
Dua minggu sudah San Mimi juga tidak membjat jadwal operasi bagi pasiennya. Semua pasien pasca operasi tinggal masa penyembuhan.
Sebelum Mimi mengambil cutinya, Mimk selalu menasehati pasien pasca operasi agar menjaga pola makanan dan menahan agar tidak memakan makanan yang di pantangkan.
Mimi juga telah menyerahkan tugasnya sementara pada dokter lain.
Sebenarnya Mimi paling enggan pulang ala lagi kaalau pulang hanya membuat dirinya penat dan akan memancing emosinya.
Mimi menitipkan kunci kontrakan nya pada Andre karena selain doia anaknya rajin Mimi juga hanya mempercayainya dirinya.
"Ndre, kita berangkat sekarang yok?" ajak Mimi kepada Andre.
"Oke kak." jawab Andre.
Yah hari ini Mimi akan pulang ke Jambi, tak banyak barang yang Mimi bawa, hanya pakaian ganti sehari-harinya.
Setelah sampai di pull/loket, Mimi duduk berdua dengan Andre menunggu jam keberangkatan yang tinggal 15 menit lagi.
"Ndre, nanti tolong jaga dan bersihkan kontrakan kakak ya?" ucap Mimi
"Sip', lah itu kak." jawab Andre.
"Oh ya Andre kapan ujian semester?'' tanya Mimi.
"Emmm sebulan lagi kak." jawab nya.
"oo" ucap Mimi manggut-manggut.
"Dikamar belakang ada itu Ndre buku-buku kakak dulu. Kalau mau baca, bacaa aja. Insyaallah lengkap." ucap Mimi lagi.
"Disana juga ada rangkuman-rangkuman yang kakak buat sendiri." ucap Mimi.
"Makasih kak, nanti Andre pinjam ya." ujarnya.
"Iya, kamu harus rajin belajar biar dapat nilai bagus." jawab Mimi.
"Alhamdulillah kak, semenjak kakak bantu semester setahun ini nilai Andre meningkat. Andre juga kepingin bisanikut ujian percepatan kayak akaak, biar Andre celat berekkrja dan bangu amak." ujarnya.
"Insya Allah pasti bisa. Kejar dulu nilai nya tali ya sama aja Andre kan tinggal setahun lagi juga kan habis semester nanti?" tanya Mimi.
"Emm iya juga kak, tapi yah semoga saja Andre bisa lulus dan kalau bisa dapat beasisa lagi kayak kakak. Andre pengen jadi spesialis syaraf." ujarnya.
"Intinya tekun belajar dan berdoa. Insya Allah bisa. Audah ya kakak berangkat dulu tuhbmobiknya dah hidup mesinnya." ucap Mimi.
"Iya kak, hati-hati." ucap Andre dengan menyalami dan menciumi tangan Mimi.
"Ini buat bensin." ucap Mimk dengan memasukkan selembar dut ke jaketnya.
"Nggak usah kak, Andre ikhlas kok ngantarnya." jawabnya.
"Udah nggak apa, kakak juga haabjs gajian kok." ucap Mimi dengan senyum.
"Makasih ya kak." jawabnya.
"Iya sama-sama, kakak berangkat dulu ya. Assalamualaikum." ucap Mimi.
"Saya salam, hati-hati kaak." teriak Andre dan Mimi hanya mengangguk sembari masuk mobil dan duduk di bangkunya.
Tak lupa Mimi membaca doa ketika dalam kendaraan agar di jauhkan dari segala mara balak, apa lagi Mimi menaiki bus dan memakan waktu hingga 12 jam perjalanan.
Kali ini Mimi berangkat dengan bus jam enam sore agar Mimi bisa sampai pagi hari di jambi.
سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَاكُنَّالَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ
“Subhaanalladzii sakkhara lanaa hadza wama kunna lahu muqriniin wa-inna ilaa rabbina lamunqalibuun.”
Artinya: "Maha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami (kendaraan) ini. padahal sebelumnya kami tidak mampu untuk menguasainya, dan hanya kepada-Mu lah kami akan kembali."
Sepanjang 12 jam perjalanan akhirnya Mimi pun sampai di kota Jambi di jam 6.05 pagi. Mimk turun dari bus dan merenggangkan otot-otot nya yang merasa penat. Sebelum pulang ke rumah Nyai, Mimi memilih sarapan dahulu di warung sarapan dekat loket bus jambi-padang.
Setelah sarapan, Mimi pun memesan taksi karena Mimi ingin langsung segera sampai di rumah. Kalau pakai angkot mimj harus naik ketek lagi ( ketek\=perahu yang pakai mesin).
Jarak loket ke seberang menempuh jarak sekitar 44menit. Rasanya Mimi ingin istirahat total hari ini. Seharusnya Mimi berangkat pagi jadi samalo malam bisa langsung istirahat. Karena pagi hingga sore Mimi masih menangani pasien jadilah Mimi berwngakta sore di jam enam.
Saat taksi sudah memasuki lorong rumah Nyai, berulang kali Mimi menghelakan nafasnya. Entah mengapa perasaan Mimi nggak enak, Mimi merasa akan ada hal yang memancing emosinya nanti.
Setelah sampai dan membayar ongkos, Mimi langsung naik ke atas rumah.
__ADS_1
Terlihat rumah ramai karena paman serta bibi Mimi juga pukangbke Jambi yang kebetulan hari ini adalah hari sabtu.
"Assalamualaikum." ucap Mimi.
"Waalaikum salam." jawab semua.
"Ayuukk" panggil adik-adik sepupunya Mimi.
"Udah yok masuk." ucap Mimi dan mengajak adik-adiknya masuk.
Sampai dalam, Mimi menyalami semuamya setelah itu Mimi pergi ke kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu. Setelah mandi Mimi duduk bersama dengan mereka.
"Sudah makan yuk?" tanya Tante Zia pada Mimi.
"Sudah tadi nte di loket." jawab Mimi.
Mimi kembali bermain dengan adik-adiknya. Mimi melihat ada yang kurang dari adik-adiknya yaitu Ay.
"Ay ndak ikut ke jambi?" tanya Mimi pada semua.
"Ay mau ngadapin unjian jadi dia tinggal Samma Wak Asim kau." jawab pakdo.
"Oo" ucap Mimi.
"Yaudahlah Mimi mau tidur dulu, capek Mimi." ucap Mimi dan beranjak merebahkan badannya di atas kasur yang masih tergeletak di tengah rumah.
Emak hanya diam, mungkin dia tidak tau harus bicara apa sama Mimi. Begitu pula dengan yang lain, apa lagi melihat Mimi seperti kurang tidur. Jadi mereka seolah tidak tega ingin menyampaikan perihal adiknya itu.
Di dapur Tante Zia, Bi Ida, bicik dan emak serta Nyai duduk bersama untuk memasak.
"Tuh yuk lihatlah Mimi, nampak nian dia kurang tidur." ucap Tante Zia kepada emak, bicik dan Bi Ida.
"Iya kalau bukan dia siapa lagi Zi," ucap Bi Ida.
Emak hanya diam dia juga bingung dan bimbang akan meminta tolong pada Mimi. Sedangkan dia tau bagaimana anaknya itu sejak dulu. Anak yang tak pernah menuntut apa-apa bahkan tak ingin merepotkan orang tuanya.
"Ya tapi kalau menurut aku ni yuk, biarlah Anas ( adik Mimi yang laki-laki) menanggung perbuatannya itu."
"Biar dia jera, kalau selalu di bantu dia nanti tidak ada efek jera nya"
"Uang sebanyak itu juga dari mana Mimi punya, kkta tidak tau bagaimana Mimi di rantau." ucap tante Zia yang tidak menyetujui rencana ipar nya untuk meminta bantuan Mimi.
"Kalau sejjta, dua juta mungkinkah dia bisa bantu kalau ratusan juta bunuh tu namonnyo." imbuh Om Yan.
"Ya tapi kayak mana lagi yah, cuma Mimi la yang bisa diharapkan." Ical Bi Ida.
"Diharapkan kayak mano? Gaji dio setahun belum tentu ado segitu. Mustahil dio dak makan duit gaji dio." ucap Om Iyan yang emosi.
"Duit antaran dio kemaren biso lah tu " sahut bicik.
"Dak biso kayak gitu, duit itu hak dio. Dak boleh kito pinta, apo lagi sebagian duit nyo juga sudah dikasih ke Ayuk kan?" ucap Om Iyan.
"Nah sekarang mana duit yang dikasihnya, ala maaih ado?'' tanya Om Yan, emak hanya diam.
Yah sewaktu lamaran, keluarga Abizar memberi Mimi uang yang terbilang fantastis, Dan Mimi juga sudah memberikan ke emaknya untuk ngurus resepsi nya seperempat duit itu.
"Masih yuk duitnya?" tanya Tante Zia.
"Duitnya habis di Anas juga. Dia bilang untuk uang ujian dan entah apalagi dia bilang waktu itu dan separuhnya aku belikan ke tanah untuk Mimi." ucap emak.
"Tuh nah, entah iyo entah idak duit sebanyak itu buat duit kuliahnyo." ucap Om Iyan.
"Apa lagi Mimi baru setahun setengah habis lamaran tuh, duit sebanyak itu. Entah untuk apa entah nian di buat anak tu." ucap Om Iyan yang semakin emosi pada kelakuan Anas.
Mimk terbangun saat Adzan Dzuhur berkumandang, itupun Mimi di bangunkan oleh Nyai.
"Mi, bangun Cong. La adzan." ucap Nyai dengan membangunkan Mimi.
"Emm" jawab Mimi dan membuka matanya perlahan, Mimi tidak langsung duduk karena kepalanya terasa pusing. Sepuluh menit berlalu Mimi masih rebahan.
"Sudah bangunlah lagi, sholat lagi." ucap Nyai.
"Emm iya" jawab Mimi yang langsung beranjak dan segera ke kamar mandi untuk berwudhu. Mimi ohn menjalankan perintah illahi rabbi dan setelah itu Mimi bergabung bersama mereka untuk makan siang.
"Mi" panggil Bi Ida yang sudah tidak sabar ingin bertanya tentang adiknya Mimi hanya menoleh tanla menjawab.
"Sudah lah Bu, makanlah dulu." ucap Om Iyan.
__ADS_1
"Dari lada kami buang duit untuk dio, dio juga dak bakal keluar mending duitnyo buat beli rumah untuk emak sama bapak." ucap Mimi di tengah makan nya.
Mimi tau kemana arah panggilan itu.
"Tapi Mi,." sahut bicik.
"Tapi apa??" kalian meminta Mimi untuk mengerti lagi? sampai kapan?" ucap Mimi.
"Bukan sedikit.. Buka sejuta dua juga, ratusan juta.. Buat apa dia?"
"Kalau dia buat bisnis, manaa wujud bisnis itu?"
"Gaji Mimi selama jadi dokter setahun pun belum nyampai segitu, dia dengan mudah mendapatkan uang segitu terus orang lain pula jadi tumbal dia. Praaak" ucap Mimi yang sudah kesal dengan menghentakkan piring anaknya.
"Udah Mi, udah..Makan dulu." ucap pakdo.
"Sudah Mi, makan dulu. Nanti kita bicarakan lagi." ucap Pakcik.
"Sudah nak, makan lah dulu." ucap bapak.
"Huh, kalian tau beres nya dia saja. Ala kalian tau bagaimana Mimi mengkais rezeki?" ucap Mimi dengan serak karena menhan Isak tangis.
"Apa pernah, Mimi meminta kalian kirimkan Mimi uang segini segitu, apa pernah?" ucap Mimi dengan sedikit di tekankan.
"Kalian tidak tau bagaimana Mimi mencari uang sewaktu kuliah untuk mencukupi kebutuhan hari-hari dan biaya praktikum."
"Pulang kuliah Mimi langsung mengadon bahan kue, tiap liburan Mimi terima pesanan kue. Apa pernah Mimi mengeluh? hah!! apa pernah?" Mimi terus mengeluarkan segala kepenatan hatinya selama ini.
"Mimi tau diri, karena keinginan Mimi berkuliah. Maka Mimi bertekad berusaha sendiri, Mimi tidak mau membebani kalian."
"Ini asal kalian tau dua Minggu ini, jadwal Mimk operasi di dua tempat. Mau tau kenapa Mimi ambil dua rumah sakit? itu buat siapa? buat kalian."
"Begitu banyak cita-cita Mimi buat kalian berdua."
"Ini dari pada Mimi menghabiskan hasil keringat siang malam, kadang lupa yang namanya makan enak, dan itu hasil Mimi dari pada buat dia, mending beli rumah buat emak dan bapak."
"Ingat Ay tahun depan sudah masuk SMA, anak kalian itu bukan dia saja, masih ada Ay yang butuh biaya." ujar Mimi
"Biar kalian mau bilang Mimi jahat, sekali Mimi bilang tidak maka mimi tidak akan membantu nya." ucap Mimi lagi.
"Biar dia merasakan buah dari gaya hidup dia selama ini, 600juta woy 600juta. Gampang dia dapatkan dengan meniou orang. Dan kalian.." ucal Mimk dengan memandang kearah bibi serta yang lain.
"Dengan gampang pula kalian bilang pakai duit antaran. T*i la." ucal Mimi yang sudah hilang nyata krama nya swlama ini.
"Enak nian dia berfoya-foya, pakai pakaian bermerk, pakai mobil, ngekos dengan ber ac, pakaian di londry. Beuh gaya sok kaya, kuliah terbengkalai." ucap Mimi yang emosinya sudah meledak-ledak.
"Berapa mobil yang dia gelapkan? Tiga mobil, hahahaa tuh Mak, tuh.. anak kesayangan mamak. Anak yang mamak nomkr satukan dari segala hal, tuh lihat hasilnya. Manjakan lagi anak, tuh besok Ay manjakan lagi, biar besarnya tidak punya rasa tanggung jawab." ucap Mimi yang geram dengan nasibnya.
"Achhh" ucap Mimi dan langsung berdiri meninggalkan mereka semua yang masih duduk menghadap makanan.
"Biarkan Mimi egois kali ini, maafkan Mimi " ucap Mimi dalam hati
Semua keluarga Mimi yang sedang menghadap makanan lun akhirnya jadi tidak berselera akkbatnukah binida yang terburu-buru.
"Lain kali Da, sabar dulu. Jangan langsung bertanya saat makan." ucap pakdo.
"Iyo macam dak ado lagi waktu.Kebiasaan nian jadi orang."
"Alo yang kamu harap dari Anas tu, ngabisin Hargo yang ado, Harto yang ada oun tidak mencukupi." ucap Om Iyan dengan langsung cuci tangan dan beranjak berdiri meninggalkan dapur.
Emak, bicik,Bi Ida hanya diam, mereka memang egois. Tapi mereka juga tidak bisa membiarkan Anas di penjara.
Mimi mulai bertanya-tanya sama sahabatnya terutama Manda ten yang perumahan. Manda pun memberi infonya dan Mimi juga meminta foto dari rumah yang di tawarkan nya.
Hari itu Mimi, banyak diam. Keesokan hari nya Mimk mengajak bapak untuk melihat rumah yang dikatakan Manda. Yah rumah preloved dan orang tersebut ingin menjualnya cash.
Dan rumah itu berada di kawasan dekat dengan rumahnya, tapi setelah di tanya lebih detail saat Mimi datang kesana keesokan harinya, rumah tersebut budget nya terlalu tinggi belum lagi buat renovasi, akhirnya Mimi membatalkannya dan mencari yang lain.
Beberapa hari Mimi lewati untuk mencari perumahan yang cocok, mendekati hari terakhir Mimi akan kembali pulang. Akhirnya Mimi menemukan rumah yang sesuai budget nya, yah walau belum di renovasi sjsa tanahnya pun lumayan untuk dibangun kembali.
Mimi pun melakukan transaksi dan rumahnifu Mimk serahkan atas nama orang tuanya. Untuk selanjutnya sebelum kelulusan Ay Mimi akan merenovasi rumah tersebut.
Mimk bisa saja merenovasi nya saat ini memakai uang pemberian Abizar, namun entah mengala Mimi merasa dia tak berhak memakainya, walau sebagian sudah terpakai.
tbc
Maaf ya readers, rencana cerita ini tidak sepenuhnya seperti di OKB ya, maaf authore ingin cerita sedikit berbeda aja walau masih nyangkut sedikit ke OKB.
__ADS_1
Makasih