
Hari hari Mimi jalani aktifitas sebagai dokter di dua rumah sakit dengan ikhlas, Pagi Mimi ke rumah sakit kotabterlebih dahulu untuk praktek dan visit pasien, setelah selesai disana Mimi langsung pergi ke rumah sakit nurani bunda.
yang mengatakan apa tidak capek melakukan ha itu? dan pertanyaan itu di pertanyakan oleh sahabat-sahabat Mimi sewaktu SMA dan di Semarang.
Jika di bilang capek, namanya pekerjaan pasti capek, tapi Mimi lakukan semua itu degan hati ikhlas dan semua demi orag tuanya, sehingga apa pun yang Mimi lakukan seakan enjoy dan ringan.
Beberapa bulan sudah mimi menjalani profesinya di kota ini dan dalam beberapa bukan ini juga Mimi mendapatkan predikat dokter jantung muda terbaik .
Dengan mendapatkan predikat itu, Mimi tidak besar kepala. Mimi terus menjalankan dengan sebaik mungkin.
Sebuah kebahagian yang dapat Mimk rasakan bila pasien yang dia tolong dapat selamat di tangannya berkat doa dari emak, Nyai dan orang terdekatnya tak lupa semua itu juga karena bantuan Allah SWT.
Setiap menjalankan operasi tak lupa Mimi selalu memanjatkan doa terlebih dahulu, agar apa yang dia kerjakan berjalan dengan lancar.
Direktur dindua rumah sakit sangat bangga kepada Mimi, Mimi orang yang tak banyak bicara bahkan sering juga di bilang sombong oleh pegawai-pegawai senior di dua rumah sakit ini.
Mimi tidak pernah ambil pusing dengan sikap mereka yang terkadang mimi anggap seperti kekanak-kanakan.
Mimi sebenarnya mudah bergaul dengan siapa saja anla memandang siapa orang tersebut, namun Mimi akan dekat dengan orang itu bila orang tersebut cocok dengan dirinya.
Mimi orang yang tak suka berkerumun namun ujungnya berghibah, maka dari itu Mimk di bilang sombong karena tidak mau bergaul atau sekedar duduk dengan mereka di saat jam istirahat.
Mereka yang tidak tau mungkin akan berkata seperti itu, namun jika mereka tau jika Mimi menjalani profesinya sebagai dokter di dua rumah sakit, mungkin mereka akan mengeluh.
Saat mereka sekedar berkumpul bersama, Mimi lebih baik berada di dalam ruangannya untuk mengecek rekam medis pasiennya untuk mempelajari kembali riwayat penyakit pasiennya.
Pada suatu hari dokter Reyhan yang baru masuk ke rumah sakit tak sengaja mendengar desas desus tentang Mimi, dokter Reyhan yang sudah mengetahui identitas Mimi hanya tersenyum dan geleng-geleng.
Para pegawai rumah sakit ini sangat segan dan sungkan pada dokter Rayhan karena dokter Rayhan merupakan kaki tangan dari pemilik rumah sakit ini.
Jika yang Mimi dengar dari dokter-dokter spesialis lain, dokter Rayhan orangnya super dingin, namun dari pandangan Mimi dokter Rayhan wajar-wajar saja bila bersikap begitu.
Saat bersama Mimi dokter Rayhan pun bersikap sewajarnya antara atasan dan bawahan. Tapi kalau di luar dokter Rayhan orang nya humoris dan pengayoman.
Karena sering mendengar desas desus itu, dokter Rayhan pun menyuruh asistennya memanggil Mimi untuk datang ke ruangannya.
Mimi yang sedang membuat laporan serta mengecek rekam medis pasien di dalam ruangannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk" ucap Mimi sambil terus mengetik di layar komputer.
"Maaf dok, dokter di panggil dokter Reyhan." ucap orang tersebut setelah sampai di depan meja Mimi.
Mimi melihat ke arah asisten dokter Reyhan dan mengangguk.
"Emm baiklah, nanti saya kesana." ucap Mimi sang asisten pun mengangguk dan mengundurkan diri.
Mimi menyelesaikan laporannya yang sudah terlanjur terketuk, setelah selesai Mimi mengesave nya dan mematikan komputer serta merapikan kembali rekam !medis yang ada di mejanya.
Mimi mengetuk pintu ruangan dokter Reyhan terlebih dahulu sebelum masuk.
"Masuk" jawab dokter Reyhan.
"Assalamualaikum" ucap Mimi.
"Waalaikum salam" jawabnya.
"Ayo masuk." ucapnya lagi dan Mimi pun mengangguk dan berjalan ke arah mejanya.
"Duduk Mi" ucapnya dan Mimi pun mengangguk.
Mimi diam, !menunggu dokter Reyhan selesai dengan pekerjaan nya.
"Kok diam Mi?" tanya nya tiba-tiba, Mimi hanya menghelakan nafasnya.
"Ada apa ya dok?" tanya Mimi, dokter Reyhan melihat Mimi dengan senyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedangkan Mimi melihat dokter Rayhan begitu menautkan alis matanya.
"Kamu ini ya?" ucapnya, Mimk tambah heran.
"Ada apa ya dok? apa saya ada buat kesalahan?" tanya Mimi.
Dokter Reyhan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan tangan terlipat di atas perutnya, dia meihatbmijk sambil menggerakkan ke kiri dan ke kanan kursinya.
"Emang kamu ndak tau?" tanya nya dengan memicingkan matanya sebelah. Mimi menggeleng.
"Kamu udah hampir setahun Mi kerja disini, prestasi kamu juga saya acungi dua jempol, tapi kenapa masih ada desas desus tentang kamu di rumah sakit ini?" tanya nya. Mimk diam sambil memikirkan omkngan dokter Reyhan.
"Desas desus?" gumam Mimi dengan memainkan bibir bawahnya.
"Hmm" dokter Reyhan berdehem kala melihat Mimi memainkan bibirnya, Mimi melihat ke arahnya.
"Desas desus apa dok?" tanya Mimi.
"Ckk kamu ini, hhuuuh mereka bilang kamu sombong nggak mau sekedar duduk dan mengobrol gitu." ucapnya dokter Reyhan.
"Sejak jalan dokter kelo dengan mereka?" tanya Mimi balik.
"Kamu ini ya!!" ucap dokter Reyhan geram sama Mimi kalau ditanya privasi selalu dia merasa terpojok kan.
"Huuum huh, ternyata dokter panggil saya kesini hanya buat nanya hal yang tak penting gitu?" ucap Mimi dengan menggeleng.
__ADS_1
"Kalau gitu saya permisi dok, saya mau nyelesaika laporan." ucap Mimi lagi.
Mimi paling tak suka jika membahas hal yang menurut Mimi tidak penting seperti hal itu.
"Mi, tunggu." ucap dokter Reyhan menghentikan Mimk untuk beranjak.
"Cobalah kami sesekali duduk dengan mereka, buktikan sama mereka kalau apa yang mereka katakan tidak seperti yang mereka katakan." ujar dokter Reyhan.
"Em, akan saya pertimbangkan kalau saya tidak sibuk." ucap Mimi lagi.
"Emm kamu itu ya.. Emang benar ya kata proferosr Brata kalau kamu itu gila kerja." ucapnya.
Mimi mendengar nama calon mertuanya yangbtakmkadinitu diam dan menunduk.
"Mi, gila kerja boleh saja. Tali setidaknya sisihkan waktu MU sebentar buat kumpul dengan rekan yang lain." ujar dokter Reyhan.
"Aku mengingatkan ini, karena aku sudah menganganggap kamu sebagai adikku Mi. Buktikan sama mereka kalau kamu tidak seperti yang mereka katakan." ucapnya dengan menasihati.
Yah selama ini Mimi memang dekat dengan dokter Rayhan tetapi kedekatan mereka hanya sebatas rekan kerja dan seperti kakak dan adek.
"Mimi rasa itu hal yang tidak penting Da, biarkan mereka mau menilai Mimi apa, karena mereka hanya melihat sampul luarnya saja." ucap Mimi dengan memanggil dokter Reyhan Da/Uda.
"Uda kan tau, Mimi paling tidak suka duduk-duduk namun ujungnya berghibah. Kan itu hanya menyia-nyiakan waktu namanya."
"Apa lagi Mimi, berkerja di dua tempat yang mana Mimi harus mengejar waktu itu sebaik mungkin."
"Di waktu luanglah, Mimi bisa membuat laporan atau mengecek dan mempelajari riwayat penyakit pasien dari rekam medisnya."
"Mimi hanya ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dari pada mubazir waktu dengan hal yang unfaedah " ucap Mimi, Reyhan merasa menohok mendengar penuturan Mimi.
Reyhan merasa tertampar keh ncakan Mimi, karena dirinya di waktu luang dihabiskan nongkrong bersama sahabatnya dan kadang mereka sampai meneguk minuman beralkohol.
"Kapan Uda ketemu ayah? emm maksud Mimi profesor Brata?" tanya Mimi dengan meralat panggilannya terhadap profesor Brata.
"Minggu lalu, saat pertemuan antar direktur rumah sakit." jawabnya.
''Kenapa kamu tidak menrima tawarna profesor Brata Mi?" tanya dokter Reyhan, mimj melihat dokter Reyhan dengan tersenyum.
Mimi tau makasih dari pertanyaan dokter Reyhan, mimj hanya diam dan menggeleng.
"Kenapa?" tanya dokter Reyhan lagi.
"Ya nggak kenapa-kenapa." jawab Mimi, dokter Reyhan masih diam namun sorot mata nya menginginkan Mimi melanjutkan jawabannya.
"Mimi tidak punya hak atas itu, masih ada anaknya yang berhak." jawab Mimi.
"Buat jadi pemimpin tidak harus dari anak nya Mi. Dia memberikan itu karena di percaya sama kamu." ucal dokter Rayhan.
"Iya, tapi Mimi tidak ingin dipandang atau di nilai orang aji mumpung." ucap Mimi.
"Emm menurut Uda begitu?!" ucap Mimi dan dokter Reyhan mengangguk-angguk.
"Yaudah besok Mimi keluar ya." ucal Mimi dengan canda.
"Eh ha jangan, kalau kamu keluar pasien-pasien kamu saya yang nangani?" ucap dokter Reyhan.
"Hehe ya Uda la" ucap Mimi.
"Eh, ya mana bisa Mi beda aliran." jawabnya.
"Hahaa beda aliran?? emang bisa aliran apa? aliran sesat." ucap Mimi dengan mengejek dokter Reyhan.
"Kamu itu ya." ucap dokter Reyhan dengan dingin, bagi orang mungkin menciut bagi Mimi malah lucu.
"Udah ah, mukanya Uda jadi lucu kalau keg itu." ucap Mimi.
"Mimii" ucap dokter Reyhan.
"Iya Uda." Mimi terus menggoda dokter Rayhan.
"Intinya nihnya Da, Mimi tidak mau aja. Masih banyak yang bisa menjadi pimpinan. Dan intinya Mimi. " ucap Mimi dengan menghelakan nafas dan menunduk.
Reyhan tau jika Mimi sedang bersedih dan mengingat tunangannya.
Reyhan sudah mengetahui jika Mimk sebelum nya telah bertunangan dan sang tunangan telah meninggal.
"Sabar ya Mi." ucap dokter Reyhan dengan mengelus pundak Mimi.
"Hmm, Mimi dah sabar kok." jawab Mimi dengan tersenyum namun mata tidak bisa dibohongi.
"Emm dah ndak ada di ghibahin lagi kan?" ucap Mimi dengan senyum lebar dan main mata sama dokter Reyhan.
"Kamu itu ya, udah sana.." ucap dokter Rayhan dan Mimi pun segera keluar dari ruangan dokter Reyhan.
Saat Mimi berjalan menuju ruangannya banyak mata menuju kearahnya karena lama di dalam dokter Rayhan, mereka mulai berghibah.
"Dok Mimi." panggil salah satu perawat.
"Iya sus, ada ala?" tanya Mimi.
"Gini dok pasien di kamar VVIP 2 tidak mau makan dan minum obat" Adu si perawat.
__ADS_1
"Sejak kapan?" tanya Mimi dengan melihat kearah arlojinya.
"Sejak siang dok." ucap si perawat dan Mimi menghentikan langkahnya.
"Kenapa tidak dipaksa bapaknya, yang penting obat nya jangan sampai telat. Apa keluarga si bapak sudah ada yang datang." tanya Mimi dan langsung melanjutkan jalannya menuju ruang kelas VVIP tersebut dengan diikuti si perawat.
Setelah sampai ruangan itu yang berada di lantai atas, Mimi mengetuk pintu sembari mengucapkan salam.
"Assalamualaikum" ucap Mimi.
"Waalaikum salam" terdengar suara wanita yang menjawab salam Mimi.
Siperawat membuka pintu itu dan Mimi oun berjalan masuk kedalam.
"Bu dokter." ucap si wanita tersebut, Mimi tersenyum.
"Apa kabar pak." ucap Mimi dengan menyalami si bapak. Bapak tampak jutek namun Mimk bersikap biasa aja.
Suster meriksa tekanan darah si bapak, dan memeriksa cairan infus.
"Saya dalatblaporan kalau bapak tidak mau makan dan minum obat ya?" tanya Mimi, namun si baoakntak menanggapi.
"Pak" panggil Mimi dengan tersenyum akala si bapak menoleh melihat Mimi.
"Makan ya dan setelah itu minum obat." ucap Mimi dan bapak kembali menoleh ke arah lain.
"Semua demi kesehatan bapak. Kalau bapak sehat, Mimi ikut senang dan bahagia." ucap Mimk dengan. mengambil burbur yang dibawa oleh art nya.
"Kalau bapak tidak mau makan dan minum obat, Mimi jadi sedih karena Mimi merasa gagal jadi dokter." ucap Mimi lagi dengan menyendokkan bubur tersebut dan mengarah kan ke mulut si bapak tetapi si bapak masih enggan.
"Kalau baoaknsehat nggak hanya Mimi yang bahagia, tetapi keluarga bapak juga ikut bahagia." ucap Mimi laginmnvkba membujuknya.
"Buat apa saya sehat " ucapnya.
"Buat semua pak, pertama buat diro bapak sendiri. Kedua buat anak-anak bapak dan ketiga tentu buat kami tim medis terutama saya." ucap Mimk dengan senyum.
"Anak-anak saya tak satupun peduli sama saya." ucapnya lirih.
"Mereka peduli kok sama bapak, mungkin mereka sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Ayo pak makan, kallau balakngidak mau makan demi anak-anak bapak, makanlah demi Mimi." ucap Mimi.
"Dengan melihat bapak itu sama Mimi melihat orang tua Mimi. Dengan begitu mimi juga bisa menghilangkan rasa rindu Mimk sama bapak Mimi di Jambi." ucap Mimi dan bapaknya pun menerima suapan Mimi.
Mimk terus menyuapi si bapak hingga bubur dalam mangkok lun habis. Mimi tersenyum, begitu pula perawat dan art yang selalu setia menemani majikannya itu.
Mimi merasa kasihan terhadap si bapak, dia memiliki anak empat namun satu pun tidak ada yang ingin merawat dirinya dengan alasan sibuk.
Anak-anak sibapak sibuk mengejar harta, padahal harta yang mereka kelola juga berasal dari si bapak.
Mimi bisa merasakan bagaimana perasaan si bapak, si bapak hanya ingin berkumpul dan mendapatkan perhatian dari anak-anaknya.
Semenjak sangbistri mendahului nya dan anak-anak sudah mendapatkan jatah bagian masing-masing, si bapak di abaikan dan dipercayakan pada art yang selalu setia menemani nya.
Setelah minum obat, si bapak kembali rebahan. Mimi memegang lengannya dan mengelus lengan itu.
"Bapak istirahat lagi ya, Bapak juga harus rajin makan dan minum obatnya, insya Allah siang besok saya datang lagi." ucap Mimi.
"Makasih nak," ucap bapak dengan tersenyum perih.
"Sama-sama Lak" ucap Mimi dengan memegang tangan si bapak dan memeluk pelan.
"Bapak istirahat ya, Mimk permisi dulu." ucap Mimi dan si bapak mengangguk.
"Assalamualaikum " ucap Mimi.
"Waalaikum salam." ucap si bapak dan art nya.
Mimi dan suster pun keluar dari ruangan si bapak dengan hati yang bahagia, Mimi merasa bahagia jika pasien yang ditangani nya sembuh yah walau tak 100% sembuh total.
"Dokter Mimk hebat " ucap si perawat.
"Hebat apa?" jawab Mimi.
"Ya hebat, padahal tuh ya sebenarnya nih sedari pagi dok si bapak nggak mau minum obat " ucap si suster jujur.
"Apaa!! kenapa tadi suster bilang siang. Ini dah jam berapa sus kalau dari pagi.Lain kalindipaksa aja, semua juga buaat kesehatan pasien." ujar Mimi yang terus ngedumel sama suster sedangkan suster malahnsenyam senyum karena baru kali ini dia melihat Mimi bicara panjang lebar walaunhanya dumelan.
"Lain kali jangan gitu Lo, kalau perlu telpon saya kalau ada pasien seperti itu lagi." ujar Mimi.
"Iya dokter Mimi." jawab si suster dengan senyum.
"Malah senyum lagi di bilangi." ucap Mimi.
"Habis dokter lucu." jawab si suster.
"Huh saya lagi kesal Lo ini sus," ucap Mimi.
"Iya saya tau, tapi suka liatnya." jawab si suster.
"Ah sudahlah, aneh deh suster ini orangnkesel malah suka." ucal Mimi dengan terus berjalan menuju lift untuk menuju ruangannya.
Sepanjang jalan, para dokter yang sering berghibah menjadi heran melihat suster yang selain mengikuti Mimi dengan senyum dan Mimi terus ngedumel.
__ADS_1
tbc
maaf baru selesai jam ini nulis dari pagi.