DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
cerita Mimi


__ADS_3

Semua orang telah menunggu cerita lanjutan dari Mimi, apa lagi pasalnya tas Mimi berada di pesawat.


"Bagaimana saudari Mimi?" tanya pihak maskapai.


"Kalau itu emm.." Mimi tidak tau harus menjawab apa karena dirinya pun tak tau.


"Coba kamu cerita dari awal kronologinya?" tanya dekan kampus Mimi pun mengangguk dan !menceritakan nya.


Flasback on.


Mjnggu sore tepatnya jam 3.30 sore Mimk berkumpul bersama keluarga dan sahabatnya. Mimi menikmati momen terakhirnya kala itu. Mimi juga berulang kali !emknta maaf pada keluarga dan sahabat-sahabatnya.


Tepat jam 4:15 sore Mimi meminta antar pakciknya untuk pergi ke bandara. Namun karena para keluarga berat melepaskan kepergiannya jadilah Mimi berangkat jam 4:30 dari rumahnya.


Emak dan Nyai berulang kali meminta kepada Mimi untuk membatalkan pemberangkatannya, namun Mimi tetap ingin berangkat dan memberikan pengertian pada mereka semua.


Saat Mimi telah naik di atas motor bersama pakciknya, Mimi memandang semuanya dengan senyum namun tidak dengan mereka. Mereka melepas Mimi dengan deraian air mata.


Jam 5:30 sore Mimi tiba di bandara Sultan Thaha Jambi. Pakcik mengantar Mimi hingga dalam.


"Cik, antar Mimi saamlai sini saja nanti Pakcik kemalaman baliknya." ucap Mimi menolak halus pakciknya yang masih Keukeh mengantarnya sampai dalam.


"Ndak apa Mi, Pakcik ndak tenang kalau tidak melihat Mimk sampai dalam." ucap nya, Mimi pun pasrah dan menuruti keinginan Pakcik.


Mimi dan Pakcik pergi loket tiket untuk melaporkan chek In nya, setelah itu Mimi menuju ke ruang tunggu dan itu juga di antar Pakcik sampai pintu nya.


Saat urusan chekin selesai HP Mimk berdering dan itu ternyata dari Emak.


"Assalamualaikum Mak." ucap Mimi.


"Waalaikum salam, sudah sampai bandara nak?" tanya emak.


"Alhamdulillah sudah Mak, ini Mimi mau menuju ke ruang tunggunya." jawab Mimi.


"Nak, apa sebaiknya KA!u batalkan saja nak berangkat hari ini, perasaan Mak ndak enak dan ndak tenang nak." ucap emak yang masih ingin Mimk membatalkan pemberangkatan.


"Maaak, mpeak cukup do'a kan Mimi ya. Karena dia dari emak dan yang lain lah penyelamat Mimi." ucap emak dan meminta agar emaknya mendoakan dirinya.


"Tapi nak.." ucap emak.


"Mak, insya Allah Mimk baik-baik saja. Mimk tidak mau lama di Jambi sementara waktu. Mimi tau siapa kak Syahril, Mimk ndak sanggup Mak, Mimk ndak sanggup bila nanti dia datang." ucap Mimi.


"Kan kita bisa langsung pulang ke desa nak, perasaan Mak ndak enak nak." ucap Mimi.


"Bawa perbanyak istighfar Mak, cukup Mak do'a kan Mimi selamat sampai tujuan, do'a kan Mimi kuat menghadapi semua nya ya." ucap Mimi sembari jalan menuju ke ruang tunggu.


"Emm kalau do'a emak selalu do'akan yang terbaik buat kamu nak." ucap emak dengan Isak tangis.


"Mak jangan lagi menangis, swmua akaan baik-baik saja. Nanti kalau sudah sampai Mimi SMS Mak ya." ucap Mimi.


"Ya sudah, kamu hati-hati ya nak. Jangan lupa baca do'a, kalua sudah sampai SMS Mak segera." ucal emak.


"Iya Mak , Mimk janji setelah sampai Mimk kabari emak. Sudah dulu ya Mak, Mak jangan nangis lagi. Jaga kesehatan, assalamualaikum." ucap Mimi.


"Waalaikum salam." jawab emak. Mimi telah sampai ke pintu jalur ke ruang tunggu.


"Cik sampai sini saja, Pakcik pulang lah nanti kemalaman nyamlai rumah. Ini Mimk sudah menuju ke ruang tunggu." ucap Mimi.


"Ya sudah, kamu hati-hati. Jangan lupa baca do'a, kalau sudah sampai kasih kabar." ucap Pakcik.


"Insha Allah cik, makasih banyak ya cik. Maafkan Mimi yang selalu merepotkan Pakcik." Ucap Mimk dengan menyalami serta menciumi punggungbtangan Pakcik.


"Iya, Pakcik balek dulu. Assalamualaikum." ucap Pakcik pamit.


"Waalaikum salam." Jawab Mimk dengan senyum.


Mimk masih berdiri di pintu masuk keruang tungu dan melihaynoakvik hingga tak tampak lagi. Saat akaan masuk Mimi memeriksa tiket dan bkardingnlasnya tidak berada di tangannya.


Mimk mencoba cari di ranselnya juga tidak ada, sejenak Mimi berpikir sampai Mimk mengingatnya kalau tiket dan boardingpass nya ketinggalan dia loket. Mimi pun segera berjalan menuju ke loket dengan lari kecil.


Sampai disana Mimk melihat seorang perempuan yang memohon-mohon pada petugas tiket.


"Mbak tolonglah, kelas berapa pun nggak apa mbak asal jam saat ini." ucap si perempuan. Miminyanh sudah mendekat di loket pun bertanya pada petugas perikahl tiket serta boardingpass yang ketinggalan.


"Maaf mbak, apa tiket dan boardingpass saya ada ketinggalan disini?" tanya Mimk kepada petugas.


"Oh ya ibu Mimi Akifah?" tanya petugas.


"Iya mbak." jawab Mimi.


"Ini Bu, tiket Sega boardingpass nya." ucap petugas memberikan tiket Mimi, si perempuan yang !emkhon melihat tiket Mimi.


"Makasih mbak." ucap Mimi dengan menerima tiket nya dan hendak kembalim!menuju ruang tunggu.


"Mbak maaf." ucap si perempuan menghentikan langkah Mimi.


"Iya mbak." jawab Mimi.


"Emm maaf mbak, apa bisa tiket mbak buat saya. Saya mohon mbak, saya harus segera berangkat mbak." ucapnya.


"Tapi... Emang mbak mau kemana?" tanya Mimi yang ragu tetapi iba melihat keadaan kalut si perempuan itu.


"Saya mau pulang ke Semarang mbak, nenek saya sedang kritis dan keluarga kami meminta agar kami segera menikah hiks." ucapnya.


"Saya takut tidak sempat memenuhi keinginan nya, tunangan sya juga sudah berada di Semarang."imbuhnya.

__ADS_1


"Tolong saya mbak, saya akan menyesali diri saya sendiri jika saya tidak bisa memenuhi keinginan terakhirnya huhuhu." ucap nya dengan menangis.


Mimi melihat tiketnya, dia ragu ingin memberikan pada perempuan itu ketika melihat dia menangis apa lagi dia melakukan demi orang yang disayanginya membjat hati Mimi luluh.


Mimi melihat ke arah petugas tiket dan si perempuan serta tiket yang berada di tangan nya itu secara bergantian.


"Mbak, tiket selanjutnya jam berapa?" tanya Mimi kepada petugas tiket.


"Jam 9, tetapi tidak ada kelas ekonomi Bu." jawab si petugas tiket.


"Adanya kelas apa mbak?" tanya Mimi lagi.


"Yang tersisah kelas eksekutif dan bisnis." jawab nya.


"Hah!!" Mimi ternganga.


"Waduh kalau kelas itu mana cukup duit ku." gumam Mimi dalam hati dengan raut wajah ditekuk sambil melihat tiket di tangannya. Mimi menghelakan nafasnya panjang sambil berpikir.


"Pulang lagi kerumah ndak mungkin minta jemput Pakcik lagi, pasti Pakcik sudah jauh jalannya." gumam Mimk dengan melihat jam di lengannya.


"Masa iya aku tidur disini, kalau nih bandara kosong.... Iiih." gumam Mimi membayangkan bila tidur di bandara dan bandara dalam ke adaan kosong tentunya sepi.


"Mbak, saya mohon.(Siperempuan menautkan dua tangannya memohon), tolong mbak." ucapnya dengan memohon. Mimi menghelakan nafas, Mimi galau dalam keraguannya.


"Tiket untuk mbak biar saya yang bayar." ucapnya dan Mimi melihat ke arahnya.


"Tapi mbak, tiket selanjutnya kelasnya berbeda dengan tiket saya." jawab Mimi tak enak hati.


"Nggak apa-apa yang penting saya bisa pulang secepat nya." ujarnya. Mimi melihat ke arah petugas.


"Mbak apa boleh?" tanya Mimi lada petugas.


"Boleh saja mbak, nanti mbaknya ini masih boardingpass nya pada petugasnya nanti " jawab si petugas dan Mimi pun menyetujuinya.


Si perempuan itu memesan tiket kelas bisnis untuk Mimi, sembari petugas menyelesaikan tugasnya Mimk dan si perempuan itu berkenalan.


"Oh ya nama kamu siapa?" tanyanya.


"Emm nama saya Mimk Akifah mbak, mbak siapa." jawab Mimi dan kembali bertanya.


"Wahh nama kita hampir sama, nama aku Assyfa tapi keluargaku memanggilku Mini dan kamu pasti panggilannya Mimi ya?" ucapnya dengan menebak.


"Iya mbak. Emm mbak disini kerja atau?" tanya Mimi.


"Saya disini kerja. Saya ditugaskan di daerah Jambi tapi di kabupaten nya." Jawabnya.


"Kabupaten mana mbak?" tanya Mimi lagi.


"Di kabupaten Tanjabbar, saya rencana menikah di akhir tahun ini . Tadi siang orang tua saya nelpon bilang kalau eyang itu saya masuk rumah sakit dan kritis. Padahal sebelumnya eyang uti baik-baik aja, emang sih kemaren sewaktundia nelpon meminta saya untuk secepatnya menikah.Emm katanya dia takut tidak bisa melihat saya menikah.hiks." ucapnya dengan tatapan kosong mengenang ucapan si nenek.


"Emm kalau Mimi rumah Mimi disini mbak. Mimi disembarang kuliah " jawab Mimi.


"Lo tapi bukannya ini musim liburan?" tanya nya.


"Iya mbak, tapi saya tidak ingin berlama di Jambi." jawab Mimk dengan senyum.


"Loh kenapa? bukannya enak liburan bisa kumpul bersama keluarga." terangnya.


"Iya mbak, tapi huum huh sya cuma tidak mau nanti mantan tunangan saya menemui saya." jawab Mimi.


"Oo maaf, apa mantan mu meninggalkanmu menikah?" tanya nya.


"Iya.. Hari ini hari pernikahannya." jawab Mimi dengan berukaya untuk tetap tersenyum.


"Ohnya inintiket dan boardingpass nya buat kamu. Makasih ya Mi udah bantu mbak. mbak do'a in semoga kamu mendapat penggantinya yanh lebih dari nya." ucapnya. Tak lama terdengar suara yang mengatakan waktu penerbangan dengan maskapai lino air akan segera berangkat.


"Tuh mbak dah ada panggilan. Oh ya ini tiket dan boardingpass nya mbak." ucap Mimi dan memberi kan tiket dan boardingpass nya.


"Oh ya Mi, kita foto dulu yuk. Mana tau ini pertemuan pertama dan terakhir kita." ucapnya dan mengajak Mimk berfoto.


"Nggak boleh ngomong gitu mbak, mbak kan mau nikah masa nggak nkatan ngundang Mimi hehee." jawab Mimi dengan sedikit candaan.


"Oh iya yaa.. Nanti sekalian minta no hpnya ya." ucapnya dengan menaruhnya di atas meja petugas dan mengambil HP nya, begitu pula dengan Mimi, mereka pun berfoto bersama.


"Oh ya mbak, eyang nya di rawat di rumah sakit mana?" tanya Mimi.


"Di rumah sakit Yx kota Semarang Mi, eh udah ya mbak mau langsung ke sana. Makasih ya." ucaonya dengan langsung mengambil rptas ranselnya dan berlalu pergi dengan berlari untuk mengejar waktu


"Eh iyaa." ucap Mimi yang sedang menunduk mengambil tiketnya yang terjatuh.


Setelah kepergian mbak Mini, Mimi kembali bingung dia harus kemana menjelang jam sembilan. Dilihatnya jam sebentar lagi waktu Maghrib tiba, Mimi pun pergi ke Mushola di dalam bandara untuk menunaikan sholat Maghrib.


Setelah sholat, Mimi masih berada di dalam musholla sampai menunggu isya hingga menjelang jam sembilan. Lima belas menit menjelang jam sembilan Mimi baru keluar dari mushollah.


Saat sampai di ruang tunggu terdengar pemberitahuan bandara kalau ada delay buat semua maskapai karena ada hujan badai hingga waktu tak ditentukan.


Mimi menunggu dindalam ruang tunggu bersama penumpang-penumpang lainnya. Karena bosan Mimi menghidupkan musik di hp nya. Mimi menggunakan earset untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaannya dari HP nya.


Pesawat delay begitu lama membuat Mimi bosan, malam yang dingin, Mimi berdiri mendekat kearah jendela kaca. Mimi melihat ke arah luar, hujan semakin deras diiringi cilasan petir dan gemuruh saling sahut bersahutan.


"Huh, sampe jam berapa nih hujannya." gumam Mimi sambil melihat ke arah luar.


Puas melihat arqhnluar dari balik kaca mimimkembali duduk di bangkunya. Mimi melihat banyak penumpang yang juga sedang menunggu, dari lansia hingga bayi pun ada.


"Kamu mau kemana?" tanya seseorang yang duduk di samping

__ADS_1


Mimi.


"Mau kesemarang pak." jawab Mimi memanggilnya Lak karena dia berpenampilan formal. Teman disampingnya senyum menahan tawa.


"Ckk, ku kira aku bapak-bapak." ucapnya sewot tidak terima di panggil bapak.


"Lah terus Mimi panggilnya apa, panggil Om." jawab Mimk dengan tak langsung menyebutkan namanya.


"Oo nama kamu Mimi." ucapnya tali Mimi acuh dan memasangkan earset nya kembali.


Jam 2.10 dinihari baru lah maskapai penerbangan yang Mimi tumpangi berangkat. Mimi duduk di kelas bisnis, Mimi kagum dengan pelayanan dikelas ini. Tempatnya yang nyaman dan pelayanan lun lebih ekstra.


Cowok berpakaian formal yang menegur Mimi sebelumnya ternyata berada di maskapai ini. Mimi cuek saja ketika !mereka berdua melihat Mimi. Mungkin dia tidak percaya kalau seorang Mimi bisa duduk di kelas ini.


Jam 3.05 Mimi pun sampai di bandara Ahmad Yani Semarang. Saat setelah mengambil ranselnya Mimi mengucapkan ponselnya dan melihat batre ponselnya sudah berkedip.


"Huh, batre nya mau lowbat, mana bisa hubungi emak dengan nelpon. Mimi pun dengan cepat menulis SMS dan memberi tahu emaknya kalau dirinya telah sampai. Setelah mengirim SMS Mimi menyimkan hpmnya kembali ke ransel bagian kecil di depannya.


Mimi melihat ada taxi Mimi pun mempercepat langkahnya menuju taxi tersebut, namun saat sekat tak sengaja Mimk bertabrakan dengan seseorang.


bug


"Aww" ucap Mimi yang merasa keningnya sakit akibat tertabrak dengan otot seseorang.


"Kalau jalan itu kiat-kiat." ucap orang tersebut dengan berpangku tangan di perut nya. Mimi melihat ke arah orang tersebut dan berdecak.


"Ckk dia lagi" gumaam Mimi.


"Maaf om, saya buru-buru mau ngejar taxi." jawab Mimi dan kembali akan melangkahkan kakinya.


"Eitss enak aja panggil am Om am Om." jawabnya dengan menarik topi dari jaket Mimi sontak membuat Mimi berhenti melangkah.


"Terus mau di panggil apa? Pak salah, Om salah. Udah ah.. Saya capek saya mau segera nyampe kosan." Ucap Mimi berupaya melepaskan tangan orang itu.


Orang tersebut melongo melihat Mimi sewot padanya dan berlari setelah tanganya kelas dari topi jaketnya Mimi.


"Huh, resek amat tuh orang." ucap Mimi dan masuk kedalam taxi dan Mimi menyebutkan alamatnya kepada supir taxi.


Selama perjalanan Mimi hanya diam, di taruh nya kepala di atas sandaran bangku mobil sambil memejamkan matanya.


"Semoga kau bahagia kak." gumam Mimi.


Tak lama taxi pun sampai, Mimi membayar ongkosnya dan setelah itu Mimi turun.


flasback off.


"Begitu pak, ceritanya pak. Saya tidak tau kalau ada kecelakaan pesawat itu. Pasti keluarga dia sedang menunggunya saat ini." ucap Mimi.


"Emm, maaf pak. Apa saya boleh bertanya?" tanya Muthia.


"Iya silahkan?" tanya pak dekan.


"Em ini pertanyaan saya buat bapakntim Basarnas maupun bapak dari kepolisian. Emm buat Pak tim Basarnas , apa bapak menemukan barang yang bukan termasuk dari daftar nama penumpang?" tanya Muthia kepada tim Basarnas.


"Emm dan untuk bapak kepolisian, apa tidak ada laporan orang hilang selama tiga Minggu ini? secara kan pastinya mbak Mini ini tentunya pasti sudah mengabari orang tua atau keluarganya?" tanya Muthia kepada pak polisi.


"Kalau tim Basarnas memang ada kami menemukan tas wanita yang belum di ambil oleh pihak keluarga dan kami belum mengeceknya karena kami tidak ingin mengecek sebelum ada pihak keluarga yang datang." jawab pakntim Basarnas.


"Bagaimana kalu cek saja pak, mana tau dari tas itu kita menemukan identitas." usul Irsyad.


"Iya, benar itu bagaimana setelah ini kita cek." sahut Abi Arsyad.


"Baiklah." jawab bapak tim Basarnas.


"Terus bagaimana pak polisi?'' tanya Muthia.


"Kalau itu saya belum mengetahui, nanti saya tanyakan pada rekan bagian pengaduan." jawab bapak polisi.


"Ok baiklah, kalau begitu selanjutnya kita akan mencari identitas korban bernama Mini Assyfa. " ucap bapak polisi dan mereka pun setuju.


Persidangan ini belum berakhir, Mimi kembali memeluk Ummi Fatmah karena Mimi masih merasa bersalah.


Saat semua keluar Ummi Fatmah dan keluarga yang lain serta sahabt melihat ke arah Mimi.


"Ada apa Mi?" tanya Mimi lada Ummi Fatmah.


"Masih ada yang harus kamu jelaskan kepada kami?" ucap mbak Aish.


"Apa mbak?" tanya Mimi.


"Kemana saja kamu setelah sampai kosan?" ucap mbak Aish.


"Lah jadi Mimk maaih disidang." ucap Mimi dengan wajah ditekuk.


"Iiyaaa." jawab semua serentak.


"Hah penasaran amat hehehee." jawab Mimi dengan cengengesan.


"Huh, pokonya jelaskan." ucap Ummi Fatimah.


"Iya iya ummi, kasih Mimk nafas dulu ya." ucap Mimi.


"Yaudah yok kita makan, laper Fia." ucap Fia dan semua lun menyetujui nya dan berangkat ke Kangin Bu Ruminah.


Mimi

__ADS_1


__ADS_2