DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
.


__ADS_3

Kegelisahan anak kegelisahan orang tua nya juga. Sepergian Syahril, umma langsung menghubungi emak, begitu pula emak yang melihat Mimi tak kunjung keluar kamar sehabis mandi dia pun berniat menghubungi calon besannya.


Saat emak akan meng dealkan kontak umma, tertulis di layar ponsel besan yang berarti umma telah menghubungi emak terlebih dahulu.


"Assalamualaikum San." ucap emak.


"Waalaikum salam San, Dan bagaimana keadaan Mimi." jawab Umma dan langsung menanyakan keadaan Mimi.


"Ya begitulah San, sedari tadi hanya diam." ucap emak, terdengar helaan nafas Umma.


"Emm, kenapa begini ya San, ..." ucap Umma dan mereka pun berbincang untuk mencari solusi dan akhirnya emak memutuskan untuk datang ke sana nanti.


Mimi masih berdiam diri di dalam kamar, emak melihat pintu kamar Mimi yang tertutup. Ada rasa sesak di dada emak melihat ke putus asaan di wajah Mimi.


Tak urung Mimi selalu menangis di dalam kamar nya. Mimi menangisi dirinya sendiri, Mimi merasa dirinya seolah tak diizinkan untuk bahagia.


Apa lagi saat teringat wajah Syahril yang sangat kecewa, maka teriris pula rasa hatinya.


Lelah dirinya berkecambuk dengan batinnya, Mimi pun tertidur.


Emak membangunkan setelah hampir tiga jam Mimi tidak keluar kamar.


"Mi.." ucap emak yang duduk di samping Mimi dengan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Mimi.


"Ya Allah, malang nian nasib anakku." gumam emak kala melihat mata Mimi lembab seperti habis nangis.


"Berikanlah dia kebahagiaan ya Rabb." emak selalu mendoakan Mimi, tak henti-hentinya hati serta mulut nya selalu mengucapkan doa untuk anak sulungnya.


Melihat Mimi yang tak kunjung bangun, emak pun membangunkan nya sekali lagi.


"Mi.." ucap emak dengan lembut.


"Emm" jawab Mimi namun mata masih terpejam.


"Bangun nak, kita kerumah Umma mu ya nanti." ucap emak dengan mengelus rambut Mimi.


"Bangun lah," ucap emak, Mimi pun membuka matanya.


"Mandi la lagi." ucap emak lagi sebelum keluar kamar, Mimi hanya mengangguk.


Padahal sebelum dia tertidur Mimi sudah mandi, namun saat emaknya mengajak pergi ke rumah umma. Mimi kembali mandi untuk menyegarkan diri terutama otaknya yang penuh dengan pemikiran-pemikiran yang tak tentu.


Selepas emak keluar kamar, Mimi langsung beranjak mengambil handuk serta pakaian dalamnya dan langsung menuju kamar mandi.


"Mi.." panggil emak ketika Mimi sudah keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan pakaian yang tadi dia pakai.


"Dalam kotak itu apa isi nya?" tanya emak,.


"Oo itu gulo duren Mak, buka lah. Sekalian bawa buat nyai." ucap Mimi.


"Buat Umma sudah di kasih?" tanya emak. Mimi menggeleng.


"Belum Mak. Baru duren Bae yang di bawa tadi." ucap Mimi dengan mendekatkan emak yang sedang berkutat dengan adonan brownies.


Mimi membantu emak membuat kue brownis, yang biasanya brownies memakai lapisan coklat kali ini Mimi memakai gula duren ( sarikaya durian ).


Sambil mengadon adonan brownies emak mengajak Mimi berbicara untuk mengalihkan perhatian Mimi yang terlalu banyak melamun.


"Mak" panggil Mimi.


"Iya" jawab emak dengan mengeluarkan loyang brownies yang telah matang keluar dari kukusan.


"Apa Mimi egois ya Mak?" tanya Mimi, emak yang mendengarnya menarik nafas dalam dan menghentikan aktifitas nya sejenak. Sebagai seorang ibu tentu dia tau jika anaknya sedang gundah.


"Kenapa bilang begitu?" tanya emak.


"Mimi merasa egois Mak, lagi-lagi Mimi telah membuat kak Syahril kecewa." jawab Mimi.


"Sudah lah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin ini jalan dari Allah untuk mengabulkan segala niat baikmu nak, Allah sedang mengabulkan cita-cita mu yang selama ini kau citakan."


"Percayalah, jika kalian memang berjodoh maka jika Allah berkehendak dengan sekejap pun kalian bisa melangsungkan pernikahan saat ini juga." jawab emak berusaha menguatkan hati Mimi.


"Ini juga merupakan kesalahan kami sebagai orang tua yang mendahulukan niat mu sebelumnya."


"Maksud emak?" tanya Mimi.


"Maksud emak, kami sebagai orang tua mendahului niat mu," ucap emak dengan mengelus rambut Mimi.


"Niatmu kan, akan menikah setelah lulus minimal selesai ujian dua bukan lagi. Tapi keegoisan kami yang ingin melihat kalian segera bersatu, kami memajukan nya. Tapi lihatlah Allah belum mengizinkan nya dengan di percepat nya ujian mu." ucap emak dengan senyum.


"Allah sedang mengabulkan cita-cita mu nak, dulu kau bercita-cita ingin menaikkan derajat kami di depan masyarakat, tak hanya di masyarakat tapi di keluarga kita juga."


"Kau terus berjuang meraih itu semua untuk membuktikan kepada mereka. Anak dari orang tua tak berpendidikan bisa mengenyam pendidikan tinggi bahkan menjadi dokter jantung yang berprestasi dan di kenal orang banyak.


"Dan saat ini juga Allah telah memenuhi segala cita-cita mu dan kali ini adalah tahap terakhir dari segala usaha mu."


"Namun satu Mak minta, jika kau telah meraihkan kesusksesan saat ini dan di beri Allah rezeki yang berlimpah janganlah bersifat angkuh. Jadilah anak emak yang selalu baik." ucap emak dengan memeluk Mimi, Mimi pun memeluk emaknya tanpa berkata-kata lagi.


Sambil menunggu kue matang, Mimi bergegas mengganti pakaiannya.


Kue yang matang dan dingin telah di masukkan ke dalam mika, emak membuat enam loyang kue brownies. Satu buat di bawa kerumah umma, satu buat kerumah nyai dan sisanya untuk di rumah.

__ADS_1


"Mak banyak nian buat kue?" tanya Mimi.


"Iya, biar buat camilan besok-besok." jawab emak ambigu. Mimi hanya mengangguk.


Mimi dan Mak pun berangkat ke seberang, tak lupa membawa dua loyang kue serta beberapa toples gula duren yang dia buat.


Mimi membawa mobil dengan pelan-pelan karena belum terlalu berani membawa mobil ke jalan raya. Walau pikirannya belum tenang, Mimi berusaha untuk fokus pada jalanan.


Jika orang lain akan sampai dengan waktu tiga puluh menit, Mimi bisa mencapai hampir satu jam baru sampe simpang menuju rumah nyai.


"Mak. Kita langsung kerumah nyai atau langsung?" tanya Mimi.


"Langsung Bae." jawab emak. Mimi pun langsung mengendarai mobilnya kerumah Syahril.


Rumah Syahril berada di kampung sebelah dari kampung nyai nya Mimi. Tak makan banyak waktu mereka pun telah sampai di rumah kediaman orang tua Syahril.


Mak langsung turun dari mobil dan langsung membuka pintu belakang untuk mengambil kue serta gula duren yang telah mereka sisihkan tadi, sedangkan Mimi dia menatap nanar ke arah rumah yang sudah banyak perubahan di depannya.


"Mi" panggil emak yang ternyata sudah berdiri di samping pintu kemudi.


"Hah hmm" jawab Mimi tak konsen.


"Ayo turun" ucap emak,Mimi mengangguk dan tanpa mengeluarkan suara, Mimi turun juga dari mobilnya, dengan menarik nafas dalam dia pun berjalan menuju rumah yang banyak kenangan bersama emak.


"Assalamualaikum" ucap Mimi dan emak. Mimi dan emak menunggu di luar karena belum ada sahutan dari dalam Mimi pun mengulangi salamnya.


"Assalamualaikum." ucap Mimi kembali.


"Waalaikum salam" jawab seseorang dari dalam .


Saat pintu terbuka umma tersenyum melihat kedatangan Mimi dan emak, yah yang membuka pintu adalah Umma.


Emak menyalami besannya dengan ber cipika-cipiki, begitu pula Mimi menyalami umma dengan menyium punggung tangannya, umma menepuk pundak Mimi dan stelah itu dia memeluk Mimi serta menciumi kening Mimi.


"Ayo masuk." ucap Umma dengan menggandeng lengan Mimi. Umma mengajak Mimi dan emak langsung ke ruang keluarga


"Kita langsung ke ruang keluarga saja ya." ucap emak.


"Iya San." jawab emak.


"Iya umma." jawab Mimi.


"Assalamualaikum" ucap Mimi ketika sampai di ruang keluarga.


"Waalaikum salam." jawab kakek dan Nini yang berada dari ruangan itu. Emak dan Mimi menyalami kakek dan Nini bergantian.


"Apa kabar mu nak?" tanya kakek.


"Alhamdulillah seperti yang Mimi lihat." ucap kakek dengan melihat Mimi sendu.


"Maafkan kakek ya nak." ucap nya dengan memegang tangan Mimi. Mimi hanya tersenyum menanggapinya.


"Maaf buat apa kek?" tanya Mimi.


"Maaf, atas segala perbuatan kakek dahulu." ucapnya dengan menghelakan nafasnya.


"Andai saja dulu kakek mengetahui jika kamu adalah anak yang baik dan kakek juga bukan orang yang egois. Mungkin hidup kalian berdua telah bahagia." ucapnya lagi. Mimi masih diam mendengarkan ucapan sang kakek.


"Tapi sekarang.. (Menghelakan nafas kembali ) Allah masih saja terus menguji kekuatan cinta kalian." ucap sang kakek.


"Tidak ada yang perlu di maafkan kek. Ini semua sudah jalan dari Allah, kami berdua hanya menjalaninya dengan sebaik mungkin." ucap Mimi.


"Justru saat ini, Mimi yang minta maaf pada kalian." imbuh Mimi sebelum melanjutkan omongannya dengan melihat ke arah kakek dan Nini serta Umma.


"Maafkan Mimi belum bisa mengabulkan keinginan kalian." ucap Mimi berusaha tersenyum namun mata yang sudah berembun.


Mimi beralih ke arah Umma dan Mimi juga memegang tangan umma.


"Umma maafkan Mimi belum bisa mewujudkan keinginan bunda dan Babah." ucap Mimi, umma mengangguk seraya menghapus air mata Mimi yang lolos dari genangan telaga matanya.


"Tidak ada yang harus di maafkan nak, semua pasti akan baik-baik saja." ucap Umma dengan memeluk Mimi. Emak yang duduk tak jauh dari umma merasa terharu.


Emak sangat bahagia, anak sulungnya mendapatkan calon mertua yang baik dan sayang pada nya


"Aya Allah, berikanlah kebahagiaan pada anak-anak kami, lancarkan segala keinginan kami." emak berdoa di dalam hatinya.


"Kek, kata kak Syahril kakek sakit. Apa yang kakek rasakan saat ini?" tanya Mimi mengalihkan kesedihannya dengan bertanya pada kakek


"Namanya juga sakit dah tua mi." jawab Nini.


"Sini kek, Mimi coba bantu periksa." jawab Mimi dengan mendekati kakek dan mengeluarkan peralatan nya.


Mimi mengecek tekanan darah kakek yang normal di usia nya, dan Mimi juga mengecek detak jantung kakek juga tidak memperlihatkan ada keganjalan, hanya lebih cepat dari detak jantung normal orang biasa saja.


"Kakek sehat, cuma kakek harus jaga pola makan. Kakek harus hindari makanan berlemak dulu ya kek." ucap Mimi setelah memeriksa sang kakek.


"Tuh bah dengerin."ucap Nini.


"Betul tuh bah, ini ndak nengok gulai pucuk ubi langsung nyantap." sahut Umma.


"La tau gulai pucuk ubi tu kesukaan Babah ngapo pula di masak " jawab kakek.

__ADS_1


"Yo kan itu buat kami-kami bah, buat Babah kan sudah ada sayur lain." jawab Umma.


"Ais dak enak sayur bening terus macam tu." jawab kakek kembali. Mimi tersenyum melihat perdebatan antara kakek, umma dan Nini.


"Ih ya umma, kak Syahril nya sudah pulang belum?" tanya Mimi.


"Sudah nak, sebelum Mimi masuk tadi dia baru saja naik ke atas." jawab Umma.


"Pargi lah nak ke atas." ucap kakek, Mimi pun m ngangguk.


"Emm umma, kakek, Nini, Mak. Mimi ke atas dulu." ucap Mimi.


"Iya." jawab mereka serentak.


"Langsung masuk saja nak kalau Ndak ada jawaban dari Syahril, mungkin dia tertidur " ucap Umma, Mimi pun mengangguk.


Mimi tersenyum melihat kekompakan mereka dalam menjawab, stelah mendapat izin dari umma ataupun kakek, Mimi pun melangkah menuju anak tangga.


Perlahan Mimi menaiki anak tangga dan Mimi pun be jalan menuju kamar Syahril.


Mimi mengetuk pintu sebanyak tiga kali dan mengucapkan salam,


"Assalamualaikum" ucap Mimi, namun tidak terdengar sahutan dari dalam.


"Assalamualaikum" Mimi mengulangi salamnya sembari mencoba memutar kenop pintu kamar.


Perlahan Mimi membuka pintu kamar yang tak terkunci. Mimi mengintip dari bilik pintu untuk melihat keadaan di dalam kamar Syahril.


Sunyi, itu yang Mimi rasakan. Celingak celinguk Mimi melihat sekitar kamar tak menemukan Syahril, terakhir pandangan Mimi di atas kasur.


Terlihat tubuh tegap tinggi sedang berbaring dengan telungkup. Perlahan Mimi berjalan masuk mendekati kasur.


Mimi memutari ranjang ke arah dimana wajah Syahril berada. Terlihat wajah bersih yang terlihat capek.


Bulu mata hitam lentik, alis yang sedikit tebal berbetuk, hidung mancung tinggi, bibir merah dengan dagu sedikit ada belahan.


Mimi tersenyum melihat wajah letih Syahril, namun di balik senyum di bibir Mimi hatinya sakit kala mengingat keadaan nya kini.


Mungkin Syahril kecewa sama Mimi, Mimi pun kecewa pada dirinya sendiri yang telah membuat kekecewaan pada orang yang dia cintai.


"Ya Allah, apa ini sudah jalan dari mu." ucap Mimi dalam hati. Perlahan Mimi mengusap pipi Syahril, bermain di hidung serta mulut Syahril dengan tatapan sendu.


Syahril merasa tidur nya terusik dan dia pun membuka matanya. Syahril melihat apa yang Mimi lakukan, namun Mimi belum sadar kalau Syahril telah bangun.


Syahril membiarkan Mimi mempermainkan hidung serta mulut dan dagunya oleh Mimi.


Ada rasa senang di hati Syahril melihat Mimi ada di kamar nya saat ini. Karena tak tahan akan sentuhan Mimi pada hidung apa lagi pada bibirnya.


Jarak wajah mereka hanya sebatas satu jengkal, Syahril pun menarik leher Mimi dengan sebelah tangannya. Syahril pun langsung menciumi bibir Mimi.


Mimi yang kaget membuka mulutnya sehingga dengan leluasa pula Syahril bermain di dalam sana.


"Emmm" ucap Mimi. Tautan itu pun berhenti dikala mereka berdua sudah kehabisan oksigen.


"Hoh hoh hoh." Mimi menarik serta menghembuskan nafas tak beratur nya.


"Hoh Ka kak dah ba bangun." ucap Mimi terbata.


"Hmm, enak ya mainin hidung sama bibir kakak." ucapnya, Mimi mencebik dan menunduk merasa malu.


"Kalau mau cium kenapa ndak langsung cium aja, kenapa harus di mainin kayak itu." ucap Syahril seraya bangun dari rebahannya dan duduk di atas kasur.


"Sini" ucap Syahril dengan menepuk sebelah nya. Mimi pun bangun dari jongkoknya dan duduk di atas kasur bersebelahan dengan Syahril.


"Ada apa? sampe kakak bangun pun tak sadar." ucap Syahril dengan gaya biasa saja.


"Emm Mimi ndak mau ganggu tidur kakak yang pulas." ucap Mimi.


"Ndak mau ganggu tapi mainin wajah kakak." ucapnya, Mimi tersenyum malu. Sejenak suasana kamar pun hening.


"Jadi, apa adek sudah pesan tiket?" tanya Syahril tanpa melihat ke arah Mimi.


Mimi terdiam dan melihat Syahril yang berbicara tidak melihat ke arahnya. Mimi memejamkan matanya sejenak. Ada rasa sakit menusuk hatinya kala orang yang di cintai berbicara tapi tak melihat padanya.


"Maafkan Mimi." ucap Mimi.. Yah hanya kata itu yang bisa Mimi ucapkan, terlihat Syahril memejamkan matanya.


Mimi semakin merasa sakit hatinya kala melihat Syahril memejamkan mata dengan menarik nafas dalam.


"Jam berapa?" tanya Syahril.


"Insya Allah jam dua siang." jawab Mimi.


"Hmm.." ucap Syahril.


"Maafkan Mimi kak. Maafkan Mimi yang belum mengabulkan keinginan kakak." ucap Mimi.


Syahril hanya diam, jujur hatinya juga ada rasa kecewa. Rasa bahagia sebelumnya dengan seketika harus jatuh kala melihat isi email Mimi.


Suasana kamar menjadi hening tanpa ada pembicaraan dua insan itu lagi, Syahril menarik Mimi kedalam dekapannya.


Mimi merasa nyaman dalam dekapan itu, satu yang Mimi takutkan kalau ini adalah dekapan terakhir buat nya karena dia telah berulang kali membuat kecewa sang kekasih.

__ADS_1


tbc


__ADS_2