
Keesokan pagi seperti biasa Dillah selalu menjemput dan mengantar Mimi kerja. Hari ini terlihat Dillah sangat bahagia karena orangtuanya telah tiba di kota Padang dan dia sangat bahagia akan mengajak Mimi makan malam bersama sekalian dia membuat pesta kejutan buat Mimi dan ibunya.
Ya tanggal 22 Desember merupakan tanggal kelahiran Mimi dan hari ini juga merupakan hari ibu.
"Yaumil milad ya sayang." ucap nya denagn me!berikan bucket bunga mawar putih dan coklat serta brownies.
"Makasih kang, emm kita berangkat sekarang aja ya kang soalnya Mimi ada operasi pagi ini." ucap Mimi.
"Yaudah ayok " ucapnya.
"Emm bentar, bunga sama browniesnya Mimi taruh di dalam dulu." ucap Mimi dan membawa bunga serta brownies ke dalam, brownies Mimi letakkan kedalam kulkas dan bunga Mimi taruh di atas kasurnya.
"Ayok kang" ucap Mimi setelah mengunci pintu rumahnya.
"Ayok, ke rumah sakit jantung kan?" tanya nya.
"Iya, makasih ya kang udah mau nganterin Mimi." ucap Mimi.
"Apa sih yang nggak buat kamu yank, aku harus belajar dan belajar serta ngertiin pekerjaannya seorang dokter." jawabnya.
Hari ini Mimi banyak tersenyum, canda tawa sepanjang jalan dengan Dillah. Terlihat Mimi dan Dillah sangat bahagia hari ini.
"Makasih ya kang, Mimi masuk dulu, assalamualaikum." ucap Mimi ketika sudah sampai di depan pintu rumah sakit dan menyalami Dillah.
"Sama-sama sayang, nanti kalau sudah selesai telpon ya biar aku antar ke Nurani Bunda." jawabnya.
"Iya kang." jawab Mimi.
Cup Dillah mencium kening Mimi, Mimi tersipu malu takut ada yang ngelihat.
"Iss akang ih ntar ada yang lihat malu kang." ucap Mimi dengan manyun.
"Nggak ada yang lihat, dah sana masuk ntar telat lagi." ucapnya dengan mengelus pipi Mimi.
"Yaudah Mimi masuk dulu ya, assalamualaikum." ucap Mimi dan kembali mengucapkan salam.
"Waalaikum salam." jawabnya, setelah punggung Mimi tak terlihat Dillah oun pergi meninggalkan rumah sakit jantung itu.
Hati Dillah sangat bahagia, karena selangkah lagi dia akan memiliki Mimi seutuhnya.
"Selangkah lagi sayang, setelah ini kita menemui orang tua mu dan kau akan menjadi milik aku seutuhnya." ucapnya dengan bersiul-siul di dalam mobilnya.
Mimi juga sangat bahagia tali dirinya bingung bahagia karena apa. Hanya saja hatinya sangat bahagia, apa lagi mendapat kabar dari ayah Brata kalau keberangkatannya di tunda dua Minggu pertengahan Minggu awal tahun depan.
"Ya Allah lancarkan segala cita-cita ku dan cita-cita orang yang menyayangi ku." ucap Mimi.
Saat masuk ke ruangan tim medis yang akan melaksanakan brifing pagi Mimi dikejutkan sorak sorai selamat ulang tahun oleh tim medis.
"Selamat ulang tahun dokter Mimi." ucapan demi ucapan terlontar dari lara tim medis.
"Selamat ulang tahun dokter kesayangan akuh." ucap asistennya yang berada di rumah sakit ini.
"Makasih" jawab Mimi dengan mata berkaca-kaca terharu akan suprise yang mereka berikan pagi ini. Mimi terharu karena ini ulang terakhir dirinya disini.
Tak banyak yang tau kalau Mimi sudah mengajukan surat pengunduran diri. Hanya para direktur rumah sakit yang mengetahui Mimi akan berhenti.
"Selamat ulang tahun dek." ucap dokter Johan.
"Makasih Bang." jawab Mimi dengan deraian air mata.
Dokter Johan juga merupakan salah satu anggota tim riset, dari semua dokter hanya dialah yang tau kalau Mimi akan berhenti.
"Nikmati hari ulang tahun kamu untuk terakhir kali disini." bisiknya dengan senyum, Mimi mengangguk.
Setelah brifing yang diisi dengan perayaan dadakan ulang tahun Mimi, Mimi dan tim yang akan melaksanakan operasi pencangkokan jantung pun segera menuju ruang operasi.
Lima jam berlalu operasi pun selesai dan berhasil, Mimi sangat bersyukur dapat menolong orang-orang yang memerlukan tenaganya. Sehabis dari sini Mimi langsung menuju rumah sakit Nurani Bunda karena dia akan langsung terjun kembali ke uang operasi.
Mimi hanya mengirim pesan lada Dillah kalau dia langsung berangkat karena mengejar waktu dan saat perjalanan pun Mimi meminta para tim medis dan perawat untuk menyiapkan ruang operasi segera karena Mimi telah lewat waktu dari prediksinya karena pasien yang ditangani tadi sempat drob.
Sesampainya di rumah sakit nurani Mimi berlari kecil langsung menuju ruangannya untuk berwudhu untuk sholat Dzuhur nya sebelum melakukan tindakan operasi.
Sehabis sholat Mimi lagi-lagi berlari menuju ruangan operasi untuk mengejar waktu.
"Maaf telat" ucap Mimi dengan langsung di bantu memakai atribut untuk melakukan tindakan operasi. Sebelum melakukan tindakan semua tim dokter yang ikut serta membaca doa terlebih dahulu untuk meminta kemudahan dan kelancaran atas apa yang akan mereka kerjakan.
Dua jam setengah operasi pemasangan ring di jantung pun selesai, lega itulah yang dirasakan semua tim karena operasi berjalan lancar.
Sehabis operasi, adzan ashar pun berkumandang, Mimi langsung membersihkan dirinya dan berwudhu serta segera melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu sebelum dia masuk ke Aula.
Tak lama rombongan para bos besar memasuki rumah sakit nurani bunda, semua tim medis terkait masuk ke aula tersebut Mimi masuk setelah sebagian telah masuk karena dirinya baru selsai sholat.
Mimi duduk di bagian depan dimana di depan adalah tempat para dokter di rumah sakit ini.
Dokter Rayhan melihat mimk baru masuk hanya menggeleng kepala sedangkan si bos besar menatapnya tajam. Disini juga bukan hanya Mimi yang datang terlambat ke aula, tim medis yang bersama nya di ruang operasi pun ikut terlambat.
Sindiran-sindiran terlontar dari mulut lemes sang bos, Mimi cuek saja karena Mimi tidak merasa berbuat kesalahan yang fatal, dia terlambat juga karena menjalankan perintal illahi rabbi terlebih dahulu.
"Dokter Mimi" panggil dokter Hendry rekan yang ikut dalam operasinya tadi dengan berbisik.
"Kena ssindir kita." Ucapnya.
"Hmm biarin aja." jawab Mimi.
"Hey kamu..Iya kamu." ucapnya dengan menunjuk ke arah Mimi dan dokter Hendry serta kedua dokter lainnya.
"Kalian ini ya, sudah terlambat masuk ke aula, sekarang berbisik-bisik kerjanya." ucapnya, Mimi hanya mengeratkan kedua bibirnya geram.
"Apa yang kalian kerjakan hingga terlambat masuk ke aula? apa ini merupakan kedisiplinan yang diterapkan di rumah sakit ini." Ucapnya.
__ADS_1
"Kamu dokter Mimi, kamu dokter teladan di rumah sakit ini, prestasi kami baik dari tahun ke tahun. Kenapa hari ini kamu telat masuk? Apa kamu tidak tau kalau hari ini kita adakan pertemuan?" ucapnya Mimi hanya diam.
Mimi tidak akan menjawab sebelum dia mengucapkan jawab karena bila dia belum mengucapkan dan Mimi menjawab maka tetap salah di depan matanya.
''Kenapa diam? Apa kamu tidak punya mulut sehingga tidak mau menjawab? Atau kamu mengakui jika kamu memang salah." Ucapnya.
Mimi yang sudah diberi mik pun berdiri.
"Apa saya sudah boleh menjawabnya tuan?" ucap Mimi dengan sorot mata menantang.
"Hemm" jawabnya.
"Kenapa saya dan tim saya terlambat masuk, karena sebelumnya kami baru selesai melakukan tindakan operasi pemasangan ring pada jantung pasien."
"Kenapa kami tidak langsung masuk? Apa kami harus masuk dengan memakai atribut yang masih melekat pada tubuh kami?"
"Atau apa kami langsung masuk dengan dalam keadaan yang yah tau sendiri bagaimana seorang tim medis berjibaku di meja operasi?"
"Dan paling utama sebelum kami masuk keruangan ini, kami tentunya membersihkan diri kami selepas melakukan tindakan operasi dan kami juga harus menunaikan perintah yang maha kuasa terlebih dahulu kerana saat alat-alat operasi lepas dari tangan kami seruan adzan telah terdengar ditelinga kami.''
"Apa dengan yang kami lakukan itu merupakan kesalahan fatal kami terlambat dalam pertemuan ini? Jika iya, saya mewakili rekan tim medis yang ikut serta dalam tindakan tadi mohon maaf dan bila Anda ingin memberikan sanksi maka berilah kepada saya saja jangan kepada rekan-rekan saya. Terimakasih." ucap Mimi dan kembali duduk.
Sang bos besar tercengang mendengar penuturan Mimi, dia merasa ter skakmat oleh jawaban Mimi.
Setelah itu dia tidak membahas tentang keterlambatan Mimi dan tim, dia langsung membahas tentang kinerja-kinerja para karyawan nya yang samakin meningkat.
Jam 5.30 pertemuan itupun akhirnya berakhir, Mimi yang sudah punya janji sama Dillah buru-buru kembali ke ruangannya untuk beristirahat sejenak.
Bos besar yang melihat Mimi buru-buru keluar hanya mendengus kesal.
"Rey, tuh anak kenapa buru-buru?" tanya bos besar.
"Emm kebelet kali." sahut sang sekretaris.
"Ckk padahal kan habis ini ada acara buat dia." ucapnya.
Ya semua karyawan dilarang meninggalkan aula karena ada acara selanjutnya tapi Mimi malah buru-buru keluar. Lima belas menit berlalu Mimi tidak kembali maka dokter Rayhan meminta asisten nya untuk memanggil Mimi.
"Dok" panggil sang asisten kala telah membuka pintu ruangan Mimi.
"Iya sus, ada apa?" tanya Mimi.
"Maaf dokter di pinta untuk kembali ke aula." ucapnya.
"Ckk ada apa lagi sih." Sungut Mimi namun dia tetap menuju ke aula
Saat sampai ke aula seruan ucapan ulang tahun dari mc dadakan pun bergema.
"Selamat ulang tahun dokter Mimi Akifah" ucap mc, Mimi tercengang dan terharu dimana melihat kue ulang tahun yang elegan sudah di letakkan di atas meja.
"Selamat ulang tahun ya dok." ucap Fira istri sang bos.
"Iss dokter Mimi ini, jangan panggil nyonya lah panggil Fira saja " Ucapnya.
"Saya lagi tidak mau berdebat sama itu." jawab Mimi dengan berbisik serta menunjuk ke arah bos besar yang sedang bicara dengan petinggi rumah sakit.
"Hahaa bisa saja dokter ini." ucapnya.
''Wah dah besar saja kandungannya, tapi sayang kelak saya tidak bisa melihat debay nya." ucap Mimi.
"Yah semoga saja masih bisa ketemu " ucap Fira.
"Semoga." jawab Mimi.
Setelah acara dadakan ini tak lama terdengar suara adzan Maghrib, semua nya pun kembali melanjutkan untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib terlebih dahulu. Sedangkan Guan besar dan sang istri pamit undur diri.
"Ehemmm selamat ulang tahun" ucap bos besar dengan mengulurkan tangannya ke Mimi sebelum dia pamit pulang.
"Makasih bos." jawab Mimi dan menerima uluran tangan itu.
Sehabis sholat, Mimi berganti pakaian gamis yang sudah di siapkan sebelumnya, Mimi juga berdandan senatural mungkin karena dirinya tak suka berdandan berlebihan.
Setelah siap dia pun pergi bersama Dillah namun sebelumnya dia berpamitan kepada rekan-rekannya di aula, tak lupa Mimi mencicipi makanan yang sudah tersedia disana.
Sepanjang jalan di dalam mobil Mimi banyak diam dan gelisah.
"Kamu kenapa yank?" tanya Dillah.
"Emm nggak kenapa-napa kang." jawab Mimi dengan senyum.
"Kalau nggak kenapa-kenapa kenapa gelisah gitu?" tanya Dillah lagi.
"Emm nggak tau juga kang, nerves kali ya." ucap Mimi.
"Hahaa kamu ini, ciee yang mau ketemu calon mertua." ucapnya dengan canda.
"Hemm, emm kang." ucap Mimi dan memanggil Dillah.
"Iya dek, ada apa?" tanya Dillah.
"Emm benaran, kalau orang tua akang sudah menerima Mimi apa adanya?" tanya Mimi, mengeluarkan unek-unek yang membuat dirinya gelisah.
"Iya sayang, mereka menerima apa yang sudah menjadi pilihan akang. Dan pilihan akang itu ya kamu." ucapnya.
"Jangan takut, akang selalu bersama kamu, dan yang terpenting mereka juga pastinya akan menyukai kamu." ucap Dillah dengan mengelus tangan Mimi.
"Dek, tangan mu sampe dingin gini." ucaonya ketika memegangi tangan Mimi.
"Hemm" ucap Mimi yang entah mengapa hatinya mendadak seperti akan ada sesuatu kedepannya yang akan dihadapinya.
__ADS_1
"Kang, seandainya mereka belum bisa menerima Mimi bagaimana?" tanya Mimi.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu dek?" tanya Dillah.
"Ya kan ini seandainya kang. Bukannya apa, apalah Mimi ini kang, keluarga Mimi juga bukan keluarga terpandang ataupun kaya raya." ucap Mimi.
"Akang tidak memilih kamu karena kamu anak orang terpandang atau pun kaya. Akang menyukai kamu dari kesederhanaan serta kerja keras kamu." ucapnya.
"Emm kang, kalau seandainya orang tua akang tidak merestui?" tanya Mimi.
"Mereka pasti merestui kita dek, akang yakin kamu akan menjadi menantu kesayangan mereka." ucapnya.
"Akang juga berharap kamu kelak juga menyayangi mereka." ucap Dillah penuh harap.
"Kamu tau dek, akang iri melihat kamu baik dengan para mantan dan keluarga mantan kamu itu." ucapnya.
"Kenapa harus iri?" tanya Mimi.
"Ya iri aja, kalau seandainya akang menjadi mantan kamu apa kamu juga akan masih baik sama Akang." tanya nya.
"Kenapa akang bertanya seperti itu?" gaya Mimi.
"Cuma nanya aja. Pengen tau apa jawabannya" ucap Dillah.
"Ya tergantung." jawab Mimi.
"Kok tergantung?" tanya Dillah.
"Ya tergantung kang, para mantan Mimi itu memiliki kepribadian yang baik, keluarga mereka juga baik sama Mimi."
"Tak hanya sama Mimi tetapi sama keluarga Mimi juga baik, kebaikan mereka tulus bukan mengada-ngada. Jadi jika kelak kita tak bersatu dan kita berpisah secara baik-baik mungkin Mimi akan baik pula kedepannya ke akang dan keluarga akang."
"Tapi jika kita berpisah karena mungkin akang lebih memilih dan mendengarkan omongan orang tua akang tentang siapa Mimi dan akang lebih percaya sama mereka yah mungkin tidak ada yang namanya baik-baik."
"Bisa jadi itu akan menjadi sebuah pengalaman yang tak akan pernah Mimi lupakan seumur hidup Mimi, apa lagi jika ada yang menjelekkan kedua orang tua Mimi, tidak ada kata maaf atau pun kesempatan lagi." ucap Mimi.
"Kog gitu dek?" tanya nya.
"Iya harus gitu lah, Mimi ini cewek, anak pertama serta cucu pertama di keluarga, Mimi adalah harapan mereka dan mereka berjuang keras terhadap Mimi. Terus tiba-tiba ada menjelek-jelekkan mereka terutama orang tua Mimi, sampai mati pun Mimi tidak akan pernah memaafkannya."
"Karena bagi Mimi orang tua Mimi paling utama dari pada mereka yang belum menjadi orang tua Mimi." ucap Mimi, Dillah hanya diam dan tak lama mereka pun sampai di sebuah restoran.
Perlahan mereka berdua masuk, saat menuju ke meja dimana Mimi yakini itu adalah kedua orang tua Dillah, Mimi berusaha tenang dan menarik nafas berulangkali kali.
Diseberang meja yang di duduki kedua orang tua Dillah ada tamu spesial yang Dillah persiapkan untuk Mimi.
Saat Mimi sampai di meja itu, Mimi tercengang melihat dua orang paruh baya dihadapan Mimi, Mimi berusaha tenang.
"Yank, kenali ini Mami dan papi aku." ucap Dillah mengenalkan kedua orangtuanya.
"Assalamualaikum Om, Tante." ucap Mimi seramah mungkin dan menyalami mereka satu-persatu dan menciumi punggung tangan mereka
"Hmm waalaikum salam." jawab maminya Dillah dan menarik tangannya ketika Mimi hendak mencium nya.
Mimi berusaha sabar dan tersenyum walau hatinya dongkol.
"Waalaikum salam, ayo silahkan duduk " jawab si papi Dillah dan mempersilakan Mimi duduk.
"Makasih Om." jawab Mimi dan duduk di kursi yang sudah dikeluarkan oleh Dillah.
"Makasih kang." ucap Mimi dan Dillah mengangguk..
"Oh ya mam, emm malam ini Dillah ingin membuat surprise buat mami dan Mimi."
"Pertama karena hari ini adalah ulang tahunnya Mimi dan kedua ini juga merupakan hari ibu" ucap Dillah dan masuklah beberapa pelayan membawa kue ulang tahun serta kue hari ibu.
"Selamat hari ibu mami." ucap Dillah dengan mengecup pipi maminya.
"Selamat hari ibu Tante " jawab Mimi.
Diseberang meja dimana Mimi duduk, seseorang sudah mengepalkan tangannya, sedari dia sampe dia ingin menghampiri meja itu namun selalu di tahan oleh orang disampingnya.
"Yaudah kalau gitu mami potong kuenya " pinta Dillah.
"Emm tunggu dulu nak, mami lagi nunggu seseorang." jawab maminya Dillah, tak lama yang dia tunggu datang.
Tiga orang berjalan ke arah meja Mimi dan orangtua Dilllah. Dua orang berusia sama dengan kedua orang tua Dillah dan satunya Mimi seperti pernah mengenal nya.
"Nah itu dia.." ucap sang Mami.
"Hai jeng, apa kabar?" tanya mami pada wanita paruh baya itu.
"Aku baik jeng, kamu gimana?" tanya kembali.
Mimi hanya diam melihat interaksi mereka, Dillah pun diam tidak mengerti kenapa sang mami mengundang teman nya itu.
"Wah ini anakmu jeng?" tanya si wanita itu.
"Iya ini anak ku, wah ini anak mu toh jeng, cantik ya?" tanya mami.
Mimi melihat perempuan yang merupakan anak dari temannya mami Dillah itu, Mimi menelisik perempuan itu.
"Riska?" ucap Mimi dan Riska tersenyum.
"Mimi" ucapnya tidak percaya.
Akhirnya mereka pun makan malam bersama namun Mimi seakan terasingkan oleh kedua orang tua Dillah. Mimi masih berusaha sabar hingga saat semuanya selesai makan dan orang tua Dillah menyampaikan berita itu..
tbc
__ADS_1
mohon maaf ya tidak bisa up banyak-banyak karena berbagi waktu dengan real life