
Rooftop hotel ini juga di desain sedemikian rupa di sebagian tempatnya untuk tempat santai para pengunjung ataupun pemilik hotel.
Dillah menarik tubuh Mimi dan merangkulnya, Mimi merasa nyaman dalam dekapan Dillah.
"Dek" panggil Dillah.
"Hmm" jawab Mimi.
"Kamu tau nggak kenapa aku merequest lagu seluruh cinta tadi?" tanya Dillah, Mimi yang mendengar hal itu !mendongakkan wajahnya menatap Dillah.
Sejujurnya Mimi pun ingin tau mengapa Dillah memilih lagu itu, Mimi tidak berucap, Mimk hanya menggeleng.
"Aku menyukaimu telah lama dek"
"Mungkin kauntidakmpeelu ingat bahwa kita pernah bertemu sebelumnya." ucapnya, Mimk diam maaih menyimak.
"Semenjak itu hatiku, otakku hanya ada tatapan mata dan senyumanmu."
"Aku bisa saja gila dek, aku menyukai orang tali aku tidak tau siapa dia bahkan namanya lun aku tidak tau."
"Tiap hari aku mengecek data-data setiap pelajar yang ikut serta bimbel,"
"Ada beberapa berasal dari kotamu namun aku tidak tau alamat mu itu di daerah mana nya."
"Setiap data selalu ku cek dengan melihat foto-foto."
"Tapi tak satupun aku melihat foto itu sama dengan wajah cewek yang aku temui."
"Hingga aku berniat akan pergi ke kota mu, jika memang aku gak bisa menemukan mu disalah satu mahasiswa undangan atau mahasiswa beasiswa di universitas ini."
"Saat pertama kali bertemu denganmu di kampus ini, aku juga menyukaimu, tetapi aku telah memantapkan hatiku untuk gadis SMA yang tinggal di Sumatra."
"Tapi entah mengapa, hatiku selalu memintaku untuk melihat ke arahmu."
"Aku merasa tentram dan nyaman jika melihat wajahmu, apalagi melihat senyumanmu."
"Sehingga suatu ketika aku teringat akan senyuman itu, senyuman yang selalu mengisi hati dan otakku."
"Aku sempat menepis bayangan wajahmu karena aku ingin setia dengan gadis yang belum ku ketahui namanya itu."
"Huuum huh, aku sangat senang saat kita jalan berdua di pasar. Aku senang melihat saat kau berbagi pada orang yang belum KA kenal."
"Ada terbesit di hatiku, untuk ingin memiliki mu."
"Namun seketika keinginanku lenyap saat melihat kau jalan mesra bersama seorang cowok yang tak lain adalah mantan tunanganmu itu."
"Hari-hari ku merasa hampa dek, saat melihat kau sudsah ada yang punya."
"Entah mengapa hatiku merasa sakit saat melihat kau pergi bersamanya, sedih bahkan hancur yang kurasakan saat itu."
"Hingga aku memutuskan untuk pergi ke kotamu, satu Minggu aku di kotamu dan aku juga pergi ke SMA MU dan memanjakan mu dengan ciri-ciri nya saja."
"Mungkin orang menganggap aku gila, mencari orang hanya lewat ciri-ciri nya saja. Tapi aku tidak peduli, beruntungnya aku, teman ku yang kuliah di unja mau menemaniku untuk mencarinya."
"Satu Minggu berlalu aku tidak juga bisa menemukan keberadaanmu, aku pun menyerah dan kembali lagi ke kota ini."
Mimi terdiam kala mendengar cerita Dillah jika dirinya sampai mencari Mimi sampai segitunya.
"Bagiku dek, kau bagaikan nafas dan nyawaku."
"Sesampainya aku di kota ini, aku bertemu denganmu di mall. senyuman mu itu bagaikan candu untukku."
"Dengan senyummu itu aku merasa bahagia, meraau aku memiliki kehidupan lagi. Yah walau aku belum bisa memiliki mu."
"Dan saat aku melihatmu di taman waktu itu, jujur aku mengikuti kalian sampai dalam."
"Aku mengikuti kalian bukannya aku kepo namun aku mengikuti kata hatiku."
"Apa lagi saat aku melihat kau menangis, hatiku juga merasa sakit."
"Aku memberanikan diri mendekatimu dan duduk di sampingku waktu itu."
"Kamu tau dek?" tanya nya dengan melihat manik mata Mimi, Mimi hanya menggeleng walau hatinya juga menebak kalau Dillah akan mengatakan sesuatu yang sama.
"Huumm huh, saat aku melihatmu menangis dan duduk di sampingmu. Aku merasa dejavu, aku merasa seperti pernah melakukan hal itu sebelumnya."
"Bahkan senyuman gadis yang ada dimimpiku itu baru kusadari jika senyuman itu milik gadis yang selama ini aku cari, dan aku juga baru menyadari kalau senyuman itu adalah milikmu."
"Dan gadis yang menangis di mimpiku itu juga adalah dirimu." ucap Dillah.
Deg entah mengapa jantung Mimi pun berdetak, Mimi lun menyangka jika orang yang memberikan salu tangan serta kata-kata terucap itu adalah kata-kata dari Dillah.
"Aku tidak berani berjanji, namun aku berusaha untuk selalu menjagamu, mencintainserta menyayangi mu setulus hatiku."
"Aku selalu berdoa dan menyebut namamu disetiap sepertiga malam ku. Agar Allah mempersatukan kita dalam ikatan cinta sucinya."
"Sebelum ku tau siapa dirimu, aku juga selalu meminta kepada Allah agar bisa dipertemukan denganmu, bahkan saat aku telah tau dirimu aku ohn tetap menyebut namamu disetiap doaku."
"Ya walau aku tau saat itu kau masih bersamanya, namun hatiku tidak bisa menghapus kamu dari sana."
"Kau salah bersemayam di dalam hati dan pikiranku."
"Yank, mau nggak menikah denganku?" ucap Dillah dan bertanya pada Mimi.
Mimi diam, dia tercengang mendengar permintaan Dillah. Mimk tidak tau apakah dia merasa senang di ajak menikah dengan Dillah atau tidak.
Mimi juga pernah berjanji pada dirinya, bahasa dia akan menerima siapapun itu dan Mimi mau Bika dinajak menikah. Seperti halnya waktu Revano mengajaknya menikah.
Tapi entah mengapa saat Dillah yang mengajak Mimi kembali ragu akan janjinya pada dirinya sendiri.
"Emm kang, makasih ya." ucap Mimi, Dillah hanya melihat Mimk dan menautkan kedua alisnya tidak mengerti.
"Makasih kang Said serius dengan Mimi, makasih kang Said langsung mengajak Mimi untuk menikah."
"Emm tapi maaf, Mimi belum siap." ucap Mimi lirih dan menunduk, Dillah tersenyum melihat tingkah Mimi.
"Yank, aku tidak mengajakmu sekarang. Aku tau kamu pasti ingin menyelesaikan studi mu dulu."
"Aku juga tau, kalau kau masih ingin mengejar cita-cita mu."
__ADS_1
"Kalau aku boleh tau, kelak kamu mau ambil gelar apa dek? maksud aku, kamu mau jadi dokter apa?" tanya Dillah.
"Insya Allah, jika Allah berkenan dan mengizinkan. Mimi ingin menjadi dokter spesialis jantung kang." jawab Mimi.
"Wah bagus dong, semoga kelak cita-cita mu tercapai." ucapnya dengan mengelus kepala Mimi.
"Hy guys kita main game yok." ajak Yogi.
"Iya dari pada bengong gini." sahut Satria.
"Bengong apaan Lo Sat? dari tadi ketawa muku dengan Tia gitu." sugut Yogi.
"Ye kan Lo yang bengong beg* hahaa" ucal Satria.
"Si*alan Lo Sat." ucap Yogi.
"Ayolah mau nge-game apa nih?" tanya Saridi.
"Emm bagaimana truth or dare" ucap seseorang yang baru bergabung dengan mereka. Dia yang taknlain adalah Reno dan Dita.
"Wawww pengantin baru, kenapa kalian disini? jangan bilang kalian mau berproduksi disini ya." ucap Satria.
"Brengsok Lo.." ucap Reno dengan menoyor kepala Satria.
Bryan sedari tadi hanya diam, dia hanya berkutat dengan HP nya. Dia masih terus memantau anak buahnya untuk!mencari keberadaan anaknya.
Malam ini dia mendapat info kalau ada seorang cewek datang ke pangi dengan membawa anak lelaki sekitar berusia tiga tahun.
"Bry Lo ngapain sedari tadi sibuk dengan HP mulu." tanya Yogi.
"Hmm nggak kenapa-kenapa," jawab Bryan dan menghentikan aktifitasnya di HP.
"Yaudah ayo mau game apa?" tanya Bryan
"Ckk Lo ini ya Bry, kan udah di bilang kalau kita main game truth or dare." ucap Reno.
"Oh yaudah, ayo kota mulai aja." jawab Bryan dan mulai duduk lesehan.
"Bentar, aku habiskan dulu nih minumannya." sahut Yogi dengan meneguk air berwana pink itu.
"Ini aja kak, minum ku sudah habis." sahut Dimas dan menyerahkan botol kosong bekas minumannya.
"Nah udah ni, terus syaratnya apa nih?" tanya Riko.
"Emm syaratnya kalain haru jujur saat memilih katabtruth dan harus sportif saat memilih dare." ucap Reno.
"Dan satu lagi, setiap peserta diperbolehkan sampai tiga kali kena tantangan." ucap Reno.
"Tiga kali, apa nggak kebanyakan Ren?" tanya Dillah.
"Emang kenapa Dil? lo takut?" tanya Bryan.
"Siapa takut." jawab Dillah.
"Yaudah jadi fix ya, nggak boleh ada yang protes." ucap Reno.
"Oke lah, yok kita mulai. Biar aku yang mutar botolnya." ucal Yogi dan memutar botol tersebut hingga kepala botol berhenti di hadapan Reno.
"Emm truth aja." jawab Reno dengan senyum.
"Ckk kenapa nggak dare aja sih Ren." ucap Satria.
"Heleh karena gue tau kalau Lo bakal kasihbtantangan yang nyeleneh." ucap Reno
"Yaudah siapa nih yang mau kasih pertanyaannya?" tanya Selfia.
"Aku aja " jawab Cindy.
"Kak, kak Reno selain bersama kak Dita sebelumnya punya pacar berapa?" tanya Cindy
"Punya mantan satu sebelum Dita." jawab Reno jujur.
"Weee satu pacarnya yang abal-abal nya banyak hahaa." ucap Satria yang langsung mendapat tatapan tajam dari Reno.
Satria mendapatkan tatapan tajam Reno, namun Reno mendapatkan tatapan maut dari Dita.
"Sueer yank cuma satu itupun kamu tau kan." ucap Reno dengan mengangkat dua jarinya ke hadapan Dita. Dita hanya diam saja, sebenarnya Dita tau kalau Reno juga seorang playboy dulunya namun setau nya Reno tak pernah menggandeng cewek lain beda halnya Satria dan Bryan.
"Oke lanjut, awas aja Lo Sat.." ucap Reno dan langsung memutar botolnya dan itu botol berputar tepat di depan Saridi.
"Hmm Sar Lo pilih apa?" tanya Satria.
"Dare." jawab Saridi, sebisa mungkin dia akan menghindari sebuah pertanyaan yang mana nantinya akan menjebak dirinya sendiri.
"Oke, tantangannya kamu nyatakan perasaan kamu sama Selfi." ucap Satria.
Selfia hanya diam, Saridi pun merasa dirinya tetap terjebak. Tidak ada pilihan yang menguntungkan dirinya.
Saridi menarik nafasnya, dia pun berjalan mendekati Selfia dan dia berjongkok di hadapan Selfia dengan membawa setangkai bunga mawar yang di ambilnya dari tanaman yang ada di rooftop ini.
"Fi... Maaf jika selama ini aku, emm( Saridi menghelakan nafasnya ) maaf jika selama ini aku menyakiti perasaanmu. Aku bukan lelaki yang romantis, namun kalau ini, malam ini aku akan menyatakan perasaan aku yang sebenarnya sama kamu. Maukah kau jadi kekasihku? selama kau cuek, aku merasa sepi." ucap Saridi dengan mengulurkan setangkai bunga mawar merah pada Selfia.
Selfia tidak tau harus percaya dan menerimanya atau dia akan menolaknya saat ini juga. Selfia diam memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan.
Jujur dari hatinya masih mengharapkan Saridi, namun selgia sadar diri dirinya bukanlah siapa-siapa, dirinya bukanlah Mimi. Selfia ingin Saridi juga jujur dari hatinya yang paling dalam.
"Gimana Fi?" tanya Satria begitupula dengan yang lain menunggu jawaban Selfia.
"Emm maaf bang, Fia belum bisa menjawabnya." ucap Selfia dengan jujur dengan dia tetap menerima bunga itu.
"Fia terima bunganya, tapi untuk menerima Abang Fia belum bisa." jawab Selfia. Sontak semua terdiam dan suasana pun menjadi hening.
"Yaudah, kkta lanjut ya.." ucap Selfia dan memulai memutar botolnya dan botol itu mengarah pada Mimi.
"Mi pilih apa?" tanya Dita.
"Pilih truth" jawab Mimi.
"Biar aku ya uang kasih pertanyaan." ucap Dita.
__ADS_1
"Emm maaf ya sebelumnya. Kamu kan sudah lama berhubungan dengan maaf mantan, apa dihatinkamu masih ada rasa cinta untuknya." tanya Dita.
Semua diam begitu pula dengan Dillah yang juga ingin tau bagaimana perasaan Mimi sama mantannya saat ini.
Mimi diam dan melihat semua sahabatnya dan tersenyum ketika melihat Dillah.
"Jujur, sampai saat ini rasa itu masih." jawab Mimi, Dillah terdiam seribu bahasa.
"Bagaimana pun rasa itu masih ada karena selama ini kami berhubungan baik antara kedua keluarga."
"Dan dia juga berperan penting dalam diri Mimi sampai Mimi bisa berada di universitas ini." ucap Mimi dan melihat Dillah yang masih diam dengan raut wajah kecewa.
"Maaf kang, Mimi berkata jujur bukan berarti Mimi mengabaikan cinta akang. Bagi Mimi dia cinta pertama Mimi dan jika Allah berkenan alangkah cinta terlahir Mimi." jawab Mimi dengan memegang tangan Dillah, Dillah menatap Mimi dan timbullah senyum kelegaan di sana.
"Oke kita lanjut ya." ucap Mimi dan mulai memutar kembali botolnya sehingga botol berhenti di hadapan Satria.
"Hmm pilih apa kak?" tanya Mimi.
"Emm dare aja hehee." ucap Satria.
"Oke tantangan Lo adalah. Lo lamar Muthia saat ini juga." sahut Reno.
"Sapa takut." ucap Satria.
"Beb, Will you marry me?" ucap Satria pada Muthia.
"Sorry beb, aku nggak bisa berbasa basi, aku ingin hubungan kita segera halal. Jika kau menerimanya sehabis ujian nanti kita pergi ke kampungmu dan aku siap melamar dan meminta Mi lada orang tua mu." sambung Satria.
"Apa Kaka yakin? ini benaran atau hanya prank." ucap Muthia sontak membuat semua orang ketawa dan Satria mendengus kesal.
"Bhuahhaaaa, nasib Lo Sat, o!kngan Lo nggak di percayai sama Muthia." ucap Reno.
"Huh, aku serius beb. Kalau mau sekarang juga ayo kita terbang ke Aceh sekarang." ucap Satria dengan sungguh-sungguh.
Muthia menatap Satria dengan intens bahkan Muthia memegang wajah Satria dengan kedua tangannya untuk melihat manik mata Satria mencari kebenaran di sana.
"Jika kakak serius, Tia mau." jawab Muthia dengan mata berkaca-kaca, begitu pula dengan Satria yang berbinar bahagia.
"Oke besok kita ke Aceh ya." ucap Satria.
"Eh ya nggak secelat itu kak, Tia beberapa Minggu lagi ujian." jawab Muthia.
"Oke beb, sehabis ujian kita berangkat." jawab Satria.
"Wah Tia.. So sweat kak Satria." ucap Selfia.
"Woy ayo lanjut nggak nih." seru Yogi.
"Oke kota lanjuuut" ucap Satria sw!sangat dan mulai memutarkan botol dan botol pun berhenti di hadapan Dillah.
"Dare" jawab Dillah.
"Oke Dil, tantangan Lo nyanyikannlahu romantis buat Mimi pakek gitar." ucap Yogi dengan memberikan gitar kepada Dillah.
Dillah me riama gitar tersebut dan dipetiknya senar gitar dan dia mulai memetik setiap tangga nada sesuai dengan liriknya. Dillah membawakan lagu cant help fall In love.
Wise men say
Orang bijak berkata
Only fools rush in
Hanya orang bodoh yang suka tergesa-gesa
But I can't help falling in love with you
Tapi aku tidak bisa berhenti jatuh cinta padamu
Shall I stay?
Haruskah aku bertahan?
Would it be a sin
Akankah ini berdosa?
If I can't help falling in love with you?
Jika aku tidak bisa berhenti jatuh cinta padamu?
Like a river flows
Seperti sungai yang mengalir
Surely to the sea
Pasti menuju ke laut
Darling, so it goes
Sayang, begitulah adanya
Some things are meant to be
Ada hal-hal yang memang sudah ditakdirkan
Take my hand,
Genggamlah tanganku
Take my whole life, too
Genggam juga seluruh hidupku
For I can't help falling in love with you
Karena aku tidak bisa berhenti jatuh cinta padamu
Setelah Dillah menyanyikan sebuah lagu buat Mimi, mereka lun berhenti bermain game karena jam telah !menunjukkan pukul dua dini hari, mereka lun akhirnya kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
__ADS_1
tbc