DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
cerita Mimi siapa orang tua si twins


__ADS_3

Baby twins telah terlelap, Mimi dan Syahril pun keluar dari kamar Baby twins setelah mengecek keamanan buat Baby twins telah terpasang.


Sesampainya di dalam kamar, Syahril langsung memeluk Mimi erat bahkan dia langsung menggendong Mimi menuju kasur mereka.


"Eh kak.." ucap Mimi kala Syahril yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Karena takut jatuh Mimi pun langsung mengalungkan kedua tangannya dileher Syahril.


"Kangen yang" ucap Syahril sambil menciumi telinga Mimi. mimi merasa ada aliran yang tak bisa di ungkapkan nya pada saat Syahril terus menciumi telinganya, antara geli dan emm entahlah yang pasti membuat jantung Mimi berdetak lebih cepat.


Syahril menduduki Mimi di atas kasur secara perlahan dengan bibir yang tak berhenti untuk menyambar apa saja yang berada di wajah Mimi.


"Kak" ucap Mimi dengan tangan sedikit mendorong tubuh Syahril karena Mimi merasa dirinya pun sudah terbakar oleh gelora nafs*.


"Mimi mau bersih-bersih dulu." ucap Mimi lagi di saat Syahril melonggarkan pelukannya. Mimi langsung bangkit dan berjalan cepat menuju kamar mandi.


Syahril yang melihat gelagat Mimi yang masih malu-malu tapi mau hanya tersenyum. Tak lama dia pun mengikuti jejak Mimi masuk ke dalam kamar mandi.


"Eh kak" ucap Mimi kala Syahril telah berada di belakangnya. Tanpa kata-kata Syahril mengecup pundak Mimi.


Syahril dan Mimi telah selesai sikat gigi dan membersihkan wajah mereka.


"Dek jangan lupa berwudhu" ucap Syahril mengingatkan Mimi.


"Iya" jawab Mimi.


Setelah berwudhu mereka berdua keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar.


"Kita sholat isya dan sholat Sunnah dulu ya dek" ucap Syahril, Mimi mengangguk dan langsung mengambil peralatan sholatnya.


Mimi membentang kan sajadah di bagian depan untuk Syahril dan untuk dirinya di bagian belakang. Ini kali kedua Mimi sholat di imami oleh Syahril sela pernikahan mereka.


Sholat wajib dan sholat Sunnah pun telah mereka berdua jalani, Mimi mencium telapak serta punggung tangan Syahril sedangkan Syahril mencium kening serta ubun-ubun Mimi dengan membaca serangkaian do'a.


Setelah membaca do'a di ubun-ubun Mimi, Syahril menangkup wajah Mimi dengan kedua tangannya dan Syahril langsung melayangkan kecupan-kecupan di seluruh wajah Mimi dari kening kedua mata, kedua pipi, hidung dan terakhir bibir yang membuatnya ketagihan.


"Boleh ya dek?" ucap nya dengan deru nafas dan menatap Mimi dengan mata yang berkabut penuh nafs*. Mimi mengangguk menanda kan mengizinkan sang suami untuk mengambil hak nya.


Syahril perlahan membuka mukena Mimi dan saat mukena terbuka maka tergerai pula rambut hitam panjang Mimi. Setelah semua terbuka Syahril langsung mengangkat Mimi menuju tempat peraduannya.


Satu persatu dari seluruh yang ada di tubuh Mimi tak terlewati oleh serangan Syahril. Bahkan tak ada lagi seutas benang di tubuh mereka berdua, Syahril menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka yang tak berbenang lagi, di saat gelombang arus sengatan akan di labuhkan segera tak lupa Syahril membaca do'a agar mereka di berikan dzuriat yang Soleh dan Sholeha.


Dengan pelan dan penuh penghayatan Syahril luncurkan rudal nya menuju sarang yang telah lama di nantikan nya. Awal peluncuran tak berjalan mulus namun setelah semua menembus maka rintangan yang ada menjadi mulus hingga memakan waktu yang tak bisa di duga nya.


Ada rasa bangga di hati mereka berdua, Syahril bangga terhadap Mimi karena Mimi selalu menjaga mahkota nya hanya untuk dirinya dan begitu pula Mimi dia bangga kepada Syahril yang bisa menjalankan perannya dengan lembut walau dirinya sedang dalam pengaruh nafs* yang menggelora.


Baru beberapa jam mereka tertidur, adzan subuh dari hp pun berbunyi, Mimi menggeliat dan perlahan membuka matanya.


Mimi tersenyum dalam dekapan Syahril, ya sepanjang malam sehabis pertempuran Mimi tidur dalam dekapan Syahril.


Mimi melihat wajah Syahril, bahkan semenjak kapan tangannya pun ikut meneliti setiap jengkal wajah Syahril. Di saat tangan Mimi menggerilya di bagian bibir Syahril, Syahril membuka mulutnya dan tangan Mimi pun masuk kedalam mulutnya.


"Ih kakak" ucap Mimi.


"Dah puas mandanginya hmm" ucap Syahril dengan sorot mata teduhnya.


"Emm tidak pernah puas" ucap Mimi dengan senyuman. Syahril langsung menciumi seluruh wajah Mimi yang mungkin akan menjadi rutinitas nya di setiap bangun tidur.


"Em ayok bangun, dah subuh." ucap Mimi yang sudah beranjak.


Mimi langsung berdiri, beruntung setelah aktifitas semalam Syahril langsung memakaikan pakaikan kurang bahan Mimi.


"Nggak apa-apa dek?" tanya Mimi, Mimi menoleh ke Syahril dengan menautkan kedua alisnya.


"Emang kenapa?" tanya Mimi.


"Ya emang nggak sakit buat jalan?" tanya Syahril, Mimi hanya tersenyum.


"Nggak, pasti kakak lebih tau cara nya." ucap Mimi.


"Hmm ya mana tau kan perlu bantuan gitu." ucap Syahril.


"Hahaha nggak lah, sakit sih tapi nggak sakit-sakit benar masih bisa kok buat jalan. Udah ah Mimi mau mandi dulu." ucap Mimi yang langsung berjalan menuju kamar mandi.


"Eh tunggu, mandi berdua dek." ucap Syahril namun tak Mimi gubris, Mimi langsung masuk kedalam kamar mandi.


Syahril langsung beranjak dari atas kasur, di singkapnya selimut dan saat Syahril menyingkap selimut terbitlah senyuman lebarnya ketika melihat bercak merah di alas kasur.


"Terimakasih sayang, kau selalu menjaga nya" ucap Syahril dan setelah itu dia membuat alas kasur tersebut dan di lipatnya setelah itu disingkirkannya. ternyata tak hanya ada di alas kasur namun noda itu juga tembus ke kasur juga.


"Ah nanti saja beresin ini" ucap Syahril menunda membereskan kasurnya dan dia pun langsung berjalan menuju kamar mandi.


Syahril dan Mimi keluar berdua dari kamar mandi, tak lupa mereka berdua juga langsung melaksanakan kewajiban mereka kepada sang khalik.

__ADS_1


"Dek, kerja hari ini?" tanya Syahril ketika mereka telah selesai sholat.


"Iya kak, ada jadwal operasi hari ini." jawab Mimi sembari melipat peralatan sholat mereka dan meletakkannya ke tempatnya.


"Kok masih kerja dek?" tanya Syahril.


"Emm, iya maaf kak. Kan kakak kemarin bilang lusa baru ke sini jadi untuk dua hari ini Mimi masih ada jadwal. Maaf ya." ucap Mimi dengan mencium bibir Syahril.


"Emm yaudah, nanti kakak juga mau ke rumah sakit." ucapnya dan Mimi hanya mengangguk.


"Oh ya dek, adek belum cerita tentang mendiang orangtua baby twins." ucap Syahril.


"Emm orang tua baby twins ya kita kak" ucap Mimi.


"Iya maksudnya orangtua kandungnya." jawab Syahril yang juga ikut duduk di samping Mimi.


"Oh ya dek, kalau di lihat-lihat baby twins wajah nya mirip benar ya dengan bang Alzam." ucap Syahril dengan merangkul pinggang Mimi dan sedangkan kepala Mimi berada di dada nya.


"Iya kak, wajah mereka sangat mirip dengan mas Abi." jawab Mimi.


"Waktu adek bertemu orang tuanya apa ada salah satu wajah mereka mirip Baby twins?" ucap Syahril. Mimi terdiam berusaha mengingat-ingat.


"Baby twins mirip dengan wajah ibu nya." ucap Mimi dengan masih mencoba mengingat.


"Emm iya wajah Baby twins mirip dengan wajah ibunya kak." ucap Mimi lagi.


"Apa adek ada foto mereka? maksud kakak foto orang tua Baby twins?" tanya Syahril lagi dan Mimi mengangguk.


"Bentar" ucap Mimi dan mengambil ponselnya dan segera membuka galeri yang mana tersimpan foto wajah kedua orangtuanya baby twins saat pertama dan terakhir Mimi bertemu.


"Ini kak" ucap Mimi dengan menunjukkan foto yang berada di ponselnya.


Syahril melihat-lihat foto serta beberapa video di galeri ponsel Mimi.


"Nama ibu itu adalah Azzahra Rahimah sedangkan suaminya Syamir tapi di panggil Amir." Mimi memulai menerangkan siapa yang berada di galeri ponsel yang sedang di lihat Syahril.


"Apa kakak ingat dengan seorang ibu yang datang untuk pemeriksaan kehamilan sama kakak dan kakak memberikan kartu nama kakak sama si ibu itu dan kakak menganjurkan kepada si ibu untuk mengurus surat keterangan tidak mampu di management rumah sakit?" ucap Mimi, Syahril mencoba mengingat-ingat.


"Waktu itu usia kehamilan si ibu baru memasuki usia 16 Minggu." sambung Mimi.


"Hmm" gumam Syahril sambil terus mengingat.


"Tapi kalau tidak salah nama ibu itu bukan Azzahra dan suaminya juga bukan Amir." ucap Syahril setelah dia teringat saat ada sepasang suami istri yang sedang memeriksakan kehamilan.


"Terus bagaimana bisa dia bisa ketemu sama adek?" tanya Mimi. Mimi tersenyum dan akhirnya pun menceritakan kejadian dan siapa serta bagaimana suami istri itu memberikan hak asuh anak kembarnya kepada Mimi dan Syahril.


Flasback on


Sewaktu Mimi liburan tempo hari dan Syahril serta keluarga telah merencanakan pernikahan mereka namun pernikahan tersebut di percepat karena Mimi mendapatkan pemberitahuan dari kampusnya untuk segera menyelesaikan administrasi untuk ujian Disertasi nya.


Pernikahan Mimi pun di lakukan ijab Qabul ya di malam sebelum keberangkatan Mimi.


Singkat cerita Mimi pulang ke negeri Paman Syam tersebut seorang diri, sesampainya di negeri orang ini Mimi langsung melengkapi administrasi untuk ujiannya dan setelah semua urusan kampus selesai Mimi pergi ke rumah sakit untuk mengecek pekerjaan nya.


Di dalam lift Mimi bertemu dengan dokter Angel salah satu dokter kandungan di rumah sakit Abidzar.


"Hai Mi, pa kabar nih pengantin baru?" ucap dokter Angela.


"Hai kak, Alhamdulillah baik. Kakak apa kabar?" jawab Mimi dan kembali menanyakan kabar dokter Angela.


"Ya seperti yang kau lihat. Emm Mi, kau pulang sendiri atau bersama Syahril?" tanya dokter Angela.


"Sendiri kak, kak Syahril belum bisa libur." jawab Mimi.


"Ada apa kak? ada terjadi sesuatu kah?" tanya Mimi.


"Emm gimana ya.." ucap dokter Angela ragu untuk menyampaikan.


"Ada apa?" tanya Mimi.


"Emm sebelumnya aku minta maaf ya Mi. Emm begini, sebenarnya ini sudah dari bulan-bulan kemarin sih." ucapnya yang masih menggantung dan Mimi masih diam menunggu cerita selanjutnya.


"Emm begini Mi, beberapa bulan ini ada seorang ibu yang hamil selalu menanyakan Syahril" ucap dokter Angela.


"Nanya kak Syahril?" ucap Mimi.


"Iya Mi, sampai terkahir kemarin dia periksa masih menanyakan keberadaan Syahril." ucap dokter Angela.


"Emang siapa kak?" tanya Mimi.


"Emm namanya sama dengan nama kamu Mi, nama ibu itu Mimi Akifah." ucap dokter Angela. Mimi terdiam entah mengapa perasaan menjadi tidak karuan.

__ADS_1


"Ada apa ini" ucap Mimi dalam hati.


"Mi, are you oke!!" ucap dokter Angela, Mimi masih terdiam larut dengan perasaan nya yang tidak menentu itu sehingga suara denting lift pun terdengar.


"Mi, Mimi" ucap dokter Angela dengan mengguncang tubuh Mimi.


"Eh emm iya kak, eh dah sampai ya." ucap Mimi tergagap, Mimi pun segera keluar dari lift.


"Mi.." panggil dokter Angela.


"Emm iya kak." jawab Mimi.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya dokter Angela.


"Ya Mimi baik-baik saja." ucap Mimi dengan senyuman, dokter Angela tau jika Mimi tidak sedang baik-baik saja karena walau bibir tersenyum namun sorot mata nya terlihat menyimpan kesedihan.


"Emm kak, terus bagaimana ibu hamil itu?" tanya Mimi dengan senyum tetap tersungging.


"Emm kita keruangan Mimi aja ya kak." lanjut Miki dan mereka berdua pun langsung menuju ruangan Mimi.


Dokter Angela telah duduk di sofa yang berada di ruangan Mimi, Mimi memberikan minuman kaleng kepada dokter Angela.


"Ini kak di minum" ucap Mimi.


"Makasih Mi." ucap dokter Angela, Mimi pun duduk di sofa single yang berada di samping dokter Angela.


"Jadi bagaimana kak?" tanya Mimi, stelah dokter Angela usai meneguk minuman nya.


"Emm sebenarnya aku baru beberapa kali memeriksa ibu ini, mungkin baru enam atau tujuh kali masuk kemarin."


"Sebenarnya ibu ini sudah lewat dari hpl, kakak sudah menganjurkan untuk dirinya melakukan seksio sesarea karena selain hpl nya sudah lewat dari semestinya apa lagi ibu ini hamil anak kembar." ucap dokter Angela.


Mendengar kata anak kembar entah mengapa pikiran Mimi langsung melayang disaat dirinya dan Syahril sedang membahas perihal promil anak kembar sewaktu dia di dusun.


Sebagian kecil hati Mimi mencurigai Syahril ada hubungan dengan si ibu ini apa lagi nama si ibu ini sampai sama dengan dirinya.


"Mi, kau baik-baik saja kan?" tanya dokter Angela kala melihat Mimi melamun.


"Eh emm iya kak, Mimi baik-baik saja. Oh ya di rekam medis si ibu pasti ada nama suami nya juga kan kak?" tanya Mimi.


"I iya Mi." ucap dokter Angela gugup, mendengar jawaban dokter Angela gugup semakin Mimi merasa ada yang di sembunyikan dari dirinya.


"Siapa kak nama suami si ibu itu?" tanya Mimi kembali.


"Eh emm i itu namanya emm namanya Syahril Mi." ucap dokter Angela. entah kenapa luruh juga air mata Mimi.


"Mi" panggil dokter Angela dengan memegang tangan Mimi, Mimi menghapus air mata nya.


"Emm Mimi nggak apa-apa kak, terus ceritanya gimana?" ucap Mimi yang masih ingin mendengarkan cerita si ibu ini.


"Emm iya seperti yang kakak katakan kalau kakak dengan dokter yang memeriksa nya sebelumnya meminta dia untuk segera melakukan seksio sesarea tapi dia tetap tidak mau."


"Kenapa dia tidak mau?" tanya Mimi lagi.


"Emm i itu katanya dia ingin melahirkan dengan Syahril. Emm katanya dia ingin menyerahkan bayi itu sama Syahril." ucap dokter Angela. Lagi-lagi Mimi terdiam.


"Ya Allah ada apa ini dengan semua ini." gumam Mimi dalam hati.


"Terus sekarang usia kehamilannya sudah berapa bulan kak? kapan dia akan periksa lagi?" tanya Mimi.


Sudah lewat dari yang semestinya Mi, sudah lewat dari sembilan bulan sepuluh hari. ya usia kehamilannya itu pun kalau di hitung Minggu sudah 45 minggu lebih tiga hari." jawab dokter Angela.


"Emm Maslah kapan dia akan datang kembali itu tidak menentu Mi, terkadang jika tidak ada kakak dia akan bertemu dengan dokter lain. Ya intinya dia belum mau melahirkan anak tersebut." ucap dokter Angela.


"Kenapa begitu? apa janinnya baik-baik saja? apa lagi itu sudah sangat melebihi hpl." ucap Mimi.


"Ya itu tadi Mi, dia hanya ingin melahirkan bersama Syahril dan entah ini mukjizat atau sebuah keajaiban janin pun tampak baik-baik dan sehat-sehat saja dalam kandungan nya." ucap dokter Angela.


"Selama dia periksa, apa dia datang bersama suami nya kak?" tanya Mimi penasaran dan dokter Angela hanya menggeleng.


"Terus?" tanya Mimi lagi.


"Emm ya cuma itu Mi, kalau kau menghubungi Syahril tolong sampaikan hal ini karena si ibu hanya mau melahirkan anak-anak nya hanya dengan Syahril." ucap dokter Angela mengakhiri ceritanya.


"Emm insyaallah kalau kak Syahril menghubungi Mimi akan Mimi sampaikan." jawab Mimi.


"Emm yaudah, kakak ke ruangan kakak dulu buat istirahat sebentar sebelum melakukan tindakan operasi nanti." ucap dokter Angela.


"Emm" jawab Mimi sambil mengangguk.


"Jangan berpikir negatif dahulu." ucap dokter Angela sambil menepuk pundak Mimi setelah itu dokter Angela pun berlalu dari ruangan Mimi.

__ADS_1


Mimi yang tadinya datang mau mengecek pekerjaan nya menjadi tidak semangat karena pikiran selalu tertuju kepada cerita si ibu hamil ini.


*TBC*


__ADS_2