
Kebahagiaan seorang perempuan itu ada saat mereka bersatu dengan orang terkasih, orang yang di cintai dan setelah itu dia akan bermetamorfosa menjadi seorang ibu.
Dengan ada nya seorang anak di tengah-tengah keharmonisan keluarga kecilnya, seorang perempuan akan merasa bahwa dia telah menyempurnakan dirinya sebagai seorang wanita, telah sempurna di mata suami dan keluarganya.
Namun terkadang tidak semua orang dapat merasakannya. Untuk mendapatkan anugerah terindah itu, banyak pasangan membutuhkan waktu yang begitu amat panjang bajakan melewati berbagai macam rintangan.
Ya banyak pasangan lama yang menginginkan namun tak kunjung mereka dapatkan dengan proses segala macam. Dari medis hingga ke tradisional.
Adapula baru sekali berhubungan langsung mendapatkan apa yang mereka harapkan. Seperti hal nya Di'ah, liburan semester beberapa pekan lalu.
Dimana awal pernikahan dia dan sang suami langsung terpisahkan jarak dan waktu, disaat kembali bertemu dan baru beberapa kali mengecap indah nya surga dunia, mereka dilanda percekcokan.
Kini di saat dirinya telah kembali di negeri orang, acap kali percekcokan itu ada di saat sang suami menelponnya. Namun dibalik percekcokan itu terselip rasa rindu yang mendalam.
Di'ah, yang saat ini bukan lagi seorang gadis atau pun janda,bukan lagi seorang istri yang merantau, namun kini dirinya telah bernobat menjadi seorang ibu.
Bahagia, tentu rasa bahagia itu ada karena sang suami telah merasakan jika ada rasa akan kehadiran seorang anak di tengah keluarga kecilnya.
Walau awalnya dia tak mempercayai apa yang dirasa sang suami. Kini dia baru mengetahui disaat terjadinya pingsan sewaktu operasi selesai.
Bahagia, sedih dan rindu di bercampur aduk, bahagia karena akan menjadi seorang ibu, sedih karena jauh dari suami dan rindu akan belaian suami.
"Sehat selalu ya sayang, bunda akan menjaga mu walau kita jauh dari ayah." ucap Di'ah yang sendirian di ruang rawat dengan terus mengelus perut rata yang sedikit menonjol.
Di'ah meraih hasil USG dan ponselnya, Di'ah melihat jam yang kini telah pukul empat sore. Di'ah memotret hasil USG nya, setelah di lihat hasilnya memuaskan Di'ah pun mengirim hasil potretnya itu ke nomor sang suami terlebih dahulu.
Yah Di'ah akan mengabarkan kebahagian ini kepada sang suami terlebih dahulu baru dia akan mengabarkan kepada keluarga nya.
Sejam dia jam Di'ah melihat chat nya masih belum ada tanda-tanda terkirim hingga malam hari, sehabis sholat isya Di'ah pun tertidur.
Beda Di'ah beda pula Mimi, ya kalau Di'ah dia bahagia karena akan menjadi ibu dari anak dalam rahimnya, sedangkan Mimi dia telah bahagia menjadi seorang ibu dari twins walau bukan dari rahimnya.
Hari-hari Mimi semakin berwarna dengan kehadiran twins dalam hidupnya. Apa lagi saat ini dia akan berusaha mengurangi aktifitas nya.
Walau masih sibuk dengan pekerjaannya, dalam beberapa hari ini Mimi selalu tidur bersama twins.
Tak hanya Mimi dan Di'ah yang sibuk akan dengan aktivitas, para dokter muda dan tampan pun begitu adanya.
Pagi hari di sebuah rumah dinas masih di hiasi dengan nada sumbang dari Ryan. Tiap pagi Ryan masih mengalami yang namanya mual dan muntah.
"Sudah Yan? nih di minum teh jahe nya." ucap Farhan.
Dengan langkah gontai Ryan berjalan menuju meja makan,di tarik ya kursi dan duduk di kursi tersebut sambil mengambil secangkir teh jahe dan segera meminumnya.
"Makasih Han," ucapnya.
"Sama-sama, nih tadi Syahril beli bubur cang ijo. Dimakan biar ada isi perutnya." ucap Farhan dengan memberikan mangkok berisi bubur kacang hijau pada Ryan.
"Emm." jawab nya.
Tak lama Syahril dan Rudi pun ikut bergabung.
__ADS_1
"Oh ya Han, hari ini kau ada peninjauan di dusun sebelah kan?" tanya Ryan.
"Emm Iyo, mau titip apa?" tanya Farhan.
"Belikan sate kambing ya, sekalian gado-gado dekat Pustu." ucapnya.
"Oke." jawab Farhan.
"Kau kemana nanti Riil?" tanya Farhan.
"Aku biasa, nanti mau ke balai dusun perbatasan." jawab Syahril.
"Masih kasih pelatihan Yo?" kata Rudi.
"Iya Rud, aku berencana mau menyelesaikan nya dalam bulan ini." jawab Syahril.
"Bukannya pelatihannya minimal tiga bulan Riil?" tanya Ryan.
"Iya Yan, cuma aku pengen menyelesaikan bulan ini mendampingi dan memberikan arahan kepada bidan dan para dukun beranak ni. Yah nanti seterusnya biar bidan tiap Pustu yang mengarahkannya lagi sampe selesai pada waktunya." ucap Syahril.
"Emang kau nak kemana?" tanya Farhan.
"Aku berencana mau ambil cuti aku Han, aku mau juga lah menuntaskan yang belum tertuntaskan." jawab Syahril.
"Gaya kau." ucap Rudi.
"Kau nak ikut Yan?"tanya Syahril.
"Ikut kemana?" bukan menjawab Ryan balik bertanya.
"Kapan?" tanya Ryan kembali.
"Ya dua minggu ke depan lah." jawab Syahril.
"Emmm boleh lah." ucap Ryan.
"Masih kau mual muntah Yan?" tanya Rudi.
"Masih Rud, entahlah kenapa kayak gini." jawab Ryan.
"Aku yakin seyakin-yakinnya kalau kau bakal jadi seorang ayah Yan." ucap Rudi.
"Entah Rud," jawab Ryan.
"Nah kok entah, kemarin lusa kau telpon Di'ah apa katanya?" tanya Syahril.
"Ya katanya dia men* Riil." jawab Ryan.
"Mens? dari dua minggu lalu mens nya?" tanya Syahril.
"Hmm, kemarin katanya juga masih walau cuma flek." jawab Ryan.
__ADS_1
plaak Syahril menepuk kening Ryan.
"Ckk kau ni Riil, kenapa pula kening aku kau keplak." ucap Ryan.
"Kau tanya dak, awal dia men* tu kayak biasa apa cuma flek juga." ucap Syahril.
"Hmm, ya katanya mens nya ya keg itu." jawab Ryan.
"Keg itu apa?" tanya Syahril.
Rudi dan Farhan hanya menyimak terkadang mata mereka melihat ke Syahril dan ke Ryan.
"Ya keg itu,cuma flek katanya." jawab Ryan.
"Nah" ucap Rudi dengan menjentikkan jari nya serta menggeprak meja tiba-tiba sehingga membuat yang ada disana terkejut.
"Ckk kau ni Rud." ucap Farhan dan Syahril dengan mengeplak kepala Rudi.
"Aw aw aiss kalian ini kenapa pula mainnya di kepala." ucap Rudi.
"Maka nya kalau ngomong ya ngomong Bae la, dak usah pakai geprak meja." ucap Farhan yang mana tangan hendak mengeplak kepala Rudi dan beruntung nya Rudiengjindar.
"Ya mana nya juga refleks." jawab Rudi.
"Jadi??" tanya Rudi sambil melihat ke arah Ryan.
"Jadi apa Rud?" tanya Ryan.
"Ckk kau ni Yan, macam itu bae dak tau kau." jawab Rudi.
"Yaana aku tau Ru di, kan kau tanya jadi, jadi ya jadi apa?'' ucap Ryan.
"Ya jadi bini kau tu lagi bunt*ng kulop." ucap Rudi dengan memakai bahasa daerah.
"Masa iya?" ucap Ryan yang masih ragu. Farhan dan Syahril hanya menggelengkan kepala.
"Sejak kapan seorang Ryan jadi blo'on." ucap Rudi lagi.
"Hmm" ucap Syahril dan Farhan seolah mengiyakan ucapan Rudi.
"Yan Yan bunyi bae gelar dokter, masalah kayak itu kau dak ngerti." ucap Farhan sembari geleng-geleng.
"Untung Rendi tidak ada disini Yan, kalau ada dia habis lah kau di ejek nya." ucap Farhan lagi sembari meletakkan piring kotor ke westafle dan langsung mencuci nya.
"Masih bingung jugo kau Yan?" tanya Rudi. Ryan hanya diam.
"Ckk kau ni Yan, macam itu bae kau dak tau. Walau hal ini di luar bidang kau seharusnya kau tetap tau Yan. Padahal kan sewaktu awak kuliah juga ada pembelajaran ini Yan, bukan hanya waktu kuliah waktu SMA juga di ajarkan tentang reproduksi." ucap Rudi.
"Atau jangan-jangan kau ragu pula kau sudah nyoblos Di'ah apa belum." imbuhnya.
"Kalau kau masih ragu baik kau tanyo kan sama yang ahli walau pun sang ahli sebelumnya sudah memberitahu kau." ucap Rudi yang terlihat kesal.
__ADS_1
Syahril menepuk pundak Ryan yang masih terdiam. entah dia terdiam karena menelaah omongan Rudi atau dia meragukan kebenaran nya.
"Yan, lebih baik nanti kau ke bukit terus kau telpon Di'ah. Apa yang dikatakan Rudi ada benarnya