DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
141


__ADS_3

Malam ini kami semua tidur di rumah kak Syahril, kak Rudi dan kak Rani tidur di kamar tamu yang baru di buat oleh Babah. Awal kak Rani ingin tidur berasama Mimi kedua teman Mimi, namyn Mimi menolaknya karwna taj enak dengan kak Rudi.


Sahur bersama di keluarga kak Syahril ini ketiga kali nya mimi sahur di rumah kak Syahril namun pertama kali sahur bersama dengan keluarga kak Syahril yang lengkap.


Mimk merasa sangat bahagia masuk kedalam keluarga ini, keluarga yang terasa adem dan keluarga yang bisa merangkul semua tanpa melihat jenjang status sosial.


Sehabis sahur kami mengobrol dan bersenda gurau bersama menjelang subuh tiba.


"Mimi jadi pulang hari ini?" tanya Umma.


"Jadi Umma." jawab Mimi dengan tersenyum.


"Jam berapa rencananya?" Babah menimpali.


"Emm, Mimi belum tau Umma tergantung kak Syahrilnya." jawab Umma.


"Rencana jam berapa Riil?" Babah balik menanyai kak Syahril.


"Em Aril terserah Mimi saja Bah." jawabnya dengan terus melihat ke ponselnya.


"Kalian ini," jawa Babah dan membuat mimi merasa tak enak hati.


"Emm Wi, maunya jam berapa?" tanya Mimi ke Dewi yang berada di sampingnya.


"Dewi ngikut aja Mi, toh Dewi numoang disini hehhee." jawab Dewi.


"Drian.. Kamu serius dengan yang kamu omongkan semalam?" tanya Babah kepada kak Adrian mengenai ungkapannya semalam.


"Serius Bah, makanya Adrian nanti sekalian ke rumah Dewi kenalan sama orang tuanya." jawab kak Adrian serius.


"Bang Afnan sama bang Afkar jadinikut kan?" tanya kak Adrian kepada bang Afnan dan bang Afkar.


"Jadi" jawab mereka berdua serentak.


Ya yang Afnan dan bang Afkar akan ikut mengantar Mimi bersama yang lain, selain karena penasaran akan suasana desa Mimi mereka juga ingin melihat secara langsung orang menangkap udang di daerah Mimi.


Mimi sudah mengatakan kalau disana waktu memasangbblad tergantung pada air nya, karena di tempat Mimi air nya pasang surut dan waktu tak bisa ditentukan.


Tak hanya bang Afnan dan bang Afkar yang akan ikut dua pasang pengantin baru lama setahun pun akan ikut.


Awal kedua orang tua mereka tak mengizinkan mengingat kondisi mereka namun karena mereka mendesak akhirnya dizinkan dengan berqlasan agar anak mereka bisa melupakan masalah yang telah terjadi.


Sesuai dengan kesepakatan akhirnya kami memutuskan akan berangkat jam sepuluh pagi dan karena waktu subuh akan segera tiba dengan ditandai suara orang mengaji di masjid para kaum adam bersiap pergi kemasjid untuk sholat berjamaah di masjid dannkami yang kaum hawa sholat di rumah saja.


Sehabis sholat subuh kami jalan-jalan pagi. Waktunyang digemarinoqra muda mudi dijambi di bulan suci ramadhan ini, para muda mudi akan jalan-jalan pagi sehabis sholat subuh.


Mimi, Di'ah dan Dewi sekaliam berpamitan kepada Babah dan Umma karena Mimi bertiga akan sekalian pulang kerumah karena jarak kampung Mimi dengan kampung kak Syahril hanya bersebelahan dan hanya memakan wakru kurang lebih 15 hungga 20 menit jalan kaki.


Awalnya Babah dan Umma tak mengizinkan Mimi pulang dulu tapi Mimi memberikan alasan kalau Mimi pagi akan membantu bicik nya membereskan rumah dan Mimi juga akan mebereskan pakaian yang akan di bawanya pulang.


Dan pada akhirnya mereka pun mengizinkan dan sebelum Mimi pulang Umma dan Babah bertanya dimana Mimi akan merayakan hari raya.


"oh ya nak, Mimi hari raya dimana tahun ini?'' tanya Umma.


"Iya nak, Mimi dan keluarga akan merayakan hari raya dimana?" tanya Babah.


"Insya Allah hari raya tahun ini Mimi dan kelkeluarga akan ber hari raya di jambi Bah, Umma." jawab Mimi.


"Alhamdulillah Bah, hari raya tahun ini kita kumpul semua." ucap Umma antusias, teeluhat rona bahagia di raut wajahnya.


"Iya Umma, Alhamdulillah." jawab Babah yang juga bahagia. Mimi melihat mereka bahagia juga ikut bahagia walau Mimi tidak mengetahui maksud mereka bicara seperti itu.


Setelah berbicara dengan umma dan babah Mimi dan yang lain pun pamit.


"Babah, Umma Mimi pulang dulu." pamit Mimi dengan menyalami tangan mereka.


"Babah, Umma Dewi pamit pulang, makasih." ucap Dewi dan menyelami mereka berdua.


"Bah, Umma Di'ah pulang dulu ya, makasih." ucap Di'ah.


"Iya hati-hati, kenapa nggak pagi aja pulangnya." ucap Umma.


"Sekalian jalan subuh Umma hehe." jawab Mimi.


"Yaudah hati-hati jangan macam-macam, jaga jarak." ucap Babah.


"Emang mau ngapain Bah." jawab Kak Syahril.


"Ya mana tau tangan nya gratilan, ingat puasa." tegur Babah.

__ADS_1


"Iya, iya." jawab kak Syahril. "Yaudah kami jalan dulu." pamit kak Syahril.


"Assalamualaikum." jawab kami semua.


"Waalaikum salam." jawab mereka berdua dan kami pun mulai jalan.


Dua puluh menit kemudian Mimi pun sampai di rumah, Di'ah langsung pulang kerumahnya dan para bodyguard Mimi mampir sejenak dirumah Mimi dan setelah itu merekapun pamit.


Setelah mereka pulang Mimi segera membersihkan rumah dibantu oleh Dewi dan sehabis beberes rumah Mimi mencuci pakaian nya yang kotor dan Mimi pun segera mandi dan setelah itu bersiap-siap.


Begitu pula Dewi dia pun ikut bersihkan diri dan dia juga membereskan barang-barangnya.


Tepat jam sembilan rombongan kak Syahril tiba dan setelah mereka sampaikak Syahril membantu Mimi memasukkan barang-barang ke dalam bagasi.


Mimi tidak banyak bawa pakaian, karena Mimi juga akan kembalinke jambi lagi di hari raya berserta kedua orangtua bya dan Ay.


Kami berangkat ke desa Mimi menggunakan tiga mobil yang mana


Mimi Ari, Nyai naik mobil bersama kak Syahril beserta bang Afnan dan bang Afkar


Kak Ryan dan kak Rendi beserta kak Andri dan Dewi sedang kak Rudi, kak rani satu mobil bersama kak Arfan dan kak Siska.


Karena Nyai ikut maka Mimi duduk di bangku penumpang belakang supir. Bang Afnan duduk di depan bersama kak Syahril dan paling belakang Ari bersama bang Afkar.


Dua jam setengah perjalanan kami pun sampai di rumah Mimi. Capek itu pasti kami rasakan, apa lagi cuaca hari ini sangat amat cerah dan terik.


Sesampainya di perkarangan rumah dan keluar dari mobil terlihat semua orang lanhsung mwrenggangkam otot otot mereka.


''Ach akhirnya sampai juga." ucap kak ryan sambil merenggangkan ototnya dengan cara mengangkat serta di tautkan kedua tangannya dan di tarik ke atas.


"Hemmm terik nya cuaca hari ini. Enaknya langsung mandi di sumur segerrrr." sahut Kak Rudi dengan membengkokkan badannya ke kiri dan ke kanan.


"Betul tuh Rud, kangen mandi di sumur gua." sahut kak Arfan.


Mimi melihat mereka hanya tersenyum, bang Arfan dan bang Afkar melihat keadaan perkarangan rumah seketika mata mereka melihat ada kolam.


"Wah ada kolam ikan." Seru bang Afkar dan bang Afnan pun mengikuti bang Afkar menuju kolam ikan.


"Ini ikan apa aja Mi?" tanya bang Afnan.


"Ikan Nila, patin dan lele bang." Kak Syahril menjawab pertayaan bang Afnan.


"Wah enak nih buat ikan bakar." ucap bang Afkar sambil membayangkan ikan bakar dimakan pakai sambal terasi. ( awas ngences nyar puasanya batal )


Bang Afnan yang melihat reaksi adiknya yang dijahili sepupunya hanya menggelengkan kepalanya.


"Ck kau nih Ndri,." ucap bang Afkar setwlah sadar telah dijahili jak Andri dan jami pun ketawa.


Nyai telah maauk twrlwbih dahulu, mimi dan kak Syahril menurunkan tas-tas dan dibawa masuk kedalam rumah.


Emak dan bapak sangat senang menyambut kami karena rumahnya menjadi ramai, dan kami semua beristirahat sebentar sampai adzan dzhuur terdengar berkumandang dengan merdunya.


Karena cuaca yang terik dan peluh pu membasahi tubuh dan membuat badan terasa gerah kak Rudi mengajak yang lain untuk mandi di sumur dan sekalian berwudhu di sana.


Semua pun menyetujuinya dan mereka semua menuju ke sumur tak lupa pula peralatan mandi mereka pun bawa.


Bang Afnan dan bang Afkar pun ikut serta, seperti sebelumnya jika mereka mandi di sumur mereka lupa akan waktu sehingga satu jam mereka berada di sumur, itupun ditegur oleh bapak karena mengingat mereka belum shikat dzuhur.


Di pulau jawa Dillah di telpon oleh orang tuanya khususnya sang ayah, namun ketika itu dia sedang meeting membahas tentang bimbel yang diselenggarakan oleh pihak kampus bersama para dekan dan rektor.


Karena ponselnya di off kan selama meeting tadi maka Dillah tak mengetahui jika sang ayah sudah berkali-kali menelponnya.


Setelah pembahasan selesai Dillah tak langsung mengaktifkan ponselnya melainkan dia melanjutkan pembahasan tersebut kepada teamnya untuk langkah selanjutnya bagi peserta bimbel yang lolos kentahao sebagai mahasiswa undangan di universitas ini.


Dari pembahasan keoada para dekan dan rektor bimbel tahap tiga tahun ini nilai-nilai peserta bersaing dan banyak yang terpilih dari tahun-tahun sebelumnya.


Ditahun ini ada lima ratus lima puluh peserta dari seribu peserta yang mengikuti bimbel ini di seluruh indonesia yang layak mendapatkan peluang sebagai mahasiswa undangan sementara.


Dari keputusan para dekan dan rektor untuk tahap akhir lima ratus lima puluh peserta ini akan dikirim modul penentuan sebagai mahasiswa undangan plus beasiswa atau mahasiswa undangan tanpa tes saja.


Dillah dan team juga telah membuat soal-soal yang khusus diberikan oleh para dekan dan para rektor buat tes tahap akhir ini dan mereka juga telah disibukkan membuat paket tersebut agar di kirim segera.


Karena soal-soal tes penentuan tersebut sudah jauh hari di ketik maka saat ini mereka hanya merevisi ulang dan setelah itu mereka melaporkan kepada para dekan dan para rektor terkait untuk mendapatkan perizinan agarbbisa segera dikirim kepada para peserta.


Selama dua minggu menjelang ramadhan mereka merevisi ulang soal-soal buat para peserta dan setelah di setujui oleh para rektor terkait maka mereka pun segera mengirim paket tersebut kepada para peserta seluruh indonesia.


Setelah semua beres dan telah terkirim sesuai dengan alamat masing-masing peserta maka mereka untuk selama bukan ramadhan tak ada kegiatan tentangbl soal-soal bimbel.


Semenjak meeting pembahasan itu barukah Dillah menghubungi balik sang ayah, Dillah tau lenapa sang ayah menelponya pasti berujung menyuruh dirinya untuk pulang.

__ADS_1


Dillah sebenarnya enggan untuk menelpon sang ayahnya ditambah karena telah lama Dillah tak pulang-pulang semenjak dia konflik kepada ibunya


Walaupun berkali-kali sang ibu maupun sang ayahnya meminta dirinya pulang namun Dillah tak pernah mengabulkannya dan akhirnya kedua orang tuanya lah yang mendatanginya.


Bukan niat Dillah membenci ataupun menjadi anak tak tau diri yang tak menghormati orang tuanya. Namun dirinya hanya ingin menghindar dari ketidak hormatannya maka lebih baik dia tak bertemu kepada kedua orang tuanya terutama sang ibu.


Tapi kali ini dia berencana akan mencoba pulang selain sebenarnya dia juga merindukan kedua orang tuanya, bulan ini juga merupakan bulan ramadhan yang barokah.


Saat sang ayah menelponnya dia pun mengatakan di bukan ramadhan ini dia akan pulang tepat dua minggu sebelum hari raya.


Tepat dua minggu ramadhan Dillah pun pulang ke kediaman orang tuanya di kota sebelah dnlan kebetulan rumahnyansatunkoya dejgan Reno dan Bryan maka mereka bertiga puoang bersama.


Beberapa jam kemudian mereka pun sampai di kota kelahiran mereka, tapi bagi Dillah ini bukanlah tanah kelahirannya.


Yah Dillah lahir di kota pelajar, ketika usianya dua setengah tahun kedua orang tuanya pindah di kota surabaya ini.


Dan semenjak lulus dari SMA Dillah memilih berkuliah di kota semarang dan dia juga mulai merintis usaha bersama sahabatnya di kota semarang ini hingga kini mereka meraih keberhasilan.


Dillah pergi merantau disini bermodal nekat dan bermodal tabungan dari uang jajannya selama sekolah larena kedua orangtuanya tak menyetujui dirinya berkuliah di semarang.


Sesampainya di rumah, Dillah masuk ke gerbang rumahnya dan dari gerbang dirinya melihat kedua orangtuanya sedang duduk santai di taman yang berada di depan rumah.


Kedatangan Dillah di sambut haru oleh kedua orang tuanya karena mereka merindukannya. Dillah anak tunggal dikeluarganya.


"Assalamualaikum." ucap Dillah setelah turun darinmobilnya dan mendekati kedua orang tuanya yang telah berdiri di ambang pintu.


"Waalaikum salam, akhirnya anakku pulang." jawab sang ibu langsung memeluk sang anak dengan deraiam air mata.


"Apa kabar nak?" tanya sang ayah dengan menyambut dirinya kedalam pelukannya.


"Alhamdulillah baik pi. Papi sama mami apa kabar?" jawab Dillah dengan membalas pelukan sang ayah dan bertanya kabar kedua orangtua nya.


"Alhamdulillah papi dan mami juga sehat, ayo kita masuk." ucap sang ayah dan mengajak dirinya masuk.


"Gimana dengan kuliahmu?" tanya sang ibu dengan menggandeng sang anak dan berjalan beriringan menuju masuk ke ruang keluarga.


"Alhamdulillah baik dan lancar mi." jawabnya.


"Beristirahatlah dulu nak, pasti dirimu capek." ucap sang ayah dan Dilkah hanya swnyum dan menganggukan kepalanya.


''Iya pi, kalau gitu Dillah ke kamar dulu mi pi,'' izinnya dan melangkahkan kaki naik kelantai dua dimana disana kamarnya berada.


"Alhamdulillah ya pi, Dillah puasa ini bisa pulang." ucap sang ibu.


"Iya mi Alhamdulillah. Tapi papi harap mami tidak lagi membuat rencana-rencana yang membuat Dillah tak ingin ouoang lagi." ucap sang ayah mengingatkan si ibu.


"Ah papi, mami begitukan buat kebaikan Dillah dan perusahaan kita." jawabnya.


"Mi, papi mohon jangan ikut campur urusan Dillah." ucao sang ayah daneninggalkan sang ibu sendiri di ruang keluarga.


"Ah senangnya anak lanangku pulang, emm aku mau suruh si mbok untuk buatkan masakan kesukaannya dulu." ucap sang ibu senang dan berlalu menuju dapur.


Sesampainya di dapur si ibu langsung meminta si mbok untuk memasakkan kesukaan sang anak.


"Mbok, tolong buatkan makanan kesukaan anakku Dillah ya." ucap si nyonya.


"Baik nya, apa den Dillah sudah pulang?" tamya si mbok.


"Sudah mbok, sekarangbdia lagi istirahat." jawab sang nyonya.


"Oh gitu, baiknya kalau gitu saya buatkan masakan kesukaan den Dillah." ucap simbol dan si nyonya berlalu ke kamarnya menemui sang suami.


Kira-kira masakan apa yang di sukai Dillah ya?


...***TBC***...


Assalamualaikum Alhamdulillah bisa update kembali DOKTER JANTUNGKU, mohon maaf kalau terdapat typo bertebaran.


Semoga DOKTER JANTUNGKU selalu dinanti oleh para ridernya.


Jangan lupa terus beri dukungannya dan tinggalkan jejaknya berupa


FAVORITE


RATE


VOTE


LIKE

__ADS_1


KOMEN


...TERIMAKASIH...


__ADS_2