DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
240


__ADS_3

Sehabis sholat lail, Mimi kembali tertidur karena sebelum dia berwudhu Syahril memberikan obat, Mimi hanya menurut saja.


Syahril memberikan Mimi obat tidur, karena dia merasa kasihan melihat Mimi yang terlihat kacau setelah mimpi itu, apa lagi Syahril mendengar cerita dari ketiga sahabat Mimi kalau Mimk seing bermimpi buruk.


Saat Mimi tertidur ketiga sahabat Mimi bersama Syahril, Ryan dan Irsyad duduk bersama di ruangan tamu. Syahril kembali bertanya kepada ketiga sahabat Mimi.


"Apa Mimi ada menceritakan dia bermimpi apa?" tanya Syahril.


"Kak sepeti tidak tau siapa Mimi, dia mana mau memberitahukan mimpi-mimpi nya.


"Mimpi-mimpi?" tanya Ryan.


"Iya kak, Mimk cap kali bermimpi sampai mengigau seperti tadi, tapi baru kali ini susah di bangunnya." jawab Muthia.


"Hemm, emang tidak ada sedikit pun dia bercerita?" tanya Ryan.


"Huumm ada sih, tapi Mimi tidak pernah bicara detail." jawab Irma.


"Apa?" tanya Syahril.


"Dia hanya bercerita kalau dia mimpi di dalam ruangan bernuansa tosca dan itu dia mimpi berkali-kali dalam seminggu ini, sebelum kakak datang." Irma bercerita.


"Maksudnya?" tanya Irsyad.


"Maksud nya Mimi berkali-kali dia seperti masuk lesbeuh lorong dan dia juga masuk kesebuah ruangan yang mana ruangan bernuansa hijau tosca dan bertirai berwarna hijau tosca, kata dia berkali-kali dia ingin melihat siapa di balik tirai itu tapi selalu terbangun oleh suara adzan." ucap Irma.


"Dan puncaknya malam kamis kemarin," sahut Selfia.


"Maksudnya gimana?" tanya kak Ryan.


"Iya malam kamis kemarin kata Mimi dia berhasil melihat siapa dibalik tirai itu. yah malam sebelumnya dia hanya melihat ada seseorang didalam itu dengan kepala di perban dan berbagai macam selang menempel di tubuh nya, nah di malam kamis dia melihat kalau orang yang dilihatnya sebelum itu adalah kakak." jelas Fia.


Deg syahril, Ryan maupun Irsyad diam dengan jantung berdetak kencang.


"Ya Allah apakah Mimi mengetahui kalau aku.." ucap Syahril dalam hati "Maafkan kakak dek." ucapnya lagi di dalam hati.


"Sungguh besar kuasa mu raab." ucap Ryan dalam hati.


"Subhanallah, kau tampak kan kebenaran kepada Mimi Rabb." ucap Irsyad dalam hati.


"Terus.'' tanya Irsyad.


"Ya Mimk menjerit dan terisak tangis dan katanya sampe dia Lemah untuk berpijak sehingga dia terduduk di samping ranjang pasien. Namun seketika dia dipeluk dan ditenangkan seseorang dan orang itu adalah kakak." sambung Muthia.


"Kakak." ucap Syahril.


"Iya kakak, memeluk dia dsan menenangkan nya serta kakak pula menyuruh dia untuk tidur kembali." jawab Muthia.


"Kakak tau apa yang dilakukan Mimi saat terbangun saat subuh hari?" tanya Selfia dan syahril hanya menggeleng.


"Apa yang dilakukannya?" tanya Ryan penasaran.


"Dia bangun tidur langsung mencari kakak, bahkan saat sarapan pun dia menunggu kakak, dia mengira kakak pasti sholat di masjid." jawab Irma.


"Ya Allah." ucap Syahril.


"Jadi makanya saat kalian melihat kami datang jadi bengong?" ucap Irsyad menebak.


"Iya." jawab mereka bertiga.


"Kami takut kallau kami juga bermimpi, karena baru lagi hari Mimi mencari kak Syahril namun malam hari kaka k emang ada dihadapan kami." ucap Muthia.


"Dan maka dari itu pula Mimi masih menganggap kakak adalah mimpi baginya saat dia terbangun maalam hari dan pagi tadi." imbuh Selfia.


"Maaf kak, emang kakak selama ini kemana?" tanya Irma yang tidak sabar untuk bertanya hal itu sedari semalam.


"Emm kakak lagi sibuk, yah lagi sibuk." jawab Syahril.


"Kak, mungkin Muthia yang mewakili Mimi untuk bertanya. Kakak juga terlihat kurusan serta sedikit pucat, apa kaakka sakit?" tanya Muthia yang juga sedari semalam memperhatikan Syahril.


"Eh emmm, udah mau subuh kakak ke masjid dulu." ucap Syahril mengelak dan mereka bertiga pun berangkat ke masjid.


Muthia hanya menghelakan nafasnya begitu pula dengan Selfia dan Irma.


Saat Syahril dan kedua sepupunya pergi ke masjid mereka masih duduk santai di ruang tamu.


"Muth, Fi, kalian curiga nggak sama mereka bertiga?" tanya Irma yang menaruh curiga.


"Emm iya, aku curiga kalau mimpi Mimi benar adanya." jawab Muthia.


"Aku juga, apa lagi kalau dilihat dari segi potongan rambutnya," jawab Selfia.


"Kenapa rambutnya Fi?" tanya Irma.


"Hm m selamaa kita kenal kak Syahril, kak Syahril jarang foto rambut seperti itu nyaris gundul." jawab Selfia.


"Mungkin dia mau gaya baru." sahut Irma.


"Hmm, entahlah yang jelas aku menduga itu sengaja di botakin." jawab Selfia.


"Heleh Fi, namanya cukur rambut jelas disengaja lah. kamu ini..ada-ada saja." ucap Irma.


"Isss Irma, coba deh perhatikan. Waktu malam itu Mimi berusaha untuk melihat tubuh kak Syahril tapi tingkahnya seolah menghindari Mimi supaya tidak menelisik badan kak Syahril. Terutama bagian kepala." ucap Selfia dengan diagnosanya.

__ADS_1


"Hmm betul juga tuh Fi, atau..." ucap Muthia namun terpotong.


"Jangan-jangan" sahut Irma.


"Operasi." jawab mereka bertiga seakaan prediksi mereka sama.


"Ya Allah.. Bisa jadi, makanya kak Syahril selalu menghindari." ucap Muthia dengan menutup mulutnya.


"Ya Allah, tapi kak Syahril sakit apa ya?" ucap Selfia.


"Nggak mungkin kanker otak." ucap Selfia.


Plak Muthia dan Irma mengeplak tangan Selfia.


"Kaalau ngomong itu di jaga." ucap Muthia.


"Terus apa dong?" tanya Selfia.


"Emm udahlah mending kita segera wuhu dan sholat, dah adzan juga." ucap Irma menghentikan obrolan mereka.


"Iya, besok aja kita interogasi kak Syahril atau kak Ryan kalau perlu sekalian Irsyad mustahil dia ngak tau." ucap Muthia.


"Oke, kota interogasi mereka besok." ucap Selfia dan mereka pun bergantian berwudhu.


irma lebih dulu selesai berwudhu, sebelum dia sholat dia membangun kan Mimi.


"Mi." panggil Irma.


"Hmm.." Jawab Mimi.


"Sholat subuh, udah adzan." ucap Irma.


"Iya." jawab Mimi dan langsung beranjak dan berlalu keluar walau matanya masih terasa berat.


Sehabis sholat subuh mereka semua akan kembali tidur karena mata mereka sangat mengantuk, beruntungnya hari ini mereka bebas dari ujian.


Ketiga sahabat Mimi berusaha untuk mengalah nganguknya dulu, karena mereka akan menunggu ketiga lelaki yang akan di interogasi itu pulang.


Berulang kali mereka menguap, namun ketiga lelaki itu tak kunjung pulang. Sehingga akhirnya meru memtuskan untuk tidur karena lelah dan ngantuk tak dapat di ajak kompromi.


Tak lama mereka tertidur ketiga yag ditunggu pulang juga, sama halnya dengan ketiga cewek tadi ketiga cowok ini pun matanya sangat mengantuk sehingga mereka juga memutuskan untuk kembali ke kamar dan tidur.


Mimk yang merasa lama tidur bangun terlebih dahulu, Mimk melihat ketiga sahabatnya tertidur pulas. Mimi sengaja tidakmme!bangunkan mereka.


Mimi berjalan ke dapur Mimi membuka kulkasnya dan mengeluarkan daging dari freezer dan Mimi rendam kedalam air agar cepat mencair, sambil menunggu daging mencair Mimi menggiling cabe, Mimi menggiling asal pecah saja karena Mimi akan membuat dendeng. Mimi juga memblender bumbu untuk gulai.


Mimi keluar dan memetik daun ubi, yang terlihat muda-muda, tak lupa Mimi juga menghidupkan seta memutar mesin cucinya. Mimi berencana akan menggulai pucuk ubi dan dendeng balado.


Karena dagingnya belum mencair seutuhnya, maka Mimi memasak gulai pucuk ibunya terlebih dahulu. Gulai pucuk ubi telah siap, daging pun telah mencair. Mimi merebus dagingnya, sambil menunggu rebusan daging, Mimi pun membersihkan kosannya dari menyapu hingga mengepel..


Mimi merasa rebusan dagingnya telah cukup, Mimk tiriskan setelah itu Mimi iris dengan ketebalan sedang tidak terlalu tebal maupun tipis, setelah itu Mimi rokok-rokok dagingany hingga pipih.


Cabe giling Mimi tumis hingga harus setelahnifu Mimi masukkan daging yang sudah di tokoknya, semua penyedap rasa telah Mimi beri setwlahnitu Miminsoram lagi air hangat Mimi kembali merebus daging itu hingga air menyusut kembali baru Mimk angkat dendeng batokok ala Mimi nya.


Semua masakan sudah siap, Mimi kembali membersihkaneralayan masak yang kotor, setelah semua beres giliran Mimi yang membersihkan diri, taknljpa pakaian yang dipakainya pun langsung di cuci.


Capek itulah yang Mimi rasakan saat ini, semua pekerjaan sudah beres semua , masak hingga menjemur pakaian. Mimi rebahan di depan tv, niatnya mimi akan menonton kartun namun kartunlah yang menonton Mimi.


Di kantor polisi Adit sedang bersantai bersama kedua sahabatnya, hah hari ini mereka gak begitu banyak pekerjaan sehingga mereka bisa mengobrol.


"Dit," panggil Rio rekannya.


"Hemm." jawab Adit.


"Kenapa murung?" tanya Rio.


"Ndak apa-apa." jawabnya.


"Nak apa-apa kok murung gitu" ucap Jordi.


"Lagi mikirin cewek ya?" ucap Rio menebak.


"Hmm.." jawab Adit yang kurang bersemangat.


"Emm Dit." panggil Jordi.


"Apa Jo?" ucap Adit.


"Nggak manggil aja hheee." jawab Jordi.


"Heleh.." ucap Adit.


"Emm Dit," panggil Rio.


"Apa!!" jawab Adit.


"Kalau akun perhatikan nih ya, si Sinta bagian administrasi menyukai kamu." ucap Rio sambil menyeruput kopi.


"Nggak hanya Sinta Yo, Yuni bagian Humas juga," ucap Jordi.


"Kamu pilih mana Dit? Sinta atau Yuni? mereka berdua cantik-cantik loh." ucap Rio.


"Ambil aja buat kalian." jawab Adit dan berlalu pergi maauk kedalam ruangannya sendiri.

__ADS_1


Hari ini sebenarnya Adit tidak masuk kerja karena gilirannya piket akhirnya diapun masuk.


Disebuah cafe dan resto, Dillah menyibukkan dirinya dengan memeiksa laporan keuangan. Dengan begitu Dillah mengalihkan pikiran nya sejenak dari Mimi.


Dillah ingin menyerah untuk mendapatkan Mimi apalagi setelah melihat Mimi di antar oleh Syahril ke kampusnya bahkan Syahril pun mengatakan bahwa dia adalah tunangan Mimi.


Sesibuk apapun dia dengan kerjaannya, otaknya tak bisa lepas dari bayangan Mimi.


Berkali-kali dia menarik nafas serta menghembuskan nya agar dia bisa fokus mengerjakan pekerjaannya, namun bayangan itu selalu bersemayam disana.


"Huuum huh, bagaimana caranya aku melupakan mu Mi." Gumamnya dengan meletakkan pena di atas berkas-berkas.


Di sugarnya rambutnyanke arah belakang dan ditariknya agar rasa penat dikelolanya bisa hilang.


Disandarkan kepalanya di sandaran kursi kebesarannya pujian-pujiqn yang dilontarkan oleh Satria untukmmkmk dan tunangannya pun terngiang-ngiang.


"Kalian emang serasi." Gumamnya.


"Kenapa aku menyukaimu Mi, bahkan bukan sekedar menyukai aku pun telah mencintaimu." ucapnya dengan !menutup matanya.


"Aku harus bagaimana?" ucapnya.


Karena lelah pikiran nya maka pekerjaan nya pun tak dikerjakannya.


Dillah beranjak dari kursinya dan dia berjalan ke arah jendela, dilihatnya suasana luar yang hiruk-pikuk, kendaraan lalu-lalang walau hari ini adalah hari akhir pekan.


"Aku harus bagaimana Mi." ucapnya lagi namun kali ini dia memandangi foto Mimi di ponselnya. Yah Dillah mengambil foto Mimi secara diam-diam, dia mengambil foto itu saat Mimi bersama teman-temannya berada di alun-alun kota.


"Semakin akunmenvoba melupakan mu semakin kuat pula kau bersemayam di hati dan pikiranku, aku harus bagaimana?" ucap Dillah.


Dillah duduk di sofa dan akhirnya dia merebahkan badannya untuk merilekskan pikirannya.


Dia sengaja tidak ikut berkumpul bersama sahabatnya karena hari ini dia rencana akan mengecek pembukuan cafe dan resto nya, namun sedari tadi dia tidak bisa fokus ke pekerjaannya.


Dillah bingung harus berbuat apa pada dirinya sendiri, dia menyukai dan mencintai gadis yang sudah bertunangan. Berulang kali dia mencoba melupakannya maka semakin kuat pula perasaanya.


Cemburu, jelaa Dillah cemburu saat Mimi bersama sang kekasih, usahkan bersama kekasihnya, melihat Mimi bersama teman-temannya yang cowok saja Dillah cemburu.


Ingin dia menarik Mimi bahkan mungkin ingin dia culik sekalian agar Mimi tidak bisa jalan sama cowok lain namun itu semua mustahil baginya.Siapa dia bagi Mimi.


"Achhhh" Dillah melepaskan penatnya dengan berteriak.


"Bisa gila aku dibuatnya. Ya Tuhan bantu aku !menghapus dirinya dari hati dan pikiranku." ucapnya.


"Kenapa juga kaum pertemukan aku sama dia kalau nyatanya aku tak bisa memiliki nya. Aku harus bagaimana Tuhan." ucaonya frustasi.


"Ada apa dengan diriku Tuhan, kenapa aku menyukainya, bahkan aku mencintainha dalam diam. Begitu sakit yang kurasakan.'' Dillah terus berperang batin.


"Jika kau mengizinkan beri aku kesempatan untuk bisa bersamanya walau hanya sebentar." entah mengapa Dillah sampai me!khon seperti itu.


"Aku ingin merasakan cintaku sama dia terbalaskan ya Rabb.." ucapnya lagi.


"Achhh konyol, dasar konyol aku meminta hal itu tuhan, gila bener bener dah gila akundi buatnya." ucapnya lagi seraya beranjak berdiri dan diapun mengahmpiri lagi meja kerjanya, di ralikannya berkas-berkas yang berserakan tadi dan dimasukkannya kedalam map dan setelah itu dibawanya map itu keluar dari ruangan nya.


Dillah keluar langsung kembali ke apartemen nya, sepanjang jalan pikirannya hanya Mimi dan Mimi. Sesampai nya di apartemen Dillah langsung masuk kedalam kamar nya, diletakkan nya map yang dibawanya ke aeats kasur, lalu diapun berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Dillah berdiri dibawah shower, dihidupkan shower dengan air dingin, dihpguyurnya seluruh tubuhnya dengan masih berpakaian lengkap.


Ditempelkan nya kening di dinding keramik itu dengan tubuh yang masih di guyur air dingin.


Sesekali dia meninju dinding keramik itu untuk menuntaskan kekesalan pada dirinya. Lama di bawah guyuran air dibawah shower dillahnmw!ayikan showernya.


Dibukanya seluruhnya pakaiannya tanpa satu helai benang pumy tersisah di badan kekarnya.


Belum puas dengan guyuran dia masuk kedalam bathtub diisinya lagi air dingin hingga memenuhi bathtub nya setelah itu dituangnya sabun ber aromatherapy.


Sambil berendam dan menikmati sensasi aromatherapy Dillah pun akhirnya terlelap di dalam bathtub.


Di kosan Mimi semua telah terbangun, namun Mimk yang kembali tertidur di atas kasur santai didepan TV dengan acara tv yang menonton Mimi.


"Ya Allah yank." ucap Syahril yang melihat Mimi tertidur dengan TV yang menyala.


"Kenapa Riil?" tanya Ryan.?


"Shuutt Mimi tertidur." jawab Syahril.


"Oo, kayaknya dia kecapekan bang." ucap Irsyad.


"Kayaknya." sahut Ryan.


Ketiga gadis yang sudah terbangun langsung ke belakang, rencana mereka akan memasak tetapi sampai dapur mereka melihat semua sudah ada.


"Humm ternyata Mimi sudah memasak." ucap Muthia.


"Iya bahkan dia juga sudah mencuci semua pakaian." seru Selfia.


"Jadi gimana? apa kita interogasi sekarang?" tanya Irma yang melihat dua lelaki yang hemdak kearah dapur.


"Emm kita lihat sikon dulu." ucap Selfia


"Kalau Mimi terbangun gimana?" Ucap Muthia.


"Hmmm, kita lanjut Next bab aja ya..

__ADS_1


Assalamualaikum, selamat malam , selamat beristirahat.


makasih atas dukungannya semoga selalu menjadi berokah.


__ADS_2