
Seharian mereka berada di lahan sawit terlihat rona bahagia dari wajah Syahril, yah kali pertama nya dia mengerjakan dengan kerjaan kasar seperti ini, mengambil, mengangkat dan menyusun buah sawit ke dekat tiang timbanngan.
"Makasih Ya Riil." ucap bapak ketika kami semua sampai dirumah.
"Sama-sama pak, kapan kita panen lagi pak?" tanya Syahril dengan semangat.
"Kalau manen sawit dua Minggu sekali siklusnya kadang bisa tiga kali dalam sebulan." terang bapak.
"Oh gitu ya pak, berarti sebelum kami pulang ke Jambi panen lagi ndak pak?" tanya Syahril.
"Belum tau lihat siklus bulan ini." jawab bapak sembari menerima troli ( Angkong) yang dikeluarkan Syahril dari dalam mobil.
"Yah semoga masih ya pak, biar Syahril bisa bantu bapak lagi." ucap Syahril.
"Iya nanti ada diberitahu sama ketua kelompok tani nya." jawab bapak. " Ayo kalian pada mandi dan sholat Dzuhur dulu." ucap bapak.
"Kalau mau mandi barengan kalian bisa mandi di sumur disebelah sana." ucap bapak lagi.
Mereka pun mengambil handuk dan pakaian ganti mereka karena mereka akan mandi di sumur.
Karena mereka lupa bawa ember atau baskom bahkan sabun Mimi pun mengantar baskom dan ember serta sabun kepada mereka di sumur.
Terlihat postur badan yang sispack dan berkotak-kotak, karena mereka menanggalkan baju dan celana training mereka sehingga tinggallah celana pendek yang mereka pakai.
"Kak, ini baskom dan sabun nya." ucap Mimi ketika sampai sumur.
Mereka sudah membasahi tubuhnya dengan air sumur yang jernih dan segar itu.
"Eh lah ini emang bukan punya adek?" tanya Syahril kepada Mimi dan menunjuk baskom yang ada di sumur.
"Bukan kak, ini punya bude sebelah" jawab Mimi karena baskom yang berada disana adalah kepunyaan tetangganya.
Posisi sumur berada di antara tanah milik orang tua Mimi dan tetangga karena ini merupakan sumur bersama.
"Oh kakak kira punya mamak." jawab Ryan
"Bukan kak, tapi ndak apa kok kalau mau pinjam. Yaudah ini sabunnya dan jangna lama-lama nanti Dzuhur nya lewat." ucap Mimi dengan senyum dan segera berlalu.
"Iya dek." jawab Syahril dan dia pun kembali mengambil air dengan ember melui setelan yang ada.
Ada rasa malu menghampiri Mimi dikala melihat tubuh-tubuh para perjaka tersebut cuma Mimi tepis semua itu dan tak memendam rasa apa pun.
Sehabis mandi mereka pun segera melaksanakan sholat dan Mimi juga sudah membentangkan sajadah buat mereka.
Sehabis sholat mereka beristirahat siang karena rasa lelah baru terasa oleh mereka, disiang hari di desa Mimi listrik tak nyala, karena dirumah Mimi bapak punya diesel sendiri maka bapak pun menghidupkan diesel siang ini karena tak enak kepada Syahril cs yang tertidur kepanasan apalagi cuaca yang terik begini.
Karena bapak menghidupkan diesel Mimi pun mencuci semua pakaian kotor mereka dari lahan tadi termasuklah pakaian kotor Syahril cs. Karena sebelumnya Mimi yang meminta kepada mereka agar pakaian kotornya disatukan dengan pakaian kotor yang ada dekat mesin cuci.
Yah Mimi mencuci pakaian mereka yang kotor, tak ada rasa jijik ataupun tak enak Mimi mengerjakan semua dengan ikhlas dan keinginan Mimi sendiri. Mimi orangnya simple dan Mimi bukanlah anak gadis yang jaim atau merasa segan untuk mencucikan pakaian orang lain.
Setelah semua selesai Mimi segera menjemur nya karena cuaca hari ini pun terasa terik.
Mereka terbangun saat adzan ashar bergema dan mereka pun segera berwudhu dan melaksanakan sholat ashar.
Karena ini merupakan awal bulan dan itu juga merupakan para petani sawit gajian.
Seperti biasa jika gajian sawit di desa ini akan ada pasar dadakan namanya pasar yang ada hanya di waktu para petani sawit gajian tiap bulannya.
"Eh dah sore nih mandi disumur lagi yok!" ajak Rudi.
"Ayook, seger mandi di sumur air jernih lagi." sahut Andri.
"Yaudah ayook" sahut Ryan yang sudah duluan mengambil handuk dan pakaian gantinya.
"Ayok lah jangan lupa baskom dan sabun ya guys." Seru Rudi.
Syahril membawa baskom serta sabun buat mereka mandi di sumur. Kali ini mereka mandi agak lama dan sampai mereka puas baru mereka selesai.
...**...
Sehabis sholat maghrib mereka pergi kepasar dadakan, mamak pun ikut serta karena mamak akan berbelanja sayuran dan kebutuhan lainnya.
Sesampainya di pasar seperti biasa si Ay langsung menuju penjual sate di temani oleh Di'ah, Ryan, Andri, Rudi dan Syahril. Mereka pun memakan sate juga di tempat, dan setelah itu Ay meminta memakan bakso dan lagi-lagi mereka pun ikut makan bakso.
Sebenarnya Ay minta bungkus saja namun Syahril dan yang lain juga ingin mencicipi jajanan disini jadi kami pun makan di tempat.
Emak bersama Mimi masih keliling mencari bahan pokok dan kebutihan lainnya.
Sebelum kami berpencar Syahril memberikan uang belanja kepada emak walau emak menolaknya namun Syahril tetap memaksa dan akhirnya emak pun menerima, berkeliling dan membawa tentengan yang lumayan banyak Mimi dan mamak mencari keberadaan Ay dan yang lainnya.
Ternyata mereka masih nongkrong di warung bakso. Mimi menuju ke penjual jajanan pasar karena Mimi kepingin makan getuk makanan yang terbuat dari ubi yang di giling dan di beei toping dengan kelapa parut.
Tak hanya getuk Mimi juga membeli jajanan lainnya, Mimi melihat bude penjual pecel Mimi pun membelinya 4 bungkus buat dirinya emak bapak dan adiknya Ari.
Mimi tak membelikan mereka karena Mimi menyangka pastinya mereka sudah kenyang.
Setelah membeli pecal Mimi dan Mak menghampiri mereka yang ternyata juga sudah akan keluar dari warung bakso tersebut dengan Syahril yang menenteng bungkusan plastik.
"Udah selesai dek?" tanya kak Syahril.
"Sudah kak." jawab Mimi.
"Emm tadi adek beli apa disana?" tanya Syahril sambil menunjuk ke arah tempat Mimi beli pecal tadi.
"Oh Mimi beli pecal tadi kak, Kaka mau?" tanya Mimi kepada Syahril.
"Enak nggak Mi?" tanya Ryan dan diangguki juga oleh Rudi.
"Kalau Mimi biasa langganan dengan bude itu kak, dan pecalnya menurut Mimi enak. Kakak mau biar Mimi belikan lagi soalnya tadi cuma beli 4bungkus." jawab Mimi.
__ADS_1
"Ayoo kita kesana lagi Mi, kakak juga pengen nyicip." ucap Ryan yang mengajak Mimi kembali ke tempat penjual pecak tadi.
Akhirnya mereka kembali ketempat pecalnya dan Ryan, Rudi Syahril dan Andri pun memesan dengan kapasitas kepedasan masing-masing dan tak lupa mereka juga menambahkan pecalnya dengan beberapa tusuk sate ayam dan hati ampela.
Di'ah ditawarin lagi sama Ryan tapi Di'ah menolak karena dia sudah merasa kekenyangan, gimana ndak kenyang Di'ah di cekokin makan seporsi sate di tambah seporsi bakso.
Setelah membeli pecal mereka pun pulang kerumah. Jarak antara rumah Mimi dan pasar dadakan tidak lah terlalu jauh, jika memakai kendaraan motor hanya memakan kurang lebih 10 menit saja, pasar ini berada dekat jembatan masuk ke desa ini.
Sesampainya di rumah Mimi dan mamak menaruh belanjaannya ke dapur dan setelah itu tak lupa pula Mimi dan Mak membawa beberapa piring, mangkok dan gelas serta air seceret ke ruang tengah.
Kami semua kembali makan dengan makanan yang kami beli dipasar. Mak sengaja tak masak sore ini, mak hanya masak nasi karena lauk sambal ikan nya masih dikarenakan telah Mak menyisihkan sambal ikan yang di masak paginya untuk makan siang di lahan tadi banyak.
Mak sengaja tidak masak lagi karena pastinya Mak tau kala malam ini masakannya bakal tak termakan dan itupun terbukti.
Ternyata Syahril tadi juga membelikan Mimi, Mak, Bapak dan Ari sate dan bakso sedangkan Mimi juga telah membeli pecal 4 bungkus. Sungguh Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.
Begitu banyak makanan malam ini sehingga bingung mau yang mana dimakan.
"Aduh kak, kakak beli juga tadi sate ma bakso?" ucap Mimi ketika melihat tumpukan makanan di depannya.
"Iya, kan adek, mak, bapak sama Ari tidak makan tadi." ucap Syahril dengan buka bungkus pecalnya.
"Nah kalau Kaka sudah makan ini semua kenapa kakak beli lagi pecal pakek lontong dan mana pakek tusuk satenya juga." ucap Mimi, "apa masih sanggup makannya?" tanya Mimi kepada mereka yang telah melahap pecal.
"Tenang aja Mi, masih sanggup kok." ucap Rudi dengan mengunyah pecal di mulutnya.
Mimi dan Di'ah hanya melihat mereka makan, Mimi yang melihatnya sudah merasa kenyang duluan.
Bapak memakan pecal begitu pula Ari dan mamak karena pecal tak bisa bertahan lama karena bumbu sudah tercampur dengan sayurannya.
"Wah ternyata enak pecalnya." puji Ryan.
"Iya Yan, hmm pantesan rame tempat ibu itu tadi pecal buatannya emak the best." sahut Andri.
"Adek mau?" ucap Ryan menawari Di'ah yang masih melongo melihat Ryan makan kecap yang mana porsinya itu lumayan banyak.
"Ndak kak, lihat kakak aja sudah tambah kenyang perut ku." jawab Di'ah dengan menggelengkan kepalanya.
"Mimi kenapa ndak dimakan pecalnya?" tanya Andri yang melihat Mimi belum menyentuh pecalnya.
"Mimi mendadak kenyang kak, melihat kalian makan dengan lahap gitu." jawab Mimi.
"Sini kakak suapin biar dimakan pecalnya dan biar cepat habis." ucap Syahril dengan menyendokkan pecak Mimi dengan sendoknya.
"Eh Ndak usah kak, biar Mimi aja." jawab Mimi dan Mimi pun menyantap pecalnya hingga habis.
"Alhamdulillah." ucap Mimi ketika pecalnya habis.
Mereka para cowok semua menyenderkan diri ke dinding karena kekenyangan.
"Uhh kenyang nya." ucap Rudi.
"Iya, makanan disini enak-enak gini gimana bisa nolak." sahut Ryan.
"Em mau ini kak?" Mimi menawari mereka getuk dan jajanan tradisional lainnya kepada mereka.
"Kepengin sih mi, tapi entaran lah ngatur isi dalam perut dulu." ucap Rudi dan kami pun tertawa dibuatnya.
Tak lama adzan isya pun berkumandang dan kami pun segera melaksanakan nya.
Sate dan bakso yang dibeli Syahril masih utuh dan untungnya Syahril memisahkan bumbu sate dan kuah baksonya sehingga tak tercampur rata. Mimi menyimpan semua kedalam kulkas.
Malam ini ada acara bola dan rencana Syahril cs dan bapak serta Ari akan menontonnya sehingga mereka pun akan begadang malam ini.
Mimi membentang ambal di depan tv buat mereka tiduran sambil menunggu acara bola, sedangkan Ari dan bapak masuk kamar untuk tidur terlatih dahulu.
Mimi dan Di'ah jangan ditanya mereka berdua sudah berlayar ke samudera kapuk.
Jam 1 dini hari mereka terbangun dan langsung menghidupkan tv dan saat nya mereka nonton bola dan camilan jajanan pasar yang dibeli sore tadi.
Mereka tertidur setelah melaksanakan sholat subuh, yah bola habis jam ±3 dini hari, karena takut nanti subuh kelewat mereka pun menunggunya dengan bermain game.
Mimi terbangun saat adzan subuh dan Mimi keluar kamar mereka belum tertidur. Setelah selesai sholat subuh Mimi kembali keluar kamar untuk mengerjakan kerjaan rumah seperti biasanya. Dan mereka sudah terkapar di atas ambal.
Hingga jam delapan mereka belum bangun dan Mimi sengaja tak membangunkan mereka. Hingga siang hari mereka baru terbangun.
"Hah, jam berapa nih." ucap Rudi yang baru terbangun dan dia
langsung melihat ke arah jam dinding.
"Hah, sudah jam 12." ucapnya
"Jam berapa Rud?" tanya Syahril.
"Jam 12 Riil, lama juga kita tidur ya?" ucap Rudi yang kembali merebahkan tubuhnya.
"Iya ya, huh enak juga ya tinggal disini." ucap Andri.
"Iya nyaman dan jauh dari hiruk-pikuk." jawab Ryan.
"Pantesan Mimi senang kalau balik sini dan sering bangun siang." ucap Ryan.
"Iya ya waktu Syahril nelpon dia dulu dia baru bangun dari tidur nya." sahut Rudi yang mengingatkan waktu Syahril sedang video call bersama Mimi sewaktu mereka classmeting Mimi baru bangun.
"Iya kalau kelak gue nikah sama Mimi gue maulah tinggal disini." ucap Syahril yang berangan-angan.
"Hem tapi kita tidak tau takdir kita Riil." ucap Andri.
"Iya juga sih." jawab Syahril.
__ADS_1
"Eh dah pada bangun kak?" ucap Mimi yang baru masuk dari luar diikuti Di'ah
"Barusan dek, dari mana?" tanya Syahril.
"Eh bawa apaan tuh yank." tanya Ryan pada Di'ah.
"Nih bawa rambutan." jawab Di'ah.
"Iya tadi kami ambil rambutan di rumah makwo depan." ucap Mimi.
"Iya makwonya juga baik." Di'ah menimpali.
"Manis nggak?" tanya Andri.
"Manis kak, nih.." jawab Mimi dengan memberikan sekantong yang berada di tangan nya kepada Andri.
"Wah manis rambutannya,." ucap Andri ketika sudah menggigit rambutannya.
"Iya ini rambutan binjai." jawab Mimi.
"Nih habiskan." ucap Di'ah.
"Lah kalian tidak mau?" tanya Ryan.
"Kami sudah puas kak, tadi sambil metik makannya." ucap Mimi
"Wah curang kalian, seharusnya ajak-ajak kita dong." ucap Rudi.
"Gimana mau ajak, kakak masih nyenyak tidurnya tadi." ucap Di'ah.
"Kan bisa bangunin dek." jawab Ryan.
"Gak tega banguninnya kak, pasti kalian sangat kelelahan.
Tak lama adzan Dzuhur tiba, Mimi dan Di'ah segera berwudhu di belakang sedangkan para lelaki yang bangun kesiangan ini langsung menuju sumur untuk mandi sekalian berwudhu.
Sehabis sholat kami rencana akan pergi ke tebing untuk sekedar jalan-jalan. Sedangkan mamak sama bapak pergi ke dvc dvc karena gajian sawit maka emak menagih hutang serta menawarkan dagangannya Kemabali.
Sesampainya di tebing Mimi langsung ke rumah oomnya yang dipasar kami semua bercengkerama bersama dan membuat rencana akan mengajak anak om Adrian berenang esok hari.
Om Adrian meminta kami semua untuk menginap di rumahnya malam ini tapi Mimi menolak dan berencana akan menginap saat malam Minggu karena hari Minggu di sini pasaran.
Sebelum pulang kami menyempatkan diri pergi ke dermaga. Dermaga ini untuk keluar masuknya karyawan serta masyarakat setempat dan melewati area perusahaan jadi untuk menuju kesini kami memasuki gerbang security perusahaan.
Kami menikmati pemandangan lain kali ini khusunya mereka yang baru pertama kali disini. Mereka melihat bagaimana aktifitas dermaga ini.
Yah dermaga ini beraktifitas selain sebagai jalur jalannya masyarakat dan karyawan yang ada diseberang sana, disini juga merupakan tempat aktifitas alat-alat berat mengangkat kayu-kayu akasia yang berasal dari area Palembang yang akan masuk ke dalam pabrik.
Pabrik akasia berada di daerah sini, karena di Palembang belum dibuat pabrik oleh pihak perusahaan dulunya ya guys kalau sekarang katanya sudah ada.
"Oh ya dek, rumah pakdo dimana?" tanya Syahril.
"Diseberang sana kak?" jawab Mimi dengan menunjuk ke arah seberang sana.
"Wah kalau kesana kita pakai apa Mi?" tanya Rudi penasaran.
"Pakai peri itu." jawab Mimi dengan menunjuk kapal peri yang sedang bersandar di tepian.
"Yaudah kita kesana yok." ajak Syahril.
"Ndak bisa kak." jawab Mimi.
"Kenapa Ndak bisa?" tanya Rudi.
"Sekarang kayaknya air lagi surut kak jadi peri nya tak beroperasi." jelas Mimi.
"Oh gitu, jadi kapan pasangnya.?" tanya Ryan
"Dak tau Mimi, kita tanya aja yok sama Abang disana." ajak Mimi.
Dan kami pun berjalan ke arah peri dan bertanya kapan jadwal air pasang.
Setelah mengetahui jadwal air pasang kami pun pulang namun sebelum pulang kami berkuliner lagi di sini walau tujuan yang ada bakso,mie ayam, tekwan dan pempek serta sate.
"Jadi mau makan apa kita sebelum pulang?" tanya Ryan.
"Yah disini ada nya yaitu kak bakso dan sejenisnya. kalau mau sate kambing juga ada." terang Mimi.
"Kita makan sate kambing aja yok?" ajak Rudi.
"Yaudah ayok." seru Syahril dan akhirnya kami pun menuju sate kambing yang berada di km3 daerah sini.
Setelah menikmati sate itu kami pun pulang tak lupa pesan sate di bungkus untuk mamak dan bapak.
**
Alhamdulillah bisa up lagi siang ini. maaf ya bab sebelumnya authore ubah boleh kembali baca lagi di bab sebelumnya bagi yang sudah baca.
Jangan lupa terus beri dukungan dan tinggalkan jejak Krisan nya di kolom komentar dan jangan lupa di favorit kan ya biar selalu tau karya authore upnya, tinggalkan pula jejak berupa
RATE
VOTE
LIKE
KOMEN
FAVORITE
__ADS_1
TERIMAKASIH