
Semenjak habis menelpon umma pagi itu, Mimi berusaha menenangkan hatinya, bukan dia mengelak namun Mimi akan menenangkan hatinya untuk !menghadapi ujian yang tinggal menghitung hari.
Para sahabat selalu ada bersama nya, Mimi menjalani hari-hari nya seperti biasa, membuat kue untuk dititipkan dan membuat kue buat dia jual dipasarkan pada hari Minggu serta membuat kue pesanan-pesanan ibu komplek sebelah.
"Bismillah" ucap Mimi di awal pagi ini dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Udah siap Mi?" tanya Muthia dengan membawa bekal, karena hari ini hari libur mereka akan pergi berlibur bersama.
"Udah, ayo." jawab Mimi sambil melangkah keluar.
"Irma, Fia, buruan." teriak Mimi yang sudah berada diluar bersama Muthia.
"Iya bentar," sahut Irma sambil berjalan menuju keluar.
"Lah Fia mana Ir?" tanya Muthia.
"Hmmm lagi dikamar mandi boker." jawab Irma.
"Heleh kalian berdua ini kebiasaan, kalau dengar maunliburan nomor satu terdepan, sekali hari H nomor satu dari belakang." oceh Muthia.
"Heiii girl, udah siap belum?" teriak Riko yang berada di mobil dengan menaruh barang bawaan para gadis.
"Belum." teriak Muthia.
"Nunggu apa lagi sih?" tanya Saridi yang sudah mendekati ketiga gadis ini.
"Nungguin adek Abang." jawab Muthia kesal.
Gimana Muthia tidak kesal, sedaei pagi Selfia selalu menyuruhnya bersiap cepat dengan alasan biar cepat sampai dan cepat pula mereka menikmati suasana alamnya.
Tak lama Selfia pun menonjolkan dirinya dan tak tau malu dengan wajah tanpa berdosa dia pun langsung menghampiri Mimi dan yang lain.
"Yaudah gok berangkat." ucapnya dengan langsung berjalan menuju mobil.
"Gila tuh anak, nih maksud nya apa coba, nyelonong gitu. terus nih tas ny dia.. Woyy Fi nih tas Lo." ucap Muthia dan meneriaki Selfia yang sudah dekat di mobil Riko.
"Heeeheee tolong bawain Muth." teriak Selfia dengan cengengesan.
"Gila Lo ya... ogah." sahut Muthia yang sudah kesal di buat nya.
"Udah sini, biar aku bawa." ucap Saridi dan mengambil tas Selfia yang masih teronggok di daun pintu.
"Huhhh bikin emosi aja nih anak sedari pagi." sungut Muthia.
"Udah sabar, kayak ndak tau Fia aja." ucap Mimi dan akhirnya mereka pun berangkat liburan yang masih berada di Kota ini.
"Emm Sar, kita mau kemana sih?" tanya Mimi kepada Saridi.
"Ikut aja ntar pasti Mimi suka." jawabnya.
"Emm yaudah." jawab Mimi.
Mobil terus melaju membelahi kota Semarang, Dua jam kemudian mereka pun sampai. Mereka Turin sambil merenggangkan otot-otot pinggang yang terasa pegal.
Mimi saat turun dari mobil langsung mengedarkan pandangannya di sekitar tempat ini. Tercium aroma yang sanagt khas, aroma buah yang sangat Mimi suka..
"Hum hum hum" Mimi terus mengendus.
"Kenapa Mi?" tanya Irma.
"Ir, ini hanya penciuman Mimi atau gimana ya?" tanya Mimi, Irma pun ikut mengendus.
"Iya Mi, emmm atau.." ucap Irma sambil melihat ke arah Mimi
"Durian" ucap Mimi dan Irma.
"Hey kalian kenapa masih disana, ayo.." seru Saridi kepada Mimi dan Irma.
"Iya." jawab Mimi dan Irma.
"Sar.." panggil Mimi setelah dekat dengan Saridi dengan mata melihat tulisan yang terpampang di pintu masuk.
"Iya..,Suka?" ucap Saridi dengan senyum manisnya. Mimi memgangguk.
"Emmm iya" jawab Mimi refleks merangkul lengan Saridi.
Saridi melihat lengannya di rangkul Mimi, sangat senang dihatinya.
"Andai lenganku membuatmu nyaman aku akan merelakan nya untuk terus kau rangkul." gumam Saridi dalam hati.
Apa yang sedang terjadi antara Saridi dan Mimi, tak sengaja terpantau oleh dua pasang mata yang terlihat sendu.
Muthia berjalan cepat mendekat ke arah Mimi dan merangkul lengan Mimi, Mimi kaget melihat Muthia merangkulnya.
Tia berbicara leeqtbkode matanya kepada Mimi, awalnya Mimi tidak paham maksudnya Muthia, Muthia berusaha membarperi tau Mimi lagi dengan melihat ke arah depan Mimi pun melihat ke arah mana mayabmuthia lihat, dengan cepat Mimi melepaskan rangkulan nya ke Saridi.
"Wah durian.." ucap Mimi seketika.
"Makasih ya Sar," ucap Mimi lagi.
__ADS_1
Yah mereka pergi berwisata di kebun durian di kota Semarang ini. Mimi yang suka sama durian seketika matanya berbinar, dia ingin segera menikmati sensasi rasa durian di tempat ini.
Menikmati buah durian di tempat yang syahdu, tentunya jadi sensasi tersendiri bagi pecinta buah yang dijuluki rajanya buah itu.
Apalagi ditempat tersebut, dijajakan berbagai varian durian dari beberapa daerah di Indonesia.
Lokasinya pun tak jauh dari pusat Kota Semarang, karena terletak di Grafika Barat V Kelurahan Banyumanik, Kecamatan Banyumanik Kota SemaranDuren.
Dengan konsep kebun, pemilik tempat yang menjajakan durian itu memberi nama tempatnya Kebon Duren.
Suasana asri di Kebon Duren yang ada di Kelurahan Banyumanik itu, sangat cocok untuk santai dan menikmati durian. Kebon Duren ini bisa menjadi rekomendasi untuk dikunjungi pencinta durian seperti Mimi dan para sahabatnya.
"Emmm, pak, disini jenis duriannya apa aja?" tanya Mimi kepada sang pemilik.
“Ada durian montong, bawor, petruk, musangking, D24, durian lokal dan banyak lagi varian lainnya,” tuturnya.
"Waaw.. banyak juga ya pak?" tanya Muthia.
"Iya mbak, nah disini durian jenis montong dan petruk jadi idola pengunjung yang singgah ke Kebon Duren ini." jelas si pemilik kebun.
"Harganya berpaan pak?" tanya Muthia sambil memilih-milih durian.
“Harga yang kami patok dari Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu, tergantung jenis durian yang dipesan pengunjung,” ucapnya.
"Berbagai olahan makanan dari durian juga dijajakan di Kebon Duren ini mbak, mas." Ia menjelaskan kepada kami bahwa takmhanyanhati durian yang mereka sediakan.
"Oh ya.. Ada apa aja pak?" tanya Irma.
“Ada kopi durian, cendol durian, dan makanan lainnya, cukup lengkap di tempat kami,” kata pak Oky pemilik kebun durian.
"Wah pasti rame ya pak disini?" tanya Saridi yang sedang !enyivipi durian Montong.
"Iya mas, setiap hari puluhan durian dibeli pengunjung yang singgah ke Kebon Duren." jawab pakmoky pemilik kebun duren yang baru ia buka belum lama ini.
"Mantap juga pak, jadi ada tempat berwisata kuliner yang beda dikota ini." ucap Riko.
“Iya mas bisa dibilang Kebon Duren merupakan tempat penjual durian dengan varian cukup lengkap di Kota Semarang. Selain varian durian, kami juga terus melengkapi fasilitas agar pengunjung betah berlama-lama di Kebon Duren,” tambahnya.
"Mari mas, mbak silahkan di santap." ujar pak Oky dengan menunjuk cendol durian yang Mimi pesan dan telah dinantar oleh pegawai pak Oky.
"Makasih pak." jawab Mimi.
Mimi dan yang lain menyantap menu berlarian durian ini sambil bercengkrama, namun Mimi merasa gak enak kepada Selfia dan Dimas yang sedari tadi diam.
Mimi tak sengaja merangkul lengan Saridi hanya karena rasa bahagia nya dengan kejutan Saridi berupa wisata ke kebun duren.
"Hmmmm huhh " Mimi menarik nafas nya pelan sambil melihat ke arah Selfia dan Dimas.
Mimi melihat Dimas beranjak berdiri dan berjalan menelusuri kebun duren, Mimi pun ikut beranjak. Mimi mengikuti langkah Dimas dan mensejajarkan diri.
"Dim." panggil Mimi kepada Dimas.
"Hmmm." jawabnya dengan melihat-lihat buah duren yang masih bergantungan di batang nya.
"Dimas kenapa?" Mimi memberikan pertanyaan yang bodoh, padahal dia tahu kenapa Dimas begitu.
"Laginlihat durian." jawab Dimas.
"Dim." panggil Mimi lagi.
"Ada apa?" tanya Dimas balik.
"Apa yang Dimas lihat tadi tidak seperti yang Dimas pikirkan." ucap Mimi yang sok kepedean.
"Emang apa yang aku pikirkan." ucapnya.
"Dim, Mimi menganganggap Saridi sahabat begitu pula dengan kalian semua." terang Mimi.
"Walau kalian berpikir hubungan Mimi sama cowok Mimi berakhir, tapi itu nggak mungkin berakhir karena kami saling menyayangi, dan tidak mungkin Mimi !menjalin hubungan kepada orang lain. Apa lagi sama sahabat sendiri." jelas Mimi.
"Mimi tau, Dimas marahkan sama Mimi? walau seandainya hal terburuk pun terjadi pada hubungan Mimi dengan cowok Mimi, Mimi tidak akan memilih di antara kalian berdua sebagai penggantinya. Kalian sahabat-sahabatnya Mimi, Mimi sayang kalian sebagai sahabat dan Mimi mengganggap kalian adalah saudara Mimi." jelas Mimi dengan mengungkapkan hatinya.
"Dan tak mungkin juga Mimi menjalin hubungan dengan Saridi karena ada hati yang harus Mimi jaga." ucap Mimi lagi, Dimas hanya diam mendengarkan nya.
"Yaitu hati Dimas dan Fia." ucap Mimi lagi dan Dimas melihat ke arah Mimi.
"Maksud kamu apa Mi? aku?" Dimas bertanya dan menunjuk dirinya.
"Iya, kamu. Mimi tahu Dimas menyukai Mimi bahkan Mimi juga tau di dompet dan HP Dimas ada foto Mimi zaman dulu." ucap Mimk dengan senyum.
"Maaf, Mimi tidak sengaja melihat isi dompet Dimas waktunitu." ucap Mimi lagi.
"Emm maaf." ucap Dimas
"Kenapa Dimas minta maaf?" tanya Mimi.
"Maaf karena !enyimlan foto Mimi." ujarnya.
"Its oke lah Mimk anggap Dimas sebagai kolektor foto hehe." jawab Mimi.
__ADS_1
"Kamu ini." ucap Dimas dengan mengacak hijab Mimi.
"Dimas ihhh, miring-miring nih hijab Mimi." ucap Mimi dengan cemberut karena hijabnya sudah miring takmkafuan dan kusut.
"Bahasa" Dimas tertawa dan berlari.
"Ihhh awas aja, Mimk acak-acak itu rambut klimis." seru Mimi dengan mengejar Dimas.
''Eh kalian ini kenapa?" tanya Saridi.
"Awas Sar, mau Mimk acak-acak tuh rambutnya." ucap Mimi.
Selfia yang melihat Mimi kembali ceria dia juga bahagia walau masih ada rasa cemburu di hatinya.
"Sini kamu Dim, enak aja main acak jilbab Mimi." ucap Mimi.
"Udah Mi, sana baiki jilbabnya dulu." ucap Muthia melerai Mimi yang hendak mencabik Dimas. Dengan menunjukkan ke arah toilet yang telah disediakan disana.
"Huh, awas saja nanti." ucap Mimi dengan kesal dan berlalu menuju toilet.
Tak lama Selfia juga oerginkentoilet hendak buang air kecil, Mimi yang sudah memperbaiki jilbabnya melihat Selfia masuk di salah satu toilet, Mimi menunggunya.
"Mimi" ucap Selfia yang baru keluar dari toilet.
"Emm, ayo kita kesana bareng." ajak Mimi dan Selfia mengangguk.
Mimi dan Selfia berjalan beriringan, Mimi merangkul lengan Selfia dan melihat ke arah Selfia yang !asih setia dengan diamnya.
"Fi." panggil Mimi.
"Iya Mi." jawabnya.
"Selfi kenapa? marah sama Mimi." tanya Mimi ndengan memanggil Fia dengan Selfi.
"Enggak kok." jawabnya.
"Fi, Mimi sama Saridi nggak ada hubungan kok. Hati Mimi masih ada kak Syahril sampe kapanpun." ucap Mimi, Selfia terdiam.
"Mimi tau, Fia menyukai Saridi kan?" tanya Mimi dengan mendahului langkah Selfia sedikit dan menghadap ke arahnya dengan senyum.
"Eh enggak, siapa bilang." elak Selfia.
"Kalau suka bilang suka, jangan dipendam. Suka Dala diam itu nggak enak, ntar ditikung lawan sakit." ucap Mimi dengan mengedipkan mata sebelah.
"Mimi hanya menganggap Saridi sahabat Fi, apa yang Fia lihat tadi hanya kesalah paham an saja, Mimi hanya reflex memelukmlenganyankarena Mimi suka durian dan Mimi hanya mengungkapkan rasa terimakasih Mimi sama dia." terang Mimi, Selfia diam mungkin dia merasa menyesal telah menaruh curiga pada Mimi sahabatnya.
"Apapun kelak yang terjadi pada hubungan Mimi sama kak Syahril, Mimi tidak akan semudah itu untuk berpaling." ucap Mimi lirih dengan senyum.
"Percaya sama Mimi, jika Fia suka sama Saridi ungkapkan. jangan malu cewek ngungkalin duluan, sekarangkan zaman emansipasi jadi mau cowok atau cewek yang ungkapin duluan nggak akan masalah " ucap Mimi.
"Mi...." panggil Fia dan memeluk Mimi "Maafin Fia ya?" ucaonya yang masih dalam pelukan Mimi.
"Iya sama-sama, jadi beberkan Fia suka sama Saridi?" ucap Mimi dan kembali menggodanya Selfia.
"MimiI ah.." ucap Fia dengan wajah merona karena malu.
"Cie cie..." Mimi terus menggoda Selfia hingga mereka berdua ke!Bali bergabung dengan yang lain.
"Eh ada apa nih? kok mukanfia memerah?" tanya Riko.
"Fia lagi fall In love Ko heheee." ucap Mimi.
"Isss Mimi, sejak kapan jadi ember." ucap Selfia dengan cemberut.
"Hahaha" Mimi terus ketawa. Semua melihat ke arah mimi yang terlihat riang hari ini.
"Eh kok pada ngeliatin Mimi." tanya Mimi.
"Kota senang melihat Mimi kembali ceria." ucap Muthia.
"Hehee emang sejak kapan Mimi tidak ceria. Hidup itu harus dijalani walau kadang jalan itu tak selama nya lurus, angggap saja kelokan itu seperti kelok 44 yang memacu adrenalin kita, dan begitu pula dengan tanjakan nya yang kadang membuat jantung ingin lepas." ucap Mimi dengan senyum. Yah Mimi tersenyum buat sahabatnya, Mimi ingin mulai menata hatinya kembali untuk menghadapi kemungkinan yang akan dihadapinya nanti.
"Heleeeh sok puitis." ejek Dimas.
"Heiio mas Dimas, ini bukan puisi ya, ini adalah kenyataan hidup tau." ucap Mimi
"Sekarepe mu dewe lah Mi Mi.." ucap Dimas.
"Ya iya lah masa ya iya toh." ujar Mimi dan perlahan mendekati Dimas dan disaat ada kesempatan Mimi mengacak rambut Dimas yang selalu klimis.
"Hahaaa satu sama." ucap Mimi yang berhasil !engacak rambut Dimas dan membuatnya berantakan.
"Mi Mimi..." ucap Dimas kesal rambutnya sudah seperti orang bangun tidur.
"Hehee weee." ucap Mimi dan terus berlari menuju mobil diparkiran.
Sesampainya di parkir, Mimi !menunggu mereka karena mereka jalannya santai.
Mimi menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
__ADS_1
"Kaakkk Mimi merindukanmu." gumam Mimi sambil merentangkan tangan dengan memejamkan mata !menghirup udara segar di tempat ini.
"Bismillah ya Allah, bantu hamba untuk menata hati hamba. Apapun nanti hamba berusaha untuk ikhlas." gumam Mimi dalam hati. Mimi tersenyum melihat para sahabat telah sampai dia parkiran dan setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.