
Seminggu berlalu, keluarga Abizar sudah kembali ke tanah air, begitu juga dengan keluarga Syahril.
Kepergian keluarga Syahril ke LA malam itu tidak ada yang banyak tau, begitu juga ummi Parida, umma sengaja hanya mengatakan kalau mereka hanya liburan saja.
Yah jika mereka mengatakan sesungguhnya apa yang terjadi pada Mimi dan Di'ah maka orang kampung akan heboh.
Umma juga tidak ingin orang tua Mimi maupun orang tua Di'ah tau dengan tentang terjadi kada anak mereka.
Bahkan umma pun tidak memberitahu umma Parida, karena jika diberitahu maka akan sampe pula ke Baiq dan Baiq akan sampe pula ke Ay adik Mimi.
Emak yang merasa tidak enak perasaan sempat menelpon Mimi saat Mimi belum sadarkan diri namun di angkat oleh Mbak Surti yang kebetulan mengantar pakaian serta keperluan wanita untuk Mimi.
Mbak Surti pun mengatakan pada orang tua Mimi waktu itu, kalau Mimi sedang ke kampus dan lupa membawa hp atas perintah bang Jack.
Carol sudah tertangkap bahkan Carol tertembak oleh anak buah bang Jack karena saat penangkapan Carol masih berusaha berontak bahkan sempat terjadi baku tembak antara Carol dengan anak buah Jack.
Carol yang sudah terlatih menembak akhirnya bisa di lumpuhkan dan saat ini Carol masih di ruang ICU.
Yah Carol terkena jebakan oleh bunda dan umma.
Waktu itu umma dan bunda sedikit telat menuju rumah sakit, mereka berdua berencana akan tidur di rumah sakit menemani Mimi dan Di'ah.
Bunda berencana akan menemani Mimi, sedangkan Uma akan menemani Di'ah.
Mereka berencana menginap di rumah sakit tanpa suami mereka.
Saat bunda dan umma berjalan akan menuju ruangan Mimi, bunda dan Uma melihat ada seorang wanita yang melihat ke arah dua kamar yaitu kamar Mimi dan Di'ah..
Bunda yang merasa curiga menghentikan umma.
"Syah, lihat wanita itu?" ucap bunda Rahmah dengan menarik tangan umma dan mengajak umma duduk di depan kamar pasien lain.
"Hemm, aku juga melihat nya tadi." ucap umma.
"Gerak geriknya mencurigakan deh Syah. Kita duduk aja dulu disini sambil mantau." ucap bunda.
"Hem." jawab umma.
"Apa itu si Carol ya mah?" tanya umma.
"Nggak tau juga aku.'' ucap bunda.
''Kamu nggak tau wajah si Carol?" tanya umma.
"Nggak, masa iya Carol wajahnya keriput gitu sih Syah." ucap bunda.
"Kau ini mah, wajah sekarang itu bisa dipermak Mah, dengan make up atau pakai silikon wajah kita bisa berubah." ucap umma.
"Hemm iya betul juga kata kamu" ucap bunda.
Bunda dan umma pun memantau wanita itu dari kejauhan.
"Mah, coba kamu hubungi penjaga di kamar Di'ah, untuk menjauh atau pergi sebentar dari depan pintu." ucap umma.
"Gila kamu, kalau kenapa-kenapa sama anak orang gimana." ucap bunda menolak.
"Ckk kita cuma mancing umpan Mah, nanti kita lihat apa dia akan masuk ke kamar Di'ah setelah penjagaan tidak ada atau nggak." ucap umma.
"Ya juga sih, tapi kalau penjagaan di depan kamar Mimi masih ada apa iya dia mau masuk." ucap bunda.
"Ya sekalian semua kita suruh menyingkir dulu tapi suruh mereka bersembunyi menjelang tuh wanita masuk." ucap umma..
"Hmm oke." Bunda pun menelpon salah satu orang yang menjaga di depan ruangan Mimi dan bunda juga menjelaskan dari rencana nya, mereka pun menyetujui dan melihat ke arah si perempuan dengan sandi arah jarum jam.
Penjaga di depan kamar Mimi menghampiri temannya yang jaga di depan kamar Di'ah dan meraka menjelaskan hal yang sama pada penjaga di depan kamar Di'ah,.
Awalnya mereka tidak percaya namun penjaga depan kamar Mimi memberitahu dan menunjukan ke arah Umma dan bunda se arah jarum jam, setelah mereka melihat baru mereka percaya dan mulai aksi mereka.
Lama mereka menunggu kurang lebih tiga puluh menit baru si wanita itu bergerak menuju kamar Di'ah dan dia pun segera masuk.
Bunda dan umma yang melihat wanita itu masuk segera dengan langkah lebar mereka berjalan dan sengaja berbicara dengan keras, para penjaga juga segera kembali ke kamar Mimi dan Di'ah.
Wanita yang baru saja akan menjalankan aksinya, dia melihat Di'ah tidur terlelap di dalam pelukan Ryan yang juga terlelap, saat dia akan menyuntikkan obat melalui selang infus terdengar suara dari luar dengan cepat dia menghentikan aksinya dan berusaha akan keluar.
Saat keluar, dia bersikap seolah linglung, bunda dan umma saling pandang, bunda juga memandang para penjaga dengan kasih kode untuk mengingat wajah si wanita itu.
"Maaf nyonya, nyonya siapa ya? kenapa ada di dalam kamar anak saya?" ucap umma dengan berpura bertanya.
__ADS_1
"Ouh maaf, saya sedang mencari kamar anak saya. saya kira ini kamarnya ternyata bukan." ucap wanita itu dengan suara khas orang sudah tua.
"Oh,memang siapa nama. anak nyonya dan kamarnya nomor berapa?" tanya bunda.
"Emm uhuk uhuk, nama anak saya Maria Jhonson, saya lupa di kamar berapa. Tadi saya keluar sebentar untuk membeli buah buat dia." ucapnya dengan menunjukan parcel buah di tangannya.
"Oh mari saya antar nyonya ke ruang konfirmasi biar kita cek nama anak nyonya berada di rumah apa." ucap umma, namun wanita itu menolak.
"Terimakasih, biar saya sendiri kerumah konfirmasi. Maafkan saya selamat malam." ucapnya dan berlalu pergi menuju lift.
Saat wanita itu telah pergi dan tidak terlihat bunda mengingatkan kepada anak buah suami nya untuk selalu waspada dan mengingat wajah wanita tadi.
Setelah mereka memberikan perintah lada anak buah nya bunda dan ummana masuk ke kamar Mimi terlebih dahulu, mereka terkejut saat melihat mimi dan Syahril tidur saling berpelukan.
Setelah melihat hal itu, Uma mengajak umma ke kamar Di'ah dan lagi-lagi mereka dikejutkan dengan pemandangan yang sama.
"Dasar anak zaman sekarang." ucap bunda.
"Kamu juga kayak gitu mah heheh." ucap umma.
"Iya yah." jawab bunda.
"Iya kalau nggak mana ada kamu nikah muda sama Brata." ucap umma mengingatkan.
"Ckk kamu juga gitu Syah, kita duku kan hanya tidur doang Syah nggak sampe peluk-peluk gitu ." ucap bunda.
"Ya sama aja namanya masih tetao sama tidur berdua hahaa'' ucap umma.
"Mana ada berdua Syah, jelas-jelas ada kamu, ada Fitri ada yang lain juga." ucap bunda mengenang masa-masa mereka saat kuliah.
"Ngomong-ngomong, Fitri apa kabar ya Syah?" tanya bunda.
"Ngak tau aku Mah, terakhir kan dia pulang ke kampung nya di kota pedang." ucap umma.
"Hmm kasian dia ya Syah, kuliah nggak nyampe ujung padahal kan tinggal satu semester lagi." ucap bunda.
"Ya mau gimana lagi Mah, kita mau bantu dia nggak mau, tetap akan pulang mengurus amak nya yang sakit." ucap Umma.
"Hmm, iya juga sih." ucap bunda.
Bunda dan umma pun larut dalam obrolan hingga tercetuslah ide untuk menikahkan segera Mimi dan Syahril serta Ryan dan Di'ah.
Bunda dan Uma berencana akan memindahkan Di'ah pagi-pagi besok ke kamar Mimi, karena bunda dan Umma berpikir kalau wanita tadi targetnya adalah Di'ah.
Dua hari berlalu, Mimi dan Di'ah sudah satu ruangan, bunda maupun umma tidak melihat wanita itu berkeliaran lagi, tapi rencana mereka tetap mereka jalankan.
Penjagaan di ruang Di'ah tetap dilakukan agar terkesan kalau kamar itu masih ada penghuninya.
Hari ketiga tepat malam hari nya, terlihat kembali seorang wanita namun dengan wajah berbeda memantau kamar Di'ah.
Bunda yang baru tiba malam itu bersama ayah Brata berpapasan dengan wanita itu. Bunda yang selalu menaruh curiga lun membuat rencana kembali setelah tiba didalam ruangan Mimi, mereka mengintip dari kaca pintu ruangan Mimi,.
Ayah Brata dan yang lain yang mengetahui kecurigaan bunda dan Umma pun mengikuti rencana bunda.
Ayah Brata keluar dan mendekati anak buahnya dan dengan berpura-pura menyuruh mereka untuk makan terlebih dahulu, mereka pun menuruti dan berputar-putar masuk kedalam lift.
Namun sebelumnya ayah Brata sudah menghubungi yang lain untuk siaga.
Satu jam berlalu, barulah wanita itu perlahan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan Di'ah, Afnan dan Afkar yang memang berada di balik lorong saat wanita itu masuk langsung mendekati ruangan Di'ah.
Tak lama yang lain pun. tiba mengepung wanita yang berada di dalam. Saat wanita itu berada didalam dan melihat bahwa kamar itu kosong tanpa orang dia pun merasa kesal dan dengan cepat dia keluar namun dirinya sudah terjebak.
Wanita itu akan berkilah dengan salah masuk kamar, namun anak buah Jack langsing menggeledah serta akan membuka topeng silikon itu namun dengan cekatan wanita itu memelintir tangan anak buah Jack maka terjadilah baku hantam dan baku tembak.
Saat wanita itu bisa di lumpuhkan maka dengan cepat anak buah Jack membuka topeng silikon dan ternyata wanita itu adalah Carol.
Ryan yang melihat itu dengan geram dia mencekik leher Carol namun di cegah oleh bang Afnan.
"Apa mau mu Carol hah." ucap Ryan yang emosi.
"Heh aku mau dia MATI,." ucap Carol dengan menekankan kata mati.
"Kau hanya mengikuti ambisi mu, tak kau lihat ibuku sedang terbaring lemah disana.'' ucap Ryan.
"Iya dia terbaring gara-gara kau RYAN. aku menyukaimu, aku mencintaimu tapi kau memilih dia.'' ucap Carol dengan menunjuk ke arah Di'ah yang ternyata keluar bersama Mimi.
"Bawa dia." ucap ayah Brata. Anak buahnya Jack pun menarik paksa Carol yang sudah tertembak di bahu.
__ADS_1
Saat mereka telah masuk lift dan sebelum pintu lift tertutup Carol merebut paksa revolver yang berada di pinggang anak buah Jack dan dia langsung menembak kan ke arah Di'ah serta kakinya menahanal tombol agar lift tidak tertutup.
Jack yang melihat itu langsung mendorong Di'ah dan dia menembak kan peluru senjatanya yang berjenis Raging Bull 454 tepat ke dada Carol dengan seketika Carol pun jatuh. Sedangkan peluru yang akan di tembakannya ke Di'ah meleset ke atas.
Carol uang sudah jatuh dan tak sadarkan diri langsung di bawa ke ruang operasi karena pastinya akan langsung di lakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan peluru di dadanya.
Stelah kejadian itu semua merasa lega, karena orang-orang yang ingin mencelakakan Mimi dan Di'ah sudah mendapatkan hukumannya.
Jessika dan Riska tewas dengan saling menembak satu sama lain karena ternyata suami Jessika juga merupakan suami Riska.
Jenny yang melihat kakak nya tewas di depan matanya menjadi stress bahkan dia juga di masukan kedalam rumah sakit jiwa.
Ibu Jonathan yang mengetahui kabar anak-anak nya pun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
Carol masih dalam ke adaan kritis, Jonathan merawat adik bungsunya dengan penuh kasih sayang dan deraian air mata.
Dua kekuarga sudah pulang ke tanah air, Ryan dan Syahril masih di LA karena mereka masih was-was karena Jemy belum mereka temukan.
Diah dan Mimi kembali berkatifitalas seperti biasanya.
Saat di kampus Mimi bertemu dengan Cindy dan Dimas.
"Hai mi, bagaimana keadaan mu?" tanya Dimas, Cindy diam melihat Dimas memperhatikan Mimi, Mimi melihat ke Cindy dan Mimi paham sekarang kalau Cindy cemburu padanya.
"Alhamdulillah aku baik Dim, gimana kabar kamu Cindy?" tanya Mimi yang melihat Cindy sedikit pucat.
"Kamu sakit dek?" tanya Mimi, Cindy menggeleng.
"Kamu sakit yank?" tanya Dimas yang juga melihat Cindy pucat.
"Em nggak kok kak." jawab Cindy.
"Percaya sama kakak, kakakdan Dimas hanya sebatas teman dan sahabat." bisik Mimi dengan memeluk Cindy.
Cindy meneteskan air mata penyesalannya.
"Maafkan Cindy kak." ucap Cindy dengan tangisan.
"Kakak maafkan, untung kamu tidak ada disana" bisik Mimi.
Dimas melihat sang istri menangis menjadi heran.
"Hei yank kamu kenapa menangis?" tanya Dimas.
"Nggak papa kok kak," ucap Cindy.
"Emm, Dim aku duluan ya." ucap Mi dan langsung pergi.
Dimas mengajak Cindy pulang, sesampai nya di apartemen mereka, Dimas langsung mencerca berbagai pertanyaan pada Cindy.
"Katakan yang jujur sama kakak?" ucap Dimas. Cindy hanya diam dan terus menangis.
"Buat apa kamu menangis, katakan yang sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan?'' ucap Dimas.
"Maafin aku mas, maafin aku." ucap Cindy dengan bersimpuh di kaki Dimas.
"Apa yang telah kamu lakukan yank, katakan." tanya Dimas lagi.
"Maafin akui uuuuhuhu." ucap Cindy yang terus menangis, hanya kata maaf yang bisa di ucapkannya.
Dimas yang tidak mendapatkan jawaban duduk dan menarik rambutnya kebelakang.
"Aku harap kau tak melakukan hal yang merugikan diri kamu sendiri dan orang disekitar mu."
"Aku juga berharap kamu tidak melakukan tindakan keji, apa lagi itu kalau menyangkut Mimi."
"Selama ini aku tau, kau cemburu padaku dengan Mimi, tapi percayalah Mimi adalah masa lalu ku.'' ucap Dimas, Cindy semakin menangis dan penuh penyesalan.
"Berapa tahun kita berumah tangga, kenapa kamu tidak mengerti dan memahami aku Cindy." ucap Dimas kesal.
"Maafin aku mas." ucap Cindy.
"Beruntung, keluarga di belakang Mimi tidak menghancurkan kita." ucap Dimas.
"Belajar lah dewasa." ucap Dimas, Dimas pun berlalu masuk kedalam kamar meninggalkan Cindy seorang diri di ruang keluarga.
Cindy semakin menjadi menangisi penyesalannya, hanya karena cemburu buta nya dia mudah di hasut.
__ADS_1
tbc.