
"Ckk, pilih aja Mi jangan lihat harganya." ucap !bak Aish dengan melipat kedua tangannya.
"Emm yang biasa aja mbak, sayang duitnya." bisik Mimi.
"Emmm ini amanah dek, mbak hanya menjalani nya aja sesuai dengan yang Aril mau. jadi Mimi mau yang mana?" jawabnya dan kembali bertanya kepada Mimi.
"Emm nggak usah mbak ntar mbak bilang aja sama kak Syahril kalau Mimi nggak mau." jawab Mimi yang masih menolak.
"Dek, ini bentuk perhatian Aril sama Mimi. Dia itu memperhatikan Mimi dan kata dia pastinya Mimi sangat membutuhkan laptop ini, jadi jangan menolak nya ya? Mimi pilih mau warna apa?" ucap mbak Aish.
"Tapi mbak, Mimi nggak enak selalu merepotkan kak Syahril." ucap Mimi yang masih ingin menolaknya.
"Kalau cinta itu nggak ada rasa merepotkan dek, dia sangat sayang sama Mimi. Seharusnya kemarin dia mau belikan tapi Ummi dan Abi ikut jadi Aril nggak jadi kesini." jelas mbak Aish.
"Ayo pilih yang mana?" tanya mbak aish kembali,
"Emm Mimi tanya kak Syahril dulu ya?" ucap Mimi dan terus mengambil ponsel di dalam tas nya.
Beberapa kali Mimi mencoba menghubungi kak Syahril tetapi no yang di tuju sedang tidak aktif.
"Gimana Mi?" tanya mbak Aish.
"Nggak aktif mbak." jawab Mimi dengan memainkan ponselnya.
"Yaudah, Mimi tinggal pilih mau warna apa. Mbak yakin Syahril akan setuju apapun itu pilihan Mimi." ucapnya.
"Hmm bismillah ( Mimi mengucapkannya dalam hati ), emm Mimi pilih hitam aja mbak." jawab Mimi.
"Hmm yaudah, mbak tolong bungkus yang ini ya." ucap mbak Rena dan meminta karyawannya untuk membungkus.
"Baik mbak, mari kita kesana biar nanti ada petugas yang memberitahukan kelebihan dan kekurangan dari laptop ini." ucap karyawan toko tersebut dengan !menunjuk kearah meja dekat kasir.
"Oh baik lah." jawab mbak Aish.
"Hmm mbak, emang laptop semahal ini masih ada kekurangannya?" tanya Mimi kepada mbak Aish secara berbisik.
"Emm mungkin ada Mi, kekurangannya ya pasti ada jika dibandingkan dengan yang lebih mahal." ucap mbak Aish dengan tersenyum.
Mimi dan mbak Aish sudah sampai di meja yang ditunjuk oleh karyawan tadi dan di sana sudah ada seseorang yang akan menjelaskan detail produknya, ya mungkin orang ini adalah IT di toko ini.
Mimi dan mbak Aish mendengarkan perincian secara detail oleh petugas itu dengan seksama. Yah namanya laptop !ahal pasti ada kelebihan secara signifikan nya.
Karena harga yang mahal dan produck baru, pihak toko memberikan beberapa bonus diantaranya MiFi. Setelah melakukan transaksi Mimi dan mbak Aish pun pulang.
"Oh ya Mi, Mimi mau kemana lagi?" tanya mbak Aish.
"Emm, rencana nya sih Mimi mau kemarket tadi mbak. Tapi mbak Kam ada mata kuliah jadi antar Mimi pulang ke kos aja." jawab Mimi.
"Hmm iya juga, yaudah kita langsung pulang aja ya?" ucap mbak Aish.
"Iya mbak." jawab Mimi.
"Tapi apa nggak sekalian aja kita ke market dulu? emang Mimi mau beli apa?" tanya mbak Aish kembali dengan masih fokus menyetir.
"Emm langsung pulang aja mbak, nanti-nanti aja Mimi ke marketnya. Mbak aish kan harus ngejar waktu." jawab Mimi.
"Yaudah deh kalau gitu." ucap mbak Aish dan mereka berdua pun saling bertukar cerita hingga akhir mereka pun sampe di depan kosan Mimi.
Setelah sampai Mimi langsung turun tapintidak dengan mbak Aish.
"Mbak nggak mampir dulu?" ucap Mimi dengan menawarkan kepada !bak Aish untuk mampir.
"Emm nggak usah deh Mi, mbak langsung kekampus aja." jawabnya dengan melihat kearah jam yang berada dipergelangan tangannya.
"Oh baiklah mbak, makasih ya mbak." ucap Mimi.
"Iya Mi, sama-sama. Mba berangkat kampus dulu ya?." ucapnya dan berpamitan.
"Iya mbak hati-hati." ucap Mimi.
"Oke bye, assalamualaikum." jawab nya dengan !Ela!baikan tangannya.
"Waalaikum salam " jawab Mimi.
Mimi masih berada di pagar kosannya sambil melihat mbak Aish memutarkan mobilnya. Hingga mobil mbak Aish berbelok Mimi baru masuk ke dalam kosannya dengan membawa kotak yang berisi laptop.
Sesampainya di dalam kos, Mimi meletakkan kotak laptop tersebut di atas kasurnya.
"Ya Rabb, terimakasih kau dekatkan Mimi kepada orang-orang yang baik hati." gumam Mimi seraya melihat kearah kotak laptop.
"Kak, begitu banyak yang kakak keluarkan buat Mimi, bagaimana Mimi bisa membalas semua ini." gumam Mimi kembali mengingat kebaikan serta apa yang dilakukan Syahril kepada Mimi selama ini.
"Insya Allah Mimi akan selalu menjaga hati Mimi buat kakak, karena hanya dengan cara ini Mimi membayar segala kebaikan kakak." Mimi terus berbicara dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Selesai berbicara dengan dirinya sendiri, Mimi menelpon emaknya via video call, Mimi selalu menceritakan apa saja yang Mimi lakukan termasuk hari ini, Mimi menceritakan kepada emaknya bahwa kak Syahril membelikan laptop dengan harga seharga satu buah motor gede.
Terlihat emak terbaru mendengar cerita Mimi, emakpun tak bisa mengungkapkan kebahagiaannya. Yah emak bahagia Mimi berada dekat dengan orang-orang yang baik serta peduli pada dirinya.
"Yaudah nak, maka dari itu Mimi jaga hati Mimi buat dia nak. Begitu banyak kebaikan dan begitu banyak pula yang dia keluarkan buat Mimi." ucap emak.
"Iya Mak, insyaallah Mimi akan !menjaga hati Mimi buat dia. Karena hanya ini yang bisa Mimi berikan untuk membalas segala kebaikan nya." jawab Mimi.
"Iya nak, jangan lupa selalu berdoa buat kalian berdua, jangan tinggalkan sholat lima waktu nya." ucap emak dengan !e!berikan nasihatnya.
"Iya Mak." jawab Mimi.
"Yaudah, Mak mau masak dulu. Emm Mimi masak apa? jangan telat makan ya nak." ucap emak dan bertanya Mimi masak apa.
"Mimi masak goreng ayam, sama tumis sawi tadi Mak." jawab Mimi.
"Mimi belanja? Mimi belanja di pasar? jauh ndak nak?." tanya emak bertubi-tubi.
"Emm bukan Mimi yang belanja Mak tali kak Syahril semalam. Dia belanja di market depan." jawab Mimi.
"Ya Allah nak. begitu perhatiannya dia sama Mimi. Bersyukurlah nak, Mimi didekatkan dengan orang-orang yang baik." ucap emak dengan mata yang berkaca-kaca haru.
"Iya Mak, alhamdulillah." jawab Mimi.
"Yaudah Mak matikan dulu ya, Mak mau masak nanti Ay pulang belum masak pula." ucap emak.
"Iya Mak, assalamualaikum." jawab Mimi dan mengucapkan salam.
"Waalaikum salam." jawab emak dan memutuskan hubungan telpon.
Karena adzan Dzuhur berkumandang Mimi pun segera beranjak menuju kamar mandi guna !mengambil wudhu dan setelah itu Mimi pun menjalani perintah Allah SWT yang 4 rakaat di siang hari.
Di sebuah cafe Dillah dan kawan-kawan membahas tentang seorang gadis yang telah merebut hati seorang Sa'id Abdillah.
"Dil, hari ini hari terakhir pelaporan bagi anak-anak bimbel yang !menerima undangan emm apa mungkin tu cewek ikut?" tanya Satria.
"Iya Dil, dari yang sudah masuk data, kamu bilang nggak ada cewek yang kamu maksud." sahut Yogi.
"Udahlah Dil, lupakan aja tuh cewek mungkin emang dia nggak berminat ngampus disini." ujar Bryan.
"Betul tuh Bry, udahlah Dil masih banyak kok cewek-cewek lain yang bening-bening dikampus, ngapain sih kamu nungguin cewek yang hanya dilihat sepintas itu." ujar Satria.
Dillah mendengarnya hanya diam dan mendesahkan nafasnya.
"Gimana Dil?" tanya Reno. Semua sahabat melihat kearah Dillah dan menunggu jawaban apa yang akan di lontarkan nya.
"Maksudnya Ren?" tanya Dillah.
"Maksud ku, ya gimana? menyerah aja lah, mungkin mereka betul. Mungkin tuh cewek ndak ambil kesempatan yang diberikan oleh kampus kita." ucap Reno.
"Hemm, entahlah." jawab Dillah.
"Aku yakin dia ada disini, cuma kita saja yang tidak mengetahui nya. Atau bahkan kita sudah bertemu samaa dia namun kita nggak mengenalnya." ujar Dillah dengan menyruput capuccino nya.
"Ckk, kayaknya kamu dah sint*ng Dil, wong cewek e ora eneng juga." celetuk Yogi.
"Iya Dil, kenapa KA!u bisa semakin gitu toh!" ucap Satria.
"Entahlah, hatiku meyakini kalau dia itu sudah ada bahkan dekat dengan kita." jawab Dillah.
"Hallah ngelantur wae Dil Dil. Udah lupakan aja tuh cewek toh yang kamu ingat hanya senyum MA rambut panjang nya doang." ucap Bryan.
"Iya Dil, gimana kita mau tau siapa tuh cewek, wajahnya aja kurang jelas bahkan namanya aja kamunnggak tau. Piye toh iki koyo wae cari jarum nang jerami." ucap Yogi.
"Terserah kalian, aku tetap dengan keyakinan hatiku. Walaupun. dia nggak ada aku akan coba mencarinya di sumatra suatu hari nanti." ucap Dillah.
"Hemm dasar, terserah koe wae lah Dil." ucap Yogi.
"Hmm tapi ngomong-ngomong cewek berhijab tadi cantik juga Dil?" ucap Reno.
"Iya Ren, cewek hijab tadi juga cantik. Kira-kira dia masuk fakultas apa ya?" ucap Bryan.
"Halah kamu Bry sw!ua cewek dimata kamu itu cantik. Dasar playboy." sahut Dita.
"Hehehe biasa aja kali Dit, tapi jujur cewek tadi juga cantik, manis lagi." ucap Bryan.
"Kalau aku dapetin dia, aku janji akan copot plauboy ku." ucap Bryan lagi.
"Halah banyak omong Lo Bry." ucap Satria dengan melemparkan tisu ke arah Bryan.
"Iya gaya Lo mau insyaf Bry Bry." ucap Reno.
"Hahahaha" mereka pun tertawa bersama.
Dillah dan kawan-kawan pun menghabiskan waktu nya dengan topik cewek sumatra yang hanya ada di ingatan Sa'id Abdillah.
***Tbc***
__ADS_1