
Keluarga Brata serta keluarga Syahril telah tiba di LA, mereka semua langsung menuju rumah sakit.
Keluarga Brata yang terlebih dahulu sampai dari keluarga Syahril. Bunda dengan langkah panjangnya langsung menuju ruangan Mimi.
Yah Mimi dan Di'ah berhasil.mereka selamatkan walau nyatanya Mimi dan Di'ah harus mengalami lebam dan luka karena berontak.
Luka Mimi tidak seberapa di bandingkan Di'ah, yah Carol yang terbawa amarah dan benci menjadi membabi buta kala Di'ah sadar dan berontak.
Ditambah saat anak buah Jack serta Jonathan berhasil menemukan mereka, Carol yang terciduk langsung mengambil alih Di'ah dari anak buahnya dan dia menjadikan Di'ah sandera.
Di'ah berada di ruang rawat yang berbeda, bahkan Di'ah sempat mengalami kritis karena dirinya tertembak oleh Carol.
Sesampainya bunda di depan kamar Mimi, bunda melihat anak buah dari anaknya menunduk.
"Kenapa kalian sampai kecolongan?" tanya bunda dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Maaf nyonya, mereka ternyata mengetahui keberadaan kami." ucap salah satu anak buah Jonathan.
"Silahkan nyonya." ucap salah satu anak buah Jack dengan membukakan pintu ruangan Mimi.
Ayah Brata dan Adam tak langsung masuk mereka berdua langsung berbicara kepada anak buah mereka.
Sedangkan mas Chalik mengantar anak serta istri nya yang kebetulan ikut ke apartemen.
Tak lama keluarga Syahril pun tiba di rumah sakit, Syahril langsung menuju ruangan Mimi denagn umma, Ryan langsung menuju ruangan Di'ah.
Babah bertemu dengan ayah Brata,.
"Brata?" ucap Babah.
"Syarief." ucap ayah Brata.
"Kamu??" mereka berdua saling tatap.
"Jadi Syahril anakmu Rif?" tanya ayah Brata.
"Iya, jadi kamu ayahnya Alzam?" ucap Babah.
"Iya, Abizar anakku. Mimi menantu kita.'' ucap ayah Brata.
Syahril yang sedari dalam pesawat tak tenang langsung masuk begitu pula umma.
Umma melihat bunda juga sama terkejutnya seperti ayah Brata dan Babah.
"Rahmah." ucap umma.
"Aisyah." ucap bunda, Syahril yang melihat kedua orang ibu itu saling sapa menautkan kedua alisnya.
"Umma kenal?" tanya Syahril.
"Iya nak, dia adalah sahabat umma waktu kuliah." jasa umma.
"Jadi Syahril anakmu?" tanya bunda.
"Iya Rahmah dia anak bungsu ku, kok kamu ada di kamar Mimi?" ucap umma.
''Mimi anak ku Syah," jawab bunda tersenyum.
"Jadi Alzam itu anakmu?" tanya umma.
"Iya Abizar atau Alzam adalah ank bungsuku." jawab bunda.
"Ya Allah," ucap umma tanpa terasa meneteskan air mata.
"Ya Allah Rahmah, jadi kita.." ucap umma dengan menggigit bibirnya.
"Iya anak kita sama-sama mencintai Mimi, Miki adalah menantu kita." ucap Rahmah berusaha tegar.
Sepertinya Mimi masih terpengaruh obat bius, makanya dia belum bangun." ucap bunda.
''Bunda sudah lama sampai atau bagaimana Bun?" tanya Syahril dengan terus menciumi tangan Mimi.
"Bunda juga baru sampai, Jack menghubungi ayah mu kalau Mimi di bawa kerumah sakit." ucap bunda.
"Lebih baik kita tinggalkan Mimi, biarkan dia istirahat." ucap bunda dengan menepuk bahu Syahril.
"Iya Riil, kita lihat keadaan Di'ah, dia di ruangan mana?" ucap umma.
Dia disebelah Mi." ucap Syahril, umma dan bunda pun pergi ke ruangan sebelah.
Bunda dan umma terkejut ketika mereka masuk ke ruangan Di'ah dan melihat keadaan Di'ah yang lebih parah dari Mimi.
"Ya allah'' ucap bunda
"Ya Allah nak." ucap umma, bunda dan umma pun langsung mendekati ranjang Di'ah.
"Umma, Bunda" ucap Ryan yang pipinya basah karena air mata.
"Yang sabar ya nak." ucap bunda dengan menepuk bahu Ryan.
"Yan, Di'ah.." ucap umma yang tak bisa berucap apa lagi ketika melihat keadaan Di'ah yang memprihatinkan.
"Dia tertembak umma.'' ucap Ryan dengan mengepalkan tangannya.
Syahril yang m lihat Di'ah lebih parah dari Mimi, merasa geram.
"Kelar*t" ucap Syahril emosi dengan meninju dinding dan berlalu keluar.
"Ryan yang melihat Syahril keluar dia pun ikut keluar.
Umma hanya mengutip matanya dalam ketika melihat anak bungsunya terlihat begitu emosi.
Syahril berjalan cepat menuju ruangan Jonathan diikuti Ryan.
"Riil, tunggu." teriak Ryan namun tidak di gubris oleh Syahril.
Saat sampai di ruangan Jonathan, disana sudah ada Babah dan ayah Brata.
Syahril yang sudah tersulut emosi langsung mendekati Jonathan.
"Aku kan sudah bilang jangan sampe secuil pun terluka pada kekasih ku atau kekasih Ryan." ucap Syahril dengan menarik kerah baju Jonathan.
"Maafkan aku Riil, aku sudah melarang adik-adik ku tali ternyata mereka di luar kendali ku." ucap Jonathan.
__ADS_1
"Haah'' ucap Syahril dan menghempaskan tubuh Jonathan, saat Syahril akan meninju Jonathan Ryan langsung menarik tubuh Syahril.
"Riil, sabar." ucap Ryan.
"SYAHRIL" teriak Babah.
"Gara-gara adik dia Bah, Mimi dan Di'ah sampe di rumah sakit ini." ucap Syahril dengan emosi dan menunjuk ke arah Jonathan.
Sesungguhnya Jonathan juga merasa kecewa kepada adik-adiknya, Jonathan juga merasa malu kepada ayah Brata dan Syahril.
Jonathan malu karena selama ini biaya hidup dirinya dan keluarganya dari ayah Brata, bahkan adik-adik nya bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi juga karena bantuan keluarga ayah Brata.
"Maafkan aku Riil." hanya kata maaf yang bisa di ucapkan Jonathan.
"Jangan salah kan aku, jika adik-adik mu merasakan sakit yang sama yang dirasakan Mimi maupun Di'ah"
"Sejengkal mereka melakukan nya pada Mimi dan Di'ah, sejengkal pula akan mereka rasakan." ucap Syahril.
"Dimana mereka?" ucap Syahril. Jonathan hanya diam.
"Achhh" ucap Syahril lagi.
"Syahril sudah." ucap ayah Brata menenangkan Syahril.
Afkar, Chalik serta Adam langsung menuju markas dimana anak buah mereka membawa tersangkanya. Namun Carol bisa kabur dan masih dalam pencarian.
Hanya Jessika, Riska dan Jenny serta anak buah mereka yang berhasil di tangkap Jack serta anak buahnya.
Afkar serta Chalik dan Adam saat memasuki markas itu, terlihat wajah kedua gadis yang sudah terikat tangannya.
Afkar menelisik satu persatu wajah gadis itu dan dia tersenyum sinis melihat Riska.
"Ternyata kau tak juga berubah" ucap Afkar yang mengenal wajah Riska.
Riska melihat afkar dengan sorot mata penuh kebencian.
"Bukannya sebelumnya sudah kukatakan, jangan pernah mengusik keluargaku." ucap Afkar.
Yah afkar mengenali Riska kala kedua orang tua Riska menemuinya dan Afnan di kantornya untuk meminta maaf.
"Tapi sepertinya kau tidak mengerti ucapanku waktu itu." ucap Afkar dengan senyum sinis.
"Siapa dia Dek?" tanya mas Chalik pada Afkar.
"Dia orang yang sama mas, yang orang tuanya menampar serta menghina Mimi.
"Ok anak dokter itu ya?" tanya Chalik.
"Ya mas." ucap Afkar.
Adam, hanya diam dan melihat ke arah tiga gadis itu.
Afnan mengantar anak dan istrinya ke apartemen, setelah itu dia menuju markas DBJ dan ternyata Syahril dan Ryan lun telah sampai disana juga.
Ryan langsung bertanya kepada anak buahnya perihal Carol yang masih dalam pencarian.
"Bagaimana?" tanya Ryan.
"Cari sampai dapat hidup atau mati, tapi lebih baik kau bawa dia kehadapan ku hidup-hidup." ucap Ryan yang sudah geram.
"Baik bos." ucap anak buah Ryan.
"Ryan" panggil bang Jack.
"Bang Jack.'' ucap Ryan.
''Tenanglah, dia pasti tertangkap." ucap bang Jack.
"Ya bang." jawab Ryan.
"Ayo kita masuk." ajak bang Jack, Ryan pun mengikutinya masuk menuju ruangan dimana ketiga gadis itu terikat.
Ryan menatap benci jenny dan Jessika, sedari dulu Ryan tidak menyukai adik-adik Jonathan.
Syahril yang sudah geram sudah beberapa kali pula menampar ketiga gadis itu.
Ryan berjalan menuju jenny dan Jessika, Ryan menatap mereka berdua denagn benci.
"Kalian ingin mati rupanya" ucap Ryan.
"Selama ini aku diam karena aku masih menghargai Jonathan dan ibu mu."
"Tapi kalian malah mencari gara-gara dengan ku." ucap Ryan dengan sorot mata membunuh.
Adnan dan yang lain hanya diam melihat kedua adik mereka melampiaskan kemurkaannya.
"Tangan mana yang kalian buat untuk menampar Mimi" ucap Syahril. Kedua gadis itu masih Isa menatap menantang kepada Syahril tapi tidak dengan Riska yang sudah mengetahui bagaimana sifat orang di belakang Mimi.
"Yang mana?" teriak Syahril.
"Apa mau mu dan apa peduli mu?" ucap Jessika.
"Oo apa mau ku, akan kupatahkan tangan itu" ucap Syahril dengan mencengkeram dagu Jessika.
"Kau jahat Syahril, kau tau selama ini aku menyukaimu tapi tak sedikit pun kau melihatnya. Itu panntas didapatkan oleh dia wanita j***ng itu" ucap Jenny.
"Oo, apa kau bilang heh, kau bilang dia j***ng, just u kau yang j***ng." ucap Syahril dengan mencengkeram dagu jenny.
"Sampai aku tau secuil pun di tubuh Mimi tergores maka siap-siaplah aku juga akan membuat hal yang sama di tubuh kotor mu ini." ucap Syahril.
"Hari ini kalian beruntung karena aku belum menggunakan senjataku buat kalian." ucap Syahril, Syahril dan Ryan serta yangblain meninggalkan mereka bertiga.
Yah Afnan mendapat telpon kalau Mimi telah sadar.
Dulu ruangan, Mimi mengerjapkan matanya dan melihat dalam ruangannya itu. Terlihat ayah Brata, bunda, Babah dan umma.
"Bunda, umma." ucap Mimi. Bunda dan umma yang merasa di panggil pun mendekati Mimi.
"Nak, kamu sudah sadar sayang." ucap bunda, Mimi mengangguk dan tersenyum.
"Apa yang kamu rasakan nak?" tanya umma.
"Pusing umma." jawab Mimi.
__ADS_1
"Iya nanti juga akan baikan, kamu yang sabar ya nak." ucap umma.
"Mau minum?" tanya bunda dan Mimi mengangguk.
"Di'ah." ucap Mimi
"Di'ah disebelah nak." jawab umma dengan memberikan minum pada Mimi.
Tak lama dokter pun masuk dan memeriksa keadaan Mimi, obat yang telah masuk kedalam Mimi masih berdampak pada dirinya maka dari itu dokter kembali menyuntikkan obat penetral nya.
"Mimi mau lihat Di'ah Bun, umma." ucap Mimi.
"Nanti ya nak, tubuh kamu masih lemah sayang.'' ucap umma.
"Mimi kuat umma." ucap Mimi, dokter yang menangani Mimi mengangguk kala umma minta izin pada dokter itu.
Mimi pun di bawa umma dan bunda menuju ruangan Di'ah dengan menggunakan kursi roda.
Saat sampai didalam ruangan itu Mimi terkejut melihat luka yang ada di diri Di'ah.
Tak hanya luka lebam, tapi juga terdapat luka sayatan di tangan serta di dada Di'ah.
"Ya Allah Di'ah, maafkan Mimi." ucap Mimi merasa bersalah, karena dia mengajak Di'ah kerja di sini malah membawa Mimi kedalam masalah.
"Sudah nak, jangan salahkan diri kamu
Semua sudah takdir dari Allah buat kalian menuju hari bahagia kalian." ucap umma.
"Tapi umma, kalau saja Mimi tidak minta Di'ah kerja disini pasti dia tidak mengalami semua ini." ucap Mimi.
"Sudah nak, umma mu betul. Jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri. Mungkin ini ujian serta cobaan buat kalian, insya Allah kedepannya kalian akan hidup tentram." ucap bunda.
Saat Mimi terus menyalahkan dirinya sendiri, Di'ah pun mulai mengerjapkan matanya.
"Di'ah." ucap Mimi, Diah tersnyum.
"Umma" ucap Di'ah ketika melihat ada umma di sini.
"Iya nak,." jawab umma, Di'ah hendak duduk namun dia merasa nyeri di dadanya..
"Kamu berbaring saja." ucap umma.
"Umma, aku tidak kenapa-kenapa kan?" ucap Di'ah yang mungkin teringat dengan aoanyang dilakukan oleh orang suruhan Carol.
"Iya kamu ndak kenapa-kenapa nak." ucap umma seraya memegang tangan Di'ah.
"Tapi mereka membuka baju ku umma." ucap Di'ah lagi.
"Hmm iya sayang tapi kamu baik-baik saja. Jangan banyak pikiran ya biar cepat pulih." bunda menimpali, Di'ah melihat ke arah bunda, yah Di'ah belum pernah bertemu dengan bunda.
"Ini bunda ku Di'ah, bunda dari mas Abi." ucap Mimi.
"Salam kenal bunda." ucap Di'ah dengan tersenyum.
"Salam kenal juga nak, kamubharus banyak istirahat ya." ucap bunda dengan mengelus rambut Di'ah.
"Makasih bunda.'' ucap Di'ah.
Ryan yang baru masuk terkejut kala melihat ruangan Di'ah ada Mimi, umma dan bunda.
"Sayang kamu sudah sadar." ucap Ryan merasa senang ketika melihat orang yang dicintai nya telah sadar. Diah menatap Ryan nanar dan dia menangis.
"Hei kamu kenapa menangis? ada yang sakit? yang mana?" tanya Ryan.
"Aku kotor kak" ucap Di'ah, tidak kamu tidak kotor kamu baik-baik aja." ucap Ryan menenangkan Di'ah.
"Tapi mereka sudah, huhuhu." ucap Di'ah.
"Tidak sayang, kamu baik-baik saja." ucap Ryan menenangkan Di'ah namun tangannya mengepal.
Mimi melihat Di'ah menangis ikut menangis, dirinya sama hal nya dengan Di'ah, tubuhnya juga telah ternodai oleh lelaki lain.
Kepala semakin pusing kala mengingat kejadian yang menimpanya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya bunda.
"Kepala Mimi pusing bunda." ucap Mimi.
"Yaudah kamu kembali ke kamar kamu ya, biar bunda antar biar umma mu menemani Di'ah,
Mimi mengangguk, bunda pun mendorong kursi roda Mimi dan kembali ke ruangannya.
Di ruangan Mimi terlihat Syahril mengobrol dengan Babah serta ayah Brata.
"Sudah Bun?" tanya ayah Brata.
"Iya yah, Mimi kepalanya pusing katanya." ucap bunda. Syahril mendekati bunda dan mengambil alih Mimi, saat sampai di ranjang Mimi Syahril mengangkat Mimi pelan dan meletakkan Mimi keranjang secara perlahan
"Kak, kalau Mimi kotor apa kakak masih mau dengan Mimi?" tanya Mimi.
"Apa maksud kamu dek, kamu Ndak kotor kamu baik-baik aja." ucap Syahril.
"Tapi.." ucap Mimi dan membuka pakaian rumah sakit itu terlihat ada kemerahan di dadanya serta leher.
"Lihat.'' ucap Mimi menunjukkan tanda kemerahan di lehernya.
"Akan kakak hapus nanti.'' ucap Syahril.
"Apa Kun keadaan kamu, kakak akan selalu menerima kamu." ucap Syahril.
Mimi memeluk Syahril Erta dengan linangan air mata, trauma yang dulu pernah menghampiri nya kembali lagi.
"Nak," panggil ayah Brata.
"Iya yah." jawab Mimi.
"Anak buah ayah bilang kau pergi dengan seseorang ke cafe tapi kenapa kau keluar dengan orang berbeda." tanya ayah Brata, Syahril yang penasaran pun diam menunggu jawaban Mimi.
Mimi lun menceritakan semua awalnya kepada ayah Brata, ayah Brata pun mengangguk mengerti dan ayah Barata mau palun babah menyimpulkan kalau semua sudah di rencanakan oleh mereka secara apik.
tbc
good night
__ADS_1