
Pagi itu setelah semua urusan rumah beres, Mimi menyapu halaman rumahnya. Saat sedang asik menyapu dan mengumpulkan sampah-sampah dedaunan. Ke empat anak-anak yang biasa membantu Mimi datang ke rumah.
"Waalaikum salam." jawab Mimi dengan senyum.
"Itu buat apa Ki?" tanya Mimi ketika melihat ke empat anak tersebut bawa kayu ke rumahnya.
"Buat jalaran Bu dokter." jawab Raka.
"Jalaran? emang kalian kemaren nanam apa?" tanya Mimi.
"Kami nanam jagung sesuai permintaan ibu, terus kami nanam ubi kayu, ubi jalar, dan kami ada juga nanam kacang panjang di samping rumah dengan kandang ayam ibu." jawab Riki.
"Wah makasih ya Ki. Emm Sofyan di rumah Mak Sofyan ada bibit Pete ndak, kalau ada ibu mau lah nanam sikok jadi lah." ucap Mimi.
"Ado Bu. Nanti lah pas kami balek kami Bawak an." Ucap Sofyan.
"Emm, duren Mak Sofyan la Ado masak dak. kalu ado boleh Kito kerumah Sofyan.
( Emm, duren Mak Sofyan sudah ada yang masak tidak. Kalau ada boleh kita ke rumah Sofyan).
"Ndak tau saya Bu." jawab nya.
"Yaudah ayo kita ke belakang." ajak Mimi, dan mereka pun kebelakang rumah.
Riki dan Sofyan mulai memasang kayu-kayu panjang di tanaman mereka kemaren. Raka Soni juga membantu abang-abang nya.
"Bu dokter." panggil Raka, Mimi yang sedikit melamun tersentak.
"Eh iya ada apa Ka?" tanya Mimi.
"Semalam kami ado masang luka Bu, la ibu tengok belum?" tanya Raka, Mimi bingung karena memang dia tidak ada menyuruh mereka untuk pasang luka itu.
(Kemaren kami ada pasang luka/ alat penangkap ikan, sudah ibu lihat belum?")
"Ndak ado ibu nyuruh pasang kan? jadi ibu Ndak tau." jawab Mimi.
(Tidak ada ibu suruh pasang kan? jadi ibu tidak tau)
"Semalam Bu Di'ah yang nyuruh Bu, la di tengok i nyo dak?" tanya Soni.
(Kemaren Bu Di'ah yang menyuruh Bu, sudah di lihat nya tidak?)
"Ndak ado kayak nyo, cobo Kito tengok yok." jawab Mimi dan mengajak mereka untuk melihat luka tersebut.
(Tidak ada kayak nya, coba kita lihat yok)
Riki dan Sofyan yang sudah selesai pun, mengikuti Mimi ke sungai. Riki dan Sofyan mengangkat luka yang mereka pasang.
"Alhamdulillah Bu, masih Ado ikannyo." ucap Riki dengan senyum. Baru kali ini Mimi melihat Riki tersenyum, terlihat tampan dan manis di tambah Riki memiliki lesung di kedua pipinya.
Riki dan Sofyan membantu Mimi membawa luka-luka tersebut ke atas rumah, sampai di rumah Mimi memilah ikannya, yang masih hidup dan segar Mimi kurung kedalam ember tempat biasa dia mengurung ikan.
Ikan yang setengah teler dan mati bukan busuk langsung Mimi siangi.
"Oh Yo Ki, di rumah Ado pucuk ubi dak?" tanya Mimi.
"Ado buk, ibu mau Yo?" ucap Riki.
"Mau lah Ki, buat sayur siang ni." jawab Mimi.
"O iyolah Bu, kalau macam itu kami petik dulu di kebun rumah." jawab Riki yang langsung beranjak.
"Kalian nanti makan siang disini ya, nih ibu mau goreng ikan samo buat sambal tanak pete." ucap Mimi lada Sofyan dan adik-adiknya.
"Dakll usahlah Bu, jadi ngerepotin kami." jawab Sofyan.
"Dak repot Iyan, Kayaknya Dogan masih ada coba kamu petik Yan dua tau tiga buah." ucap Mimi.
"Baik Bu." jawab Sofyan dan dia juga langsung beranjak.
Tinggallah Mimi,Raka dan Soni. Raka dan Soni masih memilah ikan-ikan yang sudah di taruh dalam baskom besar.
"Raka, Soni, kapan kalian masuk sekolah?" tanya Mimi.
"masih lama kami masuk Bu." jawab Raka.
"Kenapa ?' tanya Mimi.
"Kan libur natal dan tahun baru bu , tanggal dua kami baru masuk." jawab Soni.
"Oo iya ya." jawab Mimi dengan senyum.
"ibu kapan pulang ke LA?" tanya Raka.
"Mungkin Minggu depan ibu baru pulang, tapi ke Jambi dulu" jawab Mimi.
"Ayah berarti kami belajar tinggal beberapa hari lagi lah Bu." ucap Soni.
__ADS_1
"Ya tidak, kalian masih tetap bisa belajar dengan oak Syahril dan pak Ryan." jawab Mimi.
"Ibu boleh minta tolong ndak kalau ibu tidak ada disini dan kalian masih libur atau pas kalian libur." ucap Mimi.
"Minta tolong apa bu?" tanya Raka.
"Tolong jagain pak Syahril dan pak Ryan ya, kalau ibu dan Bu Di'ah tidak ada disini." ucap Mimi.
"Ok kalau masalah itu kita siap Bu, kita akan menjaga pak Syahril dan pak Ryan dari betino kanji " jawab Raka, Mimi tersenyum
(Betino kanji\=perempuan ganjen/genjt )
"Makasih, ibu jigta minta tolong. Jagain ayam-ayam ibu, kasih ayam-ayam ibu makan ya. Nanti kalian minta saja uangnya sama pak Syahril uang buat beli pakannya." ucap Mimi.
"Asiaaap Bu dokter." jawab Raka.
Sofyan yang telah berada di atas rumah dengan beberapa Dogan hanya diam menyimak obrolan Mimi dengan kedua adiknya.
Tak lama Riki juga telah sampai dengan membawa pucuk ubi.
"Wah banyak nian Ki." ucap Mimi.
"Iya bu ndak apa." jawab Riki.
"Emm yaudah kalian bantu ibu petikin pucuk ubi nya ya," ucap Mimi.
"Baik Bu." jawab mereka.
Mimi masuk kedalam mengambil tempat untuk pucuk ubi nya. Mimi melumuri ikan yang telah dibersihkan nya pakai asam jeruk nipis dan garam setelah itu dia diamkan sejenak sebelum di goreng.
Menjelang ikan meresap, Mimi memblender cabe u tuk sambal tanak nya. Setelah halus Mimi langsung memasak sambal Bu tanaknya.
Taknluoa di dalam sambal tanaknya Mimi masukkan pete yang sudah di kupas dan ikan teri.
Pucuk ubi yang di petikin sama anak-anak pun sudah di cuci bersih sama mereka.
Hari semakin siang, para pegawai sebentar lagi juga akan pulang. Mimi segera mendidih kan air untuk merebus pucuk ubi, sambil merebus pucuk ubi, m km ke juga menggoreng ikan-ikannya.
Setengah jam berkutat di dapur akhirnya Mimi pun selesai memasak. Mimi menyalin masakannya kedalam dua wadah yang berbeda.
Satu wadah buat di atas meja makan dan satu nya buat Mimi makan bersama anak-anak.
"Riki, Sofyan." panggil Mimi dengan berteriak karena mereka semua duduk di pondok belakang rumah.
"Iya Bu." jawab mereka berdua yang juga dengan berteriak dan langsung mendekati ke arah Mimi.
"Ini tolong bawakan ke pondok, kita makan di pondok saja." ucap Mimi dengan memberikan Riki hidangan bersisi nasi, ikan goreng, sambal tanak Pete dan rebusan pucuk ubi.
Canda tawa mereka saat ini kelak akan Mimi rindukan. Mimi mengabadikan momen dirinya bersama anak-anak.
Setelah itu mereka pun mengambil nasi dan menaruh kepiting mereka masing-masing.
Syahril, Ryan dan Di'ah pun telah pulang. Saat mereka sampai rumah, terlihat rumah sepi. Syahril membuka pintu rumah yang tak terkunci.
"Kemana Mimi Riil? Pintu rumah tidak di kunci." ucap Ryan.
"Emm di dapur mungkin, nih bau masakan." ucap Syahril mencium aroma masakan yang masih tersisa.
Syahril berjalan menuju dapur namun tidak menemukan Mimi, bahkan di dapur pun sudah tidak ada aktifitas memasak.
"Kemana dia?" ucap Syahril yang terus mencari keberadaan Mimi.
Ryan dan Di'ah telah berada di dapur, mereka berdua berpapasan dengan Syahril yang hendak menuju kamarnya.
"Ada Riil?" tanya Ryan.
"Ndak ada, mungkin tertidur di kamar." jawab Syahril dengan terus melangkahkan kaki ke kamar.
"Kalian kalau mau makan, makan saja dulu." ucap Syahril tanpa melihat mereka.
Sesampainya di kamar Syahril jugabtidak menemukan keberadaan Mimi.
"Kamu kemana sih dek, hobi nian ngilang." ucap Syahril seraya meletakkan tas kerja nya di atas meja.
Syahril melipat lengan kemeja nya, kemudian dia kembali keluar kamar. Satu-satunya tempat yang dia yakini adalah belakang rumah.
"Mau kemana Riil?" tanya Ryan ketika melihat Syahril melewati mereka dan menuju pintu dapur. Syahril tak menjawab dia terus melangkah keluar.
Syahril berdiri di atas teras dapur, dia tersenyum. kala melihat orang yang dicarinya berada di tempat yang sangat di yakini nya.
Syahril kembali masuk, Syahril mengambil piring dia masukkan nasi kedalam piring beserta lauk pauk. Setelah itu Syahril kembali berjalan menuju pintu dapur.
"Hei Riil, mau makan dimana Lo?" ucap Ryan.
"Belakang." jawab Syahril.
Syahril menuruni anak tangga dan dia berjalan menuju dimana ada Mimi.
__ADS_1
Raka yang dari kejauhan melihat Syahril hanya tersenyum.
"Disini ternyata." ucap Syahril ketika telah sampai di pondok.
"Eh kak dah pulang." jawab Mimi dengan menyalami serta mencium tangan Syahril, keempat anak-anak pun mengikuti jejak Mimi.
"Iya, pas pulangnya lihat rumah sepi, pintu ndak di kunci lagi." jawab Syahril.
"Eh iya ya hehee. Lupa." ucap Mimi.
"Kalian sudah pada makan?" tanya Syahril pada mereka semua.
"Belum, ini baru mau makan.'' jawab Mimi.
"Kakak bawa nasi dari atas?" tanya Mimi.
"Hemm, yaudah ayo kita makan bersama-sama." ucap Syahril mereka pun mulai makan siang bersama di pondok tepian sungai.
"Ih ya dek, sudah kasih tau Riki dan yabg lain?' tanya Syahril mengingat kan.
"Em belum, lupa. Jadi siang ini" jawab Mimi yang lupa dan bertanya kembali.
"Jadi, sehabis sholat Jum'at." jawab Syahril.
"Emm, oh ya anak-anak. Nanti malam kita libur dulu ya belajar nya." ucap Mimi.
"Kenapa Bu?" tanya Soni.
"Iya Bu, bukannya ibu minggu dekan baru balik." ucap Raka. Riku dan Sofyan hanya diam dan melihathag ke arah Mimi menunggu jawaban.
"Insya Allah sehabis sholat Jum'at ini sama pak Dokter mau ke kota dulu, mungkin besok siang baru balik lagi kesini." jawab Mimi.
"Jadi kapan kita mulai lagi Bu?" tanya Sofyan.
"Emm insya Allah mam besok kalian sudah bisa kembali belajar, nanti bilangin sama yang lain ya?" ucap Mimi.
"Baik Bu." jawab mereka.
"Yaudah yok kita lanjut makan." ucap Mimi dan mereka pun melanjutkan makan nya.
Sehabis makan, anak-anak berpamitan karena mereka juga mau bersiap-siap ke masjid untuk sholat Jum'at.
Sambil merak jalan u tuk pulang, Meraka membawa piring kotor mereka ke atas rumah Mimi. Sofyan dan Riki hendak mencuci nya namun Mimi mencegahnya agar mereka tidak telat pergi ke masjid.
Syahril dan Ryan telah siap hendak pergi ke masjid, Mimi mencuci piring-piring kotor mereka tadi. Setelah itu tak lupa juga Mimi membereskan meja makannya. Apa lagi nanti merak akan pergi ke kota kabupaten nya.
Urusan dapur beres, Mimi mengangkat pakaian-pakaian nya yang terjermur. Menjelang menunggu orang pulang jum'atan Mimi menyetrika pakaian nya dan memasukkan pakaian ganti untuk mereka selama di kota nanti.
Semua sudah beres, Syahril dan Ryan juga belum pulang, untuk menghilangkan rasa penatnya, Mimi memutuskan untuk rebahan dan akhirnya Mimi tertidur pulas.
Syahril dan Ryan baru pulang dan langsung masuk ke kamar mereka masing-masing karena mereka berdua tidak mendapati kekasih hati mereka.
Syahril masuk kamar dan tersenyum kala melihat kekasih hatinya tertidur pulas. Begitu pula Ryan, namun Ryan tak membiarkan sang istri tenang dalam tidurnya. Ryan ikut berbaring di samping istri, Ryan memeluk Di'ah namun tangannya tak bisa diam.
Tangan Ryan terus mencari tempat favorit nya, Di'ah yang tertidur menjadi terganggu karena tangan Ryan merayap dalam bajunya.
"Emm" leguh Di'ah saat merasa rasa yang penuh dengan kenikmatan itu.
Ryan tersentun ketika sang istri mulai merespon gerakan tangan nya. Di'ah perlahan membuka matanya.
"Kaaak.." ucap Di'ah serak mendayu.
"Kaka pengin." bisik Ryan dengan mencium leher, telinga Di'ah....
Perlahan Ryan menuntun bibirnya menuju bibir Di'ah, Ryan mulai mengecap sampai Di'ah Kun meresponnya dan mereka saling sambut menyambut perdecapan itu.
Tak hanya decapan, mereka yang semakin panas merajut kepuasan mulai menciptakan gempa lokak kembali.
Syahril, keluar dari kamar hendak ke dapur untuk minum namun saat berjalan dia mendengar suara-suara khas orang sedang bercocok tanam, apa lagi Ryan lupa menutup pintunya rapat sehingga suara itu terdengar jelas dari luar.
"Ckk, siang-siang gasspoll. Pada lupa kali kalau di rumah ini belum ada yang halal. Ini ceritanya jadi apa ndak pergi." sungut Syahril dengan terus berjalan menuju dapur. Setelah itu dia Kun kembali ke kamar nya saja dari pada duduk di ruangan yang ada dia mendengar suara live streaming.
Syahril merebahkan tubuh nya di samping Mimi.
"Andai aja kita sudah halal dek. Mungkin kita sama dengan mereka siang-siang gasspoll bercocok tanam." gumam Syahril seraya memeluk Mimi dan kemudian dia pun tertidur.
Akhirnya jadwal mereka semula menjadi molor, Ryan yang terus tancap gass bersama Di'ah, Syahril dan Mimi mengarungi alam mimpi bersama.
Sehabis ashar mereka baru pergi dan mereka sampai di malam hari.
Seperti biasa mereka tidur di motel, Mimi dan Syahril memesan satu kamar, mereka tetap tidur berdua.
Keesokan hari baru mereka pergi ke butik di kota ini untuk membeli pakaian. Mereka membeli pakaian couple yang akan mereka kenakan saat pergi kondangan nanti.
Mimi tak hanya membeli pakaian untuk dirinya saja, Mimi juga membelikan pakaian untuk Riki, Raka, Sofyan dan Soni.
Mimi juga pergi ke toko buku di daerah ini, Mimi membelikan mereka beberapa buku untuk menunjang mereka belajar.
__ADS_1
Mimi tak hanya membeli buku buat mereka berempat, Mimi juga membelikan anak yang lain buku sesuai dengan tingkatnya.
tbc