
Tiga hari kemudian Mimi dan Di'ah kembali ke gedung Akper untuk melihat apakah mereka berdua lulus. Mimi masih seperti hari-hari sebelumnya, masih tak ingin banyak bicara.
Dan kali ini pun mereka tetap pergi berdua, Dibalik diamnya Mimi terus menghitung masa tempo yang diberi pihak bimbel nya dan hingga saat ini pun belum ada kepastian serta jawaban dari pihak keluarga nya.
Sesampainya di gedung Akper Mimi dan Di'ah langsung !enunu mading dan melihat apakah namma mereka berdua termasuk dalam list peserta yang lulus dan menjadi peserta ujian calon mahasiswa Akper /Akbid.
Disini setiap peserta yang mendaftar di wajibkan memilih dua kategori jurusan, Mimi dan Di'ah memilih Akper dan Akbid.
"Alhamdulillah Mi, kita lulus nah tiga tiga hari lagi kita datang lagi buat ambil no ujian." Ucap Di'ah girang.
"Hem. Yaudah kita pulang aja yok." jawab Mimi dan mengajak Di'ah pulang karena Mimi merasa kepalanya pusing.
"Mimi baik-baik aja kan?" tanya Di'ah khawatir karena melihat Mimi sedikit pucat.
"Iya Mimi baik-baik aja, kita langsung pulang aja ya tapi sebelum. itu kita cari toko obat dulu, Mimi mau beli obat sakit kepala." jawab Mimi dan mereka pun langsung berlalu dan menunggu angkot.
Yah di daerah sini tidak ada apotek ataupun toko obat melainkan yang ada warung-warung kecil itu pun arahnya perlawanan arah , tak menunggu lama angkot yang di tunggu pun lewat.
Di sepanjang jalan Mimi hanya diam di dalam mobil, mana angkot yang di tumpangi Mimi dan Di'ah berhentinya di terminal maka Mimi dan Di'ah untuk pulang harus berjalan kaki menuju ke tempat ketek.
Sesampainya di terminal Mimi dan Di'ah mampir ke apotek dan Mimi langsung membeli obat sakit kepala dan sebotol air mineral. Mimi langsung meminum obat tersebut dan beristirahat sejenak baru mereka melanjutkan jalan kaki.
"Mi, apa kita minta jemput aja sama kak Syahril?" tanya di Di'ah dengan memberi usul.
"Ndak usah Di'ah, Mimi tidak mau selalu merepotkan kak Syahril." jawab Mimi.
"Ayo, kita lanjut jalan." ajak Mimi setelah merasa enakan.
"Mimi yakin sudah enakan?" tanya Di'ah masih dengan kekhawatiran nya.
"Iya udah enakan kok, ayo kita lanjut panas nih." jawab Mimi dan mereka pun melanjutkan langkah kaki melewati toko buku hingga supermarket dan berbagai ruko hingga sampailah mereka ke tempat ketek, karena gak ingin menunggu lama Mimi meminta pengemudi ketek untuk langsung jalan dan Mimi membayar ongkos lebih.
15 menit kemudian Mimi dan Di'ah pun sampai dan mereka berdua pun berpisah !emuju rumah masing-masing. Sesampainya di rumah Mimi langsung masuk kamar dan tertidur pulas karena rasa kantuk menguasai matanya.
Mimi tertidur hingga menjelang Maghrib hingga membuat orang di rumah keheranan Mimi tak keluar kamar sedari pulang dari lihat pengumuman itu.
Beberapa hari kemudian Mimi dan Di'ah kembali perginke gedung Akper guna mengambil no ujiannya dan sekalian mengetahui temoat dimana ujian itu akan berlangsung seminggu lagi.
Hingga saat ini Mimi masih menunggu keputusan dari keluarga nya. Mungkin keluarganya beranggapan dengan Mimi ikut mendaftar di Akper ini Mimi lupa akan tujuan nya namun mereka semua salah, Mimi mengikut daftar buka. karena Mimi melupakan impiannya dan melupakan perjuangannya untuk mendapat undangan sebagai mahasiswa undangan dan beasiswa yang mana kedua hal itu adalah merupakan hal yang sangat di banggakan oleh siapa pun.
Seminggu kemudian waktunya Mimi dan Di'ah menjalani ujian sebagai calon mahasiswa di bidang kesehatan, miris itulah yang Mimi rasakan hari ini karena hari ini pula masa tempo di satu bimbel nya habis dan hangus pula Mimi sebagai mahasiswa undangan serta beasiswa nya.
Mimi berjalan lunglai bersama Di'ah menuju GOR, maana sewaktu berangkat angkot tujuan kesini susah dan kami pun sampai di 20 menit menjelang ujian di mulai. Sesampainya di GOR kami harus berkeliling lagi mencari bangkunseshai no peserta ujian.
"Uh ya Rabb begini amat perjuangan untuk menjadi orang." ucap Mimi setelah mendapatkan dimana bangku nya berada.
"Iya Mi, ribet juga ternyata." ucap Di'ah.
Dan gak lama para panitia memberikan lembaran soal dan lembaran untuk jawaban. Seketika suasana dalam ruangan ini hening seketika dan kami semua menjalani ujian degan khidmat.
90 menit kemudian kami semua selesai dan semua serentak keluar dari ruangan ini, pengumuman kelulusan akan di umumkan seminggu lagi.
Ada rasa was-was di hati Mimi, Mimi was-was bukan menunggu hasil ujian ini tapi was-was tak kunjung dapat izinnya. Harapan Mimi saat ini tinggal satu bimbel lagi dan waktu masa tempo tunggal 20 hari dari saat ini.
"Mi." panggil Di'ah.
"Hem." jawab Mimi.
"Kira-kira kita lulus ndak ya?" tanya Di'ah.
"Entahlah Di'ah, coba lihat perasaan hanya kita berdua sepertinya berjuang seorang diri, lihat mereka ujiannya saja sampe di dampingi orang tua." ucap Mimi yang merasa iri melihat para peserta kebanyakan orang-orang berduit dan para orang tua mereka mendampingi anaknya.
"Iya juga ya, mereka pergi dan pulang pakek mobil di antar sa!a orangtuanya nah kita pergi nunggu dan mencari angkot Eh pulangnya sama juga." jawab Di'ah dengan melihat ke arah peserta lain.
"Kita ke taman yok Mi." ajak Di'ah.
"Yaudah ayok, kayaknya angkot belum ada yang lewat jurusan kita." ucap Mimi dan mereka berdua berjalan kaki menuju taman remaja.
Disana sudah banyak lara peserta yang duduk santai sambil menikmati es, Mimi dan Di'ah duduk di bawah pohon yang rindang dan disaat mereka duduk dan seorang cewek yang ikut gabung bersama.
"Boleh gabung?" ucapnya.
"Silahkan kak." jawab kami.
"Kalian habi ujian juga?" tanya nya.
__ADS_1
"Iya kak." jawab Di'ah.
"Kakak sendiri?" tanya Mimi.
"Sama, oh ya kenalkan aku Yuni." ucapnya dengan memperkenalkan diri.
"Saya Mimi kak." jawab Mimi.
"Saya Badriah kak, biasa di panggil Di'ah." jawab Di'ah.
"Salam kenal ya?." ucapnya.
"Sama-sama." jawab kami serentak.
"Kalian baru pertama kali daftar atau sudah berulang kali?" tanyanya.
"Kita baru pertama kali kak, emang ada kak daftar sampe berkali-kali." jawab Mimi.
"Ada buktinya aku." jawab nya dan membuat Mimi serta Di'ah terperangah.
"Emang kakak udah berapa kali?" tanya Mimi.
"Ini yang ke lima." jawabnya.
"Hah kelima jadi kakak lulus lima tahu lalu dong?" ucap Mimi.
"Iya, karena cita-cita ku ingin jadi seorang bidan jadi aku ikut daftar lagi tahun ini." jawabnya.
"Emm emang masih boleh ya kak?" tanya Di'ah.
"Boleh, buktinya aku masih bisa ikut." jawabnya.
"Semoga kali ini kakak lulus ya?" ucap Mimi.
"Amiin " ucap kami serentak.
"Semoga kalian juga." ucapnya.
"Jadi selama lima tahun ini kakak ngapain?" tanya Mimi penasaran.
"Emm ternyata semangat kakak tinggi." ucap Mimi.
"Iya kita harus semangat sekali gagal kita coba lagi jangan sampe patah semangat." jawabnya.
"Kenapa nggak nyogok aja kak kemarin-kemarin buat lulus." ucap Mimi.
"Aku nggak mau melakukan hal itu, aku mau hasil yang aku terima murni dari kerja keras aku makanya tiap tahun aku terus mencoba walau gagal dan gagal." terangnya.
"Orang tua kakak mendukung? maaf sebelumnya kak." ucap Mimi
"Iya orang tua aku sangat mendukung kalau apa yang aku raih murni kalau nyogok sama aja bohong, kita mau masuk ngeluarin uang, pas kita lulus dan masa pendidikan kita juga tetap harus bayar SPP dan t*t*ek bengeknya, kasihan orang tua kita dan keenakan petugasnya." terang nya.
Karena hari semakin siang kami pun berpamitan untuk pulang dan tak lama angkot jurusan ke daerah kami pun tiba.
Sesampainya dirumah Mimi melihat rumah ramai dan ternyata orang tua Mimi serta Paman dan bibi Mimi juga datang.
"Assalamualaikum." Mimi mengucapkan salam.
"Waalaikum salam." jawab mereka semua.
Mimi langsung masuk kamarnya mengganti pakaiannya dan karena kepala Mimi kembali terasa sakit Mimi meminum obatnya dan kembali tidur.
Siang hingga sore hari Mimi tak menghiraukan hiruk pikuk dirumah ini karena pengaruh minum obat Mimi tidur terlelap hingga sore hari.
Ya semenjak seminggu lalu Mimi sering merasakan pusing bila Mimi kelelahan dan dari seminggu lalu pula Mimi tidak bertemu dengan kak Syahril, sebelumnya kak Syahril menghubungi nya dan mengatakan bahwa seminggu ini dia akan sibuk. Mimi tidak mengambil pusing karena Mimi juga gak menghiraukan nya.
Sore hari Mimi terbangun dan segera mandi dan langsung berwudhu dan menunaikan sholat Maghrib nya.
Disaat selesai sholat kepala Mimi kembali berdenyut-denyut.
"Ya Rabb kenapa dengan kepala ku." Mimi bergumam dalam hati nya dan menhan rasa sakit kepalanya.
Gimana tubuh Mimi tidak drob, akhir-akhir ini dia makan tak teratur dan bahkan nyaris menyentuh nya.
Terdengar suara emak memanggil dan meminta Mimi keluar.
__ADS_1
"Mi.." panggil emak.
"Hemm." jawab Mimi dari dalam kamarnya.
"Keluar lah bentar." ucap emak, tanpa menjawab Mimi langsung keluar berharap mendapatkan jawaban yang diinginkan dan sebelumnya dia segera membuka mukenanya.
"Ada apa?" ucap Mimi datar ketika telah keluar dari kamarnya.
"Duduklah dulu Mi." ucap BI Ida dan Mimi pun duduk dihadapan mereka semua.
"Gimana ujiannya tadi?" tanya Tante Zia.
"Alhamdulillah lancar." jawab Mimi dengan !aaih mood datar.
"Emm Mi," panggil pakdo.
"Hemm." jawab Mimi
"Apa Mimi masih menginginkan untuk pergi ke Jawa?" tanya pakdo.
"Tentu." jawab Mimi.
"Mi, Mimi kan tau kalau Mimi ini anak gadis kami semua cuma khawatir sama Mimi kalau jauh dari pantauan kami." ucap BI Ida
Mimi yang mendengar ucapan mereka seolah mengarah tak memberi izin Mimi pun sudah merasa kecewa dan hendak marah, Mimi duduk diam mendengarkan apa yang akan mereka ucapkan.
"Iya Mi, apa lagi kedokteran biaya nya besar. Pakdo nanya-nanya sama dokter yang tugas di camp katanya biaya pas praktek itu sangat mahal." ucap pakdo.
"Kalau kalian hanya ingin berbicara seperti ini berulang-ulang lebih baik ndak usah di lanjutkan." ucap Mimi yang sudah merasa geram dengan ucapan yang sering di lontarkan oleh mereka. Mimi hendak berdiri dan meninggalkan mereka kembali.
Mimi sudah bertekad akan nekat pergi walau tanpa restu dari mereka, Mimi sudah melihat tabungan nya selama ini kalau di hitung cukup untuk biaya hidupnya beberoantahun disana kalau mimi berhemat, dan Mimi juga bertekad akan !mencari kerja paruh waktu nantinya.
"Mi.." panggil Om Adrian menghentikan langkah kaki Mimi.
"Coba dengerin dulu omongan orang tua, jangan kurang ajar kayak itu." ucap Om Adrian dan itu semakin membuat Mimi geram.
Mimi berbalik ke arah mereka dan menatap mereka satu persatu.
"Apa Om! ala pernah oom melihat Mimi kurang ajar? apa pernah oom melihat Mimi menentang kalian. apaa pernah hah!!" ucap Mimi lantang tak kuasa menahan gejolak emosi nya.
"Jadi apa mau kalian? Apaa!!" Mimi terus meluapkan. emosinya dengan deraian air mata.
"Selama ini Mimi selalu nurut apa kata kalian, dari kecil Mimi ikuti apa yang kalian mau, sampe-sampe dari kecil kenaikkan kelas enam Mimi sudah kalian ajarkan mandiri jauh dari orangtua, SMP SMA Mimi selalu mengikuti kemauan kalian. Dan sekarang apa mau kalian! jawaaab." ucap Mimi dengan isakan tangis dan deraian air mata.
"Dari dulu hingga sekarang selalu alasan itu dan itu alasan yang sering Mimi dengar sampe bosan dan hafal Mimi dengarnya cuma beda versinya sekarang, terus apa maunkalian sekarang hah!!! huhuhu." Mimi tergugu dalam isak tangisnya.
"Apa kalian tahu, ini impian Mimi, ini cita-cita Mimi, appaa kalian tau Mimi ikut bimbel-bimbelnya supaya apa! supaya Mimi bisa meraih impian Mimi, dari SMP Mimi bermimpi bisa mendapatkan sebagai mahasiswa undangan dan beasiswa supaya Mimi tidak merepotkan kalian. Tapi apa sekarang!! semua kalian hempaskan, kalian hancurkan impian Mimi. huhuhu." Mimi terus dan terus meluapkan uneg-uneg dan emosi yang dipendamnya selama ini.
"Tak ada sedikit pun, bahkan secuil pun kalian menghargai usaha Mimi untuk mencapainya. Di luaran sana banyak orangbfua yang mendukung anaknya supaya sukses, bahkan tadi aja sewaktu ujian banyak orang tua mengantar anak-anak nya untuk memberi dukungan. Ini Mimi mendapatkan semua tanpa harus Mimi hilir mudik susah payah buat daftar, tak ada sedikit pun dukungan kalian. Usahakan dukungan rasa bangga kalian terhadap Mimi pun tak ada." ucap Mimi sambil terus dengan isakan tangis.
"Sekarang mau kalian apa hah! apa mau kalian sekaraang." ucap Mimi dengan duduk bersimpuh dengan suara yang serak dan isak tangis yang dalam seakan suara itu tak ingin keluar lagi.
"Oke, kalian ndak boleh Mimi kuliah jauh kan, ini kalau ujian ini Mimi lulus apaa kalian mau terima dan mengizinkan Mimi? atau mau kasih alasan dengan biaya nya lagi." ucap Mimi dengan sorot mata tajam dan gigi dirapatkan menahan emosi.
"Dan perlu diingat kalau Mimi lulus ini maka semua biaya di tanggung sendiri, sedangkan dinjawa biaya Mimi sudah di tanggung oleh pihak penyelenggara bahkan beasiswa tiap semester akan keluar uangnya. Ahh percuma jelasin semua ke kalian, kalian tetaomoada pendirian kalian. kalian egoiisss kallau kalian ndak mau bantu Mimi sudah punya tabungan buat hidup Mimi disana, Mimi hanya perlu dukungan dan izin kalian bukan meminta uang kaa lii aan" ucap Mimi tanpa sepatah kata Mimi memberikan luang bhat mereka berucap.
Setelah puas Mimi mengutarakan isi hatinya Mimi hendak berdiri untuk masuk kedalam kamar nya. Namun di saat berdiri kepala Mimi semakin sakit dan disaat akan melangkah menuju ke kamar penglihatan Mimi sudah buram dan jalan Mimi pun oleng hingga Mimi hendak terjatuh.
Dari arah pintu Kak Syahril yang baru tiba melihat keadaan Mimi yang tidak stabil dan melihat langkah Mimi sempoyongan di tambah Mimi akan terjatuh dia langsung berlari dan berteriak menyebut nama Mimi.
**
Alhamdulillah DOKTER JANTUNGKU up kembali jangan bosan untuk selalu menunggunya ya.
Dan jangan lupa terus beri dukungannya ya karena apalah arti karya ku tanpa adanya dukungan dari kalian yang berupa
FAVORIT
RATE
VOTE
LIKE
KOMEN
__ADS_1
...TERIMAKASIH...