DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
196


__ADS_3

Sepulang mengantar Diah dan Romi, orang tua Bryan langsung kembali ke rumah nya. Lebih tepatnya sang papi ingin menenangkan hatinya.


Mereka berdua langsung masuk kamar dan membersihkan diri, setelah itu mereka duduk di atas ranjang mereka. Mereka berdua begitu pusing langkah apa yang harus mereka ambil.


Tak segampang membalikkan tangan untuk membawa baby Zian, karena nantinya mereka akan di hadapkan dengan para keluarga maupun para partner bisnis mereka.


Papi memijit kedua pelipisnya, begitu banyak cobaan yang dihadapinya saat ini. Dari sakitnya Bryan, kecelakaan Arya anak sulungnya dan kini..


"Ya Tuhan.." gumam papi sambil menarik rambutnya ke arah belakang dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Sang mami hanya diam tak berani berucap untuk saat ini bila melihat sang suami dengan keadaan seperti itu. Jika mami berbicara maka akan berujung pertengkaran.


"Ya Allah, ampuni hamba yang belum becus menjaga dan mendidik anak hamba." batin mami.


"Hmmmmm fiuhhh." terdengar hembusan dalam sang papi.


Mami melihat ke arah sang suami yang wajahnya terlihat lelah dan ada raut kesedihan serta kekecewaan. Ya Papi sedih dengan keadaan anak-anaknya dan papi kecewa atas perlakuan Bryan yang tak bertanggungjawab itu. Papi terus menyugar rambutnya berkali-kali dan !menutup matanya.


"Pi.." Akhirnya mami memberanikan diri untuk memanggil sang suami dan papi pun menoleh ke arah mami dan menggelengkan kepalanya.


Mami tau jika sang suami telah menggelengkan kepala tandanya tak ingin bicara.


"Kita tidur aja dulu pi, ini sudah larut." ucap Mami.


"Kalau mami mau tidur, tidur saja." jawab papi dan beranjak berdiri hendak keluar kamar.


"Pi... Papi juga butuh istirahat pi." ucap mami dengan memegang tangan papi.


Hmmmmm fiuhhh "Mami kalau mau tidur, tidur lah." ucap papi berusaha mengontrol emosinya dan langsung dia keluar kamar menuju ruang kerjanya.


Di dalam ruang kerja papi hanya duduk serta melihat foto keluarganya dulu.


"Ya Allah ampunilah hamba yang tidak bisa menjadi orangtua yang baik buat anak-anak hamba." ucapnya lirih sambil melihat foto ketiga malaikat kecilnya. Papi teringat dimana saat dia bermain bersama ketiga anaknya sewaktu anak-anak nya masih kecil.


flasback on


"Sayang nggak boleh nakalin Abang sama adeknya dong." ucap papi kepada Bryan kecil yang masih berusia sepuluh tahun.


Ya Bryan kecil yang aktif, saat bermain begini hanya dia yang mendominan kan karena Arya hanya duduk di kursi roda sedangkan Cintya masih berusia 1,5th.


"Iyan nggak nakal papi, Iyan mau ngajak Abang sama adek Iyan main.'' jawabnya sambil melempar bola ke arah Arya dan Arya pun menangkal bola itu namun tangkapannya meleset dan mengenai mainan Cintya.


Cintya menangis ketika mainan balok yang sudah di rancangnya tertimpa bola dan kembali hancur. Bryan kecil ketawa terbahak-bahak melihat adiknya menangis.


"Iyaan." panggil sang papi.


"Kan bukan Iyan pi yang ngancurin." jawab Bryan.


"Iya tapikan kamu nak yang melempar bolanya, sana pujuk adiknya." ucap sang papi.


Arya sudah mendekat ke arah Cintya dan sudah membujuk adik nya itu namun Cintya tak kunjung berhenti.


"Adik Abang jangan nangis ya cup cup." ucap Bryan tapi Cintya tak berhenti menangis.


"Iyan." panggil papi.


"Iya pi.." jawab Iyan pasti dia disuruh untuk menyusun balok itu seperti yang di susun adiknya sebelumnya.


"Ingat nak kalau berani berbuat harus berani bertanggung jawab ya, apa lagi anak papi Iyan dan Abang Arya kan laki-laki. Jadi kelak kalau dewasa harus melindungi perempuan jangan sakiti mereka." ucap papi menasihati kedua anak lelakinya..


"Iya pi." jawab Bryan dan Arya.


"Dan satu lagi jika kalian besar nanti papi mohon jadilah lelaki yang bertanggung jawab." pinta papi dan di angguki oleh kedua anaknya.


"Iyan janji Pi, kalau Iyan sudah besar Iyan akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab serta menyayangi istfi Iyan nanti seperti papi dan mami." ucap Bryan dan papi melongo mendengar kata istri dari mulut anaknya yang berusia sepuluh tahun itu.


"Kamu itu dek, masih kecil sudah bilang istri-istri." ucap Arya.


"Hehehe kan nanti Iyan akan banyak punya pacar bang tapi nanti istri Iyan satu aja iya kan pi." ucapnya lagi.


"Lagi ngomong apa nih, dan siapa yang banyak punya pacar." sahut mami yang baru tiba dengan membawa baki berisi makanan ringan dan minuman.


"Ini mi, Iyan mau punya pacar banyak." adu Arya.


"Hah, emang ada yang mau sama kamu dek?" tanya Mami.


"Banyak Mi di sekolah... Tapi ya Mi Iyan hanya suka satu aja kok. Karena banyak yang mengejar Iyan jadi iuan terima aja mereka semua." jawab Bryan kecil dengan bangga serta dengan gaya angkuhnya.


"Kamu itu, kecil-kecil udah jadi playboy." jawab mami.


"Isss Mami.. Kita itu harus punya banyak pegangan Mi buat menyeleksi hehee." ucap Bryan lagi, sontak membuat mata kedua orangtuanya melotot tak percaya akan ucapan anaknya yang baru sepuluh tahun itu.


"Pi.. Anakmu" ucap Mami


"Ckk kalau begini baru anak papi. Ini ni karena mami ngidamnya dulu pengen meluk-meluk laki-laki lain." jawab papi.


flasback off


Keesokan pagi, papi mendapat telpon dari pengacaranya kalau mereka tak berhasil mendapatkan panti itu karena telah di duluin orang lain.


Dert Dert Dert ponsel papi berdering saat dirinya menyantap sarapannya.


"Ya hallo." ucap papi


"Hallo pak, selamat pagi." ucap seseorang diseberang telpon.


"Pagi, katakan bagaimana?" ucap papi


"Maaf pak, kita tidak berhasil mengambil pangi itu ka.." ucapnya namun di potong oleh papi.

__ADS_1


"Apa maksudnya bukanya kemarin kalian bilang sudah !menemukan orangnya hah!" papi yang mendengar mereka tak berhasil langsung naik pitam tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu.


"Maaf pak, ka.." ucap seseorang itu lagi-lagi di potong oleh papi.


"Sekarang juga kalian kemari!." ucap papi meminta mereka datang kerumahnya dan papi memutuskan sambungan sepihak.


"Damn." ucap papi dengan menggebrak meja makan dan mengurungkan untuk melanjutkan sarapannya.


"Pi ada apa?" tanya Mami.


"Kita gagal memperoleh panti itu." jawab papi.


"Lo bukannya kemarin sudah ketemu siapa ahli warisnya." tanya mami namun tak digubris oleh papi.


"Ya Tuhan kalau begini semakin susah kami untuk membawa cucu kami." gumam mami.


Ya mereka akhirnya menerima baby Zian walau bagaimanapun baby Zian adalah ana dari anaknya dan asa darah mereka mengalir di bayi tak berdosa itu.


"Pi.." panggil mami.


"Kita dengar saja penjelasan dari mereka Mi, papi pusing." ucap papi enggan menjawab pertanyaan sang istri di tambah semalaman dia tak bisa tidur.


Tak lama terdengar ketukan pintu dan art rumah nya segera membukakan pintu.


"Siapa BI?" tanya mami.


"Itu Nya ada yang mau ketemu tuan." ucap art tersebut.


"Ohnyaudah makasih ya Bi." jawab mami dan art pun mengangguk.


"Ohnya Bi, tolong buatkan mereka air minum ya." pinta mami ketika hendak beranjak mengikuti sang suami.


"Iya Nya." jawab art dan langsung menuju dapur.


Pali dan yang lain telah duduk bersama di ruang tamu, tanpa basa basi papi langsung bertanya ke intinya, sang pengacara pun menjelaskan semua nya kepada papi.


"Bagaimana bisa?" tanya papi.


"Maaf pak, ternyata si ahli waris telah menjualnya kepada orang lain dan mereka juga telah mengesahkan itu semua ke pengadilan." jawab pengacara itu.


"Apa kota tidak bisa merebutnya kembali?" tanya mami ketika telah duduk di samping suaminya.


"Tidak bisa buk karena surat pengesahan nya pun telah keluar." ucap pengacara.


"Siapa yang membelinya dan berapa mereka membelinya." ucap papi.


"Yang me!belinya adalah Ronald Damian Perez pak, dan mereka membeli pantinitu dengan harga 10 milyar." ucap pengacara.


Papi memijit pelipisnya dan sekali-kali menggelengkan kepalanya.


"Apa kita tidak bisa membelinya kembali, berapa pun mereka minta aku menyanggupinya." ucap papi yang sudah pusing kepalanya.


"Kami sudah berupaya pak, tapi pihak pak Ronald tidak mau." ucap pengacara.


"Hmmmmm fiuh" Pali hanya menghela kan nafasnya.


"Coba kalian rundingkan lagi bersama pihak mereka," ucap papi.


"Iya pak, kasian anak-anak pangi bila di usir dan hari ini adalah terakhir mereka lagi." ucap mami, papi yang mendengar itu baru teringat kalau hari ini adalah hari terakhir mereka di panti.


"Gimana pi, atau kita cari mereka tempat baru saja atau mereka menempati rumah kita yang di C aja." usul Mami.


Saat mereka sedang membahas rumah panti, ponsel mami berdering dan itu dari Bryan.


"Ya assalamualaikum nak," ucap mami yang telah menjauh dari suami dan pengacaranya.


"Waalaikum salam Mi, mami dan papi dimana? apa nggaka kerumah sakit hari ini?" tanya Bryan.


"Emm mami di rumah sayang, nanti setelah urusan papi selesai kita kerumah sakit." jawab mami.


"Ada apa nak? kalian baik-baik aja kan?" tanya mami lagi.


"Emm kita baik Mi, tadi kata dokter Bryan sudah boleh pulang hari ini begitu pula dengan bang Arya." ucap Bryan memberitahukan kepada mami.


"oh iya alhamdulillah," ucap Mami senang. "Em tunggunya nak, mami akan kesana setelah urusan Papi selesai." imbuh mami.


"Emm baik lah Mi, kami tunggu mami dan papi." ucap Bryan.


"Yaudah ya nak, assalamualaikum." ucap mami mengakhiri sambungan telpon.


"Waalaikum salam." jawab Bryan.


Setelah sambungan telpon berakhir mami bergabung kembali dengan papi dan yang lain. Ya akhirnya mereka tak bisa mengambil alih pangi karena pihak Ronald tak memberinya jadi kedua orang tua Bryan berinisiatif akan membawa mereka semua ke rumah mereka yang di C.


"Pi, hari ini anak-anak diperbolehkan pulang." ucap mami ketika telah mengantar para pengacara sampe luar rumah.


"Hmm." jawab papi.


"Jadi kita jemput mereka dulu pi?" tanya mami.


"Jam berapa anak-anak panti akan keluar!" ucap papi yang dingin.


"Kata Bu Ainun sih sore pi batas akhir mereka disana." jawab mami dan papi hanya menarik nafasnya dalam.


Andai saja andai Bryan tak sakit mungkin sudah tamparan bahkan tinjuan yang akan di layangkannya kepada anaknya itu.


"Yaudah, kita jemput anak-anak dulu." jawab papi dan mereka pun kembali keluar menuju rumah sakit untuk menjemput anak-anak mereka pulang.


Sesampainya di rumah sakit, mami langsung mengurus segala administrasinya dan Papi dia duduk di dalam ruangan itu dengan tatapan intimidasi kepada Bryan.

__ADS_1


Bryan yang melihat tatapan sang papi bak singa akan menerkam mangsa hanya menunduk walau dia belum mengetahui apa yang terjadi tapi hatinya !mengatakan akan ada badai buat dirinya.


Tak lama mami pun kembali keruangan mereka dan mereka pun segera keluar dari kamar tersebut.


Papi mendorong Arya dan mami mendorong Bryan sedangkan si mbok yang mengurus mereka membawa tas pakaian mereka.


Empat puluh lima menit mereka sampai di rumah, ada raut wajah bahagia di mata kedua anak mereka.


"Abang." teriak Cintya melihat kedua abangnya pulang.


"Wellcome to the home Abang." ucapnya lagi dengan memeluk Bryan dan Arya bergantian.


Mereka semua masuk ke dalam rumah, Bryan berjalan perlahan sedangkan Arya masih diharuskan pakai kursi roda karena tulang pada kaki nya belum bisa menopang tubuhnya dengan kuat.


"Yaudah kalian istrirahat aja dulu." ucap mami kepada kedua anaknya dan menyuruh art nya untuk mengantar kedua anaknya masuk kamar.


"Hmm kita istirahat disini aja Mi." tolak Arya karena dia bosan hanya berada dalam kamar dan rebahan.


"Iya Mi, kita bosan tidur mulu." ucap Bryan,dan akhirnya mereka pun duduk bersama di ruang keluarga.


"Iyan." panggil papi.


"Iya pi." jawab Bryan.


"Apa ada yang mau kamu ceritakan kepada papi." tanya papi.


"Maksud papi apa?" tanya Bryan tak mengerti.


"Apa kamu kenal Berliana yang telah mendonorkan hati nya sama kamu?" ucap papi dengan nada dingin.


"Pi.." mami memegang tangan suami nya dan menggelengkan kepalanya agar sang papi jangan membahas ini dulu.


"Emm Lian, emm Lian mantan aku pi." jawab Bryan dengan jujur ya karena dia telah mencampakkan Berliana saat berhubungan


iana mengatakan kalau dia hamil dan saat itu Bryan tak pernah lagi ketemu bahkan tak mau tahu lagi dengan Berliana.


"Apa kamu mau menceritakan hubunganmu dengan dia sama kedua orangtua mu?" tanya Papi.


"Maksud papi apa? yang namanya pacaran ya Waja lah pi putus." jawab Bryan.


"Oh gitu, kamu nggak mau jujur samaa kedua orangtua mu!" ucap papi.


"Pi.." cegah mami.


"Sejak kapan Papi mengajarkan mu untuk tidak bertanggung jawab hah!!" sang papi tak bisa lagi berbasa-basi apa lagi dia pusing memikirkan nasib anak-anak panti walau sudah di tetapkan akan membawa anak-anak panti ke rumahnya.


"Mak maksud papi apa?" tanya Bryan terbata-bata.


"Masih mau bertanya kamu!!" ucap papi.


"Katakan, apa yang sudah kamu lakukan dengan gadis itu!!" ucap papi dengan mengeratkan rahangnya.


"A apa maksud papi Bryan tidak mengerti." Bryan tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


"O gitu, setelah kamu hamililin dia dan setelah itu kamu campakakan dia begitu saja gitu!! apa itu yang paling ajarkan sama kami selama ini hah!!." uvapmpali yang sudah naik pitam.


"Pi .." mami memaggil papi dengan nada tinggi.


"Liat Mi, liat.. Ini anak yang kau didik... Oh papi lupa !ana ada mami mendidik mereka." ucap papi dengan masih penuh amarah.


"Liat ini hasilnya Mi,!! Ucap papi lagi.


"Nak katakan dengan jujur." mami berkata dengan deraian air mata nya memohon agar Bryan berkata jujur.


"Darimana papi mengetahui nya." ucap Bryan.


"Hahhaaaa Iyan Iyan, sebaj*ngan apa kamu hah!!! sampe dengan sebegitunya kamu bertanya pada papi tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di hati mu. PLAK" papi tak percaya akan ucapan yang dilontarkan anaknya sehingga dia menampar pipi Bryan dengan keras.


"Pi..." mami melerai papi yang akan menampar Bryan kembali.


"Jangan pi.." imbuh mami dengan bersimpuh di kaki sang suami.


"Achhh." ucxp papi dengan menghentakkan tangan nya kesempatan arah untuk melampiaskan kekesalannya.


Di genggamnya erat kedua tangannya dan ditutupnya matanya. Ya baru kali ini dia berbuat kasar kepada anak-anak nya, dan baru kali ini pula dia melayangkan tangan nya kepada anaknya.


"Masih mau kauntakmberkata jujur sama papi!!" ucap papi.


"Kamu tau dari hasil perbuatan mu, dan atau hatimu sudah tak ada lagi. Oh ya papi lupa memang hatimu sudah gak ada lagi bahkan hatimu itu milik orang yang kau campakakan." ucap papi yang menohok.


Deg


Bryan terdiam, dia merenungi akan setiap perkataan papinya.


"Kamu tau, hasil perbuatan mu telah lahir, kamu tau itu hah!!" ucap papi lagi dengan tak terasa air matanya jatuh.


Deg lagi-lagi Bryan tersadar akan perbuatannya.


"A apa maksud papi." jawab nya.


"Iya orang yang kau campakakan itu tak menggugurkan janin ya bahkan orang yang kau campakakan itu rela berkorban nyawa nya untuk melahirkan bayi yang tak berdosa itu bahkan orang yang kau campakakan itu rela memberikan hatinya kepadamu saat ini!!" ucap Pai dengan geram.


"Apa!!" ucap Bryan tak percaya jika Berliana mempertahankan janin itu.


"Lalu dimana anakku pi..!!


"Anak mu hahhaaa anakmu, baru kau mengakuinya." ucap papi.


Bryan hanya menunduk dan entahlah apa menyesalinya atau tidak kita lanjut di Next bab aja ya, authore mau masak dulu.

__ADS_1


assalamualaikum


__ADS_2