
Semenjak makan bakso disuapin sama Mimi, setiap dia makan bakso atau sop di kantin Bu Ruminah pun minta di suapin.
"Wuiddihh Dil, nagih Lo." ucap Reno.
"Ckk sejak kapan Lo Dil jadi hilang perasa Lo." sahut Yogi.
"Lebih baik kamu periksa deh Mi, mungkin ada masalah kelainan di lidahnya." ucap Satria.
Dillah cuek tak menghiraukan hujatan demi hujatan yang dilontarkan ketiga sahabatnya. Mimipun tidak menolak karena Mimi ingin memperlihatkan kepada kedua sahabtnya Dimas dan Saridi. Miki ingin mereka berdua tau kedekatan Mimi dan Dillah walau belum ada status yang jelas.
Mimi juga ikut cuek kala ketiga sahabt Dillah terus mengejek bahakna menyuruhnya agar tidak menuruti Dillah.
"Ckk nih pasangan kompak amat ya.. kita di cuekin." ucap Satria.
Tiba-tiba Satria melihat ke arah Muthia, entah mengapa hatinya merasa aneh melihat gadis Aceh satu ini. Apa lagi bila melihat Muthia tersenyum, terlihat gigi ginsul yang menambah kemanisan tersendiri.
Satria diam dan terus memperhatikan Muthia yang sedang berbicara pada Selfia dan Irma.
Tanpa sengaja Muthia pun melihat ke arah samping dan mereka berdua bersitatap. Muthia tersenyum pada Satria dan itu membuat Satria salah tingkah.
Kabar Mimi dekat dengan seniornya pun telah di dengar oleh Syahril dan orangtuanya. Bahkan Syahril juga mengetahui kalau Dillah ingin serius dan menjadikan Mimi miliknya seutuhnya.
Syahril berdiri di balkon kamarnya, ya saat ini dia sedang berada di apartemen nya. Dia akan ke apartemen nya bila dia ingin sendirian.
Ditatapnya langit LA di malam hari, kerlap kerlip lampu kota menghiasi kota ini. Di pejamkan matanya dan dihirupnya udara malam.
Ryan selalu mengikuti kemana Syahril pergi. Ryan tau bila Syahril ingin pulang ke apartemennya berarti ada yang sedang mengganggu pikiran nya.
"Rill." panggil Ryan yang tengah berdiri dipagar balkon kamar nya.
"Kamu kenapa?'' tanya Ryan.
"Emmm ndak apa-apa Yan." jawabnya.
"Kamu tidak rela Mimi dimiliki orang lain?" tanya Ryan pada intinya.
"Entah lah Yan." jawab Syahril seraya berjalan menuju sofa dan dia menghempaskan diri di atas sofa itu sembari memijit Batang hidungnya.
"Kalau itu memang jodohnya Mimi, ku harap kau bisa menerima nya Riil. Biarkan Mimi bahagia" ucap Ryan.
"Kenapa sulit sekali mengumpulkan bukti Zahra Yan?" tanya Syahril mengalihkan omongan tentang Mimi dan jodohnya Mimi.
"Hmm kebiasaan mengalihkan omongan... Kekasih Zahrah itu bukan orang biasa Riil, dia seorang pengusaha berasal dari Turki dan dia juga punya geng mafia." ucap Ryan.
"Aku ingin bertemu sama dia." ucap Syahril.
"Buat apa? oo mau minta dia nggak ganggu istri kamu gitu!" ucap Ryan dengan candaan.
"Ckk, aku ingin tau saja. Kalau dia emang mau Zahra silahkan saja ambil. Aku ndak peduli barang bekas juga." ucap Syahril.
"Emm aku punya ide Riil," ucap Ryan.
"Apa?" tanya Syahril.
"Kamu pulanglah kesana, bukannya selama pernikahanmu itu belum pernah ke sana.'' goda Ryan dengan memicingkan matanya sebelah.
"Maksud kamu? Haram aku nyentuh dia Yan." ucap Syahril yang merasa jijik pada Zahrah.
"Hahaaa yang nyuruh kamu nyentuh dia siapa? pikiran mu itu Riil Riil. Makanya kalau nikahnitu langsung minta jatah supaya fresh pikiran, ini nikah langsung pisah ranjang." ledek Ryan.
"Sialan kamu Yan." ucap Syahril dengan melempar koran ke arah Ryan.
"Oke oke aku serius, kamu pulang kesana kalau perlu sekalian sama Babah, Umma dan Datuk sama Nyai." ucap Ryan.
"Ngapain rame-rame kesana?" tanya Syahril yang langsung protes.
"Dengerin dulu lop. Nanti kita atur waktu, kita kroscek kemana saja Zahra dan kekasih nya itu saling bertemu nah disitu kita juga check-in hotel yang sama kalau perlu kita cari yang kamar sebelahan atau berdekatan dengan dia." ucap Ryan dengan segala rencananya.
"Hmm bukannya tadi kamu bilang susah untuk mengetahui kapan mereka berdua bertemu secara intim." ucap Syahril.
"Emm bukannya abi Risyad pernah bertemu dengan dia waktu abo leehi ke Kairo?" tanya Ryan.
"Iya, terus?" ucap Syahril namun tidak di jawab Ryan..
"Maksud kamu??" ucap Syahril tiba-tiba dan Ryan mengangguk.
Mereka pun segera mengatur rencana dengan matang.
**
Hari Sabtu Mimi dan para sahabt serta Dilla dan sahabatnya pergi ke ICS karena seperti biasa disana sedang diadakan acara menjelis.
Abi Arsyad, abir Risyad dan keluarganya pun ada. Kali ini yang membaca Alquran adalah santriwati di pesantren Abah.
Selama pembacaan ayat Al-Quran dilantunkan semua hening tanpa ada yang bersuara.
Kak Revano dan mbak Reva pun turut hadir, mbak Reva mengajak anak asuh Abi Risyad juga. Abi Risyad dan ummi Fatimah memiliki anak asuh yatim piatu dua orang dan mereka berdua tinggal di pesantren Abah.
Usia mereka berdua perkiraan seumuran Mimi, mereka bukan hanya sebagai santri tetapi mereka juga sebagai ustadzah di pesantren Abah.
"Fathia, Uswa ala kabar?" tanya Mimi pada mereka berdua.
"Alhamdulillah baik Mi. Kok kemaren nggak dateng Mi?" tanya mereka
"Emm iya kemaren itu las Mimi ujian praktek Fat, Us. Pulangnya juga sore." jawab Mimi.
"Oh gitu, sayang bener padahal kemaren ustadz kondang yang menghadiri." ucap Uswatun.
"Yah, Japan guh ustadz di undang lagi?" tanya Mimi.
"Ya belum tau." jawab mereka.
"Emm, mbak Reva dah berapa bulan?" ucap Mimi beralih pada mbak Reva.
"Masuk emlat bulan Mi, besok emlat bulanan datang ya?" ucap mbak Reva dan Mimi noun memgangguk.
"Insya Allah ya mbak kalau tidak ada halangan." jawab Mimi.
__ADS_1
Setelah acara selesai mereka semua pulang tetapi kali ini mereka pulang kerumah kak Revano karena di rumah kak Revano ada acara syukuran ulang tahun Cindy.
Mami dan papi mengajak keluarga dekat saja untuk makan-makan.
Saat masuk kedalam rumah mami dan papi kak Revano Mimi tidak melihat lagi benda yang dipasang di dinding menuju ruang tamu nya.
Mimi melihat ke arah kak Revano yang kebetulan juga melihat ke arah Mimi.
"Dilepas sama Mami " jawabnya seolah tau dari arti tatapan Mimi.
"Oo" jawab Mimi.
Dillah yang melihat kedekatan Mimi dan Revano masih menaruh kecemburuan nya.
"Ehem" Dillah berdehem ketika Mimi dan Revano saling pandang.
"Kenapa bro? jangan cemburu dia adik ku." ucap Revano yang tau kalau Dillah cemburu.
"Emm yaudah ayo masuk." ajak Mimi dengan menggandeng lengan Dillah, Dillah yang di perlakukan seperti itu merasa bahagia.
"Mi mana Cindy?" tanya Mimi lada Mami Revano.
"Hmm belum pulang Mi, tadi katanya lagi jalan sama teman-teman nya." jawab Mami.
"Kok tadi dia nggak ke ICS" tanya Mimi sembari membantu mami Revano menyiapkan minuman.
"Dia lagi dapet, makanya nggak datang kalau nggak beuh tau sendiri Cindy bagaimana orangnya." jawab Mami.
"Kak Sintya kemana? kok nggak ada juga.?" ta ha Mimi.
"Kakakmu lagi ikut abangmu keluar kota kemarin." jawab mami.
"Yah sepi nggak ada Lala." ucap Mimi.
"Hmm iya nggak ada dia Seli, ada dia mami dibikin pusing " ucap mami.
"Udah yok kita bawa ke depan." ucap mami dan mereka berdua mbawa minuman ke ruang tamu.
Saat sampai di ruang tamu mamiohn mengajak semua untuk minum dan mengobrol bersama.
Namun melihat Mimk dekat dengan Dillah dan dia melihat ke arah Dillah, mami mendekat dan melihat dari dekat.
"Wajah kamu sangat familiar" ucap Mami pada Dillah.
"Siapa nama kamu?" tanya mami.
"Saya Dillah Tante." Dillah mengenalkan dirinya dengan apnama Dillah.
"Emang mirip siapa nih?" tanya mbak Reva.
"Mimi lupa tapi mata dan bentuk mukanya sangat familiar bagi mamih." uavap Mami.
"Mungkin hanya mirip saja Mi " ucap mbak Reva.
"Iya mungkin juga" ucap mami. Gak lama orang yang ditunggu pun tiba.
"Waalaikum salam" jawab semua kecuali mami dan papi.
"Darimana aja dek?" tanya Mimi.
"Hehee biasa kak, teman-teman Cindy minta traktiran." jawabnya.
"Karena Cindy sudah tiba, kkta mulai aja makan-makan nya." ucap Mami.
"Emm sebelum itu, kita baca do'a selamat dulu buat Cindy." ucap Revano dan akhirnya mereka semua lun membaca alfatihah dan doa selamat dan setelah itu mereka lun mulai makan-makan.
Dimas selalu menatap Cindy, entah mengapa hatinya merasa tertarik akan sosok Cindy yang riang itu.
Saridi mulai mendekati Selfia bahkan mereka berdua pun sudah akur kembali. Sedangkan Muthia diam-diam dia menjalin hubungan dengan Satria si playboy kampus insyaf.
Seminggu kemudian Mimi dan teman-temannya di undang ke acara ulang tahun teman sekelasnya Riska. Ulangtahun nya diadakan di sebuah hotel di kota ini.
"Mi datang ya?" ucapnya.
"Insya Allah Ris," jawab Mimi.
"Datang ya pokoknya harus, ajak deh kak Dillah nya." ucap Riska .
"Iya isnya Allah." jawab Mimi.
"Pokoknya harus Mi, soalnya ayah sama bunda aku ingin ketemu sama kamu. Katanya mau berterimakasih sama kamu." ucapnya.
"Terimakasih buat apa?" tanya Mimi.
"Terimakasih berkat ujiannya sekelompok dengan kamu nilai aku bagus Mi, emm coba sedari dulu aku sekelompok dengan kalian." ucapnya.
"Itu juga karena kami sudah berkerja keras ris, bukan karena Mimi." ucap Mimi merendah.
"Pokoknya harus Mi, soalnya bunda sama ayah itu kalau hari-hari biasa jarag ada di rumah.'' ucaonya.
"Iya nanti insyaallah Mimi datang." jawab Mimi.
"Oke sipp makasih ya Mi, aku mau kasih undangan ke yang lain dulu." ucapnya dan Mimi hanya mengangguk.
Sepulang dari kampus Mimi di ajak keluar sama Dillah dan Mimi pun mengatakan perihal undangan tersebut.
"Kapan?" tanya Dillah.
"Malam Minggu ini." jawab Mimi.
"Emm maaf dek, kalau Minggu ini Kakak nggak bisa nemanin. Rencana besok mau ke luar kota." ucap Dillah..
"Oo yaudah Mimi sama teman-teman aja." jawab Mimi.
Hari yang dinantikan pun tiba, Mimi dan ketiga sahabtnya telah bersiap untuk pergi ke ulangtahun teman sekelas mereka.
Riska anak seorang pengusaha di kota ini, rusak anak kedua dari dua bersaudara, kakak laki-laki Riska berkuliah di London. Riska anak yang selalu dimanja oleh kedua orangtuanya.
__ADS_1
Setiap yang tahun nya selalu diadakan acara meriah, secara sang ayah juga mengundang kolega-kolega bisnisnya. Dan kali ini ternyata bukan hanya acara ulang tahun Riska melainkan juga acara pertunangan nya.
Acara yang meriah, artis ibu kota pun ada tak Hana ibu kota artis dangdut Indonesia pun ada.
Panggung yang diriaa sedemikian rupa, di taburi bunga-bunga mawar merah dan putih. Acara di mulai dengan suasana hening dan khidmat. Pemasangan cincin pun diiringi dengan keharuan.
Tenyata abi Arsyad dan ummi Fatmah lun ada di sini, begitu pula Irsyad dan mbak Aishyah.
Mimi melihat mbak Aish sedang berbicara berdua bersama!a seorang pria, Mimi pun mendekatinya.
"Mbak Aish" panggil Mimi.
"Loh dek, kamu ada disini juga?" tanya mbak Aish.
"Iya mbak, si undangnsama Riska." jawab Mimi. Tanpa mimksadaei kalau dirinya dilihat intens sama teman obrol mbak Aish.
"Mbak Aish sama siapa?" bisik Mimi.
"Sama temen " jawab mbak Aish.
"Temen apa demen?" ledek Mimi.
"Ckk kamu ni dek. Ayo kenalin ini temen mbak Ibrahim barrack" ucap mbak Aish, Mimi pun mengulur tangannya untuk berkenalan, saat matabmimi juga meliat ke arahnya Mimi terkejut orang yang dihadapannya adalah orang yang menjahilinya saat di bandara.
"Kamu" ucap Mimi dan si cowok.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya mbak Aish.
"Nggak" jawab Mimi dan si cowok.
"Kalian kompak banget." jawab mbak Aish.
"Ckk" Mimi dan si cowok berdecak.
"Mbak kenal Om ini dimana?" tanya Mimi.
"Enak aja bilang aku Om Om." ucaonya tidak terima.
"Dia tunangan mbak Mi." ucap mbak Aish.
"Apa!! tunangan?" ucap Mimi tidak percaya.
"Kenapa?" tanya si cowok ketus.
"Malang bener nasib mu mbak mbak dapat calon Om Om nyebelin keg ini." ucap Mimi.
"Hei kamu ya!!" ucapnya.
"Apa!!" jawab Mimi menantang.
"Dia siapa sih yank?" tanya tunangan mbak Aish.
"Dia Mimi adikku yank, yang aku ceritakan waktu itu." jawab mbak Aish..
"Oo'' jawab ruangan mbak Aish.
"Apaaa!!" ucap Mimi melihat tunangan mbak Aish selalu melihat ke arahnya.
"Im" panggil asisten sekaligus sahabat nya.
"Hmm" jawab tunangan mbak Aish.
"Loh inikan cewek yang nagis malam itu buka Im? tanya nya.
"Iya." jawab tunagna mbak Aish.
"Kok.. Kalian sudah kenal?" tanya si asisten.
"Dia adiknya Aishyah." jawab tunangan mbak Aish.
"Hah, jadi dia adik kamu Syah?" tanya nya.
"Iya, Rel dia adikku." jawab mbak Aish. Farel pun mengangguk sambil melihat-lihat Mimi.
"Apa liat-liat?" tanya Mimi ketus.
"Wuiddihh cantik-cantik ketus." jawabnya.
"Biarin, mbak Mimi kesana ya sama temen-temen." ucap Miku dan berlalu meninggalkan mereka dengan dongkol.
"Hei Mi." sapa Syifa
"Hai FA." jawab Mimi.
"Kamu kenapa dingkol gitu kelihatannya." tanya Syifa.
"Nggak apa-apa. yok kita kesana gabung sama yang lain." ajak Mimi kasa Syifa teman sekelasnya.
"Emm ayo, tapi kita ambil minum dulu yuk " ajak syifa Mimi pun mengangguk.
"Nih Mi." ucap Syifa yang mengambil kan minuman untuk Mimi saat Mimi mengambil kue.
"Makasih" ucap Mimi dan langsung meneguknya.
Saat semua meminumnya Mimk merasa haus dan Mimi meminumnya hingga habis dan tak lama Mimi merasa matanya berat dan ada sedikit merasa aneh pada tubuhnya.
"Kamu kenapa Mi?" tanya Syifa.
"A aku mau ke toilet " ucap Mimi.
"Yaudah yok aku temani." ucap Syifa.
Tanpa menjawab Mimi dan Syifa lun keluar dari dalam ruangan itu menuju toilet. Apa yang akan terjadi kita lanjut di Next bab.
tbc
Assalamualaikum selamat malam selamat beristirahat.
__ADS_1