DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
masih dirumah simbah


__ADS_3

Setelah hasil tangkapan dinyatakan cukup mereka pun pulang dengan hati yang gembira. Gembira karena mereka mendapatkan hasil yang sangat fantastis dan melebihi dari ekspektasi mereka.


"Wah ini enak dibakar nih, terus pakai sambal terasi terong dibakar maknyoss, lewat Mertua tak kelihatan" ucal Riko membayangkan memakan ikan bakar.


"Iya tapi malam ini kita makkan ayam bakar." ucap Irma.


Mereka berempat menggenjot sepeda menikmati suasana sore hari di desa ini. Semilir angin menemani setiap genjotan para lelaki.


Canda tawa mereka ciptakan di atas sepeda, walau mereka bercanda tak segan mereka juga menyapa warga-warga yang berlalu lalang atau sekedar duduk di pinggiran jalan.


Dengan girang Muthia membawa hasil pancingan mereka masuk kedalam rumah. Dilihatnya rumah sepi tanpa penghuni.


"Emm pada kemana?" gumam Muthia.


"Kenapa Muth?" tanya Irma saat baru masuk kedalam rumah dengan menenteng ikan juga.


"Kok sepi ya?" tanya mbak Aish yang juga baru masuk.


"Iya mbak, pada kemana ya?" jawab Muthia.


"Mungkin masih pada tidur di kamar kali." ucap Irma dan langsung beralu menuju dapur dan diikuti mbak Aish dan Muthia.


Tercium aroma yang menggugah selera membuat perut mereka lapar menciumnya.


"Hmm aromanya bikin perut lapar." ucap mbak Aish.


"Iya mbak, perut gia meronta-ronta." sahut Muthia.


"Nihnp aroma dari mana ya?" ucap Irsyad yang baru masuk dapur di ikuti Dimas, Saridi dan Riko dengan hidung mengendus-endus.


"Duh cacing perutku.." ucap Riko.


"*Kricuuk krucuuk krucuk"


"Kricuuk krucuuk krucuk"


"Kricuuk krucuuk krucuk*"


Terdengar suara sahut menyahut dari perut mereka ketika !mencium aroma tersbut.


"Mbak, boleh makan lagi nggak ya?" tanya Dimas dengan bersusah menahan air liurnya.


"Iya penghuni perutku meronta-ronta." sahut Riko.


"Ini aroma kenapa mengundang cacing-cacing dalam perut ya." ucap Saridi dengan mencari dimana asal aroma tersebut.


"Wawww, ini dia.." ucap Saridi ketika sudah !menemukan Dima aaroma itu berasal.


Saridi membuka dandang besar yang mana didalam nya terdapat potongan-potongan besar ayam kampung yang sudah di ungkep dengan bumbu-bumbu rempah.


Mereka semua mendekat ke arah dandang, Muthia mendekati hidungnya dan mencium dalam aroma tersebut.


"Andai saja kau bisa aku sangat sekarang yam yam." ucap Muthia dan plak Muthia mendapat tamparan dipundaknya oleh Riko.


"ISS Riko ih." ucap Muthia dengan mengkrucutkan bibirnya.


"Habisnya kamu sudah kesambet ayam, mgomkng sama ayam yang sudah luluran itu." ucap Riko.


"Hahahaa" mereka pun tertawa bersama.


"Aiss gara-gara ayam waktu asar terus berjalan !mendekati habis, cusss buruan kita mandi." ucap Saridi ya h sudah !masuk kedalam kamar mandi.


"Woyy tunggu bro." teiak Irsyad yang ternyata juga sudah membawa handuk serta pakaian ganti.


"Eh eh enak aja kami yang duluan sampai." ucap Muthia.


"Noh cium aja ayamnya, byee" ucap Irsyad dan langsung !membuka pakaiannya.


"Huh" Muthia mendengus dan meletakkan ikan di dalam baskom dan dia pun melihat nasi masih ada.


Muthia mengambil piring dan gulai ayam lalu dia kembali makan karena perutnya tidak bisa di ajak kompromi. Mbak Aish dan Irma pun begitu.


Sambil menunggu para cowok selesai mandi, mereka bertiga mengisi perut yang sedari tadi meronta.


"Wuihh kenyang, walau masih tergiur aroma itu... Tahan tahan" ucap Muthia yang sudah selesai makan dan menepuk-nepuk perutnya.


Para cowok telah selesai mandi dan melihat ketiga ceweknyang baru selesai makan, mereka pun menelan air liur mereka dan melihat ke perut mereka masing-masing.


"Sini sholat dulu ntar habis waktunya." ucap mbak Aish pada Irsyad yang !eneguk air ludahnya sendiri, mbak Aish langsung masuk ke dalam kamar mandi.


"Mabk boleh nggak Icad makan dulu." ucapnya lirih.


Keempat cowok pun pergi masuk kedalam menahan cacing-cacing nya sementara. Mereka pun sholat ashar berjamaah di rumah.


Tak lama Mimi, Selfia, Simbah dan ummi pulang dengan membawa berbagai macam jenis sayuran.


"Kalian darimana Mi?" tanya mbak Aish yang baru saja selesai sholat.


"Dari kebun simbah tadi." jawab Mimi dan berlalu ke dapur. Di dapur sudah berpenghuni emlat anak manusia yang sedang menyantap nasi.


"Kalian lapar?" tanya Ummi kepada keemlat cowok tersebut.


"Iya Ummi, gara-gara aroma itu tuh." adu Irsyad.


"Ckk jangan salahkan ayam, kalaunlapae ya lapar aja." ucap Ummi dengan menaruh sayuran di atas meja yang ada di dapur.


Simbah yang baru masuk dapur hanya tersenyum melihat keempat cowok yang kepergok ketangkal basah makan sore diam-diam.


"Hehe Simbah" ucap mereka cengengesan.


"Udah sana makan, masih ada kok gulainya." ucap Simbah dengan menaruh ubi kayu dan ubi rambat di dekat tungku nya.


"Mbah, pisangnya mau di masak apa?" tanya Selfia yang !membawa pisang kepok matang


"Terserah ndok mau dimasak apa, di goreng juga bisa mau direbus juga bisa." jawab simbah dengan menghidupkan tungkunya.


"Fiii ada telpon." teriak Mimi dari dalam.


"Dari siapa Mi?" tanya Fia yang sedang malas untuk berdiri.


"Dari a' Saiful." jawab Mimi dengan memberikan ponsel Fia.


"Oo hehee, Mi gantiin bentar ya aku mau angkat telpon." jawab Fia dengan langsung beranjak dan berjalan keluar.


Saridi yang melihat serta mendengar kalau telpon tersebut dari Saiful menjadi gerah. Saridi berulang kali menghelakan nafasnya kasar dan dia langsung menghentikan makannya.


Entah mengapa hatinya menjadi tak karuan kala Selfia menerima telpon dari orang lain bahkan sudah hampir empat bulan pula Selfia tidak menyapa nya.


"Hareudang hareudang hareudang panas panas panas" ucap Muthia sembari berkipas dengan kipas tangan milik Simbah Lanang menuju dapur.


"Aku tak biasa bila tiada kau di sisiku


Aku tak biasa bila 'ku tak mendengar suaramu


Aku tak biasa bila tak memeluk dirimu


Aku tak biasa bila 'ku tidur tanpa belaianmu


Aku tak biasa


Aku tak biasa" Mimi menyanyikan sepenggal lagu aku tak biasa.


Niat hati Mimi ingin ikut memanasi Saridi, namun apa daya lirik itu pun mengenangkan dirinya pada sosok yang telah mengisi hatinya selama ini.


"Huh" Mimi mendengus kasar.


"Kenapa Mi?" tanya Irma.


"Nggak apa-apa" jawab Mimi.


"Kak, Mimi rindu." gumam Mimi dalam hati, enatah mengapa hatinya merindukan Syahril.


Irma yang tau jika suasana hati Mimi lastinswdang merindukan sosok Syahril mengajak Riko berduet. Irma mengambil gitar dan menyuruh Riko memetik tiao nada nya di gitar. Mereka berdua pun bernyanyi lagi Broery Marantika dan Dewi yull.


Sekian lama sudah kita telah berpisah Kurasa kini engkau tak sendiri lagi Aku pun kini juga seperti dirimu


Riko:


Sekian lama sudah kita telah berpisah


Ku rasa kini kau tak sendiri lagi


Irma:


Aku pun kini seperti diri mu


Satu hati telah mengisi hidup ku


Tak perlu engkau tahu rasa rindu ini

__ADS_1


Dan lagi mungkin kini kau telah bahagia


Riko:


Namun andai kau dengar syair lagu ini


Jujur saja aku sangat merinduikan mu


Memang tak pantas menghayal tentang diri mu


Sebab kau tak lagi seperti yang dulu


Kendati berat rasa rindu ku pada mu


Biarkan ku hadang rindu ku terlarang


Irma:


Biar ku simpan saja


Biar ku pendam sudah


Riko:


Terlarang sudah rindu ku pada mu


Irma:


Tak perlu engkau tahu rasa rindu ini


Dan lagi mungkin kini kau telah bahagia


Riko:


Namun andai kau dengar syair lagu ini


Jujur saja aku sangat merinduikan mu


Memang tak pantas menghayal tentang diri mu


Sebab kau tak lagi seperti yang dulu


Irma:


Kendati berat rasa rindu ku pada mu


Riko:


Biar ku hadang rindu ku terlarang


[chorus]


Riko:


Ku isi kan rindu di hati ku


Ku harap tiada seorang pun tahu


Irma:


Biar ku simpan saja


Biar ku pendam sudah


Riko:


Oh terlarang sudah rindu ku pada mu


[chorus]


Riko:


Terlarang sudah rindu ku pada mu [2x]


Jadilah mereka sore itu saling sindir lewat lirik lagu-lagu. Mimi hanya diam dengan terus membantu Simbah masak. Saridi yang merasa gerah, dia pun keluar rumah.


Dilihatnya Selfia sedang duduk di bangku-bangju bawah


pohon kelapa sambil telponan dan sesekali Selfia ketawa. Saridi yang melihat itu mncelos hatinya.


Malam hari nya, rumah simbah ramai oleh anak-anak dan orang tuanya. Mereka adalah para ttangga satu lorong dengan Simbah.


Semua bahan yang akan dibakar sudah siap sedia untuk di panggang. Sambal terasi juga siap sedia di atas bangku amben di bawah-bawah pohon kelapa.


Simbah juga mengeluarkan meja nya untuk tempat menaruh makanan.


Langit yang cerah bertaburkan bintang dan sinar rembulan mereka memulai acara bakar-bakar ayamnya. Tak hanya ayam, ternyata mas Wiryo juga membawa jagung untuk di bakar nya.


"Wah ada jagung." ucap Selfia.


''Iya." jawab mas Wiryo.


"Beli dimana tadi Yo?" tanya Simbah.


"Beli di lahannya pak Basuki lek." jawabnya


''Oo ho wes Ndang di bakar." ucap Simbah wedok dengan memberikan mentega/margarin pada mas Wiryo.


"Dah mas biar Fia aja yang bakar." ucap Selfia dan mas Wiryo pun mengangguk.


"Ayo Rik, di petik gitarnya." seru Abi.


"Mau lagu apa Bi." tanya Riko.


"Terserah mau lagu apa yang penting enak di dengar." Jawab Abi.


"Oke Bi, siap dilaksanakan." jawab Riko dan mulai memetik senar gitarnya.


jreng jreng jreng


Rembulan bersinar lagi


Mendung pun tiada lagi


Hati yang seakan mati


Kini gairah kembali


Rembulan bersinar lagi


Mawar tumbuh bersemi indah di taman hati


'Kan kujaga kusirami agar tetap berseri


Aku tak mau


Kehilangan dirimu


Hampir saja, hampir saja


Putus asa bunuh diri


Kalau saja sampai kita tidak bertemu lagi


Hati yang seakan mati


Kini gairah kembali


Rembulan bersinar lagi


Mawar tumbuh bersemi indah di taman hati


'Kan kujaga kusirami agar tetap berseri


Aku tak mau


Kehilangan dirimu


Hampir saja, hampir saja


Putus asa bunuh diri


Kalau saja sampai kita tidak bertemu lagi


Rembulan bersinar lagi


Mendung pun tiada lagi


Hati yang seakan mati

__ADS_1


Kini gairah kembali


Rembulan bersinar lagi


Riko telah menyanyikan satu lagu berjudul rembulan bersinar lagi.


"Ada yang mau request lagi? mumpung tukang musik masih semangat nih." Tanya Riko pada semua.


"Ayo yank kita nyanyi duet." ajak Irma sambil mengipasi jagung.


"Mau lagu apa yank?" tanya Riko.


"Lagu Malaysia aja yank yang duet gitu." jawab Irma.


"Jaga-jaga aja yank." ucap Irma.


"Oke siap ya?" ucap Riko dan mulai memetik gitar nya


Jaga-jaga jangan main mata


Nanti jatuh cinta angau kan melanda


Soal hati jangan main gila


Soal cinta jangan buat gila


Aduh aduh aku dah kenapa


Jeling-jeling jangan ditenung mata


Nanti kan hati mula berbunga


Ikut hati rasa nak bercinta


Tapi hati malu nak berkata


Jagalah hatimu untukku


Hai seorang sajakah


Ya saya mengapa


Mengapa sendirian


Menunggu cik abang


Hai siapa nama


Beby Irma cik abang


Aduh cantik namanya


Semanis wajahmu


Hai seorang sajakah


Ya saya mengapa


Mengapa sendirian


Menunggu cik abang


Hai siapa nama


Beby Irma cik abang


Aduh cantik namanya


Semanis wajahmu


Mari ku pimpin tanganmu


Kan ku kotakan janji ku padamu


Ikhlas hatiku katakan sungguh


Aku cinta…


Aku cinta kepadamu


Jaga-jaga jangan main mata


Nanti jatuh cinta angau kan melanda


Soal hati jangan main gila


Soal cinta jangan buat gila


Jagalah hatimu untukku


Mereka bernyanyi dengan riang, Selfia membakar jagung


ya Mimi dan Muthia. Taknlaama Saridi ikut gabung, Selfia hanya diam saja.


Acara meraka selesai sampai jam sebelas malam, dengan tanpa ada sisa makanan. Mereka pun pergi mengistirahatkan badan mereka dengan perasaan masing-masing.


Keesokan harinya para lelaki kembali bertualang denga pancing nya cuma kali ini mereka memakai umpan dari goreng tepung lemak. Mereka mencoba apa yang pernah dikatakan oleh mas-mas waktu itu.


Hari ini pun mereka lalui dengan bahagia, Abi sudah mendapatkan beberapa hektar tanah persawahan. Banyak warga yang menjual sawah mereka karena mereka terlilit hutang atu untuk biaya anak sekolah.


Abi berencana walau dia yang beli sawah-sawah mereka namun nantinya Abi akan memperkerjakan mereka disawah itu.


Dua hari ini Dillah merasa bahagia karena Mimk selalu membalas chatnya. ketiga sahabat menjadi heran melihat Dillah sering tersenyum sendiri.


''Kenapa Lo Dil? " tanya Satria.


"Nggak kenapa-napa" jawab Dillah.


"Kesambet apa Lo?" tanya Reno.


"Nggak ada." jawab Dillah


Suasana hati yang berbunga-bunga walau hanya sekedar berchat ria. Walau rasa hati ingin melihat wajahnya lewat video call namun apa daya Bika orangnya tak mau. Yah walau sekedar berbalas chat setidaknya rindu di hati terobati.


"Kenapa? dah dibalas chat nya sama Mimi?" tebak Yogi yang tepat sasaran.


"Hmmm" Jawa Dillah dengan masih mengetik !e!balas chat dari Mimi.


"Heleh, dibalas chat segitu semuanya Dil Dil." ucap Yogi.


"Ya gimana nggak senang Gi, itu bagi Dillah bagaikan mendapatkan durian runtuh." sahut Reno.


"Dah nyatain perasaan Lo sama dia Dil?" tanya Reno.


"Sudah." jawab Dillah.


"Terus terus" ucap ketiga sahabat yang tak sabaran.


"Hmm... nwggak pernah di jawab nya." jawab Dillah.


"Emang sekarang dia dimana Dil?" tanya Satria."lagi di rumah saudaranya katanya. " jawab Dillah.


"Lah bukannya dia disini merantau sendiri ya?" ucap Yogi bingung.


"Hmm dia pergi ke rumah saudara Abi dan Umminya." jawab Dillah dengan menarik nafasnya.


"Abi, Ummi?" tanya Reno dan Dillah memgangguk.


"Maksud Lo dia pergi sama Abi dan umminya swpuou dari mantannya?" tanya Satria dan Dillah pun mengangguk.


"Wawww amazing." sahut Yogi, Dillah hanya mendegus.


"Kalau seandainya nih ya Dil, dia jadian ama Lo. Terus dia masih sering berhubungan dengan keluarga si mantan gimana perasaan Lo?" tanya Reno.


"Hmmm huuuh, nggak tau juga aku gimananya. Ini aja kemarin aku tanyain malah dia jawab, kalah dia tetap menjalin silaturahmi sama mereka, bagi Mimi mereka adalah keluarga Mimk juga dan merupakan orangtua pengganti bagi Mimi selama disini." jelas Dillah.


"Hmm sulit juga ya Dil jika suatu ketika kalian berdua berkunjung di rumah nya terus simantan datang." ucap Satria dengan berandai-andai nya.


"Ya maungimana lagi." ucap Dillah dengan mengenakan nafas panjang.


"Kalau Lo cinta sama Mimi memang harus banyak berkorban ntar Dil, tapi aku liat banyak saingan Lo. Senior anak kedokteran juga kayaknya lagi deketin Mimi tuh." ucap Reno.


"Iya bener tuh, nggak anak kedokteran, kayaknya seluruh anak disetiap fakultas mulai deketin Mimi semenjak mereka mendengar kabar berita beredar kalau Mimi dan putus ma tunangannya." ucap Satria.


"Lo harus garcep Dil sebelum ketikung lagi." sahut Yogi.


"Hmm." jawab Dillah.


Hari itu ketiga sahabat Dillah terus memanas-manasi dan memberi suport pada Dillah, Dillah pun memantapkan hati akan terus berjuang mendapatkan hati Mimi.

__ADS_1


tbc


__ADS_2