
Semenjak habis mendebarkan cerita Mimi sewaktu video call tadi, Umma menjadi kepikiran akan hal mimpi tersebut. Dan satu yang tidak dia sangka dengan mimpi Mimk masalah cincin permata ya cincin permata yang tidak Mimi pakai apakah itu cincin permata yang sengaja dia beli untuk Mimi sebagai lamarannya sang buah hati.
"Ya Allah, apa Maksud dari Mimi cincin permata ini." ucap Umma dengan melihat cincin permata didalam kotak beludru berwarna ungu itu.
"Lumpur." Gumamnya.
"Ya Rabb apakah tak ada kebahagian pada diri anak hamba." gunanya lirih.
Umma dan Babah tak tau harus berbuat apa-apa, seolah kehidupan anak yang disayangi diambil alih oleh sang kakek.
"Umma." panggil Babah yang sudah berdiri di samping Umma.
"Eh Babah, dah lama Bah?" tanya Umma.
"Baru, baru lima menit." jawab Babah.
"Ada apa?" tanya Babah kepada Umma.
"Emm ndak ada apa-apa Bah, tadi Mimi vc Umma." jawab Umma sembari mengajak Babah duduk di sofa.
"Emm Mimk sudah beri jawabannya?" tanya Babah.
"Huuuum huh, entah lah Bah. Apakah ini sebuah jawaban atau bukan." jawab Umma yang juga bingung.
"Maksudnya Ma?" tanya Babah. Umma pun menceritakan apa yang Mimi ceritakan pada dirinya ke Babah.
Babah terdiam terlihat memikirkan apa maksud dari mimpi Mimi.
"Jadi bagaimana Bah?" tanya Umma setelah bercerita sang suami pun ikut memikirkannya.
"Ehmm babahnjuga bingung, ada hal apa yang akan mereka lalui nanti. Tapi bagi Babah kebahagian mereka berdua yang utama, Babah tidak peduli kelak ada yang menjatuhkan kita." jawab Babah.
"Itulah Bah, Umma oun berpikir begitu. Namun babah tau sendiri siapa Mimi, dia mana bisa melihat orang yang dikasihi nya terluka." ucap Umma.
"Dan satu lagi Bah, apa yang Mimi maksud cicncin ini ya yang diambil kakek-kakek." ucap Umma dengan menunjuk sepasang cincin permata di dalam kotak beludru berwana ungu dan berbentuk love itu.
"Apakah Kakek yang dimaksud adalah Abah." ucap Umma lirih.
"Bah, Syahril anak kita Bah. Kenapa Abah tidak mengerti, kenapa Abah mementingkan janjinya itu daripada kebahagiaan lucunya lucunya negeri. Umma tidak habis pikir dengan apa yang Abah lakukan." ucap Mimi dengan terpancing emosi.
aku ingin menjadi yang tercepat dan dan yang lainnya di sini
"Coba Babah bicara lagi sama Abah, batalkan perjanjian konyol itu Bah. Apa Abah juga tidak terbuka mata hatinya dengan apa yang dialami Syahril sekarang Bah. Bukan hanya Syahril yang tersakiti tali juga Mimi. Setega itukah Abah sebagai seorang kakek ingin menyakiti hati cucunya. Dan kenapa mesti Shahril Bah kenapa" ucap Umma yang sudah tersulut emosinya lagi
"Sekeras itukah hati Abah Bah.. Umma tidak mau terjadi apa-apa lagi sama Syahril Bah, tolong Babah hentikan Abah, Babah adalah ayah dari Syahril, Babah yang lebih berhak." ucap Umma dengan terisak dan memohon kepada Babah.
"Umma kan tau siapa Abah, apa yang dilakukannya tak bisa dibantah bahkan Abah telah mempersiapkan semuanya sendiri tanpa bicara sama kita." ucap Babah dengan merengkuh tubuh istrinya.
"Maafkan Babah, tidak bisa bertindak." jawab Babah dengan memeluk erat Umma.
"Maka dari itu Babah kan sudah katakan biarlah kejadian puluhan tahun lalu terulang. Kita suruh Syahril untuk mengajak Mimi menikah, setelah itu kita atur mereka agar tidak tinggal di negara ini sementara waktu. Kita urus kepindahan kampus Mimi agarbikut dengan Syahril ke LA. " Ucap Babah.
Ya mereka sudah mengatur strategi buatnkebahagian sang anak, bagi mereka biarlah selanjutnya urusan mereka berdua sekalipun itu membuat sang Abah kembali murka terhadapnya.
Babah dan Umma pun rela bila nama baiknya akan rusak di kampung ini, yang terpenting anaknya bahagia.
umma masih terisak di dalam dekapan sang suami, begitu banyak beban pikiran mereka berdua akhir-akhir ini akkbatnukah sang Ayah yang masih mempertahankan egonya akan janji yang dia buat kepada temannya tanpa memberitahu kepada dirinya sebagai orang tua Syahril.
Flashback on.
Tiga Minggu lalu orangtuanya Syahril dikejutkan dengan kedatangan kedua orangtuanya Babah Syahril yang secara mendadak. Bukan mereka gak suka di datangi orangtuanya namun bila secara mendadak begini membuat hati mereka was-was apa lagi sekarang ini mereka selalu menghindari bila berbicara soal perjodohan yang mereka buat.
Saat mereka baru tiba dipekarangan mereka melihat pintu terbuka, dan tidak biasanya pintu terbuka begitu bila tidak ada sang anak-anak apanlaginini sudah mendekati waktu isya.
"Assalamualaikum." jawab Umma dan Babah seperti biasa bila hendak masuk kedalam rumah.
"Waalaikum salam." jawab dua orang jnsan yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
Babah dan Umma terkejut mendengar suara yang tak asing itu. Bukan wak Ainun melainkan kedua orang tua Babah.
Seharian berkerja dan dihadapi beberapa pasien yang harus di operasi, membuat keduanya merasa lelah di tambah dengan kedatangan orang tua Babah yang mendadak seakan rasa lelah itu menjadi membawa beban puluhan ton bagi Umma dan Babah.
"Abah, ummi. Kapan kalian tiba." ucap Babah seraya meyalami kedua tangan mereka begitu dengan Umma.
"Kenapa? tidak suka lihat Abah datang." ucap Abah ketus dan enatah mengapa membuat hati Umma geram.
"Bukan begitu Bah, kan kalau kasih kabar bisa Syarief jemput." ucap Babah.
"Hmm tanpa kamu anak Abah yang lain bisa jemput.'' jawab Abah yang masih ketus.
__ADS_1
Umma yang merasa hatinya sudah mulai panas pun akhirnya berdiri.
"Sini Bah tas nya biar Umma bawa ke kamar." ucapmumma dengan meminta tas Babah di samping Babah.
"Oh ya Umma, ini." ucap Babah yang mengerti kalau sang istri tidak ingin mendengar ucapan abahnya lagi.
"Abah, Ummi. Aisyah kedalam dulu." pamit Umma kepada kedua mertuanya.
"Hemm." jawab Abah.
"Iya sana kami istirahat dan bersih-bersih dulu. caoeknkan baru pulang." jawab Ummi dengan senyum.
"Iya Ummi. Aisyah kedalam dulu." jawab Umma dan di angguki oleh Ummi mertuanya.
Sampai kamar Umma menghelakan nafasnya kasar, hummmm huhhh. "Kenapa Abah dan ummi mendadak datang?" gumam Umma sembari meletakkan tas kerja dirinya dan suami di atas meja.
Sedangkan di luar kamar Babah dan Abahnya sedang bersikeras dengan pendapat mereka masing-masing. Umma yang baru selesai mandi dan mendengar ketegangan di luar hanya mendengarkan dan menghelakan nafasnya.
"Setiap bertemu hanya keributan yang terjadi." ucap Umma di dalam kamar, enggan rasanya dia keluar kamar.
"Ya Rabb apa tidak ada hati yang sejuk di hati mereka berdua. Terutama pada Mertua hmba yang keras kepala itu." gumam Umma.
Disini Umma tak hanya mendengar suara sang suami saja melainkan juga mendengarkan suara ipar-ipar nya yang tak lain ayah dari Ryan dan Andri.
Suasana di luar semakin runyam, Umma pun keluar di kamar dan mendekat ke arah suaminya.
Umma hanya diam melihat ketegangan diantara anak dan ayah itu.
"Bah, Syahril itu !masih punya kedua orang tua Bah, kenapa Abah selalu mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya kepada kami." ucap Babah yang sudah emosi akan perbuatan sang ayah.
"Bang, tenang." ucap abinya Ryan.
"Bah, tolong jangan mengambiu keputusan sepihak begini. Seharusnya Abah sebagai kakeknya syahril juga harus mendengar pendapat dia, dulu Abah mengajarkan kami untuk mendengarkan pendapat seksama tapi sekarang Abah seperti ini." ucap abbi nya kak Ryan.
"Kalau tidak begini mana ada dia mau dengarkan Abah." ucap sang kakek.
"Apa kalian pernah dengar dia mendengarkan ucapan Abah hah." imbuh sang Kakek.
"Abah lakukan ini untuk kebaikan Syahril, seorang itu banyak perempuan yang tidak jelas. Ini anaknya taat dan Sholehah." ucap Abah.
"Bah, walau bagaimanapun Abah tak berhak membuat keputusan sendiri begini. Syahril sudah memiliki calonnya sendiri Bah." ucap abbi nya kak Andri.
"Dia calon dokter sama dengan Syahril, anaknya sopan dan insya Allah Sholehah." ucap Umma yang sudah gerah dengan segala ucapan mertuanya.
"Oo, apa dia dari keluarganya yang baik, apa kerjaan orangtuanya." tanya Abah.
"Dia daeri keluarga baik-baik walau dari keluarga sederhana tapi dia beretika." ucap Umma yang sudah geram.
"Apa maksud kamu?? Kamu pikir orang yang abah jodohkan buat Syahril orangnya gak beretika!! gitu makasih kamu Aisyah!! Asal kamu tahu, dia orang terpandang bahkan dia memiliki pesantren.'' ucap Abah memuji calon besannya bukan calon besan Umma dan Babah itulah yang Umma pikirkan.
"Oo dia orang terkadang?? begitu Bah.. Apakah orang terpandang yangbbabah maksud itu begitu etikanya. Syahril masih punya orang tua. Kami orangtua nya Bah, kami yang berhak menilai dan menerima siapa yang akan kami jadikan menantu dirumah ini. Jika mereka orang terpandang maka mereka akan melihat dan berbicara sama kami sebagai orang tuanya, bukan sama Abah." ucap Umma yang berapi-api.
"Kurang ajar kamu, apa ini didirikan orang tua kami Han." ucap Abah yang murka kepada Umma yang tidak menurut padanya bahkan Umma sedari dulu memang tidak pernah menurut dan taknp mau menurut kepada Mertua laki-laki nya itu.
"Hahaa Bah, Aisyah lebih bangga dengan didikan orang tua Aisyah yang tidak pernah menuntut kepada anak-anak nya, Aisya lebih bangga kepada kedua orang tua Aisyah yang tidak pernah memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya." ucap Umma yang maaih tersulut api kemarahan.
"Umma." panggil Babah an merangkul pundak sang istri bhat menenangkan.
Seorang ibu akaan menjadi singa yang siap bertarung bila kehidupan anak-anak nya di ganggu.
"Apa Abah masih marah dengan pernikahan Aisyah dengan bang Syarief.. Asal Abah tau jodoh itu tidak perlu ditentukan oleh manusia Bah, semua sudah di atur sama Allah. Apa Abah akan memisahkan kami lagi seperti waktu dulu. Apa itu yang Abah mau, iya..'' ucap Umma dengan emosi yang membara.
"Yuk , udah yuk." ucap abbi kak Ryan dan Abi kak Andri.
"Sabar Umma, sabar." ucap Babah. Begitupula dengan Ummi nya Babah berusaha terus menenangkan sang suaminya.
"Ingat Bah, kalau terjadi sesuatu pada Syahril, dunia akhirat dunia akhirat Aisyah tidak akan memaafkan Abah..." ucap Umma dengan isakan tangis.
jedeerrr seketika terdengar suara petir dari langit, tanpa sepengetahuan mereka perbincangan mereka dilihat oleh dua pasang mata mana satu pasangan mata membelalakkan kedua tangan nya.
Semua terdiam kala dua orang tersebut masuk, hujan di luar pun semakin deras membasahi bumi Pertiwi. (Next lanjutnya)
flasback off
Di kota semarang tepatnya di kosan Mimi, semua telah terlelap.
Sebelum tertidur entahn!mengapa Mimi menjadi teringat akan dirinya yang melakukan video call dengan Umma nya, lebih tepatnya bukan mengingat obrolan mereka melainkan warna dalam ruangan tersebut.
Dan Mimi juga kembali mengingat disaat-saat dia ujian OSCE seminggu lalu, ruangan yang sering dia masuki mayoritas berwana yang sama dengan warna di dalam ruangan yang dia masuki didalam mimpi.
__ADS_1
"Ya Rabb warna hijau tosca, apa itu maksudnya warna ruangan dalam rumah sakit." Gumam Mimi.
"Ya Allah, jika itu adalah ruangan dalam rumah sakit. Ha!ba mohon ya Rabb lindungilah orang tua serta keluarga hamba berikan lah mereka kesehatan, lindungi lah dan berikanlah kesehatan kepada kak Syahril dan keluarganya. Lindungilah dan berikanlah kesehatan kepada orang yang menyayangi hamba. Ya Rabb lindungilah mereka." Mimi berdoa di dalam hatinya, ada rasa kekhawatiran di dalam hatinya.
Siapa yang sakit itulah yang sekarang menjadi pr buatnya. Hati Mimi menjadi tak tenang. Di ambilnya ho dan dia pun menelpon e!aknya dan bertanya apakah mereka baik-baik saja. Setelah mendapat kabar dari emak kalau mereka baik-baik aja Mimk merasa sedikit lega.
Mimi mencoba menghubungi no kak Syahril dan kak Ryan masih sama tak ada yang aktif.
Mimi mencoba menghubungi Dewi dan bertanya apa kak Andri ada dan Dewi bilangnkak Andri lagi tidak ada, semua yang Mimi menghubungi mereka mengatakan baik-baik saja.
"Ya Rabb.." ucap Mimi yang sudah pasrah.
Mimi berjalan keluar kamar untuk berwudhu agar hatinya juga merasa nyaman, setelah berwudhu Mimi rebahkan dirinya tak lupa membaca doa sebelum tidurnya.
Seperti biasa mimpi selalu hadir dalam tidurnya, Mimi dalam ruangan serba berwarna tosca itu. awalnya Mimi ragu ingin melihat di balik tirai siapakah yang terbaring disana.
Mimi berjalan perlahan mendekat ke arah tirai yang tertutup itu, Mimi pegang tirai itu dengan erat, Mimi menarik nafasnya berat serta menutup matanya.
"Bismillah ya Allah." ucap Mimi dan Mimi pun mulai menarik tirai itu dengan mata terpejam.
Mimi menarik nafasnya lagi sebelum membuka matanya. Perlahan Mimi membuka matanya, terlihat seorang terbaring dengan kepala diperban, selang-selang terpasang rintangan, mulut, dadaserta hidung.
Mimi perlahan mendekat ke arah ranjang tersebut untuk melihat lebih jelas siapa yang berada di atas ranjang itu.
Mimi terus berjalan dan mata tetap melihat keseliling Mimi kembali teringat jika ruangan seperti ini seperti ruangan ICU.
Mimk semakin mempercepat langkahnya dan ingin segera melihat siapa oeangbdi atas ranjang itu.
Setiap Mimi mendekat dengan langkah cepat semakin menjauh pula ranjang itu. Mimk terus memepercepat langkahnya dan akhirnya dia pun sampai menjangkau ranjang itu.
Mimi melihat orang yang terbaring itu dengan seksama, saat melihat siapa orang tersebut, Mimi menutup mulutnya, nafas yang ngos-ngosan saat menggapai ranjang menjadi isakan.
"Kaaaaa kaaaak." Mimi menjerit ketika melihat siapa orang yang terbaring itu.
"Apa yang terjadi kak huhuhu kaaak bangun, kaaak bangun." ucap Mimi dengan isakan dan menggoncang tubuh orang yang terbaring itu yang tak lain adalah orang yang dirindukannya.
"Kaaak bangun kak," ucap Mimi sambil terjatuh di samping ranjang karena tiba-tiba kakinya tak bisa menopang tubuhnya lagi.
"Bangun kak." ucapnya lirih namun dengan seketika ada yang memeluknya dan membangunkannya.
"Hei sayang bangun, dek bangun." begitulah orang tersebut membangunkan nya.
"Hey sayang ayo bangun." ucaonya lagi dan Mimi membuka matanya.
"Kaakak," panggil Mimk dengan sisa deraian air mata.
"Iya ini kakak sayang" jawabnya dengan senyum, senyuman yang Mimi rindukan.
"Ini benaran kakak kan?" tanya Mimi.
"Iya sayang." jawabnya dan Mimi langsung memeluknya erat.
"Kak Mimi rindu.." ucap Mimi.
"Ya dek kakak juga rindu, kamu tidur lagi ya, masih larut." ucapnya.
"Tapi kakak jangan tinggalkan Mimi ya." ucap Mimi dan Syahril pun mengangguk sembari merebahkan tubuh Mimi dan menyuruh Mimi tidur kembali, syahril pun ikut merebahkan disamping Mimi karena Mimi memeluknya erat, Mimi pun terpejam kembali.
Mimi terbangun kala suara adzan subuh, Mimi melihat disamping tidak ada Syahril, Mimi berjalan keluar dan langsung !mencari keberadaan Syahril dan itu !membuat ketiga sahabat nya heran.
"Cari siapa Mi?" tanya Muthia yang susah ambil Wudhu.
"Iya Mi, dari tadi bolak balik." ucap Selfia
"Emm kalian tau dimana kak Syahril?" tanya Mimi kepada ketiga sahabat nya.
Sontak ketiga sahabatnya bingung dan saling pandang dan kemudian menggelengkan kepala.
"Emm gitu ya.. Emm mungkin dia ke masjid." ucap Mimi dan lagi-lagi ketiga sahabat heran.
"Mi, mungkin Mimi hanya bermimpi, udah sana Mimi berwudhu." ucap Muthia.
Mimi terdiam dengan sendu.
"Apa iya Mimk bermimpi?" tanyanya pada diri sendiri tetapi di dengar oleh ketiga sahabatnya.
Mimi berjalan menuju dapur dan langsung ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Setelah itu Mimi segera melaksanakn sholat dua rakaat nya.
tbc
__ADS_1