
Setelah kepergiannya Dillah, Mimi kembali berjalan ke mejanya, taknlamanpintupun terbuka dan sang asistennya pun masuk kedalam ruangan Mimi dengan membawa rekam medis lagi yang baru datang dari admin pendaftaran.
Sanga sistem melihat Mimi diam penuh keraguan, namun dia tidak akan menanyakan hal ini sekarang karena saat ini pasien sedang membutuhkan nya.
"Dok, bunganya sayyaa tafuh di vas sana ya." ucap sang asisten dan miminoun mengangguk menyetujui.
"Kita mulai ya sus." ucap Mimi.
"Baik dok " ucap sang asisten dan mulai memanggil satu persatu pasien.
Beberapa jam kemudian waktu praktek dobel Mimi pun habis, yah Mimi menjalankan oraktekndoble sekalian menggantikan dokter seprofesinya cuti.
"Sus, masih ada pasien?" tanya Mimi.
"Dah habis dok." jawab sang asisten.
Karena tidak ada lagi pasien, Mimi dan sang assisten langsung membuat laporan paisen hari ini. Yahnwalau sebenarnya semua sudah terlaporkan di bagian administrasi. Namun ini adalah laporan khusus Mimi, yang mana Mimi juga akan mempelajari kembali riwayat-riwayat pasiennya.
"Dok" panggil sang asisten.
"Hem." jawab Mimi.
"Cowok tadi pagi, pacar dokter ya?" tanya nya memberanikan diri, apa lagi hal lagi taxi menjadi topik lara perawat dan dokter muda lainnya.
Mimi diam dan menghelakan nafasnya..
"Menurut kamu gimana sus?" tanya Mimi.
"Gimana apa nya dok?" tanya sang assisten.
"Ya menurut kamu apa?" tanya Mimi lagi.
"Kaalau menurut saya sih iya, kalau iya.. Wahhh dokter hebat." jawabnya dengan girang, Mimi melihatnya dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Hebat kenapa?" tanya Mimi.
"Ya hebat, dokter punya cowok tampan, keren, dan dia kayaknya pemilik restoran sebelah dok." ucap sang assisten.
"Restoran sebelah?" tanya Mimi.
"Iya, setiap kali kita maka, aku sering lihat dia berada di restoran itu." jawab sang asisten.
"Kalau sering,kamu juga sering kesana. Berarti kamu juga pemilik resto itu dong " ucap Mimi.
"Bagaimana bisa kamu menyimpulkan begitu." imbuhnya
"Iya beda dok, aku sering lihat dia keluar masuk ruangan gitu dan itu berada di atas." jawab sang asisten.
"Kan ruangan atas ruang VVIP, mungkin dia ada bertemu klien atau yang lain." ucap Mimi.
"Isss dokter ini di bilangin kok, beneran dia itu pemiliknya. Soalnya aku pernah nanya sama teman aku yang kerja di sana." ucap sang asisten.
"Dan katanya nih ya dok, tuh cowok jomblo. Kata teman aku sih katanya dia sedang mencari kekasihnya gitu." ucap sang assisten yang mulai menghibah.
"Oo" jawab Mimi.
"Cuma O doang dok?" tanya sang asisten.
"Lah terus apa?" tanya Mimi.
"Emang dokter nggak penasaran gitu! apanlagindia kayaknya ngebet banget dekatin dokter. Apa lagi kata mbak mka resepsionis dari semalam Lo tuh cowok nyariin dokter." ucap sang asisten.
"Hah!!" ucap Mimi tak percaya kalau Dillah dari semalam mencarinya.
"Biasa aja kali dok, nggak usah mangap gitu." Ucap Sanga asisten dan Mimi pun menutup mulutnya dan mengerucut kanbibirnyq ke asistennya.
"Hahaaaa, dokter lucu kalau ngambek. Bikin gemes." ucap sang asisten, Mimi hanya acuh.
"Kalau dia sedang mencari kekasihnya, berarti dia tipe orang yang tidak setia ya dok, masa sedang mencari kekasihnya tapi malah nyarinya dokter." ucap sang asisten dengan gaya berpikir.
"Atau jangan-jangan.." imbuh sang asisten dengan menatap Mimk intens.
"Jangan-jangan apa?" tanya Mimi.
"Atau kekasih yang dicarinya itu adalah dokter." ucap sang asisten dengan menebak, Mimi hanya menghelakan nafasnya.?
"Bener nggak dok? apalagi dia tau kesukaran dokter. Wah sah ini dkyee harusbtraktir aku makan sampe puas." ucap sang asisten dengan hebohnya.
"Udah kerjain lagi ini." ucap Mimi sambil menggelengkan kepala melihat tingkah sang assisten.
"Dokter bener nggak?" tanya sang assisten yang masih penasaran.
"Menurut kamu?" tanya Mimi.
"Isss dokter dari tadi itu mulu." jawab sang asisten.
"Oh ya Git, menurut kamu. Emm menurut pandangan kamu kang Said gimana orang nya." tanya Mimi.
"Wah namanya Said ya dok, cie cie yang di sayangi kangmas nya" ucap sang asisten heboh sendiri dan malah mengejek Mimi.
"Kamu ini." ucap Mimi.
"Kalau dilihat dia orangnya baik, setia buktinya dia tahan menunggu dan mencari dokter."
"Kalau tampan itu relatif yang penting dia setia, selalu ngejaga hatinya bhat orang yang dia cintai." ucap sang assisten.
"Emang apa benar dokter adalah kekasih yang dicarinya? terus bagaimana ceritanya dokter bertunangan dengan almarhum?" ucap sang asisten sambil melihat ke arah Mimi yang diam memegang bingkai foto dirinya bersama Abizar.
"Emmm sebelum dengan almarhum, saya menjalin hubungan dengan dia." ucap Mimi.
"Kok" ucap asistennya.
"Dulu sewaktu wisuda dokter muda, dia janji akan meminang saya yang kebetulan orangtua sayanjjga ada."
"Dia sudah membuat acara kejutan itu, tapi.." ucap Mimk yang merasa sesak jika mengenang hal itu.
"Tapi apa dok?" tanya sang asisten.
"Tapi, malam itu dia tidak memunculkan dirinya di acara yang telah dia buat." jawab Mimi.
"Loh kok bisa?" tanya sang asisten, mimj mengangkat kedua bahunya
"Saya juga nggak tau Git, sahabatnya sama para sahabatnya, dia sebelum berangkat ke resto dia jemput kedua orang tua nya di bandara, tapi hingga larut dia tak kunjung datang." ucap Mimi.
Gita sang asisten hanya diam dan melihat sang dokter nya mengehaqlakna nafas dianoun ikut menghelakan nafas panjangnya
"Terus apamkaeena nggak jadi sama sia dokter memutuskan dengan almarhum dokter Abizar?" tanya sang assisten.
__ADS_1
"Ya nggak la, saya tetap menunggu dia datang. Ya setidaknya beri alasan kenapa dia melakukan hal itu, apalagi ini ada orang tua saya, keluarga saya juga ada."
"Tapi harapan saya tinggal harapan, dia hilang bak ditelan bumi. sehingga duaa bukan pasca itu saya sendiri yang memutuskan untuk tidak lagi mengharap kaan dirinya."
"Saya kecewa sama dia, kecewa berat malah. Disini dia tidak hanya mempermalukan saya pribadi tetapi memalukan orang tua serta keluarga saya." ucap Mimi.
"Oo" ucal sang asisten lirih.
"Terus apa maksud dia mencari dokter sekarang? apa dia tau kalau tunangannya dokter telah tiada?" tanya sang asisten yang tak menggebu lagi.
"Awal ketemu saya dengan dia dua atau tiga bukan lalu, dia bilang ingin memberikan penjelasan dan dia meminta maaf atas kejadian waktu itu." jawab Mimi.
"Apa dia sudah menjelaskan ke dokter?" yang nya dan Mimi menggeleng.
"Terus apoa dokter maajhnada rasa sama dia dan berniat menerimanya kembali?" tanya asisten.
"Itu yang saya bingung Git. Saya ragu apa dia sungguh-sungguh dengan saya." jawab Mimi dengan menyandarkan dirinya di sandaran kursinya.
"Saya takut salah ambil keputusan, saya takut ada sesuatu yang akan terjadi lagi kedepannya." ucap Mimi.
"Ya, menurut saya nih ya, emm dokter terima aja dulu tapi dokter jaga hati dokter agar tidak terlalu mendalami perasaan dokter. Yah terus dokter minta penjelasan dia kenapa melakukan hal itu waktu itu " ucal sangbasiten memberikan opininya.
"Saya rencana begitu Git, makanya saya terima aja duku bunganya hehee." ucap Mimi.
"Yeee bilang aja dokter nggak rela bunganya dikasih ke aku hahaa." ucal sang asisten dengan tertawa.
"Ya jelas dong, bunganya mahal lo ini hahaa." jawab Mimi.
Mereka berdua pun menyelesaikan laporan sambil bercerita dan memakan brownies yang dibawa Dillah.
Sehabis Dzuhur Mimi kembali melakukan tindakan operasi pemasangan ring jantung. Sore harinya seperti yang dikkah katakan pagi kalau dia akan menjemput Mimi.
Dillah sudah berada di depan ruangan Mimi menunggu Mimi.
"Hai Pak" salah Gita asisten Mimi, Dillah tersenyum.
"Mimi nya em maksudnya dokter Mimi nya ada?" tanya Dillah.
"Dokter Mimi masih di rumah operasi." jawab Gita.
"Bapak maubtunggu disini atau di dalam?" tanya Gita.
"Apa boleh sayqbtunggu di dalam?" tanya Dillah.
"Emm boleh." jaqba Gita dan mempersilahkan Dillah masuk kedalam ruangan Mimi.
Di rumah sakit ini Mimi diberi ruangan khusus dirinya dan di dalam juga disediakan tempat untuk Mimi beristirahat, sebenarnya ruangan khusus praktek nya ada di lantai bawah.
Dokter Rayhan memfasilitasi semuaninj untuk Mimi karena dia melihat Mimi kadang dia tidur di rumah sakit bila dia melakukan operasi di malam hari.
Tak hanya Mimi, sebagian dokter lain juga di beri fasilitas ini ya itung-itung sekalian sebagai kantor dan mess dokter yang berasal dari luar kota
Satunjam beelaluhdikkah menunggu dan akhirnya Mimi lun selesai. Saat Mimi akan masuk ruangan nya sang asisten memberitahu kalau di dalam ada Dillah.
"Dok, di dalam ada kangmasnya." ucal Gita, Mimi pun mengangguk.
"Kang." panggil Mimi ketika melihat Dillah duduk di sofa dengan membaca majalah.
"Dah selaai dek?" tanya Dillah.
"Emm sudah." jawab Mimi.
"Git." panggil Mimi dibalik pintu.
"Eh iya dok." jawab Gita.
"Tolong saya ha, kamu masuk ke dalam. Saya!au bersih-bersih dulu." ucap Mimi.
"Oh iya dok." jawab Gita dan beranjak mengikuti Mimi masuk kedalam.
"Kang, Mimi tinggal dulu ya." ucap Mimi dan langsung pergi menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.
Tak makan waktu banyak bagi Mimi untuk mandi, apa lagi dinluae dia meninggalkan Dillah berdua dengan asistennya. Setelah semua selesai Mimi lun keluar dengan wajah yang fresh.
"Susah selesai dok?" tanya Gita, Mimk mengangguk.
"Kamu kalau mau bersih-bersih silahkan." ucap Mimi
"Em nanti akan dok. Oh ya dok jadi malam ini?" tanya Gita.
"Malam ini ngak ada jadwal operasi, jadi kalau kamu mau pulang ke kosan silahkan atau mau tidur disini?" jawab Mimi.
"Saya mau oulang kekosan aja dok." jawab Gita.
"Yaudah kalau gitu kamu boleh pulang." jawab Mimi dan Gita mengangguk.
"Kalau gitu saya duluan ya dok." ucapnya
"Iya, makasih ya." ucap Mimi dan Gita pun mengangguk.
Gita tak hanya sebagai asisten bagi Mimi, Gita juga merupakan sebagai sahabat dan adik bagi Mimi. Gita juga selalu menemani Mimi Bika Mimi tidur dimrjmah sakit ini.
"Ayok dek, kita keluar juga." ajak Dillah, Mimi pun mengangguk.
"Ayok." jawab Mimi namun sebelum keluar Mimi sekalian akan membawa pakaian berisi pakaian kotornya
"Dok" panggil Gita..
"Iya Git" jawab Mimi.
"Sinimpakaian kotornya, biar sekalian saya bawa ke londry." ucapnya.
"Nggak ala Git, saya aja. Oh ya Git, ayo sekalian kamu ikut juga." ucap Mimi dan megajak Gita sekalian jalan sama dia.
"Tapi dok." Ucap Gita.
"Gak apa, ayo kamu juga bisa ikut" ajak Dillah, Gita melihat ke arah Mimi, Mimi tersenyum dan. mengangguk.
Mereka pun bertiga pergi dan mereka akan pergi makan ikan bakar di tepian pantai sambil melihat sunset. Namun sebelum nya mereka mampir ke londry terlebih dahulu.
"Dek" panggil Dillah saat mereka kembali duduk di tepian pantai Padang setelah menunaikan sholat Maghrib.
Gita, dia duduk bersama temannya yang kebetulan juga berada disana.
"Hem" jawab Mimi.
"Maafkan akang ya?" ucap Dillah.Mimi diam.
__ADS_1
"Akang tidak bermaksud meninggalkan adek waktu itu." ucal Dillah lagi, Dillah tau dengan sikap Mimi diantaranya Mimi mejjta penjelasan darinya.
"Kalau tidak bermaksud kenapa kakang tidak ada kabar." tanya Mimi, Dillah mengehalakan nafasnya dalam.
"Waktu itu sepulang dari luar kota kakang sudah mempersiapkan semua dengan matang bersamaan Reno dan yang lain dan saat malam itu tiba,.." ucal Dillah dan menceritakan semuanya.
flasback on.
Sehabis acara Muthia rencana dia akan mengajak Mimi ikut serta sekalian liburan namun Mimi memilih ubtuknluong kerumah nya
Dillah yang mulai merintis bisnis di dunia resto dan hotel ke mancanegara, dia mulai mempersentasi kan makanan-makanan Indonesia pada kliennha yang sebelumnya merek meeting sebelum berangkat ke Aceh.
Ada satu klien berasal dari Singapore mengajak Dillah kerja sama dan membudidayakan masakan Indonesia ke Singapore. Dillah pun menyetujuinya dan membjat segalanya perencanannya dan memutuskan akaan pergi ke Singapore saat selesai acara Muthia.
Di Singapore yang rencana Dillah akan menyelesaikan semua dalam kurun waktu satu Minggu atau tiga minggu palig lambat namun ternyata dia harus berada disana hingga satu bukan lebih.
Sangking sibuknya, Dillah tidak memiliki waktu banyak hanya sekedar ngobrol bersama orang yang di cintai nya.
Dillah telah lama merencanakan kejutan untuk Mimi dan ktunsudsah dia sampaikan kepada ke emlat sahabatnya. Dillah dan teman-temannya juga sudah mempersiapkan nya dengan magang dan apik hingga satu minggu Dillah telah berada di dalam negeri.
Setiap Mimi telpon Dillah selalu menjawab sedang berada di luar kota, itu memang benar adanya tali dia taknp mginao higga berhari-hari, dia menyibukkan dirinya mempersiapkan segala sesuatu untukmkejutan Mimi.
Dillah berencana akan melamar Mimi malam hari setelah wisudanya. Semua telah berjalan lancar kecuali kedua orang tuanya.
Dari jauh-jauh hari Dillah sudah menyampaikan niatnya itu dan kedua orang tua berjanji akan mengusahakan untuk pulang ke dalam negeri karena posisi mereka waktu itu sedang berada di Thailand untuk mengurus perusahaan yang sedang valid.
Hingga mendekati waktunya, orang tua Dillah belum menerima jawaban kapan mereka pulang.
Saat hari wisuda Mimi Dillah yang sedari subuh telah bersiap menjemput sang kekasih untuk membawa Mimi ke salon mendadak mendapat telpon dari luar kota yang mengabarkan kalau resto nyabmeengakamj kebakaran, sehingga Dillah tidak dapat menemani Mimi dan dia meminta Satria untuk sekalian menemani Mimi.
Hingga siang hari Dillah mengurus laporan resto nya yang kebakaran itu di kantor polisi. Dillah sudah menyampaikan hal itu kepada sahabatnya namun Dillah meminta agar tidakmemberitahu kan ke Mimi kalau dia mendapat musibah.
Dillah juga meminta kepada para sahabatnya untuk membawa Mimi beserta keluarganya nanti ke restoran seperti yang mereka rencanakan semula dan dia akan langsung menuju resto dari luar kota itu. Dillah juga berupaya sebisa mungkin akan sampai tepat waktunya.
Tapi saat di perjalanan menuju ke resto, orangtuanya menelpon minta di jemput karena mereka sudah berada di bandara, Dillah yang merasa senang dan bahagia pun langsung memutar arah menuju bandara dan taknluoa dia mengabari hal itu lada ke empat sahabatnya.
Setelah sampai di bandara Dillah melihat sang mami tali tanla sang papi.
"Mi" panggil Dillah.
"Nak." ucapnya.
"Loh papi mana!" tanya Dillah sembari menyalami sang Mami dan mencium punggung tangan sang Mami
"Papi ada kok, ayok kita jalan duluan." ajak sang Mami dan Dillah pun menurut, namun baru beberapa langkah Dillah merasa pusing dan langsung tak sadarkan diri.
Iyah Dillah dibius melalui tangan sang Mami yang telah di beri obat bius, Dillah tersadar setelah siang hari keesokan harinya.
Dillah tersadar dan ternyata mereka sudah berada di Thailand, Dillah yang kesal dan kecewa terhadap ulah orangtuanya pun berontak namun Dillah mendapat ancaman dari sang papi.
"Pi, apa apaan ini pi." ucap Dillah tidak terima.
"Hanya kamu anak papi dan hanya kamu harapan papi. Perusahaan disini sedang valid Dil, papi haraonkamu bisa memulihkannya lagi." ucal sang papi.
"Tapi bukan begini caranya pi, kan bisa kita bicarakan baik-baik. Aku sudah janji Pi ama Mimi dan keluarganya,"
"Dan aku berjanji akan melamarnya semalam." ucap Dillah yang!menahan emosi.
"Emang sepenting apa dia Dillah? kamubitu cowok masih banyak gadis lain yang pantas buat kamu." sahut sang Mami.
"Mi.. Achhh jadi kalian bilang setuju itu semua bohong hah!!" ucap Dillah.
"Pokoknya kamu harus bantu mami dan Papi disini, jika kamu berani menantang, Mami pastikan cewek murahan dan miskin itu akan mendapatkan ganjaran nya."
"Mii.. Jaga ucapan Mami, dia lebih terhormat dari mami yang tidak pernah memberikan kasih sayangnya kasa anaknya." ucap Dillah yang sudah tersulut emosi.
"Dillah, jaga ucapanmu. Dia mami kamu, tak sepantasnya kamu berucap seperti itu " teriak sang Papi.
"Achh kalian sama saja." ucap Dillah dengan membanting kursi yang berada di dalam kamarnya.
"Ingat jika kamu berani membantah mami, mqminlastikqn ucapan mami." ucap sang mami yang kemudian hendak keluar dan di susul sang papi.
"Dan satu lagi, jadikan ini ujian buat kamu dan dia. Jika dia benar-benar mencintai kamu bukan karena harta maka dia akan menunggumu apapun itu." ucap sang mami sebelum benar-benar pergi dari kamar Dillah.
Dillah berulang kali berupaya untuk kabur namun dia di jaga ketat oleh orang suruhan maminya. Dillah hingga saatbinjntidak habis pikir dengan jalan kedua orangtuanya.
Akhirnya demi keselamatan Mimi Dillah pun menurut ucapan orangtuanya.
flasback off.
"Jika begitu kenapa akaang mencari Mimk sekarang?" tanya Mimi setelah mendengar cerita Dillah
"Karena kqkkaang masih mencintai mu, kakang tau kamu waktu itu tunangan dan kakang juga tau kalau tunanganmu sudah tiada."
"Satria selalu menginfokan ke kakang.' imbuh Dillah.
"Apa Muthia juga mengetahui? " tanya Mimi dan Dillah menggelengkan kepala.
"Tidak, kakang yang minta agar Satria tidak menceritakan lada Muthia. Kakang pun bisa menghubungi Satria secara diam-diam."
"Mafkan akang dek." jawabnya dengan menciumi tangan Mimi.
"Tapi apanmakadu semua ini kang? walaubkiya beraatubapakah orang tua akang akan menerima gadis miskin ini?" tanya Mimk dengan menyindir dirinya sendiri.
"Mami dan papi sudah berubah dek, bahkan dia juga ingin bertemu dengan kamu. Kapan kamu waktu dan mami papi juga ada waktu. Akang akan minta mereka datang kesini." ucapnya.
"Apa akang yakin mereka akan menerima Mimi?" tanya Mimi.
"Iya akang sangat yakin dek, karena mereka sibuk meminta akang untuk segera memberi mereka cucu." jawabnya.
"Kenapa Akang tidak menikah saja degan yang lain dan memberi mereka cucu." ucap Mimi.
"Karena akang hanya ingin kamu, akang ingin merajut rumah tangga dengan kamu dan akang ingin punya anak hanya dari kamu."
"Mereka juga sudah menyerah menjodohkan akang dengan anak dari rekan bisnis mereka karena berulang kali akang menolaknya."
"Kamu mau kan kita mulai dari awal?" tanya Dillah, Mimi mengangguk namun hatinya ragu..
"Terimakasih sayang, akang akan selalu mencintaimu." ucal Dillah.
"Dok" panggil Gita.
"Iya Git." jawab Mimi.
"Dah malam dok, apa kita nggak pulang." ucal Gita, Mimi lun melihat ke arlojinya.
"Ayok kang kita pulang." Ajak Mimi
__ADS_1
Mereka pun pulang dan Gita tidur dikontrakannya Mimi.
tbc