DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Tangis haru dan kekecewaan


__ADS_3

Mimi yang baru selesai menjalankan sholat Maghrib dan baru mengaji sampai lima ayat tiba-tiba pintu kamar Ay ada yang mengetuk dari luar.


Ay berdiri dengan masih memakai mukena untuk membukakan pintu.


"Eh sudah datang." ucap Ay. dan orang tersebut mengangguk.


"Apa udah siap?" tanya dua orang tersebut, Mimi yang baru mengaji lima ayat itu pun berhenti dan melihat ke dua orang tersebut yang mana membawa dua koper, satu koper sedang dan satu kecil.


"Em. Ay ada apa ya?" tanya Mimi.


"Emm Ayuk dah selesai mengaji?" tanya Ay, Mimi menggeleng.


"Belum, tapi ini ada apa?" tanya Mimi yang belum mengerti akan kedatangan dua orang itu.


"Jadi mana yang mau di hias dulu." tanya salah satu dari dua orang tersebut.


"Ayuk Ay kak " jawab Ay, Mimi melihat ke arah Ay tidak mengerti


"Hias buat apa Ay? emang ini ada apa?" tanya Mimi.


"Udah, ayok Ayuk selesai kan ngajinya bia r cepat di hias." jawab Ay, Miki yang tidak mengerti dan mengajinya pun telah terhenti sebelumnya pun akhirnya dia pun mengucapkan shodaqallahul adzim tanda bahwa dia menyelesaikan mengajinya.


Mimi duduk di pinggiran kasur Ay dan salah satu orang tersebut mengeluarkan beberapa kebaya dari dalam koper berukuran sedang itu.


"Oh ya dek, ini buat kamu sama buat yang lain," ucap orang tersebut mengeluarkan lima kebaya dan lima enam pakaian buat cowok.


Ay menerima pakaian tersebut dan segera keluar dari kamar


**


Di rumah Syahril, Syahril baru terbangun di jam setengah lima sore, dia langsung mandi dan menjalankan sholat Ashar. Mungkin karena lelah hati dan pikirannya dan badannya juga terasa capek hingga dia tertidur cukup pulas.


Sehabis sholat dan mengaji sedikit, Syahril turun kebawah dengan membawa koper nya.


"Mau kemana Riil?" tanya Babah.


"Syahril mau balik lagi kedusun Bah." jawab Syahril dan meletakkan kopernya di sudut ruang.


"Apa Ndak besok saja pergi nya?" Tanya kakek.


"Ndak kek, kalau bisa sore ini Syahril langsung. berangkat jadi besok sampe Syahril bisa bersih-bersih rumah bentar dan kerja " jawab Syahril.


"Nak, malam ini ada undangan. Babah mau kamu juga ikut menghadiri nya, malah kamu harus hadir nak." ucap Babah.


"Apa tidak bisa Babah saja." jawab Syahril dengan memakan kue brownies buatan Mimi, saat brownies itu masuk kedalam mulutnya Syahril tau jika itu brownies buatan Mimi.


"Nak ini semua buat masa depan kamu juga jadi kamu harus hadir Ndak bisa tidak." jawab Babah.


"Tapi bah." ucap Syahril.


"Ndak ada tapi-tapian. Jam tujuh kita berangkat karena acara jam delapan." jawab Babah.


"Hmm yaudah." jawab Syahril, dia pun duduk di atas ambal bukunya dan menonton tv tak lama terdengar salam dari luar dan ternyata itu adalah bang Afnan dan bang Afkar nya.


"Tumben bang pulang." ucap Syahril ketika menyalami bang Afnan.


"Lah kan mau nikahan kamu dek." jawab bang Afnan.


"Hmm, nikahnya batal." jawab Syahril dan kembali rebahan di atas ambal berbulu nya dengan menaruh ponakannya di atas perut.


"Oh ya, kok bisa?" ucap bang Afkar histeris


"Ya apapun bisa lah " jawab Syahril ketus.


"Kasian ya adek Abang." ledek bang Afnan namun tak di respon Syahril.


Sehabis Maghrib mereka semua berkumpul di ruang keluarga, Syahril heran melihat semua orang berpakaian rapi.


Bang Afnan, bang Afkar, serta Babah dan kakeknya mengenakan jas.


"Riil kamu pakai ini ya nak " ucap Umma dengan memberikan jas putih gading kepada Syahril.


"Apaan sih umma, ini kan hanya pertemuan bisnis biasa ngapain pakai jas-jas segala." ucap Syahril tidak terima apa lagi jas dirinya berbeda dengan yang lain.


"Ckk kau ini, justru karena bisnis ini sangat istimewa Riil," ucap bang Afnan.


"Istimewa apaan, palingan juga masalah kesejahteraan masyarakat serta karyawan." jawab Syahril.


"Ini bisnis untuk kelangsungan hidup dan masa depan Riil, terutama masa depan buat kamu." celetuk bang Afkar.


"Iya nak, percayalah setelah ini dan kalau bisnis ini berhasil maka masa depan mu akan cerah." sahut Babah dengan menepuk bahu sang anak.


"Sana ganti pakai set jas ini " ucap Umma, mau tak mau pun Syahril mengikuti kemauan umma dan keluarganya walau dia selalu menggerutu.


"Istimewa apaan, namanya bisnis ya tetap bisnis, ckk " ucapnya terus berjalan dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Sebagian keluarga Syahril telah pergi terlebih dahulu ke tempat acara. Mereka berharap di acara nanti acara nya berjalan dengan lancar.


Kakek dan nini serta bang Afnan dan anak istrinya sudah berangkat terlebih dahulu. tinggallah umma, Babah, Syahril serta bang Afkar yang belum berangkat.


"Dah siap?" tanya umma saat melihat sang anak telah turun dengan wajah cemberut.


"Acara apaan sih bah, sampe harus pakai jas segala." ucap Syahril.


"Kaki ini acaranya dengan para petinggi Riil, jadi wajarlah kalau kita pakai jas." sahut Afkar.

__ADS_1


Umma dan Babah duduk di kursi penumpang sedangkan Syahril duduk di kursi penumpang depan dan bang Afnan duduk di kursi kemudi.


Sepanjang jalan Syahril enggan menimpali cerita Babah serta bang Afkar. Sepanjang jalan Syahril hanya diam dan berkecamuk dengan pikirannya, sesekali Syahril menghelakan nafasnya dan terkadang dia juga menutupkan matanya.


Sepanjang jalan Syahril tak menghiraukan arah jalanan, dia hanya diam dan tetap menutupkan matanya dengan pikiran yang melalang buana.


**


"Dek, ayo di hias dulu." ucap yang satunya setelah mengeluarkan alat-alat make up nya dan dia pun mulai menghias wajah Mimi. Tak lama Ay masuk ke dalam kamar dan dia juga di hias oleh temannya yang menghias Mimi.


Mimi masih diam karena dia tidak tau buat apa semua ini. Dari dalam kamar Mimi mendengar riuhnya di luar, Mimi mendengar suara nyai, bicik dan bibi nya yang lain


"Ayu, ini acara apa dek?" tanya Mimi yang penasaran.


"Sudah, nanti juga tau." jawab Ay. Hampir satu jam berkecamuk dengan hatinya dan wajah Mimi pun sudah selesai di hias dan Mimi juga sudah mengenakan kebaya serta kepala Mimi juga dikenakan hijab beserta hiasan lain nya.


Mimi melihat pantulan dirinya di kaca dalam kamar Ay, Mimi terpana dengan pantulan dirinya sendiri. Terlihat cantik, anggun seperti hiasan pernikahan.


Saat Mimi memikirkan pernikahan Mimi tertegun.


"Tunggu apa maksudnya ini.." jawab Mimi namun Ay masih enggan menjawab bahkan Ay sibuk dengan camera hp nya untuk berselfie ria.


"Ayok yuk, kota ke kamar Ayuk kota selfie di sana." ucap Ay dengan menarik tangan Mimi.


Saat Mimi keluar kamar, Mimi terkejut dengan ke adaan rumahnya, keluarga nya juga sudah kumpul disana dengan memakai pakaian yang sama dengan Ay.


Mimi juga melihat rumah nya sudah di dekor sedemikian rupa, lalu Mimi berjalan menuju pintu keluar indahnya dan ternyata di luar sudah berdiri tenda dengan dekor yang simpel namun megah.


"Mi.." panggil emak. Mimi menoleh ke arah belakangnya, dimana emak berdiri di belakang Mimi dengan mengangguk kan kepala.


"Mak, apa ini semua.." ucap Mimi namun tercekat di lehernya


"Iya nak. Sudah kamu tunggu di dalam kamar mu saja ya." ucap Mimi. Mimi mengangguk namun sebelumnya Mimi memeluk emak dan menangis haru di dalam dekapan nya.


Tak hanya Mimi, semua keluarganya juga ikut menitikkan air mata haru. Nyai memeluk Mimi dan terus mencium kening serta kedua pipi Mimi.


"Berkat kesabaranmu Cong." ucap nyai, Mimi membalas pelukan nyai dan menangis dalam pelukan nyai.


"Sudah masuk lah kedalam kamar." ucap emak, Mimi pun masuk kedalam kamarnya dan ternyata kamarnya pun sudah di dekor sedemikian rupa layaknya kamar pengantin.


Tukang rias memperbaiki riasan Mimi yang terhapus oleh air mata harunya. Setelah itu Mimi dan Ay berselfi ria dalam kamar pengantin.


Syahril yang baru sampai tujuan, masih dengan diamnya dan belum mengetahui dimana dia berada saat ini. Hanya disaat di jalanan dia merasa tak asing dengan rute jalanan yang dia lewati, walau dengan mata terpejam dia hafal kemana rute jalan itu berlalu.


"Ayo Riil, turun." ucap bang Afkar yang sudah berada di pintu samping Syahril dan membukakan pintu tersebut.


Syahril yang matanya terpejam akhirnya membukakan matanya.


"Emm dah sampe?" tanya Syahril acuh.


Syahril melihat juga keadaan sekitar tidak begitu terang dan dia melihat kalau mobil yang mereka parkir di depan rumah orang yang mirip rumah tetangga Mimi.


"Ayok." ajak Babah.


"Emm tunggu Bah, ini dimana? kenapa ini kayak ru mah.." ucap Syahril terbata dan terpotong oleh bang Afkar


"Udah ayok, kelamaan mikir keburu di embat orang." ujarnya dengan menarik lengan Syahril.


Syahril masih dalam tercengangnya dan belum mengerti dengan semua ini.


"Bah." panggil Syahril, Babah dan umma berhenti.


Umma memakai kan kain kepada Syahril, cuma memakainya setengahnya saja atau hanya sebatas atas lutut saja tak lupa umma juga memakai kan peci berwarna senada dengan jas yang dipakai Syahril dan di peci itu sudah di sematkan hiasan Bros.


"Umma ini.." ucap Syahrill tercekat tak tau kenapa hatinya merasa sesak ingi. segera dia luapkan.


"Sudah, ayo. Semoga kamu lancar ya." ucap Umma.


"Kalau ndak lancar emang udah takdirnya umma." ledek bang Afkar.


"Jadi ini.." ucap Syahril lagi tak mampu untuk berkata, di lihatnya tenda berdekor indah dengan lampu yang terang benderang menerangi nya.


Syahril berjalan di apit oleh Babah dan ummanya.


"Ya Allah aku tidak sedang bermimpikan." ucap Syahril.


"Plaak, sakit ndak." ucap bang Afkar yang menampar bahu sang adik.


"Aww ssst abaaang." teriak Syahril,.


"Woyy jaga tuh mulut teriak-teriak." ucap bang Afnan yang sudah ada dekat dengan Syahril.


"Ayo kita masuk, kita sudah di tunggu sama yang lain." ucap bang Afnan.


"Ayah Brata" ucap Syahril ketika melihat ayah Brata keluar dari rumah sebelah rumah Mimi.


"Iya nak, selamat ya." ucap ayah Brata dengan memeluk Syahril.


"Jangan ucapin selamat dulu Yah, belum tentu dia bisa melewati nya nanti." ujar Ryan yang ternyata sudah ada di sana begitu pula dengan rekan kerja yang lain.


"Iya juga Yan, sudah hafal belum? jangan sampe karena Ndak hafal langsung batal beneran." ucap ayah Brata


"Hahahaha" semua tertawa, sedangkan Syahril hanya menggaruk belakang kepalanya. Mereka pun bersama-sama masuk kedalam rumah Mimi.


Berulang kali Syahril menarik nafasnya, acara pun segera di mulai dari pembukaan, pembacaan Alquran dan lain sebagainya setelah itu barulah ke acara intinya.

__ADS_1


"Bagaimana nih nak Syahril apa sudah siap?" tanya sang penghulu.


"Siap pak." ucap Syahril dengan lantang dan tegas.


Hahahaha semua orang tertawa, lagi-lagi Syahril tertunduk malu.


"Wah ternyata mempelai pria nya sudah tidak sabar nih bapak-bapak ibu-ibu." seloroh pak penghulu.


Setelah berseloroh oak penghulu juga menyampaikan tentang pernikahan dan setelah itu barulah pak penghulu akan mengucapkan ijab kepada sang mempelai laki-laki.


"Sudah siap ya nak" ucap pak penghulu sekali lagi.


"Siap pak." jawab Syahril.


"Namun sebelumnya saya beritahukan, pak Humayun meminta kepada saya untuk mewakilkan beliau untuk menikahkan ananda Mimi akifah kepada ananda Syahril."


"Maka dari itu saya yang akan menikahkan Ananda dari pak Humayun kepada ananda Syahril."


"Kita mulai ya." ucap pak penghulu lagi


"“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Ahmad Syahril Alaydrus bin Syahrief zikrri Alaydrus dengan anak saya yang bernama Mimi Akifah binti Ahmad Humayun dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat beserta seperangkat perhiasan 500gram Tunai.”


Saya terima nikahnya dan kawinnya Mimi Akifah binti Ahmad Humayun dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.”


"Bagaimana para saksi." tanya pak penghulu.


"Sah"


"Sah"


"Sah"


""Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin" ucap pak penghulu dan para tamu undangan yang hadir.


ummi Parida menjemput Mimi di dalam kamarnya, Mimi keluar dengan di apit ummi Parida dan emak, Syahril membalikkan badannya dan melihat ke arah gadis yang telah membuatnya kecewa sebelumnya namun kini sudah berubah status menjadi istri nya.


Tetesan air mata tak luput jatuh di pipi Syahril yang merasa haru, akhirnya apa yang dia inginkan terkabulkan. Dengan cepat Syahril menghapus air mata nya saat Mimi telah berada di sampingnya.


Syahril menyematkan cincin bermata berlian di jari manis Mimi, cincin itu telah di persiapkan umma jauh-jauh hari.


Setelah saling menyematkan cincin, Mimi menyalami Syahril dan menciumi punggung tangan sang pujaan kekasih yang telah menjadi suaminya itu.


Syahril memegang kepala Mimi tepatnya ubun-ubun Mimi sembari membaca doa.


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."


Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.


Setelah membaca do'a tersebut Syahril mengecup kening Mimi dengan sangat lama dengan mata tertutup.


Dada nya tak henti berdegub dengan kencangnya, Kekecewaannya kini terbalaskan dengan keharuan,.


"Ehemmm lebih baik kecupannya di lanjutkan nanti saja ya nak Syahril." ucap pak penghulu sontak Syahril membuka matanya dan menjauh dari kening Mimi dengan rasa malu yang tak tertahankan.


Acara ijab kabul telah selesai, pembacaan tahlik pernikahan serta nasehat-nasehat oernikah telah di ucapkan.


Para tamu undangan juga telah menyantap hidangan yang telah disediakan.


Syahril menatap Babah dan umma nya tapi kedua orang tuanya acuh dan tak menghiraukan dirinya.


Sedangkan gadis yang telah menjadi istrinya sudah di larikan oleh sahabat-sahabat nya.


"Ckk" gumam Syahril.


''Kenapa bro?" Tanya Andri yangvte nyata juga sudah berada di Jambi.


"Kapan kalian pulang nya?'' ucap Syahril yang merasa waktu begitu lamban, Syahril berulang kali melihat jam di dinding tapi belum ada dari pihak keluarga nya pulang, padahal tamu undangan sudah lada pulang sedari tadi.


"Halaah emang mau ngapain Lo." ucap Rendi.


"Menurut Lo." jawab Syahril.


"Kita-kita malam ini nginap dimari bro." Sahut Rudi.


"Apaaa!!" seru Syahril.


"Kenapa Lo, nggak senang." ucap Rudi dengan senyum smirk nya.


"Serah." ucap Syahril.


"Tapi setidaknya tuh panggil istri-istri Lo pada kek, suruh mereka istirahat gitu." ucap Syahril.


"Mereka lama nggak ketemu bro, ya biarin lah." ucap Arfan.


"Hmm" ucap Syahril cemberut. Tak lama umma dan rombongan para orang tua pamit, ayah Brata juga kaan kembali ke hotel. Namun sebelumnya Ayah Brata juga pamit sama Mimi, Mimi keluar kamar dengan pakaian gamis biasa yah Mimi telah berganti pakaian.


Mata Syahril tak lepas melihat ke arah sang istri, namun apalah daya sang istri telah di sandera oleh para sahabatnya, begitu pula dirinya juga tersandera oleh sepupu dan sahabatnya.


"Hmm. pasti ada yang nyesel nih cutinya tak jadi di ambil." sindir Ryan.


"Hahahaa, " semua tertawa.


"Sialan Lo" ucap Syahril, yah apa yang dikatakan Ryan ada bentuknya karena dia tak jadi mengambil cutinya karena dia sangka tidak akan terjadi pernikahan dalam waktu dekat ini


tbc

__ADS_1


__ADS_2