DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
ketakutan Ay


__ADS_3

Akhir puasa, Mimi dan emak akan disibuk memasak. Emak selalu menanyakan Mimi tentang Syahril, Mimi hanya menjawab seadanya


"Mi, bagaimana Syahril semalam?" tanya emak.


"Dia baik dan biasa saja Mak." jawab Mimi.


"Apa tidak ada kesempatan buat dia nak?" tanya emak, Mimi diam denagn tangan yang cekatan mengisi beras ke dalam plastik dan ketupat nya.


"Dia serius sama kamu nak, dia masih menyayangi dan mencintai kamu." ucap emak.


"Kawan-kawan Mak sudah menggendong cucu." ucap emak lqgi, Mimi hanya diam mendengarkan nya.


"Mi.." panggil emak.


"Apa kamu sudah tidak mencintai dia nak?" tanya Mimi. Mimi !mengangkat kukusan dan mengisinya air, Mimi segera menaruhnya di atas kompor untuk merebus lontong serta ketupatnya.


"Mi" panggil emak lagi. Mimi menghelakan nafas panjangnya.


"Emaknkan tau, Mimi mempunyai hubungan dengan kang Said." ucap Mimi.


"Iya Mak tau, cuma.." ucap emak dengan menjeda.


"Mak merasa dia bukanlah yang terbaik buat kamu nak."


"Lihatlah, selama kamu disini. Apa dia menghubungi kami lebih dulu." ucal emak.


Deg deguban jantung Mimi seolah membenarkan ucapan emak.


"Apa orang seperti itu yqng kamu harapkan nak?" ucap emak lagi,


"Sesibuk apa pun dia, pasti meluangkan waktunya untuk orang yang benar-benar dia cintai."


"Kamu cewek nak, jangan kamu hubungi dia duluan barulah dia tau kabar kamu."


"Emak akui dia pekerja keras dan orangnya seperti bertanggungjawab."


"Kerja keras dan tanggung jawab saja tidak cukup dalam sebuah hubungan nak."


"Komunikasi yang lancar juga sangat dibutuhkan dalam sebuah hubungan."


"Emak perhatikan, swolahnkamu yang mengejar dia, kamu seperti mengemis cintanya nak." ucap emak panjang lebar.


Deg deg.. lagi-lagi detak jantung Mimi me!benarkan segala ucapan emaknya.


"Sekarang emak tanya? Apa dia berniat melamar kamu dengan sungguh-sungguh? Atau akan mempermalukan kamu lagi?" emak bertanya secara menohok.


"Apa dia ada berniat mengajak kamu untuk bertemu atau sekedar video call bersama orang tuanya?"


"Emak rasa tidak. Emak yakin orangtuanya tidak akan pernah berubah nak, emak yakin orang tuanya masih seperti dulu yang mana memandang rendah kamu." ucap emak dengan terus menggiling cabe untuk bumbu rendang.


"Emak tidak mau kamu salah pilih, kamu memilih dia karena dia menunjukkan tekadnya dan dia menunjukkan dengan usaha-usaha nya, tapi setelah kalian menikah nanti, kamu akan berhadapan dengan orang tuanya nak."


"Jangan samlai perjuangan kamu merintis dan meraih cita-cita kamu selama ini akan berakhir menjadi ibu rumahan."


"Jangan sampai kelak jika kamu jadi sama dia. Dia akan mengekang kamu." ucap emak dengan segala kekhawatiran nya.


Sebenarnya di hati Mimi pun merasa hubungannya kali ini tidak sehat.


Apa yang dikatakan emaknya semua adalah kebenaran nya. Namun Mimi bimbang, Mimk tidak bisa memutuskan Said secara sepihak, apalagi dengan alasan orang tuanya meminta dirinya untuk kembali kepada mantannya.


Yah Mimi tau jika Syahril sudah pisah sama istrinya, namun Mimi tidak mengetahui sebab mereka berpisah.


Yang Mimi gau hanya karena dirilah Syahril samlai berpisah dari sang istri.


Mimi merasa bersalah dan berdosa akan hal itu, karena dirinya Mimi membuat wanita lain menjadi janda.


Mimi hanya berharap Allah memberinya petunjuk, petunjuk yang mana sebuah kebaikan untuk semua. Kebaikan tanka ada yang tersakiti.


"Ya Allah, jika kau tak merestui ku dengan kang Said. Maka berilah hamba jalan, berikanlah hamba sebuah kebenaran yang belum terungkap."


"Ya Allah, sesungguhnya ucapan dari emk ada benarnya, ucapannya serta restunya merupakan perantara darimu. Jika di hatinya tidak ada restu untukmu dengannya sama halnya juga engkau tak merestui ku dengannya"


"Aku mohon berikanlah jalan kebenaran padaku, jika aku emang salah dalam memilih, berjalanlah aku petunjuk MU bila aku salah melangkah." ucap Mimi dalam hati.


Mimi bukanlah tipe orang yang tidak ada suka dihatinya langsung mjnta putus atau semacamnya. Apa lagi jika dia hanya memutuskan karean ingin kembali dengan seorang mantan, Mimk tidak ingin di anggap sebagai wanita tidak baik di muka lara lelaki.


"Mas, apa Mimi salah pilih? bantu Mimi mas." ucap Mimk yang seketika teringat akan ucapan Abizar.


Saat Mimi berkecamuk dengan dirinya dan emak berkecamuk dengan petuah serta kekhawatirannya terhadap dirinya, ponsel Mimk berdering dengan nyaring.


"Bentar Mak, Mimi ambil HP" ucap Mimi dan berlalu pergi menuju kamar mengambil hpnya.


Pekerjaan dapur Mimi diambil oleh Ah, Ay pun mendapat serangan pertanyaan dari emak.


Mimi yang telah mengambil HP nya melihat siapa yang sedang menelpon nya.


"Ayah" ucap Mimi ketika membaca nama ayah di sana, yah di dalam ponsel Mimi tertulis nama ayah, ayah dari Abizar.


"Assalamualaikum ayah, bunda." ucap Mimi setelah sambungan video call tersambung.


"Waalaikum salam." jawab sang ayah.


"Waalaikum salam sayang." jawab Bunda.

__ADS_1


"Bagaimana kabaemu nak dan lagi apa kamu sekarang sayang." ucap Bunda.


"Alhamdulillah baik bunda, ayah sama bunda apa kabar?" jawab Mimi dan kembali menanyakan kabar mereka berdua.


"Alhamdulillah baik sayang, oh ya nak. Lebaran besok kamu ke Semarang ya, kita kumpul disini, ajak emak balak sama adik-adik kamu kalqunleeli ajak juga keluarga kamu nak." ucap Bunda.


"Iya nak, ada yang mau ayah sampaikan juga nanti perihal yang pernah ayah katakan sama kamu waktu itu." Ayah menimpali.


"Emm, Mimi tanya emak sama bapak dulu yah, bun. Soalnya kan ini juga waktunya mepet buat pesan tiket." ucal mii dengan alasannya.


"Mana emakmu nak, bunda mau bicara." ucap Bunda.


"Oo bentar bun, emak ada si dapur sedang menggiling bumbu." jawab Mimi dan segera melangkah menuju dapur.


"Siapa Mi?" tanya emak ketika melihat Mimi sduah kembali di dapur.


"Bunda Mak, nih bunda mau bicara." ucap Mimi dan memberikan ponselnya kepada emak.


Selagi para orang tua berbicara, Mimi mengambil alih perkerjaan Mak.


Mimi menyelesaikan satu menu masakan walau sebelumnya belum masak sweacrq keseluruhan karena rendang yang Mimi masak belum di beri santan.


Semua bahan dan bumbu sudah siap, mereka akan menuntaskan di sore atau malam hari nanti.


Mimi membuat kue basah bersama Ay, hingga adonan kue selesai dan sagu kue masak, emak dan bunda jika asik mengobrol lupa waktu.


"Yuk" panggil Ay.


"Emm" jawab Mimi yang fokus ke adonan kedua.


"Emm Baiq wa." ucap Ay.


"Terus?" tanya Mimi.


"Emm kata Baiq, kak Syahril mjnta nomor Ayuk. Kasih ndak?" ucap Ay dan meminta izin pada Mimi. Mimi hanya diam, sesungguhnya hati dan pikirannya sedang menimang-nimang permintaan emaknya.


"Yuk." panggil Ay lagi.


"Ada apa Ay?" tanya Mimi.


"Ckk pasti dak dengerin omongan Ay. Kasih ndak." ucap Ay.


"Ndak usah." jawab Mimi.


"Yaudah" ucap Ay manyun. Mimi melihat adiknya manyun hanya menggeleng kepala.


"Ay sama Baiq pacaran?" tanya Mimi.


"Ndak, kita cuma teman. Ay. belum mau pacaran." jawab Ay.


"Maka dari itu Ay tidak mau pacaran. Mana ada pacaran tidak pakak hati." Jawab Ay.


"Tapi yang ayuk lihat, Baiq suka sama Ay." ucap Mimi dengan melihat ke arah adik bungsunya, terlihat Ay menarik nafas dalam.


"Sebenarnya dia sudah berulangkali mengungkapkan." ucap Ay lirih.


"Terus?" tanya Mimi.


"Ay tidak mau, Ay takut." ucap Ah.


"Aku kenapa?" tanya Mimi lagi.


"Takut kayak ayuk sama kak Syahril," jawabnya polos.


"Lah emang Ayuk sama kak Syahril kenapa?" tanya Mimi yang ingin tau kenapa adiknya seolah memiliki rasa trauma, Mimi melihat lagi-lagi Ay menarik nafas dalam.


"Emang Ah suka sam Baiq?" tanya Mimi dan Ay mengangguk.


"Ay suka sama Baiq, cuma Ay takut. Ay takut nanti dia sama dengan kak Syahril," ucap Ay, Mimi hanya diam.


"Ay takut kalau nanti Ay sudah menyukai dia lebih tau-tau nya dia dijodohkan sama papahnya." ucap Ay.


Deg, Mimi merasa teetamlarbakan ucapan Ay. Mimjntertamkar karena masalahnya menjadi sebuah ke tepraumaan pada adiknya.


Walau pun waktu itu Ay masih kecil, namun Ay memiliki daya ingat yang kuat. mimi memegang tangan Ay.


"Apa Baiq menceritakan kalau dia sudah dijodohkan?" pertanyaan yang sangat ambigu yang Mimi keluar kan. Ay menggeleng.


"Kak Syahril duku bae ndak cerita juga kan sama Ayuk." ucal Ay yang lagi-lagi membuat Mimi merasa tertampar.


"Maafkan Ayuk ya." ucap Mimi kepada Ay.


"Maaf buat apa?" tanya Ay.


"Maaf kalau masalah Ayuk sama kak Syahril buatbAy jadi takut berhubungan dengan Baiq."


"Emang lebih baik Ay sekarang fokus dengan sekolah, raih nilai tinggi dan biar dapat beasiswa seperti yang Ay mau." ucap Mimi sembari memasukkan adonan kue kebloyang dan memanggang nya.


"Tapi bajq sangat baik sama Ay, dia juga semalam bertanya lagi sama Ay." jawab Ay.


"Ikuti kata hati, kalau mau berpacaran satu yang ayuk tegaskan. Jangan berleha-leha, jangan lupa belajar dan banyu mamak di rumah." ucap Mimi.


"Awas bae kalau sudah pacaran berleha-leha, nilai jatuh, terus malas-malasan di rumah. Ayuk jual motornya." ucap Mimi dengan memberikan ancamannya.

__ADS_1


"Iya iya, kalau Ay pacaran aynndaknkuoa dengan pelajaran ndak." ucap Ay.


"Terus satu kalau gagal mendapatkan beasiswa karena pacaran ndak hanya motor yang ayuk jual duit jajan juga Ayuk potong 80%" ucap Mimi


"Hah 80%, yang benar bae Ayuk ni, kalau 80% masa iya Ay jajan seribu perak." ucal Ay tidak terima.


"Ya biarin lah, emang enak apa cari uang. Maka daeinitunkqlau tidak mau kehilangan uang jajan belajar yang giat jangan pacarannya yang giat." ucal Mimi, Ay mengerucutkan bibirnya.


''Kenapa di panjang-panjangi bibirnya? maundi tabok pakek loyang panas. " ucap Mimi dengan menatap Ay tajam. Ay menggeleng cekat denagn menutup mulutnya.


Tak lama emak kembali bergabung ke dapur.


"Sudah swmua Mi?" tanya emak.


"Sudah mak, ini tinggal di selesaikan malam nanti saja." ucap Mimk sembari membereskan peralatan kotor.


"Ay kenapa?" tanya emak yang melihat Ay cemberut.


"Dia mau pacaran Mak." jawab Mimi. Emak tersenyum.


"Pacaran boleh, tapi ingat jangan lupa tugas di rumah dan belajarnya." ucap emak dengan memberikan nasehat nya.


"Tuh dengarin." ucap Mimi ketus.


"Maunoacaran dengan siapa? Dengan Baiq?" tanya emak dengan melihat anak bungsunya.


"Baiq anaknya baik dan sopan kalau emak lihat. Tapi.. Tanya sama dia, dia sudah dijodohkan apa belum." ucap emak yang juga trauma lebih tepatnya takitbanak bungsunya tersakiti kembali.


"Masa iya Ay nanya gitu!" ucap Ay.


"Apa salahnya." jawab emak.


"Ya malu lah Mak." jawab Ay.


"Menginginkan malu atau menyesal nanti kalau Baiq cari yang lainnya." ucap emak meledek.


Tak lama suara ponsel Ay berbunyi.


"Siapa Ay?" tanya Mimi yang sedang melihat kuenya di oven.


"Emm Baiq" jawab Ay.


"Panjang umur tuh anak." ucap Mimi.


"Dah sana angkat, jangan lupa tanyakan sebelum terlambat." ucap emak yang masih meledek anak bungsu nya yang berangsur gadis remaja.


Ay pun mengangkat telpon itu, yang mimj dengar Baiq masih menanyakan nomor Mimi. Ay melihat ke arah Mimi dan Mimk cuek.


"Kalau mau minta sendiri." seru Mimi.


"Tuh dengar sendiri kan?" ucap Ay.


"Oh ok nanti Baiq kasih tau Om Syahril." jawab Baiq.


"Ay bagiamana?" tanya Baiq lagi.


"Emm Iq, Ay boleh tanya?" tanya Ay.


"Tanya saja.'' jawab Baiq. Aybmelihat ke arah emak dan ayuknya sebelum dia menanyakan hal yang sangat penting menurut dirinya.


"Emm sebelumnya Ay mjnta maaf ya, emm sebelum Ay memutuskan Ay mau nanya, Baiq sudah ada si jodohkan nggak sama orang tua baik?" tanya Ay hati-hati.


Baiq yang berada dirumahnya yang mana disamping mereka ada Syahril dan Ryan menjadi terperangah kala mendengar pertanyaan Ay.


Tak hanya Baiq yang terperangah, Syahril dan Ryan pun sama. Syahril dan Ryan. saling pandang dengan pemikiran yang sama tentunya.


"Makadeu kamu apa Ay? Kenapa menanyakan hal yang tidak ada?" tanya Baiq.


"Emm ya maaf, Ay cuma tidak mau kelak merasakan hal yang sama dengan yang ayuk Mimk rasakan." ucap Mimi sambil menunduk kala menyebut nama ayuknya.


Mimi dan emak diam, mereka tidak tau harus berbuat apa. Karena masa lalu itu !membuat adik atau anak bungsunya menjadi seakan takut berhubungan dengan lawan jenis.


"Aku nggak ada di jodoh-jodohkan Ay, walau mereka akan menjodohkan aku tentu kan berontak." jawab Baiq serius.


"Kamu ini dapat cerita beginian dari siapa sih Ay, kok sampai mikir sejauh itu."


"Jujur nih ya, Baiq ungkapkan perasaan Baiq sama Ay itu tulus, kalqunleeli rasa itu samlai akhir hayat kita deh " ucal Baiq yang sungguh-sungguh atau hanya sebuah gombalannya semata.


Ryan menoyor kepala Baiq kala dia berucaonseperti itu.


"Dasar bocah." ucap Ryan.


"Ay emang ada masanallu ala dengan Ayuk Mimi, sampai-sampai seakan kamuntakut gitu?" tanya Baiq.


Syahril hanya diam, dia juga merasa bersalah dengan masa lalunya membuat keponakan serta Ay yang sduah dianggapnya adik menjadi terganggu.


"Kamu bisa menanyakan hal itu sama kak Ryan." ucap Ay.


"Sudah dulunya Iq, Ay mau bantu Ayuk Mimi masak." jawab Ay.


"Ay tunggu.." namun naas hubungan telepon sudah terputus.


Baiq menarik nafas nya dalam dan menghembuskannya kasar. Baiq melihat Syahril dan Ryan meminta penjelasan. syahril dan Ryan menarik nafas dalam juga.

__ADS_1


mereka larut dalam pemikiran masing-masing.


__ADS_2