DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
marahnya Syahril


__ADS_3

Sore hari Mimi dan ke empat anak pak Amat beristirahat sejenak setelah semua perkerjaan mereka selesai, sekarang halaman belakang rumahnya sudah bersih.


"Bu, ada mancis dak?' tanya adiknya Riki.


"Buat apa?" tanya Mimi


"Buat Meron rumput tu." jawabnya.


(Meron \= bakar )


"Oo, bentar ibu ambek an" jawab Mimi


(Ambek an \= ambilkan)


Mimi pun kembali ke rumahnya dan mengambil korek api dan minyak tanah.


Mimi membakar tumpukan rumput tadi bersama anak-anak. Tak hanya belakang rumah yang sudah bersih, di sekeliling rumah pun sudah mereka bersihkan bersama.


Rencana mereka berenam besok pagi akan bercocok tanam.


Riki mengambil Dogan kembali karena Mimi yang minta, Dogan telah terkupas dan dimasukkan kedalam teko yang sudah berisi sirup dan es.


"Kalian lapar dak?" tanya Mimi, mereka hanya diam.


"Kalian mau makan mie?" tanya Mimi lagi."Jawab adiknya Riki. Yah Riki membawa adik nya yang duduk di bangku SD.


"Bentar ya ibu buat kan." ucap Mimi dan kembali pulang kerumah


Dengan semangat Mimi membuat mie rebus, pertama Mimi membuat khusus adiknya Riki yangbpaling kecil tentu tidak suka pedas itulah pikiran Mimi dan kedua Mimi membuat untuk dirinya dan ke empat anak yang lain.


Mie rebus telur rebus pun sudah siap, Mimi membawa mie tersebut keluar.


"Ayo sini." ucap Mimi meneriaki mereka semua. Mereka pun berlarian dan naik ke atas.


"Nah ayo dimakan." ucap Miki dan mereka pun makan dengan lahap.


Sambil makan mereka Kun saling bercerita.


"Jadi bagaimana sekolah kalian? Pelajarannya bagaimana?'' tanya Mimi.


"Susah Bu, apa lagi matematik, IPA sama bahasa Inggris." ucap Riki.


"Bu dokter, besok Rifa mau jadi dokter juga lah." ucap adik kecil Riki.


"Boleh, tapi harus belajar yang rajin. Harus dapat nilai yang bagus biar bisa masuk kedokteran dengan gratis." ucap Mimi.


"Memnag bisa Bu dokter?" tanya Sofyan sepupu Riki.


"Bisa, tali nilai kalian harus di atas rata-rata. Bu dokter saja kuliah gratis." ucap Mimi bukan bermaksud sombong melainkan memotivasi anak-anak.


"Apa harus jadi juara umum ya Bu dokter kalau mau dapat beasiswa." ucap Riki. Mimi melihat ke arah Riki dan menepuk bahunya.


"Tidak harus juara umum, cukup setiap mata pelajaran terutama kejaran yang menunjang seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, IPA, fisika kalian tinggi. Lebih bagusnya semua mata pelajaran kalian harus tinggi." ucap Mimi. Terlihat mereka menghelakan nafas kasarnya.


"Kenapa?" tanya Mimi.


"Susah Bu dokter." jawab mereka bertiga, Riki pun hanya diam.


"Tidak ada yang susah kalau kita sudah bertekad dan berniat untuk sukses kedepannya." ucap Mimi.


"Intinya kemauan kalian, kalau kemauan kalian kuat pasti akan timbul niat dan tekad yang kuat pula. Ibu yakin kalian pasti bisa." ucap Mimi menyemangati mereka.


"Emm begini saja, insya Allah ibu disini kurang lebih satu minggu lagi. Kalau kain mau, kalian bisa belajar bersama ibu, kalian bisa tanyakan apa saja yang menurut kalian itu susah, nanti kita pecahkan bersama, bagaimana?" ucap Mimi dengan menawari dirinya untuk mengajari anak-anak ini


"Apa boleh bu dokter?" tanya Sofyan.


"Kenapa tidak, kan ibu yang mengajak kalian. Nah mulai besok habis kita bertanam kita belajar. Bagaimana?" ucap Mimi dan mereka punn saling pandang dan kemudian mereka mengangguk senang.


"Yaudah lanjut makannya." ucap Mimi, mereka pun kembali menyantap mie rebus ala Mimi.


"Oh ya Rik, kata pak Amat di sungai itu ada udangnya juga ya?" tanya Mimi disela makannya.


"Banyak Bu dokter," jawabnya.


"Kalau belut?'' tanya Mimi.


"Banyak juga, ala lagi di sawah. Bu dokter mau biar kita carikan." ucapnya.


"Emm boleh, habis ini kita cari bersama ya." ucap Mimi.


Sehabis makan, mereka pun pergi ke sungai dan ke sawah-sawah penduduk. Riki mengajarkan cara memancing belut secara tradisional dengan memancing pakai tangkai bunga ilalang.


Mimi ikut turun mencari belut-belut, hasil tangkapan mereka lun lumayan banyak, Riki menusuk dari kepala belut-belut itu dan di masukkan nya ke dalam tali yang terbuat dari pelepah pisang. Setelah itu baru Mimi masukkan kedalam kantong plastik yang dia bawa.


Tak hanya belut, Mimi juga memancing udang. Mereka membantu Mimi memancing udang. Apa yang dikatakan pak Amat memang benar adanya kini Mimi juga mendapatkan udang yang banyak.


Syahril, Ryan dan Di'ah sudah sampai rumah. Sesampainya mereka lagi-lagi terlihat rumah sepi.

__ADS_1


"Rill, hobi nian bini mu hilang." ucap Ryan dengan canda.


"Tertidur kali." jawab Syahril dengan terus berjalan masuk kedalam kamar, namun tidak menemukan Mimi disana.


"Kemana lagi tu anak." ucap Syahril dan dia berganti bajunya dengan kaos oblong, Syahril kedapur juga tidak menemukan Mimi.


"Ada Mimi Riil?" tanya Ryan,


"Ndak ada." jawab Syahril dengan terus mencari Mimi dan dia buka pintu dapurnya dan keluar terlihat ada onggokan mangkok dan cangkir serta ada teko yang masih ada isinya.


Syahril celingukan mencari Mimi dari atasr rumahnya.


"Lah ini ada mangkok dan cangkir mana orangnya." ucap Ryan yang juga melihat ke sekitar.


"Apa dia pasang luka lagi Riil?" ucap Ryan lagi


"Tidak, tuh lukanya ada disana." ucap Syahril dengan menunjuk ke arah luka yang tergantung di dinding rumah mesin.


Syahril turun ke bawah dan dia menelusuri jalan menuju sungai dibelakang rumahnya dengan diikuti Ryan.


"Mau kemana Riil?" tanya Ryan mengikuti langkah Syahril.


"Mau cari Mimi." jawabnya dengan mempercepat dan memperlebarkan langkahnya.


"Emang nya Mimi mandi di sungai." ucap Ryan. Saat sampai di tepian sungai Syahril dan Ryan celingukan kirk dan kanan mencari keberadaan Mimi.


Orang yang mereka cari sedang duduk santai sambil memancing udang dari pondok.


Syahril dan Ryan dengar suara tawa yang mereka kenal suara itu adalah Mimi.


"Riil disana suaranya." ucap Ryan dengan menunjuk sebuah pondok yang tak begitu jauh dari rumahnya.


Syahril dan Ryan pun berjalan mendekati pondok itu.


"Eh pak dokter." ucap Riki, Mimi yang sedang asik membakar udang di samping pondok menoleh ke arah orang yang baru datang.


"Eh kak, dah pulang." jawab Mimi denagn menunjuk udang yang di tusuk di bambu.


Yah mereka berenam entah siapa yang memberi ide akhirnya mereka bakar udang dan menyantap nya dengan cabe rawit dan kecap yang di ambil Riki dari rumahnya.


"Kakak mau?" ucap Mimi dengan senyum.


Syahril dan Ryan melongo tidak percaya Mimi bermain bersama anak-anak.


"Ya Allah Mimi." ucap kak Ryan.


Syahril menatap Mimi dingin, tali yang di tatap cuek dan meneruskan manggang dan sesekali melihat ke arah pancingnya.


"Ayo pak dokter, enak Lo." ucap adik Riki dengan memberikan satu tusuk udang ke Syahril, Syahril menarik nafasnya pekan dan menerima tusuk udang itu . Akhirnya dia dan Ryan ikut makan udang bakar bersama.


Langit semakin meredup, meraka pun semua pulang kerumah masing-masing. Mimi membawa hasil tangkapan nya belut dan udang.


Sepanjang jalan pulang Mimi bercerita pada Syahril dan Ryan. Sampai rumah mereka bergantian untuk mandi, Di'ah dia telah rapi karena sudah mandi.


Mimi mengangkat mangkok kotornya tadi dan segera mencucinya. Mimi juga membersihkan belut serta udang nya sebelum dia simpan kedalam kulkas.


Suara adzan berkumandang, Mimi baru mau selesai membersihkan belut dan udangnya dan sudah di masukkan nya ke dalam kulkas.


Syahril dan Ryan serta Di'ah mereka pergi sholat berjamaah ke mushollah. Mimi yang sudah menyelesaikan perkerjaan baru dia pergi mandi dan setelah itu dia berwudhu dan menjalankan perintah illahi.


Sehabis sholat Mimi menyempatkan untuk mengaji, hingga Syahril juga duduk di depannya dan memegang Al-Qur'an.


Sehabis mengaji Mimi dan Syahril keluar kamar menuju dapur untuk makan. Mimi menyajikan lauk yang sama, mereka pun makan menghabiskan lauk yang ada di piring.


Mimi meminta pada Syahril untuk di buatkan pondok di belakang rumahnya dan Mimi ingin posisinya dekat dengan sungai seperti pondok yang dia duduki sore tadi.


"Ya besok, kakak minta tolong sama pak Tamso." ujarnya.


"Benaran ya kak, tapi buatnya agak besaran dikit." ucap Mimi, Syahril lun mengangguk dengan mengusap kepal Mimi.


Mereka berempat duduk untuk nonton tv, tapi bukan mereka yang nonton melainkan tv yang menonton mereka karena mereka sibuk sendiri.


Di'ah sesekali melirik ke arah Mimi, ada rasa iri di hatinya kala mendengar apa yang di pinta Mimi selalu di kabulkan oleh Syahril.


Di'ah selalu iri pada Mimi yang mana saat ini dia meraih kesusksesan bahkan apa uang dia inginkan selau terkabul.


Karena sifat iri itu perlahan Di'ah seperti menjaga jarak dengan Mimi.


Sedangkan Mimi tetaplah seperti Mimi yang dulu. Jika dia mempunyai keinginan maka dia akan berkerja meras untuk mendapat kan keinginannya itu.


Keesokan harinya, Mimi yang terbiasa bangun pagi dia selalu membuat sarapan buat semua. Kali ini Mimi membuat nasi goreng seafood buat semuanya.


Nasi goreng telah masak dan di sajikan di atas meja, Mimi segera membersihkan peralatan kotor nya dan setelah itu Mimi mulai menyapu serta mengepel rumahnya.


Satu persatu penghuni rumah ini baru keluar dari kamarnya. Mimi masuk kedalam kamarnya dan membangunkan Syahril yang kembali tertidur.


"Yank, bangun." ucap Mimi.

__ADS_1


"Bentar yank." jawabnya dengan menarik selimut hampir menutupi kepalanya.


"Ayok bangun, katanya mau ke dusun sebelas." ucap Mimi lagi.


"Kamu ikut ya yank." jawabnya.


"Emm ndak bisa, Mimi ada janji sama anak-anak." ucap Mimi.


"Tunda saja dek ngajarin mereka, sore atau malam." jawab Syahril, Mimi pun diam mempertimbangkan.


"Emm yaudah, nanti mampir duku temlat pak Amat ya." ucap Mimi.


"Ngapain?" tanya Syahril.


"Ya kasih tau Riki kalau belajarnya sore." jawab Mimi dan Syahril pun mengangguk dan segera beranjak.


Syahril keluar kamar dengan mengalungkan handuk di leher nya dan Mimi menyiapkan pakaian buat nya.


Syahril lupa membawa pakaian ganti nya maka Mimi pula yang membawakannya.


Tak lama kak Ryan dan Di'ah keluar dari kamar mereka dan sudah berpakaian rapi.


"Kak, kau mau sarapan, sarapan saja dulu tuh semua sudah sial di atas meja." seru Mimi.


"Lah kalian sudah sarapan?'' tanya Ryan.


"Belum kak, kak Syahril baru saja masuk kedalam kamar mandi. Kakak sama Di'ah duluan saja." ucap Mimi.


"Emm yaudah kami duluan ya Mi." ucap Ryan dan Mimi mengangguk.


Sehabis sarapan Di'ah dan Ryan langsung berangkat ke puskesmas. Syahril sudah sial dengan pakaian kerja nya dan Mimi juga sudah memakai pakaian yang rapi.


Setelah itu mereka berdua duduk di atas meja, terlihat diatas meja ada dua piring kotor dan dua cangkir kotor.


Syahril yang melihat itu sudah memasang wajah garamnya.


"Jangan di bawa kesana dan jangan di cuci." ucap Syahril saat Mimi menyingkirkan piring kotor itu dan akan membawa ke tempat pencucian piring.


"Iya tapi kan.." ucap Mimi.


"Turuti omongan kakak. Kamu bukan pembantu." ucapnya


deg Mimi terdiam dan mengurung kan niatnya untuk membawa piring kotor itu. Mimi menyajikan nasi goreng buat Syahril namun Syahril lagi-lagi menolak.


"Kakak sudah tidak selera." ucapnya dengan beranjak dari kursi.


"Kaak'' ucap Mimi dengan memegang lengannya.


"Dia sudah keterlaluan dek, dia tidak menghargai kamu. Jangan mentang-mentang dia sahabat kamu dan kamu baik dengannya, seenaknya dia memperlakukan semua ini."


"Piring bekas makan dia dan suaminya saja tidak sempat dia, keterlaluan itu namanya." ucap Syahril yang sudah dia ambang kesabarannya.


"Lain kali jangan kamu masak, coba kita lihat apa dia akan memasak buat kita." ucap Syahril dan langsung meninggalkan dapur.


Mimi mengambil Tupperware dan.dia masukan nasi goreng ke dalamnya dan kopi susu dia masukan kedalam termos Tupperware. Mimi membawa nasi goreng itu untuk mereka makan di jalan.


Piring kotor bekas makan Di'ah dan Ryan tetao berada di tempat nya tadi dan di temlat nasi goreng berada di dalam tudung saji.


Syahril yang sedari tadi memanasi mobil nya pun sudah masuk Medan mobil, Mimi dengan segera menyusulnya dan tak lupa mengunci pintu rumah.


Sebelum berangkat ke kampung sebelah, Mimi dan Syahril singgah kerumah pak Amat terlebih dulu, Mimi pun memberitahu Riki kalau dia tidak bisa mengajari mereka pagi ini, sebagai gantinya sore dan malam Mimi akan mengajarinya.


Syahril juga meminta pada kak amat untuk membuat pondok di belakang rumah nya atas permintaan Mimi.


Sofyan yang mendengar akan pergi kedusun sebelah dia memberanikan diri untuk menumpang pulang karena rumahnya berada di dusun itu.


"Pak dokter, Bu dokter, saya boleh numpang ndak?' tanya Sofyan.


"Numpang kemana?" tanya Mimi.


"Pulang Bu dokter." jawabnya.


"Lah emang rumah kamu dimana?" tanya Syahril.


"Di dusun sebelah pak dokter, dusun yang akan dokter pergi." ucapnya


"O yaudah, ayo." ucap Syahril.


"Makasih Pak dokter." jawabnya senang.


"Lah kalau kamu pulang, kamu Ndak jadi belajar." ucap Mimi.


"Jadi Bu dokter, saya pulang mau ambil buku pelajaran, kebetulan bapak sama Bu dokter. mau kesana jadi satu arah.'' jawabnya.


"Ok gitu, yaudah kamus siap-siap." ucap Mimi.


Mereka pun segera berangkat namun sebelumnya mereka mampir duku ke puskesmas.

__ADS_1


tbc


__ADS_2